
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 27 ( Berpisah Sementara )
Waktu terasa cepat bergulir besok adalah hari keberangkatan Deni untuk kembali berlayar. Dini terlihat sedih sedari siang tadi. Wajahnya begitu muram dan tak bergairah.
Deni pun sebenarnya enggan pergi hanya saja dia merasa memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya sehingga mengharuskan dia pergi.
Dia pun akan berusaha nego dengan atasannya untuk mengakhiri kontrak secepat mungkin namun dia belum bisa memastikan hasilnya jadi dia belum memberitahukan pada Dini dan keluarga mereka.
Deni khawatir hasilnya tidak sesuai harapan yang akhirnya akan membuat mereka kecewa terutama Dini.
" Sudah dong sayang jangan sedih gitu aku kan jadi gak tenang, aku juga sama tak ingin berpisah. Aku berjanji setiap hari akan menghubungimu.
Orang bilang kalau kita pergi tidak mendapat restu dari orang yang kita sayang biasanya akan terjadi masalah " pungkas Deni.
Mendengar ucapan suaminya Dini langsung memandang Deni sedih bercampur takut.
" Kamu gak mau kan aku.."
" Ssttt aku gak mau kamu kenapa kenapa, aku mau kamu segera pulang dan kita berkumpul kembali " Dini memotong ucapan suaminya kemudian memeluknya erat.
" Aku izinkan Mas berangkat selalu jaga kesehatan, jangan lupa hubungi aku setiap hari ya dan segeralah pulang " pinta Dini pada suaminya.
" Tentu saja, kamu juga jaga diri dan jaga kesehatan ya. Nanti kamu gak sendiri disini akan ditemani Bi Marni beliau sudah merawatku sedari kecil kamu ingat kan sama Bi Marni? "
Dini mengangguk, dia sudah sangat akrab dengan Bi Marni. Suaminya sengaja memanggil Bi Marni kembali untuk bekerja dan menjaganya.
Dulu Bi Marni sempat berhenti bekerja karena Deni pergi berlayar. Dan sekarang Bi Marni di tugaskan untuk melayani dan menjaga Dini.
" Kamu jangan sungkan ya sama Bi Marni kalau ada apa apa bilang aza, Bi Marni juga dengan Mamih sering gak sefaham.
Jadi dia akan melindungi kamu dari Mamih. Satu lagi gak usah takut sama Mamih selagi kamu benar "
Setelah mengobrol banyak akhirnya Dini bisa melepas suaminya untuk berlayar kembali. Deni pun memberikan banyak pesan dan nasehat untuk istrinya.
Mereka pun melewatkan malam selayaknya pengantin baru, apalagi Deni akan segera pergi berbulan bulan mereka tak mau melewatkan malam indah ini.
***
__ADS_1
Pagi pagi sekali mereka sudah terbangun setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah mereka duduk berdua Dini pun masih menggunakan mukenanya.
" Udah dong sayang, kan tadi malam kita sudah sepakat " istrinya kembali menangis Deni pun mengelus pucuk kepalanya.
Dini berhenti menangis kemudian membereskan mukenanya dan kembali duduk di atas ranjang mereka.
Dini menatap lekat suaminya kemudian menyentuh bibir Deni perlahan, entah keberanian darimana dia langsung ******* bibir Deni penuh nafsu.
Suaminya cukup kaget tak biasanya Dini seperti itu namun dia pun tak mau menyia-nyiakannya dia membalas ciuman panas Dini.
Pagi hari cuaca begitu dingin namun di kamar mereka sangatlah panas padahal AC sudah dinyalakan. Mungkin mereka ingin memberikan kesan sebelum mereka berpisah.
Setelah satu jam barulah mereka selesai dengan nafas yang masih terengah engah Deni tersenyum memandang penuh cinta pada istrinya.
" Kamu hebat sayang, makasih ya " ucapnya sambil mencium kening Dini berlanjut pada bibir merah ranum Dini .
" Rindukan aku terus ya Mas, aku bakalan nunggu kamu dengan sabar disini " balasnya.
" Tentu saja sayang setiap hari aku akan menghubungimu. Sebaiknya kita bersiap takut telat. Kita mandi bareng ya " ucap Deni.
" Mmhhh " balas Dini sambil mengerlingkan kedua alisnya
" Nakal kamu ya sekarang " ucap Deni.
Deni pun membopong istrinya menuju kamar mandi di iringi tawa mereka berdua.
***
Akhirnya mereka berangkat ditemani Bi Marni menggunakan mobil hadiah Dini yang didapat dari Papih mertuanya.
