Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Mana Kado Mela?


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 64 ( Mana Kado Mela? )


Buughhhhhh


tiba tiba ada seorang laki laki menabrak Dini, untung saja yang ditabrak bahu Dini sehingga tak berakibat apapun pada Dini hanya makanan di tangannya yang tumpah.


" Aduh maaf ya " ujar laki laki berperawakan tinggi sambil menangkupkan kedua tangannya di dadanya.


Dini merasa tak asing dengan raut wajahnya. Tapi dia belum ingat mirip siapa.


" Aduh Teh maaf ya saya benar benar gak sengaja " ujarnya lagi karena melihat Dini terdiam dan memindai wajahnya.


" Tak apa " Dini menjawab dengan singkat karena tak mau membuka percakapan dengan laki laki tersebut.


Entahlah Dini merasa tak nyaman apalagi laki laki tersebut balik memindai Dini bahkan dia terlihat seperti tebar pesona.


" Sok ganteng " gumam Dini dalam hati saking kesalnya dengan tingkah laki laki tersebut.


" Kenapa Non? maaf Bibi tadi teledor kelamaan disana " Marni datang tergopoh gopoh kemudian dia memanggil Cleaning Service untuk membersihkan tumpahan makanan Dini.


" Gak apa Bi, lagian aku yang suruh Bibi kesana " ujar Dini.


" Mas lain kali hati hati, majikan saya sedang hamil. Situ mau tanggung jawab kalau kenapa kenapa? " ujar Marni terlihat sewot padahal biasanya dia kaleum dan irit bicara.


" Iya maaf Bu saya benar benar gak sengaja " ucapnya lagi.


" Sial*n rupanya dia babunya, kirain siapanya. Baru jadi babu sudah sok, kalau bukan karena jaga image pasti tuh babu langsung aku maki " Ikbal menggerutu dalam hati.


Marni langsung mengajak Dini pergi, dia pun merasa tak suka dengan kehadiran laki laki tersebut. Masih kalah ganteng sama suami majikannya Deni tapi terlihat seperti tebar pesona.


***


Hari sudah mulai siang, tamu pun mulai berkurang. Undangan pernikahan Mela memang tak sebanyak ketika pernikahan Deni. Karena Mukhlis sengaja tidak mengundang rekannya. Bukankah pesta ini untuk Rudi dan Tessa?


Masih baik Mukhlis mau menanggung semua biaya pernikahan anak mereka. Tapi Mukhlis sudah merasa tenang karena tugasnya sebagai ayah sambung yang sedari kecil merawat Mela kini sudah selesai dengan menikahkan Mela bersama laki laki pilihannya.


Perkara nanti ke depannya seperti apa itu adalah konsekuensi yang harus di ambil Mela. Contohnya karena kehamilannya Mela harus berhenti kuliah sehingga Mela tidak bisa melanjutkan pendidikannya.


Kini tanggung jawabnya sebagai Ayah di serahkannya pada Budi sebagai suami dari Mela.

__ADS_1


Karena suasana mulai sepi, kini pengantin dan keluarga menikmati hidangan yang tersedia di meja VIP yang disediakan pihak WO.


Mela dan Budi duduk satu bangku bersama Tessa dan Rudi. Sedangkan Dini duduk bersama Mukhlis, Marni dan Sarif yang sengaja diminta tinggal oleh Mukhlis sampai acara selesai.


Dan satu meja lagi ada Abah, Umi dan Nita dari pihak keluarga Budi.


Sedangkan keluarga Dini sedari tadi sudah pulang karena merasa sudah terlalu lama disana.


Semua meja terdengar sepi hanya denting piring dan sendok yang terdengar di iringi lagu dari band pernikahan.


Di meja Dini terlihat lebih ramai karena Dini dan bayinya mereka jadikan topik hangat. Tessa terlihat berwajah masam mendengar semua obrolan mereka.


Walaupun meja mereka terpisah tapi jaraknya sangat dekat sehingga semua pembicaraan dari masing masing meja masih terdengar.


" Dini sudah berapa bulan? " tanya Abah.


" Alhamdulillah, sudah jalan 4 Bah " Dini menjawab pertanyaan Abah nya Budi yang berada di seberang meja.


" Semoga bayimu terlahir sehat dan berparas seperti ayah ibunya cantik dan tampan " Umi ikut menimpali.


" Aamiin Umi, makasih untuk do'a nya " Mukhlis ikut tersenyum mendengar do'a dari besannya.


Mela langsung memasang wajah kecut dia kecewa kenapa Umi nya bersikap begitu baik. Padahal sebentar lagi dia juga akan memberikan cucu.


" Oh ya besan, setelah menikah Mela akan di boyong atau bagaimana? " tanya Mukhlis memulai pembicaraan.


Ya dia harus menyampaikannya, ini waktu yang tepat karena saat ini ibu dan bapak kandung Mela sedang berkumpul. Mela masih memiliki orang tua yang lengkap, bukan Mukhlis tak mau mengurusi Mela lagi. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda.


