
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 36 ( Tessa Merajuk )
Tessa langsung menatap tajam Dini " Kamu gak salah Din ? " tanya Tessa ketus.
" Enggak Mih, aku kuat kok dan Inshaa Allah bisa jaga diri " sahut Dini.
" Kamu tuh jangan bikin malu Deni dong lagi hamil masih pengen tetep kerja " Tessa kembali bersuara.
" Mih udah, Dini yang lebih tahu keadaannya. Lagi pula Papih tidak akan memberinya pekerjaan yang terlalu berat " tukas Mukhlis.
Sepertinya dia malu dengan sikap Tessa, padahal sedari awal dia sudah diberi tahu agar menjaga sikapnya.
" Pak Hanif kami permisi pulang ya, maaf kalau suasananya jadi gak enak " ucap Hanif sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
" Ah tidak apa apa Pak, lain kali kita berkumpul lagi. Biar tali silaturahmi keluarga kita tetap terjaga " balas Hanif.
" Iya Pak terima kasih, mari Bu Isma kami permisi pulang. Din papih pulang ya nanti kita bicarakan lagi "
" Iya Pih makasih, hati hati di jalan "
Setelah berpamitan Mukhlis dan keluarga langsung pulang. Kini di rumah Dini tersisa Dini dan kedua orang tuanya.
" Din ibu mertua kamu gitu ya sifatnya, untung kamu gak serumah ihh ngeri ngeri sedap plus nyebelin " ucap Isma sambil bergidik dan Dini hanya terkekeh.
" Gak boleh gitu, walau bagaimanapun itu besan kita loh Bu "
" Ayah sih besannya bisa di ajak ngobrol, yang ini juga ngobrol cuma sombongnya gak nahan Yah. Dia bilang punya langganan toko kue yang higienis dan enak kesannya kue buatan Ibu jorok.
Tapi dia makanin kue bikinan Ibu banyak banget sampe mulutnya penuh. Belum lagi bawa beberapa toples gratis " Isma terlihat kesal dengan kelakuan besannya.
" Jadi Ibu gak ridho ceritanya " goda Hanif.
" Iya kalau besannya seperti itu " sahut Isma.
" Eh gak boleh gitu Bu anggap aza kita sedekah hehee "
" Masa sedekah sama orang kaya, mending ke fakir miskin " balas Isma sambil mencebikan bibirnya.
__ADS_1
" Ya udah biar Ayah ganti aza kue buatan Ibu biar Ibu gak marah marah "
" Deuuh yang belain besannya "
" Hahaa " mereka bertiga tertawa.
***
Diperjalanan pulang Tessa memasang wajah masam entah apa yang membuatnya kesal. Perihal pekerjaan Dini pun seharusnya dia tak perlu kesal karena tak ada hubungannya dengan Tessa.
" Mih kenapa sih manyun aza? " tanya Mela yang duduk di kursi belakang.
Mukhlis menatap sekilas ke arah Tessa yang duduk di kursi sampingnya. Sebenarnya dari awal perjalanan Mukhlis tahu istrinya merajuk tapi dia tak mempedulikannya karena masih kesal dengan keributan yang tadi dibuatnya.
Dia ingin menegur Tessa tapi tak enak pada menantu dan besannya. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tak bersuara. Membuat situasi menjadi hening.
Tak lama mereka sudah sampai di halaman rumah. Tessa turun mendahului semuanya dan tak mengucap kata permisi. Mela hanya melongo melihat tingkah ibunya.
Sedangkan Mukhlis terlihat tak perduli dengan tingkah istrinya. Mela pun terlihat enggan turun dia merasa bingung.
" Pih, ada apa sih kok semua terasa berubah. Gak hangat seperti dulu lagi, semua terasa berbeda sejak.. "
Perkataan Mela terjeda oleh Mukhlis dan seperti tahu apa yang akan diucapkan Mela selanjutnya.
Mela sedikit terkejut namun dia berusaha tenang, dia tak ingin Mukhlis bertambah marah.
" Huhhhh tapi bener kok semua berubah semenjak ada Dini " gerutunya dalam hati.
