Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Persiapan Pesta Pernikahan


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 56 ( Persiapan Pesta Pernikahan )


Dua hari berlalu sesuai permintaan Mukhlis, Tessa tak pernah menanyakan bagaimana persiapan pernikahan anaknya. Seperti saat pernikahan Deni dia pun tak pernah dilibatkan semua Mukhlis yang mengatur.


Dia berharap pernikahan Mela sama megahnya dengan pernikahan Deni, bahkan seharusnya lebih megah.


" Mih nanti siang aku mau ke butik buat fitting gaun pengantin bareng Budi, Mamih udah nemuin ayah kan? " tanya Mela.


" Mmmhhhh itu belum Mel, Mamih malas kan udah Mamih bilang biar Papihmu saja yang jadi wali "


" Mamih dengar gak sih apa yang di bilang Papih? kalau pun Ayah gak datang nanti akan di ganti wali hakim. Jadi apa yang mau di tutupi. Pada intinya Papih gak akan jadi Wali. Aku mohon ya Mih jangan bikin keadaan jadi runyam "


Mela mulai kesal dengan sikap ibunya yang semaunya sendiri. Harusnya merasa bersyukur Mukhlis sebagai ayah sambung mau bertanggung jawab untuk pernikahan Mela.


" Kamu kok gitu sih bukannya dukung Mamih, kamu mau di ledekin dan jadi bahan omongan teman arisan Mamih? " Tessa membentak Mela tak terima anaknya selalu membela Mukhlis.


" Terserah Mamih, hari ini aku mau ke butik bareng Budi " Mela langsung pergi meninggalkan Tessa yang masih kesal.


" Aku harus ikut ke butik biar bisa memilihkan pakaian untuk Mela, pokoknya pakaiannya harus lebih megah dan elegan dari Dini "


Pukul 11 Mela sudah bersiap pergi ke butik dia sudah membuat janji dengan Budi untuk bertemu jam 12 di jam istirahat calon suaminya itu.


" Mel, mamih ikut " ucap Tessa yang terlihat sudah siap sambil menenteng tas branded nya.


Sebenarnya ada rasa sungkan ketika Ibunya ingin ikut, karena sudah pasti akan merecokinya nanti ketika di butik.


" Mih sebaiknya Mamih gak ikut deh, Mamih mending cari Ayah saja pernikahanku kan sebentar lagi "


" Gampanglah itu, Mamih cuma mau mastiin kalau kamu memilih pakaian yang tepat. Jangan sampai kamu kalah sama Dini "


" Hufftt, itu terus yang dibahas " Mela memutar bola matanya.


Setengah jam perjalanan mereka sudah tiba di butik ternyata berbarengan dengan kedatangan Budi.


" Mas kamu gak kerja, bukannya tadi bilang mau datang jam istirahat " tanya Mela keheranan.


" Tadi aku dikasih izin Pak Sarif untuk datang lebih cepat " jawab Budi sambil melirik ke arah Tessa.


Mela mengerti arti lirikan Budi " Mamih tadi maksa buat ikut katanya ingin memastikan pilihan gaunku "


" Mmhhh " Budi tau calon mertuanya itu tidak suka padanya. Budi pun jadi enggan untuk mendekatinya dia hanya mengajak bersalaman lalu masuk ke dalam butik.

__ADS_1


" Lihat calon suamimu mobilnya saja jelek gitu, apa kamu gak malu? dulu pacarmu tajir tajir sekarang malah dapat yang beginian " Tessa berusaha memanasi Mela.


" Kalau Mamih cuma mau ngerecokin aku mending Mamih pulang " dengan suara tertahan Mela menegur Ibunya.


" Yaelah baru juga segitu " Tessa terlihat masa bodo dengan ancaman anaknya dia langsung masuk ke dalam butik.


Di dalam butik pun Tessa terlihat dominan, dia banyak permintaan ini dan itu melebihi permintaan pengantin itu sendiri.


" Mel, kamu gak salah pilih baju yang seperti itu? ini kan biasa banget. Mbak suami saya kan member masa di kasih pakaian seperti ini " si pelayan menjadi kebingungan melihat tingkah Tessa.


" Yang tersedia model ini Mih karena kan kita dadakan lagipula ini model terbaru dari butik ini " melihat karyawan butik kebingungan Mela mencoba menjelaskan pada ibunya.


Melihat tingkah calon mertuanya Budi pun merasa heran hal seperti ini saja dipermasalahkan yang penting kan bukan bekas orang lain pikirnya.


" Mel kamu jangan lupa Deni dan Dini saja pernikahannya mepet mereka masih bisa memesan pakaian sesuai desain mereka masa kamu gak bisa.


Tenang saja Mbak semua biaya di tanggung suami saya. Yang penting mbaknya membuat pakaian sesuai permintaan kami " dengan wajah angkuhnya Tessa terus bicara.


