Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Orang Iri


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 22 ( Orang Iri )


Pagi hari di kantor Dini sudah sangat ramai, mereka bercerita tentang pernikahan Deni dan Dini.


Namun hari ini ada yang berbeda, biasanya Wida dan Vika paling terdepan bila membicarakan Dini. Kali ini mereka duduk di meja kubikel masing masing, seperti anak sekolah yang dihukum.


" Tumben tuh anak dua gak heboh biasanya paling suka recokin Dini "


Riska yang sedang mengobrol dengan Siti memandang ke arah Wida dan Vika. Siti hanya tersenyum tanpa memberi komentar. Karena dia tahu apa yang membuat mereka berubah seperti itu.


" Enak ya jadi Dini udah mah dapat suami kaya, masih muda, cakep lagi. Bener bener bikin iri ya " Riska mengomentari foto yang diperlihatkan Siti.


Disitu ada Siti bersama Deni dan Dini yang berfoto di pelaminan.


" Beruntung banget kamu sempat berfoto sama mereka, pas mereka tunangan pun kamu hadir " ucap Riska.


" Iya Dini beruntung, malah tadi malam aku sempet chatingan sama dia katanya hari ini berangkat honeymoon ke Bali dikasih hadiah sama mertua nya "


" Wah beruntung banget, aku dengar juga dari kamu katanya Dini dapat hadiah mobil Mini Cop**r seri terbaru. Itu beneran Sit? itu kan mahal banget "


" Iya bener, itu hadiah khusus dari mertua nya "


" Semoga saja aku seberuntung Dini, paling gak dapat suami tajir lah ya. Kalau harus sama semua berat hahaha " Riska tertawa keras membuat Vika dan Wida tambah sebal.


" Kamu denger kan Wid Dini dikasih hadiah honeymoon ke Bali sama mertuanya? masa orang kaya cuma ke Bali kalau kaya ya minimal ke luar negeri lah ya. Jadi gak percaya mereka beneran kaya apa ngga sih "


Sudah sifat dasar manusia selalu iri, bahkan hal yang bukan urusannya saja mereka selalu saja mempermasalahkan.


" Kamu sih belum lihat ya hadiah apa yang Dini terima dari mertuanya. Asal kalian tahu ya dia mendapat mobil Mini Cooper seri terbaru. Kalian pasti tahu dong harganya berapa.


Yang pasti kalian gak pernah mendapatkannya. Belum lagi sekarang Dini tinggal di Apartement. Wooww banget kan? " Siti langsung nimbrung percakapan Wida dan Vika karena kesal melihat mereka berdua belum berhenti menjelekan Dini.


" Apaan sih main sambar aza, emang beda ya kalau bestie yang berubah jadi fans garis keras " Balas Wida seperti mengejek Siti.


" Nah situ haters yang gak pernah senang lihat orang bahagia, kasihan banget yang hatinya penuh dengki " ucap Siti dengan sedikit suara yang ditinggikan.


Orang orang yang berada di ruangan itu langsung melihat ke arah mereka bertiga, sekarang mereka jadi pusat perhatian.

__ADS_1


" Ada apa sih kalian berisik banget, ini kan jam kerja. Bukannya kerja malah ribut " tegur salah satu teman laki laki mereka.


" Ini pasti mulut si Vika dan si Wida yang suka usil. Udah Siti gak usah ladenin mereka. Biar otak kamu tetap waras "


" Kalian berdua juga ngapain sih masih ngerecokin Dini, toh dia sudah bahagia dan gak kerja disini lagi berarti rival kalian sudah gak ada "


" Tau nih si Wida sama si Vika sifat dengki di piara "


Terdengar teman yang lain mulai memojokan mereka berdua. Siti hanya tersenyum miring merasa menang banyak yang membelanya.


Sedangkan Wida dan Vika bertambah geram, mereka pasti jadi bahan gunjingan teman yang lain nantinya.


" Puas kamu? " bentak Wida pada Siti dengan suara yang sedikit ditekan. Dia tak mau teman yang lain mendengarnya karena akan mengakibatkan dikucilkan dari lingkungan kantor.


" Gak, aku gak bakalan puas sampe kalian menyadari kesalahan kalian " balas Siti seraya pergi menuju kubikelnya.


***


Di ruangan berbeda ada Budi yang sedang duduk di mejanya, sekarang wajahnya terlihat makin suram.


