Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Budi Menghilang


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 48 ( Budi Menghilang )


Waktu sarapan sudah tiba biasanya Mela akan datang dengan ceria dan berceloteh. Tapi sudah lama itu tidak terjadi semenjak dia mengenal dunia malam sehingga sering bangun terlambat.


Apalagi sekarang dengan kondisi berbadan dua dan tanpa suami membuat Mela makin enggan bergabung bersama keluarganya walau hanya untuk sekedar sarapan.


Tok tok tok


" Non, di panggil Ibu buat sarapan bareng. Di tunggu sekarang di bawah "


" Iya Bi " jawab Mela dari dalam kamarnya, matanya masih terpejam dan kepalanya terasa berat karena memikirkan Budi yang tiba tiba menghilang.


" Mamih gak ngerti banget sih kalau aku malas ketemu Papih. Pasti nanti ditanyain soal Budi. Aku udah hubungi Budi berulang ulang tapi ponselnya non aktif semenjak aku kasih tahu kalau aku sedang mengandung anaknya "


Entah dimana Budi karena tak pernah memberi kabar pada Mela. Dia pernah datang ke kantor Budi yang kebetulan milik paman Deni dari ibunya namun Budi tidak masuk kerja sudah dua hari.


Untuk datang ke rumahnya tentu saja Mela tidak berani apalagi mendengar cerita kalau orang tua Budi cukup fanatik dan kakaknya julid luar biasa. Bisa bisa dia di usir dari rumah Budi sebelum meminta pertanggung jawaban untuk anak yang dikandungnya.


Tok tok tok


" Non "


" Iya Bi saya turun sekarang " Lamunan Mela buyar mendengar panggilan ART nya.


" Cerewet " dia menggerutu sambil masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka sebentar. Kemudian dia merapihkan wajahnya di cermin.


Setelah dirasa cukup rapih Mela langsung keluar menuju meja makan. Disana sudah ada Mukhlis dan Tessa yang sedang menikmati sarapan dalam diam. Semenjak beberapa hari ini mereka memang jarang bertegur sapa.


Mela langsung duduk " Maaf terlambat tadi lagi di toilet "


Tak ada yang menjawab ucapan Mela hanya ada lirikan tajam dari Tessa. Sementara Mukhlis fokus dengan sarapan yang ada di hadapannya.


" Sudah ada kabar dari Budi, kapan dia akan ke rumah Mel? " tanya Mukhlis.


" Uhukkk uhuuukk belum Pih " Mela langsung tersedak mendengar pertanyaan Mukhlis.


" Ini sudah masuk hari ketiga, Papih kasih waktu sampai nanti malam. Kalau dia tidak datang maka kita yang akan datang ke rumahnya " suara Mukhlis pelan tapi terdengar sangat tegas.


" I-iya Pih " jawab Mela terbata, selera makannya langsung hilang menguap begitu saja.

__ADS_1


" Kamu sudah bilang kondisi kamu saat ini sedang mengandung anaknya? " tanya Mukhlis lagi.


" Sudah Pih, tapi dia langsung menutup panggilan teleponku saat menceritakan semuanya "


" Hufftt " Mukhlis menarik nafasnya dalam.


Dia langsung berdiri meninggalkan Mela dan Tessa yang masih di meja makan.


" Arrgghh kepala Mamih rasanya mau pecah memikirkan masalahmu. Gara gara masalah kamu Papih mendiamkan Mamih " Tessa meremas rambutnya sendiri.


" Maafin Mela Mih, Mela udah cari Budi tapi dia menghilang. Di tempat kerjanya juga tak ada "


Tessa tak menjawab ucapan Mela dia berlalu pergi begitu saja.


" Eeuugghh si Budi sialan banget udah enak main pergi saja " makinya dalam hati.


***


Malam sebelumnya Mukhlis sudah menelepon Deni dan menceritakan masalah Mela.


Deni cukup kaget walau sebelumnya dia sudah tahu Mela memiliki hubungan dengan Budi.


Seandainya dia tahu Mela bersama Budi dia juga pasti menghalanginya. Tapi nasi sudah menjadi bubur apalagi Mela sedang mengandung anak Budi.


Deni pun menceritakan sosok Budi pada Mukhlis dia hanya berharap Budi sudah berubah. Dan meminta pada ayahnya agar menjaga Dini lebih baik lagi.


Andaikan Mela dan Budi menikah maka kemungkinan Dini dan Budi bertemu akan lebih banyak. Dia bisa mempercayai Dini tapi tidak dengan Budi.


