
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 43 ( Untuk Apa? )
Selesai makan Marni membereskan meja makan, Dini dan Mukhlis duduk di ruang TV.
" Papih dari siang menunggu aku, apa ada masalah Pih? " tanya Dini membuka percakapan.
" Iya tadi siang Papih dengar Mamih datang ke resto dan memarahi kamu. Apa benar? "
" Mmmhhhh ngga kok Pih, Mamih hanya mampir sebentar terus pergi lagi " jawab Dini dengan wajah gugup.
Dia tak menyangka ayah mertuanya akan menanyakan perihal tadi siang. Dini pun berpikir darimana mertuanya bisa mengetahui hal tersebut.
" Din, Papih lama disana pastinya Papih punya orang dekat. Kamu gak usah menutupi semuanya. Harusnya kamu berbicara jujur jangan ada yang ditutupi. Itu gak baik, apalagi Mamih orangnya pantang menyerah.
Andai ia punya keinginan pasti harus terlaksana. Papih pastikan dia akan kembali, kalau kamu tidak menyelesaikannya dia akan terus mengganggumu "
Dini dalam posisi serba salah karena dia tak ingin mertuanya ribut gara gara dia mengadu. Tapi apa yang dibilang ayah mertuanya memang benar karena dulu pun dia pernah mengalami.
Yang akhirnya dia memilih mundur dan menyudahi hubungannya dengan Deni. Beruntung takdir masih menyatukan mereka sehingga bisa kembali bersama.
Dia tak ingin kejadian itu dialaminya lagi, apalagi sekarang Dini sedang mengandung buah hatinya bersama Deni.
Dia pun butuh suasana nyaman agar berpengaruh baik terhadap perkembangan kandungannya. Akhirnya Dini memilih untuk bercerita jujur.
" Iya Pih tadi Mamih datang tiba tiba marah, Mamih nuduh aku menjodohkan Budi dengan Mela padahal itu tidak benar. Mela pernah bercerita padaku kalau dia lagi dekat dengan laki laki yang aku kenal aku pikir bukan Budi. Dia meminta aku merahasiakannya tapi aku menolak karena tak mau terlibat apapun yang bukan urusanku "
Akhirnya Dini bercerita semua yang dia ketahui dan alami tanpa menambah atau menguranginya sedikitpun.
" Kamu sudah cerita pada Deni soal Budi dekat dengan Mela? " tanya Mukhlis kembali.
" Belum Pih, aku bingung. Aku khawatir Mas Deni berpikiran lain. Tapi aku berani sumpah tak pernah mempunyai kontak atau hubungan lagi dengan Budi.
Aku juga kaget Mamih nuduh aku menjodohkan Mela dengan Budi. Bahkan Mamih menuduh aku ingin memeras harta keluarga Papih "
Walau dengan perasaan tak nyaman Dini terpaksa bercerita, mertuanya benar ini semua tidak bisa di tutupi takut akan menjadi masalah di kemudian hari.
" Sebaiknya kamu bercerita pada suamimu, jangan lagi memendam masalah sendirian. Ingat sekarang kamu sedang mengandung tidak boleh setres "
" Iya Pih aku minta maaf, aku gak bakalan ngulangin lagi " ucap Dini bersungguh sungguh.
" Sebaiknya kamu segera beristirahat Papih mau pulang dulu ya "
" Iya Pih "
Mukhlis pun keluar dari apartement setelah pamit pada Dini dan menitipkan Dini pada Marni agar menjaganya.
***
__ADS_1
Dibelahan dunia lain
Saat ini Dini sedang bersiap untuk beristirahat, lain halnya dengan Deni dia baru saja akan bangun dan bersiap untuk bekerja.
Dia sedang berusaha bekerja dengan baik dan memberikan proforma maksimal karena berharap mendapat izin penyelesaian kontrak secepatnya, setidaknya itulah hal yang dijanjikan atasannya.
Ddrrrt drrtt
Jarang sekali Deni mendapat panggilan karena Deni dan Dini sepakat Deni lah yang akan menghubungi Dini kecuali bila ada masalah darurat. Deni melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu nama ibu tirinya.
" Mamih mau apa sih? Apa mau ngaduin Dini lagi kayak dulu " gumamnya.