Dia terus memandang ponselnya dan memperhatikan status status temannya di aplikasi berlogo F saat ada di pesta resepsi pernikahan Dini.


Dalam hatinya timbul rasa iri melihat pasangan pengantin tersebut terlihat serasi.


Banyak komentar yang mendo'akan kebaikan untuk pasangan tersebut. Tak terbilang pujian yang diterima oleh pasangan serasi tersebut membuat fikiran iri Budi makin bertambah.


" Dini seharusnya aku yang berada di sampingmu " gumamnya.


Tangan Budi terkepal dia merasa tak rela melihat kebahagiaan pasangan tersebut.


Apalagi ketika melihat percakapan di grup kantor hati Budi makin panas. Kadang dia berfikir apakah teman kantornya tak bisa menghargai perasaannya.


Namun Budi tak bisa melarang mereka karena itu memang wadah untuk berbagi informasi di tempat kerja mereka.


Apalagi kebanyakan orang yang aktif di grup tersebut adalah ibu ibu, rasanya Budi tak akan sanggup melawan ocehan mereka.


Seperti yang lainnya Budi pun mendapat undangan pernikahan dari Dini namun dia tak hadir karena dia merasa tak sanggup untuk melihat sepasang pengantin tersebut.


Andaikan Dini langsung yang memberikan undangan tersebut ingin rasanya dia memaki, namun undangan tersebut datang dari atasan sekaligus bosnya yaitu Pak Sarif.

__ADS_1


Dalam hatinya bertanya bagaimana Dini dapat membagikan undangan di kantor melalui Pak Sarif, apa hubungan Dini dan Pak Sarif?


Tok tok tok


" Boleh aku masuk Bud? " Bian teman Budi masuk ke dalam ruangannya.


Bian memiliki posisi yang sama dengan Budi hanya berbeda divisi. Mereka sangat akrab dan Bian tahu persis bagaimana perjalan hubungan Budi dan Dini dari awal mereka bertemu.


Bisa dibilang Bian ini merupakan tempat curhat Budi ketika dia mendekati Dini, beberapa kali Bian menjadi penghubung antara Budi dan Dini.


" Ngapain minta izin kalau kamu udah masuk " jawab Budi sambil tersenyum hambar.


" Hehee ya basa basi dikit gak apa apalah " jawab Bian sambil terkekeh.


" Gimana perasaanmu sekarang? " tambahnya.


" Ya beginilah, aku rasa kamu mengerti bahkan sangat faham. Kamu tahu rasanya seperti mimpi dalam hitungan hari Dini Sudah menjadi istri orang lain. Seharusnya aku yang menjadi pendampingnya. Terus terang aku tak rela " ungkap Budi yang berterus terang pada Bian.


" Aku sangat mengerti perasaan kamu bro. Tapi kita harus menerima kenyataan kalau kalian memang tak berjodoh. Sebaiknya kamu ikhlaskan agar hatimu tenang "


Dengan suara yang pelan Bian menasehati Budi, dia tak ingin Budi sampai berbuat nekad.


Budi dan Bian sudah lama saling mengenal karena dulu mereka satu sekolah saat SMA. Bian tahu betul siapa Budi dulu. Dia tak ingin Budi kembali seperti dulu.


Bian lebih lama kerja di kantor ini, sedangkan Budi berada di kantor cabang di kota sebelah. Ternyata Budi dimutasi ke kantor yang sekarang, tentu saja ini seperti reuni buat mereka.


Mendengar nasehat Bian, sepertinya Budi tak ingin menanggapinya. Dia hanya memandang ke langit langit ruangannya.


" Bud kalau kamu benar benar sayang pada Dini, kamu harus melepas Dini meraih kebahagiaannya. Aku bukan membela Dini tapi kalau yang namanya sudah jodoh mau bagaimana pun kita menghalanginya takdir akan mencarinya sendiri "


Budi tetap tak membalas ucapan Bian, walau ucapannya tak direspon namun dia tahu Budi sedang berfikir.


" Aku harap kamu dapat bersikap bijak, dan aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti Dini. Aku permisi dulu ya "


Bian pamit pada Budi setelah dirasa cukup memberikan nasehat untuk temannya itu.


Budi hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan Bian.


Setelah Bian pergi Budi menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya dengan mata terpejam. Dalam diamnya Budi tiba tiba tersenyum namun samar.

__ADS_1


__ADS_2