
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 8 ( Cibiran Di Kantor )
Pov Dini
Pagi ini aku melakukan aktifitas seperti biasa dan sedang bersiap untuk bekerja.
Aku dan Mas Deni sudah sepakat aku diperbolehkan kerja sampai nanti Mas Deni habis masa kontraknya dan kembali ke Indonesia.
Ting
Ada pesan masuk ke ponselku, ternyata dari Mas Deni.
[ Assalammu Alaikum, 15 menit lagi aku tunggu di depan rumah. Aku ingin mengantar calon istriku pergi bekerja ]
Tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum. Ah entahlah setelah melewati permasalahan kemarin kehadiran Mas Deni tetap membuat hatiku berdebar.
Lekas aku balas supaya Mas Deni tahu aku sudah membaca pesannya.
[ Waalaikum Salam, iya Mas calon suamiku ]
Tak lama balasan dari Mas Deni pun kembali masuk emoticon love berjajar yang sangat banyak.
Aku hanya tersenyum dan segera meraih tas kerja, lalu menuju meja makan bergabung bersama yang lain.
" Ayah, Ibu aku berangkat dulu ya "
" Kamu gak sarapan? " ucap Ibu.
" Ngga Bu, Mas Deni mau jemput aku dia bilang pengen anterin aku berangkat kerja "
" Cieehhh gaya lah yang CLBK " Andri meledekku yang lain pun ikut tertawa.
" Kamu minum susu saja, sayang kan udah dibikin. Bawa juga roti untuk bekal makan kamu di jalan " ujar Ibu sambil menyodorkan segelas susu padaku.
" Iya Bu "
" Din, kamu yakin akan tetap bekerja? menurut ayah sebaiknya kamu resign saja. Ayah takut gak nyaman karena kamu sekantor dengan Budi. Kita harus menjaga perasaan Deni juga "
" Iya yah aku ngerti, tapi aku harus minta izin dulu sama atasanku tidak bisa sembarangan resign.
Lagipula Mas Deni sudah setuju memperbolehkan aku bekerja sampai nanti dia kembali lagi ke Indonesia.
Tapi nanti aku bicarakan lagi sama Mas Deni Yah " jawabku pada ayah.
" Baguslah kalau begitu, sebisa bisa kita harus menghindar dari masalah "
" Teh sepertinya Mas Deni sudah ada di depan "
Tok tok tok
" Assalammu Alaikum "
" Biar aku buka pintunya " ucap Ocha.
Tak lama Ocha datang bareng Mas Deni.
" Masuk Den, kita sarapan bareng yuk mumpung masih pagi " ajak Ayah.
" Makasih Yah, kalau boleh aku ingin ajak Dini sarapan di luar. Sudah lama gak sarapan bubur langganan kami. Kamu mau kan Din? " ajak Mas Deni padaku.
" Mau Mas " tentu saja aku mau sudah lama kami tidak pergi sarapan berdua.
" Ya sudah ayo, Andri mau berangkat sekolah, mau bareng Mas gak? "
__ADS_1
" Gak ah takut ganggu hehee " jawab Andri malu malu.
" Jangan sungkan ayolah ikut " ucap Mas Deni sambil merangkul pundak Andri.
" Ya sudah aku ikut deh hehee "
Kami pun berangkat bertiga setelah menyalami Ayah dan Ibu bergantian.
Karena masih pagi jalanan pun masih sepi, Andri sudah turun terlebih dahulu di sekolahnya.
" Din rasanya mimpi kita bisa jalan lagi barengan, tiga hari lama banget ya pengen buru buru sah hehee " Mas Deni terus berbicara sambil menyetir dan sesekali melirikku sambil menyunggingkan senyum.
" Mmhhhh iya Mas rasanya seperti mimpi "
Tak lama kami pun sudah sampai di kedai bubur langganan kami.
Rupanya penjualnya sudah berganti karena sekarang di kelola anaknya. Padahal dulu kami sangat akrab dengan Bapak pemilik kedai yang ternyata ayah dari pengelola kedai bubur sekarang.
Kami memilih meja di ujung agar lebih leluasa mengobrol. Sambil menunggu pesanan kami banyak bertukar cerita apapun agar hubungan kami kembali menghangat.
" Din, kalau bisa sebaiknya kamu berhenti bekerja saja. Aku yakin sanggup menafkahimu walau sudah tidak berlayar.
Bahkan tanpa bantuan dari Mamih Papih. Aku ingin kamu jadi istri seutuhnya merawat aku dan anak anak kita "
Mendengar itu hatiku langsung berbunga bunga.
" Iya Mas, tapi kalau bisa sebelum Mas Deni pulang aku ingin bekerja ya. Soalnya aku takut bosan di rumah "
" Oke, tapi kalau gak kerja kan bisa cari kesibukan lain misal bisnis online atau apalah "
" Mas, apa gak ngebolehin aku karena aku sekantor sama A'Budi? Mas jangan khawatir aku gak akan macam-macam "
Mas Deni hanya diam tak menjawab, memang hal yang wajar kalau dia tak mempercayaiku. Pengalaman kami berjauhan menyebabkan aku meminta berpisah darinya.
Kalau kami menikah kejadian itu pasti berulang, tapi aku sudah belajar dari pengalaman.
Aku akan lebih kuat apalagi aku sudah menyampaikan segala keluhanku pada Mas Deni semoga saja dia dapat lebih dewasa menanggapinya.
