
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 13 ( Pamit )
Keesokan paginya Dini bangun pagi seperti biasa, dia berniat untuk datang agak siang ke kantor karena hanya menyerahkan surat pengunduran dirinya.
" Sudah siap jadi pengangguran Teh? hehee " ucap Ocha.
" Disiap siapin lah, demi menjadi Istri sholehah " balas Dini.
" Wiihhh gaya ya yang mau jadi manten " Andri ikut menimpali candaan kakak kakaknya.
" Assalammu Alaikum "
" Mas sarapan bareng yu " ajak Dini.
" Boleh, nyiapin tenaga buat ngadepin kenyataan " balasnya sambil tersenyum.
" Din berarti hari ini kita cuma menyerahkan surat pengunduran diri saja kan? " tanya Deni di sela sela sarapannya.
" Iya Mas kemarin aku sudah berbicara dengan atasanku, seharusnya pengajuan itu sebulan sebelumnya. Namun aku sudah minta kebijakan pada atasanku. Alhamdulillah di izinkan " sahut Dini.
" Alhamdulillah semua dipermudah ya Din "
Selesai sarapan Dini duduk di taman belakang bareng Deni dan Bu Isma. Setelah Pak Hanif pergi mengajar, Ocha ke kampus dan Andri sekolah.
Mereka membahas acara pernikahan nanti. Semua persiapan di tangani keluarga Deni. Jadi keluarga Dini tidak terlalu direpotkan persiapan pernikahan mereka. Bahkan untuk seragam pesta pernikahan keluarga Dini pun sudah disiapkan keluarga Deni.
" Din udah jam 9 kita berangkat sekarang yu, biar pulang cepat. Nanti kita langsung lihat sampai sejauh mana persiapan pernikahan kita " ajak Deni pada Dini.
" Iya Din lebih cepat lebih baik, jadi urusan kamu beres satu persatu. Seharusnya kamu udah diam di rumah atau nyalon buat prepare " tambah Ibu Dini.
" Ya sudah kita berangkat sekarang, do'ain Dini ya Bu supaya lancar " ucap Dini sambil mencium punggung tangan Ibunya bergantian dengan Deni.
" Tentu saja Din, do'a Ibu selalu menyertai kamu. Hati hati di jalan ya "
Setelah pamit sepasang calon pengantin itu pun menuju ke kantor tempat Dini bekerja.
" Din Mas ikut ya menemui atasanmu menyerahkan surat pengunduran dirinya " pinta Deni, karena dia khawatir Dini akan tertahan disana.
" Gak usah Mas biar aku saja, aku gak mau teman teman berfikir yang aneh aneh sama aku " balas Dini.
" Aneh gimana? " Deni mengernyitkan keningnya dan melirik ke arah Dini yang duduk di sebelahnya.
" Mas jangan salah faham dulu, ada alasan lain yang bikin aku pengen resign Mas " Dini terdiam dan menarik nafasnya dalam, matanya melihat ke arah jalanan.
" Aku jadi bahan pembicaraan di grup WA kantor, ucapan mereka kurang berkenan. Aku tak mau kalau Mas masuk ke dalam mereka akan tambah menjadi " lanjutnya.
" Emang mereka bilang apa? " Deni kembali bertanya.
__ADS_1
" Ya banyaklah dan aku gak nyaman "
" Gak usah di ambil hati, lagian kamu memutuskan resign itu hal yang tepat. Tidak usah kamu fikirin. Justru kita harus menghadapinya berdua. Pokoknya aku bakalan ikut ke dalam sekalian berkenalan sama atasan kamu "
Dini sudah tak bisa menolak keinginan Deni, dia cuma berharap semoga tidak bertemu dengan Budi.
Mereka sudah sampai di parkiran kantor, keduanya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kantor.
Di pintu masuk Pak Yanto security kantor menyapa Dini.
" Wah Bu Dini kesiangan ya kok baru datang, di antar kakaknya ya? "
Mendengar ucapan Pak Yanto mereka berdua tersenyum " Bukan Pak Yanto ini calon suami saya. Saya ke dalam dulu ya Pak "
Dini langsung pamit ke dalam, sedang Pak Yanto terlihat kebingungan.
" Jadi bener ya Pak Budi batal tunangan dengan Bu Dini. Kirain cuma gosip hehee. Tapi wajar juga sih Bu Dini pilih yang ini. Cakep kayak oppa oppa Korea " Pak Yanto bergumam sambil memandangi sepasang kekasih itu berjalan.
" Hayoooo siapa yang mirip oppa oppa Korea? " Wida yang juga baru datang mengangetkan Pak Yanto.
" Aduh Bu Wida bikin kaget, itu loh Bu. Bu Dini datang bareng calon suaminya katanya. Orangnya mirip Oppa Oppa Korean cakeep banget "
" Wah masa sih masuk sini, emang mau ngapain? " Wida terlihat penasaran mendengar penuturan Pak Yanto.
