Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Karena Tanggung Jawab


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 60 ( Karena Tanggung Jawab )


" Bah, Umi ternyata Mela bukan anak kandung Pak Mukhlis dia hanya anak tiri. Papih Mamihnya Mela menikah dengan masing masing membawa satu anak dari pernikahan mereka sebelumnya "


Orang tua Budi langsung membulatkan matanya.


" Terus masalahnya dimana? " tanya Abah pada Budi yang diam menunduk.


" Jangan bilang kamu jadi ragu menikahi Mela karena statusnya bukan anak Pak Mukhlis "


Melihat Budi yang terus menunduk tak memberikan jawaban Abah nya yakin kalau Budi sedang ragu.


" Bud, Abah gak pernah ngajarin kamu untuk membeda-bedakan orang karena statusnya. Pada hakikatnya semua orang memiliki derajat yang sama. Harta hanya titipan. Kapan saja jika Allah berkehendak dengan mudahnya bisa diambil-Nya kembali " panjang lebar Abah menasehati Budi.


" Bud, hanya beberapa hari menjelang pernikahan, semuanya sudah siap bahkan undangan pasti sudah disebar. Gak mungkin kamu membatalkannya. Lagipula kamu punya tanggung jawab yang besar. Ingat bayi yang sedang dikandung Mela "


Umi ikut menimpali nasehat yang diberikan Abah pada anak lelakinya.


" Kamu juga punya kakak perempuan, apa tega kalau kamu membatalkan pernikahan ini? " tambah Abah.


Tiba tiba wajah Budi terangkat " Tapi bukankah mereka juga tega ketika membatalkan pertunanganku Bah. Lagian kenapa Mela gak jujur dari awal sih "


" Mungkin itu bisa dijadikan alasan, tapi beruntung kamu baru sebatas bertunangan. Lagipula Dini tidak sedang mengandung anakmu.


Berbeda dengan Mela ada cucu Abah dan Umi di dalam perutnya. Perlu kamu sadari dengan batalnya pertunangan kalian itu sudah pertanda bahwa kalian tidak berjodoh.


Dini pun sekarang hidupnya terlihat lebih bahagia. Andaikan masih bersamamu semua mungkin berbeda. Tidak bisa kita pungkiri dalam hati Dini masih ada Deni. Terbukti dengan mudahnya Dini menerima ketika pertunangan kalian dibatalkan.


Bahkan masih dalam bulan yang sama dia langsung menikah. Itu bukti Deni masih ada di hatinya dan satu lagi membuktikan kalian tidaklah berjodoh "


Penjelasan dan sehat Abah sedikit membuka pikiran Budi, namun ada sedikit perasaan sakit hati. Andai yang diucapkan Abah benar berarti selama ini Dini memang belum benar benar mencintainya.


Menyesal waktu itu Budi tidak menggauli Dini terlebih dahulu dengan segala bujuk rayunya, sehingga Dini tidak terlepas darinya.


" Ah sudahlah, rasanya makin banyak penyesalan bila dipikirkan " gumamnya dalam hati.


" Aku mau istirahat dulu Bah, Umi " ujar Budi sambil berdiri.


" Loh kita belum selesai Bud, bagaimana dengan undangannya. Abah butuh kepastian " Abah Budi sedikit gusar.


" Jangan buat Abah dan Umi malu untuk kedua kalinya Bud. Kamu faham kan maksud kami? " seru Umi.


" Iya aku tahu " jawab Budi singkat.

__ADS_1


" Lalu undangannya? " tanya Umi kembali.


" Terserah Abah dan Umi saja " tanpa menunggu jawaban Umi dan Abah, Budi langsung berdiri menuju kamarnya.


" Bud, Abah harap pikiran Abah salah. Kalau kamu berniat menikahi Mela karena hartanya. Jangan Bud, kami masih mampu untuk menghidupi kalian nantinya "


Pungkas Abah Budi, membuat langkah Budi terhenti sejenak dan melanjutkannya kembali.


Budi sudah pergi dan tak terlihat lagi kini hanya ada Abah dan Umi di taman belakang.


" Bagaimana ini Bah, anak kita kelakuannya aneh aneh saja. Belum lagi Nita yang tak pernah berubah. Umi sering malu Bah " mata Umi berkaca kaca.


" Hufftt Abah juga bingung, langkah apa yang harus kita ambil. Sebaiknya kita sholat Maghrib dulu Mi biar pikiran kita tenang "


Abah dan Umi beranjak dari duduknya menuju ke dalam rumah untuk menunaikan sholat.


Di dalam kamar saat ini Budi sedang terlentang di ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.


" Bud, Abah harap pikiran Abah salah. Kamu berniat menikahi Mela karena hartanya. Jangan Bud, kami masih mampu untuk menghidupi kalian nantinya "


Perkataan Abah nya masih terngiang di telinganya.