[ Hallo Assalammu Alaikum Mih, ada apa? ]
[ Waalaikum salam. Deni gimana kabarnya sehat? ]
[ Alhamdulillah sehat, tumben Mamih telepon. Ada perlu apa Mih? ]
[ Ah kamu emang Mamih gak boleh teleponin anaknya sendiri. Mamih kan kangen sama kamu Den ]
[ Oh iya Mih, aku baik baik aza kok ]
[ Ini loh Den tadi siang Mamih lihat Mela jalan sama Budi, itu mantan tunangan istri kamu. Coba kamu tegur Dini jangan menjodoh jodohkan mereka. Kok ya Mamih jadi curiga ada niat terselubung dari mereka berdua]
[ Maksud Mamih gimana ya? ]
[ Ok Mih nanti aku selidiki ya ]
[ Baguslah, Mmhhhh begini Den selain nanyain kabar Mamih juga mau minta tolong sama kamu ]
" Tuh kan ujung ujungnya gini " Deni langsung tersenyum.
[ Minta tolong apa Mih? ]
[ Mamih ada perlu mau pinjam uang sama kamu. Kalau gak kepepet Mamih gak akan nyari kamu ]
[ Emang berapa Mih? kenapa gak minta sama Papih aza masa iya Papih gak ngasih ]
[ Itu dia Den Papih sekarang membatasi pengeluaran Mamih. Padahal kan Mamih ikut arisan lah ini lah itu lah. Papih kamu mulai gak pengertian. Bisa ya kamu nolong Mamih ]
[ Biasanya Papih gak gitu orangnya, mungkin Mamih udah bikin Papih kecewa. Jadi Papih membatasi Mamih ]
[ Ah masa sih? perasaan ngga deh. Mamih masih melakukan kewajiban Mamih sebagai seorang istri ]
[ Ya udah Mamih perlu berapa ]
Daripada pusing Deni langsung menanyakan nominal uang yang dibutuhkan Tessa.
[ 300 juta saja Den ]
__ADS_1
" Hahhh 300 juta, buat apa uang sebanyak itu? " Deni sedikit kaget dengan nominal uang yang diminta ibu tirinya. Bukan Deni tak memilikinya hanya saja untuk apa uang sebanyak itu.
[ Mamih gak salah meminta uang sebanyak itu? ]
[ Ya enggak lah Den, sebenarnya butuhnya gak segitu. Tapi sebagian udah Mamih cover. 300 juta itu sisanya ]
[ Duh maaf Mih aku gak bisa kasih pinjam uang sebanyak itu, uangnya memang ada tapi itu sudah aku tabung dan tak bisa diambil. Kalau mau nanti aku bantu bilang sama Papih supaya ngasih uang 300juta buat Mamih Gimana Mih? ]
[ Masa sih gak bisa Den, kan Mamih pinjam loh bukan minta ]
[ Iya Mih aku gak bisa, aku kan sudah ngasih solusi lain buat Mamih ]
[ Ckck ya sudah lah nanti Mamih cari solusi lain aza. Makasih ya maaf Mamih udah ganggu kamu ]
Klik
Tessa langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Deni sepertinya dia kecewa. Deni hanya menggelengkan kepalanya.
" Mamih ini kalau keinginannya tidak terkabul pasti merajuk. Ya masa iya aku harus ngasih uang sebanyak itu kalaupun Mamih butuh kenapa gak minta sama Papih saja. Ini mesti ada apa apanya.
Terus lagi Mela lagi deket sama Budi, apa gak salah? dulu aku khawatir sama Dini dan tak rela dia dekat dengan laki laki seperti Budi, kenapa sekarang Mela jadi sama Budi.
Walaupun bukan adik kandung tapi aku sudah anggap dia seperti adikku sendiri. Rasanya kasihan saja kalau Mela haris bersama laki laki seperti Budi. Kecuali kalau dia memang sudah berubah " Deni bermonolog sendiri.
" Lebih baik nanti aku bicarakan dulu dengan Papih. Sekarang aku mau menelpon Dini dulu "
Deni mencari kontak Dini untuk melakukan video call bersama istrinya.
Tuuttt Tuuutt
Tanpa menunggu lama panggilannya langsung di jawab Dini karena memang sedari tadi Dini menunggu telepon Deni.
[ Assalammu Alaikum Mas ]
Kini wajah Dini sudah terlihat di layar ponsel Deni.
[ Waalaikum Salam, apa kabar kesayangan Mas? ]
[ Mmmhh baik Mas, aku baru selesai sholat. Mas juga baik baik aza kan? Tadi Papih juga kesini ]
[ Oh, Papih pasti melihat keadaan kamu. Mas baik juga, bagaimana kegiatan kamu siang tadi? ]
[ Iya Papih mengingatkan aku untuk jaga kesehatan. Tadi hari pertama aku bekerja kembali. Ada sedikit hal yang gak menyenangkan, tapi semua baik baik aza Mas gak usah khawatir ]
[ Oh ya apa ada hubungannya sama Mamih, Mela dan Budi? ]
Degh
Dini langsung menautkan alisnya, sepertinya dia heran karena Deni sudah mengetahui kejadian tadi siang.
__ADS_1