
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 14 ( Hampir Baku Hantam )
" Diniii "
Deni dan Dini berpaling ke arah suara itu berasal, muka Dini langsung pucat setelah melihat laki laki yang memanggilnya.
" Haahhh, kenapa dia kesini " batinnya..
Kini posisi Budi sudah dekat bahkan berhadapan jarak mereka hanya dua meter.
" Ke-kenapa A'? " tanya Dini.
" Puas kamu bikin malu, apa maksud kalian datang berdua kesini. Ingin mempermalukanku? "
Mata Budi merah, terlihat jelas amarah dimatanya. Dadanya kembang kempis.
Orang orang sedang berada di area parkir langsung memandang ke arah mereka.
" Istighfar kamu A', gak ada niatku seperti itu. Kami datang menemui Pak Sarif menyerahkan surat pengunduran diri aku " sanggah Dini.
Inilah hal yang dikhawatirkan Dini, kedatangan Dini bersama Deni akan membuat kesalah fahaman dengan Budi.
Mendengar Dini yang akan mengundurkan diri wajah Budi berubah sendu. Dia mendekat pada Dini.
" Kamu benar benar mau ninggalin aku Din? " tangan Budi hendak menggapai Dini.
Dengan sigap Deni langsung menghalanginya, posisi Dini sekarang berada di belakang Deni.
Hal itu membuat Budi jadi marah, dia langsung memandang Deni. Sadar Budi akan menyerangnya Deni menarik Dini mundur dan dibawa ke dekat mobil.
" Masuklah dulu " titahnya.
Namun Dini mulai panik dia hanya menatap kosong ke depan. Budi dengan cepat datang ke arah Deni hendak menyerangnya.
Pukulan langsung terarah ke wajah Deni, namun Deni dengan sigapnya menghindar.
" Hey Bung berhenti jangan pakai emosi kita bisa bicara baik baik " ujar Deni berusaha mengingatkan Budi.
Namun Budi makin kalap, Deni tidak membalasnya dia biarkan Budi menyerangnya terus.
Pak Yanto datang bersama beberapa orang laki laki hendak melerai. Tapi karena Budi emosi sehingga tenaganya jadi berlipat lipat.
Melihat perkelahian itu Dini hendak melerainya " Stop A' stop berhentiii "
Bughhhh
__ADS_1
Tanpa sengaja Budi memukul bahu Dini karena Budi memukul tanpa aturan.
" aahhkk " Dini berteriak.
Deni langsung merangkul Dini dan membawanya ke dalam mobil.
" Sayang kamu gak apa apa? "
Budi kaget mendengar teriakan Dini yang menjerit terkena pukulannya. Dia baru tersadar telah melakukan kesalahan.
Dengan matanya langsung dia melihat Deni begitu melindungi Dini. Dia tak dapat berkata kata, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung pergi.
Pak Yanto pun menghampiri pasangan kekasih tersebut dan bertanya " Bu Ibu gak papa? "
" Gak apa-apa Pak, mungkin Dini hanya kaget " Deni yang menjawab pertanyaan Pak Yanto karena Dini terlihat shock.
Deni memberikan sebotol air mineral pada Dini " Sayang bahumu sakit? Kita ke dokter dulu ya "
" Gak usah A' aku mau pulang saja " mulutnya menjawab tak apa tapi terlihat air matanya akan segera tumpah.
Deni melihat ke arah Budi yang berjalan menjauhi mereka. Ingin rasanya Deni mengejar Budi untuk membalaskan rasa sakit Dini. Namun dia urung melakukannya karena Dini lebih penting untuknya.
" Aku mau pulang Mas " pinta Dini menghiba.
" Iya, kita pulang sekarang ya "
" Makasih ya Pak, kami akan pulang sekarang. Dini butuh istirahat sebentar. Maaf kami telah membuat keributan "
" Oh iya gak apa Pak, hati hati ya Pak " jawab Pak Yanto dia pun menjadi bingung melihat kejadian tadi.
Yang paling membuatnya bingung dia melihat sosok Budi yang berbeda. Biasanya lelaki itu terlihat tenang dan dewasa. Namun tadi terlihat penuh emosi dan tidak bisa mengontrol diri.
Mobil Deni pun mulai melaju meninggalkan kantor yang pernah menjadi saksi antara Budi dan Dini ketika menjadi kekasih.
Sepanjang perjalanan Dini terdiam dan menundukan pandangannya. Dia ingin menyembunyikan tangisnya.