" Mela kenapa kamu tak bercerita dari awal. Ya aku sedikit kecewa karena sudah banyak pikiran terlintas ketika nanti aku menjadi suamimu. Mungkin Abah benar niatku menikahi Mela menginginkan hartanya. Ya setidaknya aku bisa hidup seperti Dini. Tapi ternyata itu hanya akan menjadi angan angan saja. Huffttt "


Budi menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya kasar.


" Bud, ayo sholat Maghrib dulu. kita berjamaah bareng Umi dan Abah di mushola "


Suara Umi nya terdengar dari luar kamar mengajak Budi untuk beribadah.


" Iya Mi aku wudhu dulu "


Tiba tiba saja terlintas di benak Budi mengikuti ajakan Umi nya.


" Rasanya sudah lama aku meninggalkan sholat, mungkin dengan sholat aku bisa mendapat ketenangan dan jawaban "


Budi langsung beranjak dari ranjangnya dan berwudhu. Kemudian dia menyusul Umi dan Abah nya di mushola.


Senyum kedua orang tuanya langsung menghiasi wajah mereka. Sudah lama Budi tidak bergabung untuk berjamaah dengan mereka.


" Alhamdulillah kamu mau bergabung Bud, Abah harap ini akan seterusnya. Ayo nak kemari " ajak Abah nya membuat Budi merasa malu karena sudah lama mengabaikan kewajibannya.


Setelah adzan berkumandang mereka pun sholat berjamaah. Dengan Budi menjadi Imam, awalnya Budi menolak tapi Abah meyakinkan Budi karena Budi sebentar lagi akan jadi Imam dalam sebuah keluarga. Akhirnya Budi bersedia menjadi Imam walaupun awalnya malu malu.


Selesai sholat mereka makan malam bersama tanpa kehadiran Nita. Kakak perempuan Budi itu jarang sekali ada di rumah, kalau pun ada di rumah sering berbuat rusuh. Budi sendiri lebih senang jika Nita tak ada.

__ADS_1


" Bud, bagaimana undangannya? apa sebaiknya kita sebar secepatnya karena waktunya tinggal beberapa hari lagi "


Abah kembali bertanya setelah mereka selesai makan. Karena dia berpikir pasti pikiran Budi sudah sedikit tenang. Setelah sholat dan mengisi perutnya.


" Iya Bah tak apa sebarkan saja " jawab Budi singkat.


Abah langsung menepuk bahu Budi dengan penuh senyum " itu namanya laki laki "


Budi pun membalas senyuman Abah nya. Setelah meresapi semua yang dikatakan Abah dan Umi nya memang ada benarnya. Hati Budi pun terasa lebih tenang, hanya saja dia tak mau untuk berbicara dengan Mela dulu karena takut membuatnya kesal kembali.


Dan kejadian ini berlangsung sampai malam esoknya hari pernikahan Budi dan Mela.


Budi tak pernah memberi kabar pada Mela, membuat perasaan Mela terombang ambing sampai Dini dan Mukhlis mengetahuinya.


Ddrrttt ddrrttt


" Abah ada telepon dari calon besan Bah " ucap Umi sambil membawa ponsel suaminya.


" Oh ya ada apa ya Mi, tumben Pak Mukhlis menghubungi kita " Abah mengernyitkan keningnya.


" Umi gak tahu Bah, sebaiknya Abah angkat dulu biar kita tahu maksud dan tujuannya " sahut Umi.


" Iya Mi, Abah jawab sekarang "


[ Hallo, Assalammu alaikum ]


[ Waalaikum Salam, maaf Pak malam malam saya mengganggu istirahat Bapak ]


[ Oh tidak Pak, kebetulan saya lagi berbincang dengan istri saya. Kira kira ada apa ya Pak? saya sedikit kaget tumben Bapak menghubungi saya ]


[ Mmmhhhh ini Pak mengenai anak anak kita, saya lihat Mela menangis sepertinya dia sedang bimbang karena Budi tidak menghubunginya setelah mengetahui kalau Mela bukan anak kandung saya ]


[ Oh begitu ya Pak, saya baru tahu Budi tidak menghubungi Mela biar nanti saya tegur Budi. Saya sebagai orang tuanya meminta maaf yang sebesar besarnya Pak ]


[ Iya Pak tak apa, tapi bagaimana dengan pernikahannya? ]


[ Oh Bapak gak usah khawatir tentang pernikahannya. Sebagai laki laki Budi tetap akan bertanggung jawab. Saya pastikan Budi akan hadir besok di akad dan pesta pernikahan sampai selesai ]


[ Alhamdulillah, terima kasih Pak. Saya akan menyampaikannya pada Mela supaya dia merasa tenang. Assalammu Alaikum ]


[ Waalaikum Salam ]


" Budi itu gimana sih bikin orang gak tenang saja " ucap Umi setelah sambungan telepon di tutup.


Umi tahu obrolan suaminya karena tadi di loudspeaker. Wajah Umi sedikit ditekuk mungkin karena malu.

__ADS_1


" Sstttt sudah Mi jangan buat Budi kesal, kita bicarakan baik baik. Panggil Budi kesini " titahnya.


__ADS_2