Begitupun dengan niat Budi yang mendekati Mela, Deni masih ragu apakah Budi memang mencintai adik tirinya atau dia berniat balas dendam melalui Mela.


Mendengar informasi dari Deni, dalam hati Mukhlis ada perasaan ragu untuk menikahkan Mela dengan Budi. Tapi di sisi lain anak yang dikandung Mela butuh sosok seorang ayah jika lahir nanti.


Akhirnya Mukhlis memutuskan akan tetap menikahkan Mela dengan Budi apapun resikonya nanti.


Dari rumah Mukhlis menuju kantornya karena ada berkas yang harus di tanda tanganinya. Sekitar pukul 11 siang dia keluar dan menuju resto yang di kelola Dini yang berada di pusat kota.


Butuh waktu setengah untuk tiba disana karena jaraknya cukup jauh dan beruntung kondisi siang hari memang tidak terlalu macet sehingga bisa sampai sesuai perkiraan.


Mukhlis tiba di Resto berbarengan dengan pengunjung yang berniat makan siang. Dari kejauhan Mukhlis melihat Dini yang sedang memantau karyawannya.


Dia tersenyum melihat menantunya yang begitu energik walaupun dalam kondisi hamil. Senyumnya selalu merekah menyambut para tamu yang datang berkunjung.

__ADS_1


" Pih " sapa Dini ketika melihat Mukhlis mendekat diraihnya tangan Mukhlis dan menciumnya dengan takzim.


" Papih sengaja datang kesini, mau aku siapin makan siang Pih? Aku juga belum makan siang gimana kalau kita makan siang bareng? " Dini berbicara tanpa henti membuat Mukhlis tertawa.


" Hahaaa kamu itu ya, bener kata orang bumil itu paling semangat kalau makan. Papih datang langsung di ajak makan "


" Heheee Papih aku jadi malu " Dini menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Ayolah, memang Papih datang kesini sengaja untuk makan siang "


" Ya udah aku siapin meja dulu ya Pih, menunya apa Pih? " tanya Dini


" Papih ikut kamu aja Din, karena itu pasti kemauan cucu Papih "


Dini pun memanggil salah satu karyawannya dan meminta disiapkan meja. Kemudian dia meminta menu untuk santap siangnya.


Sambil menunggu hidangan yang dipesan Dini bertanya tentang Mela pada Mukhlis.


" Pih gimana keadaan Mela? "


" Dia baik, sekarang dia lebih sering berada di rumah. Kedatangan Papih kesini memang untuk membicarakan tentang Mela " Mukhlis menjeda perkataannya.


" Din, Papih bisa minta tolong kamu gak buat antar Papih ke rumah Budi. Mela bilang Budi menghilang tak memberinya kabar. Papih khawatir dia tak mau bertanggung jawab pada anak yang di kandung Mela "


" Huftt, aku senang bisa bantu Papih tapi aku harus minta izin pada Mas Deni terlebih dahulu. Aku gak mau Mas Deni salah faham "


" Soal itu kamu gak usah khawatir, semalam Papih sudah bicara dengan Deni dan memintakan izin supaya nanti kamu ikut bertemu orang tua Budi "


Mukhlis mengerti Dini terlihat enggan bertemu dengan keluarga Budi sebab akan membuka luka hati keluarga tersebut karena dulu telah menggagalkan pertunangan mereka.


Belum lagi Dini ingin menjaga perasaan Deni, untung saja Mukhlis sudah memperkirakannya sehingga tadi malam Mukhlis sudah meminta izin pada Deni dan membicarakan segala kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya bersama Deni.


" Baiklah Pih, aku pasti bantu Papih. Kapan kira kira kita akan ke rumah Budi? "


" Papih memberikan waktu pada Mela tiga hari untuk berbicara pada Budi. Dan ini sudah hari ketiga namun Budi tidak memberi kepastian, padahal Mela sudah bilang kalau dia mengandung anaknya. Mela juga sudah mencari ke kantornya dan bertanya pada teman temannya "


Mata Dini terbelalak " Benarkah Pih? aku gak nyangka Budi berbuat seperti itu. Seharusnya dia memberi kepastian apalagi Mela sedang mengandung anaknya.


Mungkin Budi sedang menenangkan pikirannya Pih, ya semoga saja Budi segera menyelesaikan masalah ini ".


" Papih pun berharap seperti itu " jawab Mukhlis.

__ADS_1


__ADS_2