Mendengar kegaduhan di area fitting seorang wanita mendatangi mereka dan bertanya pada pegawainya " Santi ada apa? "


" Maaf Bu ini Ibu Tessa meminta dibuatkan gaun sesuai permintaannya, padahal kemarin kami sudah berbicara dengan Pak Mukhlis beliau pun tidak mempermasalahkannya "


Manager butik tersebut tak mengenali Tessa karena butik ini langganan keluarga Deni dari ibunya.


" Maaf Bu kemarin saya dan Pak Mukhlis sudah berbicara. Karena pemesanannya mendadak jadi kami tak bisa membuatkan permintaannya. Tapi Ibu jangan khawatir karena gaun yang di pilih Mbak Mela pun itu model terbaru dari designer kami "


Sang manager menjelaskan dengan ramah agar Bu Tessa mengerti.


" Loh kok gitu sih kemarin pas pernikahan Deni dan Dini kalian bisa membuatnya dengan waktu seminggu masa sekarang gak bisa? "


" Oh soal gaun Mbak Dini itu berbeda. Mas Deni sudah merancangnya sangat lama bahkan beberapa bulan sebelumnya. Kami kira gaun itu tidak akan digunakan tapi ternyata mereka berjodoh jadi gaun itu tidak sia sia. Kami memang membuatnya satu minggu tapi detail dan bahannya sudah kami siapkan dari sebelumnya " sahut sang manager.


" Jadi Deni sudah lama sekali membuat gaun Dini, sebegitu yakinnya Deni akan bersatu dengan Dini. Sepertinya cinta mereka sangat kuat. Pastinya sangat sulit memisahkan mereka " Budi bermonolog dalam hatinya.


" Sudah Bu tidak apa apa saya akan menggunakan gaun tadi. Saya suka dengan desainnya. Ya kan Mas? " Mela mencoba mencairkan suasana tak mau membuat keributan di butik apalagi sampai menghubungi ayah sambungnya.


" Iya saya gak masalah Bu, lagipula ini juga bagus saya suka dengan modelnya " sahut Budi.


" Terima kasih Mbak Mela dan Mas Budi " jawab Manager tersebut.


" Kamu Mel aarrgghh " Tessa terlihat geram dan langsung pergi meninggalkan anak dan calon menantunya. Para karyawan pun berbisik bisik melihat kejadian tadi.


" Norak banget ya "

__ADS_1


" Iya kampungan, anaknya yang nikah kok kayak dia yang mau pake gaunnya "


" OKB mungkin ya hahaa "


" Sembarangan dia itu istri Pak Mukhlis, dia memang jarang kesini karena dulu pernah ribut sama manager sebelumnya. Mungkin dia suka pakai gaun rancangan butik lain jadi tak pernah kesini "


" Mmmhhh tapi kok gitu amat ya, padahal Pak Mukhlis ramah beda banget sama istrinya "


Mela jadi malu dengan tingkah Ibunya yang memang menyebalkan. Dia berusaha menutup telinganya mendengar obrolan para pegawai butik.


Diluar Tessa kembali kesal, dia lupa kalau tadi dia satu mobil dengan Mela.


" Sial*n bisa lupa segala tadi aku kan ikut Mela kesini. Mau ke dalam aku malu tadi sudah bikin keributan. Terpaksa lah naik taksol "


Dengan cepat dia meraih ponselnya dan membuka aplikasi pemesanan taksi.


Karena hari sudah siang lalu lintas pun mulai macet, satu jam perjalanan Tessa baru sampai di rumah.


Di halaman dia melihat mobil Mukhlis sudah terparkir. Dengan terburu buru Tessa masuk ke dalam.


" Papih sudah pulang? " dengan memasang senyum manis.


" Aku cuma mampir, tadi dari pihak percetakan memberi kabar undangan Mela sudah selesai dan sudah di kirim ke rumah. Jadi aku ingin memastikan "


Tessa mengambil satu lembar undangan dan membacanya. Mukanya langsung berubah masam melihat nama lokasi pesta pernikahan Mela.


" Pih kok pestanya di salah satu resto Papih sih, padahal Deni dulu di ballroom hotel bintang 5 " tanya Tessa ketus.


" Resto ku juga sudah biasa menerima order untuk acara pernikahan. Bahkan banyak yang merasa puas, kenapa kita sebagai pemiliknya tidak menggunakannya? " balas Mukhlis tak kalah ketusnya.


" Tapi kalau gini caranya Papih pilih kasih sama Mela, jangan karena Mela anak tiri Papih jadi membedakannya " Tessa marah dadanya terlihat kembang kempis.


" Apa perlu aku jelaskan posisi Mela dan Budi? seharusnya kamu bersyukur aku masih mau menanggung semuanya "


" Jadi Papih gak ikhlas? " sentak Tessa.


" Terserah kamu saja, jangan lupa kau hubungi ayah Mela. Pernikahan mereka tinggal hitungan hari "


Brugghhh


Mukhlis keluar dari ruang kerjanya dan memilih kembali ke kantornya.


" Aarrggghhh semua bikin aku kesaalll " teriak Tessa, suaranya memenuhi ruangan.

__ADS_1


__ADS_2