" Kamu jangan seperti Mamihmu, pikiran kotor akan merusak hatimu. Bukan Papih tak tahu keinginan Mamihmu. Tapi semua ada batasannya. Papih juga ingin mengingatkanmu, jaga pergaulanmu. Hampir setiap hari pulang malam dengan pakaian tak pantas, Papih melihat dengan mata kepala sendiri "
Mela tertunduk dan menelan saliva kasar, awalnya dia menyangka mungkin ART dan para Satpam yang mengadukannya. Ternyata di kalimat terakhir membuat dia tahu kenyataannya.
" Ma-maaf Pih " ucap Mela terbata bata
" Sebaiknya kamu renungi kesalahanmu kamu sudah dewasa bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang sebaiknya kamu turun Papih mau ke kantor "
Badan Mela terasa lesu dan tak bergairah dia tak menyangka Mukhlis sudah mengetahui semuanya. Pantas saja dia terlihat mengabaikannya ternyata Mukhlis sudah tahu belangnya dan mungkin merasa kesal setelah beberapa kali teguran tapi dipedulikan Mela. Malah kini Mela sembunyi sembunyi.
" Iya Pih "
__ADS_1
Mela keluar dari mobil dan berdiri melihat mobil Mukhlis yang pergi sampai tak terlihat sama sekali.
" Ah bodoh banget kok aku gak tahu Papih merhatiin aku, kalau sudah gini kan jadi tambah susah "
Mela segera masuk ke dalam rumahnya dan hendak mencari ibunya di kamar ibunya.
Setelah pintu kamar di buka semua terlihat kosong tak ada Tessa di dalam.
" Ih Mamih kemana sih, males banget " Mela kembali melangkah dia menuju kamarnya dan tak sengaja mendengar obrolan ibunya di telepon namun entah dengan siapa.
" Iya Mamih ngerti sayang, tapi sekarang belum ada. Kondisinya sudah berbeda sekarang. Kalau sudah ada nanti langsung Mamih kirim uangnya oke. Mamih sayang kamu. Nanti Mamih hubungi kamu lagi ya "
Sepertinya obrolan mereka terhenti dan ibunya berniat keluar. Mela segera melangkah mundur sedikit menjauh tak ingin ibunya memergokinya sedang menguping obrolannya tadi.
Tessa keluar dari kamar Mela namun matanya memindai sekitar seakan takut dan ada yang disembunyikan. Setelah di rasa aman dia pergi dan menuju kamarnya sendiri.
Mela melangkah kembali menuju kamarnya dan melihat sekeliling kamarnya " Mamih ngobrol sama siapa sih? mau kirim uang segala. Apa Mamih punya berondong ya? ih amit amit deh. Kayaknya nanti aku mesti pasang cctv disini siapa tahu Mamih ngobrol lagi jadi aku bisa tahu siapa yang diajak ngobrol Mamih "
***
Kamar Tessa
Pov Tessa
Ini sudah tak bisa di biarkan, lama lama si Dini bakalan ngelunjak. Aku harus cari rasa supaya dia ketakutan.
Mas Mukhlis benar benar berubah semua fasilitas mewah Dini dapatkan bahkan sekarang dia kembali bekerja di resto. Padahal aku sudah senang dengan kehamilannya pasti dia akan berhenti bekerja.
Ternyata aku salah dia masih tetap ingin bekerja. Emang beda ya kalau dapat mantu orang miskin tenaga nya lebih besar mungkin karena hidupnya susah.
Cara pertamaku dulu untuk menjodohkan Mela dan Deni gagal total. Si Mela juga bodoh gak bisa diatur. Rencana kedua belum bisa aku jalankan karena Deni masih berada di luar negeri.
Sekarang lebih baik aku ancam Dini dulu supaya dia ketakutan dan merasa tak nyaman. Siapa tahu dia minta pindah dan tinggal di rumah orang tuanya yang jelek itu.
Sebaiknya aku minta tolong pada Dandi anak laki-laki ku. Ya benar aku akan minta tolong padanya agar dia bisa mengancam Dini.
Tapi sekarang aku harus mencari uang dulu untuk membelikannya mobil, dari kemarin dia merengek terus. Mana sekarang Mas Mukhlis membatasi pengeluaranku semenjak Deni menikah.
Aku juga heran dengan perubahannya, kenapa sampai pengeluaranku saja dibatasi padahal dulu dia tidak seperti itu.
__ADS_1
Ini pasti gara gara si Dini, untuk pengeluaranku dibatasi sedangkan untuk mantunya dibelikan mobil mewah. Aku yakin sekali uang jatahku di alihkan pada Dini. Dasar brengs*k.