" Gak tahu Bu cuma Bu Dini nanya Pak Sarif udah datang belum katanya "
" Oohhhh ya sudahlah saya ke dalam sekarang " Setelah pamit Wida seperti tergesa gesa masuk ke dalam.
" Vik Vika " Wida duduk sambil terengah engah di samping Vika.
" Ada apa sih, mentang mentang kesiangan sampe ngos ngosan gitu " Vika hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan perkejaannya seperti tak tertarik.
" Ih kamu dengerin dulu, tadi kata Pak Yanto si Dini baru datang, tapi dia datang sama calon suaminya. Kayaknya sekarang mereka lagi di ruangan Pak Sarif deh " ujar Wida.
" Wah mau ngapain mereka, ini sih berita seru, kita ngintip yuk. Aku mau pura pura ke ruangan Pak Sarif minta tanda tangan kebetulan ada dokumen yang butuh tanda tangannya "
" Wah mantaapp emang pintar kamu " Wida mengangkat ibu jarinya untuk Vika.
" Ayo buruan keburu mereka keluar " mereka berdua langsung berdiri, Vika seperti membawa sebuah dokumen.
Siti yang sedari tadi mencuri dengar percakapan mereka jadi ikut berdiri dan ikut penasaran kemudian mengikuti mereka berdua.
Di dalam ruangan Pak Sarif atasan Dini kini sepasang kekasih itu sedang menghadap dan menyampaikan maksud kedatangan Deni yang mengantar Dini untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Tanpa Dini duga ternyata Pak Sarif tidak mempersulitnya bahkan mengucapkan selamat dan mendo'akan agar acara pernikahan mereka lancar tanpa kendala.
Walaupun Pak Sarif menyanyangkan keputusan Dini untuk resign tapi dia tak bisa memaksa untuk tetap bekerja. Apalagi tahu kondisi yang terjadi tentang pembicaraan grup WA kantor di kalangan stafnya.
Walaupun Pak Sarif tidak masuk grup tersebut tapi untuk mendapat berita seperti itu tidaklah sulit.
__ADS_1
Atasan Dini tersebut pun memaklumi dan berkata kalau keputusan Dini sudah tepat.
Di dalam ruangan mereka bertiga berbincang, ternyata Wida dan Vika menguping pembicaraan mereka di pintu yang kebetulan tidak tertutup rapat.
Setelah obrolan hanya dirasa sebagai basa basi mereka berdua langsung pergi dan kembali ke meja Vika.
Dia langsung menulis di grup kantor.
" Sepasang kekasih yang lama terpisah akhirnya akan bersatu dan saat ini mereka sedang meminta izin pada Bapak Atasan. Kayaknya bakalan ada yang bener bener patah hati nih. "
Tak lama berselang langsung banyak comment yang masuk.
" Siapa sih? "
" Beneran ya mereka mau menikah? "
" Wah bakal ada yang nangis guling guling nih "
Bla bla bla bla....
Masih banyak comment lainnya, andaikan bukan jam kerja mereka pasti bakal menuju ruangan Pak Sarif untuk melihat langsung.
Vika dan Wida dengan cekatan menjawab semua pertanyaan teman temannya di grup.
Mereka berdua tersenyum karena umpannya benar benar masuk.
Di ruangan lain Budi yang sedang duduk di mejanya melihat ada notif pesan masuk ke ponselnya dari Alex.
[ Bud, baca grup! ]
Singkat tapi membuat Budi penasaran, dia langsung membuka grup kantornya.
Matanya memicing, setelah membaca semua percakapan di grup. Kedua tangannya langsung terkepal.
" Apa maksudnya mereka datang berdua kesini, ingin membuatku malu? Kurang ajar "
Dadanya naik turun karena emosi, Budi langsung berdiri dan keluar dari ruangannya.
Di ruangan Pak Sarif Dini meminta izin pada Pak Sarif untuk ke ruangannya mengambil barang barang pribadi miliknya dan berpamitan pada teman seruangannya.
Hanya 15 menit Dini sudah kembali ke ruangan Pak Sarif, namun mata Dini terlihat sembab. Deni berfikir Dini sedih berpisah dengan teman temannya.
Setelah Dini menyelesaikan urusannya mereka berdua pamit pulang dan keluar dari ruangan Pak Sarif. Di sepanjang jalan keluar banyak mata yang memandang tajam pada pasangan kekasih itu, bahkan ada sedikit sindirian.
Mereka berdua mengacuhkannya dan bergegas ke mobil setelah pamit pada Pak Yanto.
Ketika Deni dan Dini sudah diparkiran tiba tiba ada suara laki laki memanggil Dini dengan sangat lantang.
" Diniii "
__ADS_1
Deni dan Dini berpaling ke arah suara itu berasal, muka Dini langsung pucat setelah melihat laki laki yang memanggilnya.
" Haahhh, kenapa dia kesini " batinnya..