Deni sempat mengajarkan Dini menyetir selama berlibur, untung saja Dini dulu pernah belajar sehingga tidak sulit bagi Dini menguasainya dengan cepat.
Keluarga Deni dan Dini sudah menunggu di bandara, mereka mengobrol sejenak sambil menunggu keberangkatan Deni.
Mela pun ikut mengantar kepergian Deni meski terlihat gelisah dan ingin segera pergi dari sana. Melihat tatapan tajam Mamihnya dia terpaksa duduk berusaha bersabar sampai Deni pergi.
Tessa sempat kaget melihat kehadiran Bi Marni setelah sekian tahun tak bekerja bersama mereka. Namun Pak Mukhlis menjelaskan Bi Marni akan menemani dan menjaga Dini selama Deni pergi berlayar.
Tessa sempat merutuk kesal karena Marni merupakan musuhnya, dia begitu telaten ketika dulu menjaga Deni sampai Tessa mengalami kesulitan untuk menyentuhnya.
__ADS_1
Seakan Marni tahu kalau Tessa memiliki niat buruk pada majikannya. Tessa hanya bisa memandang sinis pada Marni. Dan Marni pun hanya membalas dengan pandangan dinginnya.
Jam keberangkatan sudah tiba Deni sudah bersiap, diiringi tangis Dini dia melangkah pergi. Sebelumnya Dini tak mau lepas memeluk Deni, butuh waktu cukup lama untuk membujuknya agar merelakan kepergiannya karena hanya sementara.
Semua menangis terharu melihat perpisahan Deni kecuali Tessa dan Mela yang terpaksa ikut hadir disana.
Dalam pesawat Deni pun meneteskan air matanya, hatinya pun tak rela meninggalkan Dini kembali. Namun dia bertekad akan segera kembali.
Setelah pesawat Deni lepas landas mereka pun pulang. Dini masih memeluk Bu Isma karena masih tersedu.
" Din kamu bisa nyetir gak, Papih khawatir melihat keadaan kamu. Sebaiknya Papih antar kamu ya " Mukhlis menawarkan diri untuk mengantar Dini karena tak mau terjadi hal buruk ketika Dini membawa kendaraan.
" Gak apa Pih aku bisa kok lagipula ada Bi Marni yang nemanin aku " jawab Dini.
" Ya sudah kalau begitu kamu hati hati ya, kalau ada apa apa kamu harus hubungi Papih atau Ayahmu.
Karena selama Deni gak ada kamu jadi tanggung jawab Papih. Sekali kali kamu nginap di rumah Papih atau di rumah Ayah " Mukhlis memberikan pesan pada menantunya.
" Iya Din, kami senang kalau kamu menginap di rumah di sana kan ada Mela jadi kamu ada teman " Tessa ikut menimpali.
" Iya Pih Mih " sahut Dini.sambil tersenyum.
Akhirnya Dini memutuskan pulang ke apartement dan berjanji akan datang sekali kali untuk menginap di rumah orangtua atau mertuanya.
***
" Bi aku senang Bibi kembali, apalagi sekarang menemaniku. Aku jadi merasa tak sendiri " ucap Dini pada Marni sambil menyetir, matanya pun tetap fokus menatap jalanan hanya sekali kali melirik ke arah Marni yang ada disampingnya.
" Iya Non saya juga senang bisa kembali, untung saja anak saya mau di tinggal karena cucu saya sudah besar jadi tak perlu diasuh saya lagi " sahutnya.
" Bibi jangan sungkan sama aku ya kalau ada apa apa bilang saja, Mas Deni tahu Mamih merasa segan sama Bi Marni jadi dia gak akan macam macam sama aku heheee "
" Iya Non tadi saya juga melihat pandangan Bu Tessa seperti masih menyimpan aura permusuhan sama Bibi, apalagi ketika melihat mobil Non dia sampai menyiku Non Mela. Sepertinya dia tak suka Non Dini memakai mobil ini "
" Iya Bi, ini mobil pemberian Papih hadiah perkawinan untukku. Memang ini sangat mewah aku saja sampai kaget "
" Oh pantesan mungkin Bu Tessa iri, untung saja Non tinggal di apartement entah kalau misal serumah. Benar benar harus bisa jaga diri kadang Bu Tessa orangnya nekad juga "
" Semoga saja dia berubah Bi, karena bagaimanapun beliau tetap mertuaku " balas Dini walaupun dia tak yakin ibu mertuanya akan berubah.
__ADS_1