Tidak mudah terprovokasi Mamih dan tante tantenya. Dan juga bisa lebih memahamiku.
" Iya aku percaya, seingat Mas kamu senang memasak kan. Nah coba aza jualan online. Rencana Mas setelah pulang berlayar ingin merintis membuka cafe sendiri. Bagaimana menurut kamu? "
" Ah itu ide bagus Mas, aku akan fikirkan lagi "
" Baguslah, sekarang habiskan buburnya takut kamu kesiangan masuk kantor " ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Selesai makan Mas Deni langsung mengantarku pergi ke kantor. Aku turun di parkiran kantor. Tak lupa mencium tangan Mas Deni.
" Selamat bekerja, jangan melamun ya. Nanti kabarin aku pulang jam berapa biar aku jemput lagi "
" Apa gak ngerepotin? "
" Gak lah, lagipula Mas pengen nebus semua hal yang Mas lewatin "
" Ya udah Mas aku masuk dulu ya "
Mobil Mas Deni kembali melaju dia melambaikan tangannya padaku.
Aku segera masuk pintu dan Pak Yanto Security kantor menyapaku " Eh Mbak Dini, gimana acaranya kemarin "
Degh
Kenapa aku bisa lupa pertunanganku yang batal. Apa karena terus bersama Mas Deni sampai sampai aku tidak merasakan kesedihan lagi.
" Jadi kamu batal tunangan sama Budi? wow hebat banget udah langsung digandeng aza sama yang lain " Wida berbicara padaku dan wajahnya terlihat sinis.
__ADS_1
" Jangan sok cantik kamu, tunangan sana sini jadi perempuan kok plin plan sih " Vika ikut menimpali omongan Wida.
" Ini maaf ada apa ya kok jadi ribut gini? " tanya Pak Yanto pada kami.
" Ini Pak si paling cantik udah bikin heboh kemarin " jawab Vika telunjuknya ditujukan padaku.
" Ekheemm "
Ada suara yang aku kenali tepat di belakangku. Wida dan Vika langsung berhenti berbicara mereka mundur beberapa langkah bahkan senyum terbit di bibir mereka.
" Pak Budi, pagi Pak "
" Silahkan kalian kembali ke ruangan kalian.
" Hufttt " aku menarik nafasku dalam.
A' Budi pergi begitu saja meninggalkan kami. Aku memakluminya dia pasti belum benar benar menerima kejadian kemarin.
" Ya udah Pak Yanto saya permisi ya " aku berusaha menyunggingkan senyum.
Aku gak peduli mereka akan bicara apa, karena mereka tak akan tahu apa yang aku rasakan.
Setelah pamit pada Pak Yanto aku segera berlalu menuju ruanganku. Pintu ruangan kubuka dan semua mata menatapku.
Kusunggingkan senyum untuk menghilangkan rasa gugupku.
Sabar sabar itu yang sedari tadi kuucapkan dalam hati. Buru buru aku menuju meja kubikelku.
" Sstt sstt " Siti teman dekatku di kantor menghampiriku setelah aku terduduk.
" Kamu baik baik aza kan? " tanyanya.
" Mmhhhh baik " aku mengangguk memasang wajah datar.
" Iihhhh hebat banget, kalau aku gak tau lah mungkin udah ngumpet di bawah meja " ucap Siti sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
" Emang ada apa sih? " tanyaku malah jadi penasaran.
" Kamu gak tahu? Kamu tuh jadi bahan ghibah di grup kantor masa kamu gak tahu coba deh liat grup " ucap Siti sambil membulatkan matanya.
Sedikit penasaran aku ambil ponsel di dalam tasku, kubuka grup kantor lalu ku scroll semua percakapan dari atas sampai bawah.
Isinya ya begitulah soal pertunanganku yang gagal. Untung saja tak ada video pas aku nangis bombay. Padahal biasanya netizen +62 paling gercep kan buat viralin yang begituan.
Alhamdulillah aku masih dalam lindungan-Nya. Namun mataku langsung melotot dengan isi pesan yang terkirim pagi ini di WA grup.
Disitu ada fotoku bersama Mas Deni sedang sarapan bubur. Bahkan ada satu foto ketika kepalaku sedang disentuh tangan Mas Deni. Mungkin ini ketika dia mengucek kepalaku.
Ya ampun netizen +62 ada saja bahan ghibahnya. Aku hanya bisa menarik nafas dalam dan membuangnya lewat mulutku.
" Are You okay?" tanya Siti.
" Fine " jawabku sambil merotasi mata.
Aku tak perlu mencari tahu siapa yang mengambil gambar kami, karena disitu tertera nama pengirim di grup.
Pantas saja tadi pagi dia begitu nyolot, padahal dia tak punya urusan sama sekali. Harusnya dia senang orang yang dianggapnya saingan sudah tak jadi ancaman baginya.
Vika, dialah yang mengirim foto foto tersebut. Dari dulu dia memang tak menyukaiku.
Dia selalu merasa aku adalah saingannya. selain karena pekerjaanku yang sering mendapat pujian dari atasanku, dia juga cemburu karena aku mendapatkan A'Budi.
Di grup banyak kata kata penuh cibiran yang ditujukan padaku.
Sakit? tentu saja, ada sedikit rasa perih di hati. Tapi biarlah buatku diam itu emas, lagipula tanganku cuma dua tak mungkin kubungkam mulut mereka satu persatu.
__ADS_1