" Emang kenapa Pih? " tanya Tessa sambil memicingkan matanya, perasaanya mulai tak enak.


" Mela sudah menikah, dia sudah punya suami yang harus bertanggung jawab padanya " jawab Mukhlis tanpa basa basi.


Dini mulai tak nyaman dengan obrolan ini, dia pasti akan kena getahnya.


" Sebentar ya Din, ini memang harus dibicarakan. Karena kamu sudah termasuk jadi bagian keluarga maka kamu harus ikut sebagai perwakilan dari Deni " ucap Sarif sedikit berbisik di samping Dini.


" Mmmhhh iya Paman saya paham " Dini mengangguk mencoba menguatkan hati.


Abah dan Umi Budi sudah tahu arah pembicaraan Mukhlis. Mereka mengerti kenapa Mukhlis berbicara seperti itu disini. Pasti karena adanya kedua orang tua kandung Mela.


" Mela dan Budi akan tinggal di rumah kami, karena tanggung jawab seorang laki laki untuk memberi nafkah dan tempat tinggal untuk istrinya "

__ADS_1


" Tapi Pak.. " Tessa hendak bicara namun tangan Mela menarik tangannya dan menggelengkan kepala meminta agar tak berbicara lagi.


Budi sedikit kecewa, setelah tahu Mela bukan anak kandung Mukhlis pupus sudah harapannya naik jabatan di kantor Paman Deni itu. Di tambah sekarang dia tak bisa tinggal di rumah mewah milik Deni.


Ya walaupun Dini tak tinggal disana pasti sekali sekali Dini akan datang bukan?


Mela pun sebenarnya kecewa tapi dia berusaha menerima, mungkin ke depannya Mukhlis akan mengizinkannya kembali untuk tinggal disana.


Rumah Budi tidak jelek tapi masih jauh berbeda dengan rumah ayah kandungnya. Hanya saja fasilitasnya jelas jauh berbeda, dia yakin tak akan nyaman tinggal disana.


Belum lagi dia harus menghadapi kakak iparnya yang barbar. Hanya satu harapannya agar nyaman yaitu bapak ibu mertuanya yang terlihat baik.


Rudi yang seharian berada disana mulai memahami kondisi keluarga kaya itu. Mukhlis memang baik tapi terlihat sangat membedakan Dini dan Mela.


Rudi pun berpikir andai Mela masih bersama Mukhlis pasti uangnya masih akan mengalir. Dan dia bisa ikut menikmatinya. Bukankah sudah kewajiban seorang anak untuk berbakti pada orang tua.


Setidaknya Mela bisa mendapat bagian dari harta yang Mukhlis miliki. Tapi dengan melihat Dini yang begitu di elu-elukan dan disanjung Mukhlis serta orang sekelilingnya membuat perasaan iri Rudi tumbuh.


Dia tak rela anak perempuannya tersisihkan karena kehadiran Dini. Sekarang dia tahu kenapa Tessa selalu bersikap ketus bila di hadapan Dini.


" Maaf Pak bukan saya tergesa gesa tapi saya hanya ingin Mela dan Budi belajar berumah tangga. Kalau pun Mela dan Budi ingin menginap dulu di rumah buat saya tak masalah. Saya menyampaikan ini karena kebetulan orang tua kandung Mela sedang hadir dua duanya " ujar Mukhlis.


Ternyata maksud Mukhlis sesuai perkiraan Abah Budi " Saya paham Pak " angguk nya.


" Saya selaku ayah kandung Mela setuju dengan pemikiran Pak Mukhlis. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk Pak Mukhlis karena sudah merawat anak saya Mela dari kecil, saya harap anda masih menyayanginya sampai nanti " ucap Rudi.


Mukhlis hanya menanggapinya dengan tersenyum.


" Sombong " Rudi menggerutu dalam hati karena mendapat respon yang tak sesuai harapan.


" Kamu ngapain juga ngomong gitu. Bod*h " ujar Tessa berbisik sambil mengumpat Rudi.


" Pih, Papih gak ngasih kado buat aku? dulu Papih kasih kado buat mbak Dini. Mana kado buat Mela Pih?"


Kini Mela bersuara bahkan manja terdengar seperti anak kecil yang sedang memohon pada orang tuanya.


" Inilah kado pernikahan dari Papihmu Mel, pernikahan yang cukup megah walau tak semegah pernikahan Deni. Harusnya kamu bersyukur bisa dibuatkan pesta semewah ini. Bahkan Deni dan Dini memberikan kalian paket honeymoon. Kalau untuk kado lainnya cobalah minta pada Ayahmu "


Sarif ikut menimpali obrolan mereka. Tessa langsung mengeratkan giginya merasa emosi mendengar penuturan Sarif.


Begitu juga dengan Rudi dia langsung mengepalkan tangannya karena merasa di pojokan di depan orang banyak walaupun masih lingkungan keluarga.

__ADS_1


Melihat situasi itu Dini langsung tertunduk dan bergumam dalam hati " Tuh kan benar aku lagi yang kena huhhhhh "


__ADS_2