" Sayang maafin Mas ya gak bisa lindungin kamu. Kamu mau kita ke dokter? " bujuk Deni, namun Dini hanya menggeleng.
" Kamu mau pulang saja? "
" Iya Mas aku mau pulang dan istirahat " sahutnya.
Ya sudah kita pulang ya " tangan kiri Deni menggenggam tangan Dini. tangannya begitu dingin karena panik bercampur takut.
Kini mereka sudah sampai di rumah Dini, Deni membukakan pintu untuk Dini dan membawanya masuk ke rumah.
Bu Isma terlihat kaget melihat Dini pulang dengan mata yang sembab dan tatapan matanya kosong.
__ADS_1
" Bu sebaiknya antar Dini dulu ke kamarnya, sama Deni minta tolong ke Ibu buat cek bahu Dini sebelah kiri apa ada lebam atau tidak.
Kalau misal lebam parah kita bawa ke Rumah Sakit kalau tidak parah dikompres saja. Maaf ya Bu, Deni minta tolong. Nanti biar Deni ceritakan "
Bu Isma yang faham langsung membawa Dini ke kamarnya. Deni pergi ke dapur membuat teh manis hangat.
Deni juga menyiapkan air hangat untuk mengompres lengan Dini.
" Gimana Bu? ini Den udah siapin air kompres sama teh manis hangat biar Dini relax " ucap Deni sambil memperlihatkan baskom air dan gelas teh.
" Lebamnya gak parah paling kompres aza, bantu Ibu bawain ya ke kamar Dini "
" Iya Bu " Deni membawa air baskom untuk kompres dan gelas teh manis hangat ke kamar Dini.
Setelahnya Deni menunggu di taman belakang sambil membuka ponselnya. Dia menghubungi seseorang.
" Sebenarnya ada apa Den? Ibu tadi tak berani bertanya pada Dini melihat kondisinya " Bu Isma baru saja keluar dari kamar Dini sambil membawa baskom air kompresan.
" Hufftt " Deni menarik nafasnya.
" Maafin Deni Bu gak bisa jaga Dini. Sebenarnya tadi kami sudah bertemu dengan atasan Dini dan memberikan surat pengunduran dirinya.
Bahkan Dini sudah berpamitan bersama teman temannya. Namun pas di parkiran tiba tiba Budi datang dan ada sedikit perdebatan "
" Budi mendatangi kalian? " potong Bu Isma.
" Iya Bu dia terlihat marah, Dini sudah terlihat panik. Budi hendak menyentuh Dini tapi Deni halangi. Dia marah, Deni sudah menyuruh Dini masuk mobil tapi ketika Budi sudah kalap berusaha memukul Deni tiba tiba Dini datang menghalangi. Padahal seharusnya Dini tidak melakukan itu " papar Deni.
" Jadi itu yang menyebabkan Dini terpukul? ya mau gimana lagi Den. Ibu ngerti posisi kamu. Terus setelah Dini kena pukul Budi gimana? " tanya Bu Isma lagi.
" Deni membawa Dini ke dalam mobil dan mencoba menenangkannya. Tapi Budi terlihat pergi tanpa berucap apapun "
" Ibu gak menyangka Budi berbuat seperti itu, padahal biasanya dia terlihat tenang dan dewasa. Makanya waktu itu kami mengizinkan Budi untuk bertunangan bersama Dini " gumam Bu Isma pelan namun masih terdengar Deni.
" Maafin Ibu sama Ayah ya Den, karena kami tak bisa menolak keinginan Dini. Sepertinya waktu itu Dini merasa sendirian " lanjutnya lagi.
" Gak apa apa Deni faham posisi Dini. Untuk sekarang biarkan dulu Dini di kamar menenangkan diri saja Bu "
" Jadi gimana rencana kalian untuk mengecek persiapan pernikahan kalian? " tanya Bu Isma.
" Tak apa Bu biar Deni sendiri saja, benar kata orang tua dulu calon pengantin mendekati hari H makin banyak godaannya . Deni juga setelah pulang sepertinya mau mingit diri sendiri heheee " ucap Deni sambil terkekeh.
" Iya benar, makanya kalian jangan kemana mana lagi. tinggal sehari lagi kalian akad kan. Ibu gak mau sampai ada masalah lagi. Jangan khawatir Ibu dan Ayah bakal jaga Dini disini "
" Iya bu, kalau begitu Deni mau pulang dulu, tapi mau pamit dulu sama Dini ya Bu " pinta Deni pada Bu Isma.
" Iya Den silahkan " sahutnya.
__ADS_1