Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Siapa Ayah Bayi Itu?


__ADS_3

# Gara Gara PergI Berlayar


Bab 46 ( Siapa Ayah Bayi Itu? )


" Melaaa kamuu huaa huaa "


Tangisan dan jeritan Tessa sampai terdengar ke bawah. Semua ART saling beradu pandang dan berniat ke lantai dua karena takut terjadi sesuatu.


Tapi Mukhlis yang datang dari luar langsung memberhentikan mereka dan menyuruh bekerja kembali.


Mukhlis yang tadi sudah berangkat kembali memutar mobilnya dan menghubungi dokter keluarga agar datang ke rumah memeriksa keadaan Mela.


Dia ingin mengetahui yang sesungguhnya terjadi pada Mela. Namun baru sampai teras rumah dia mendengar jeritan Tessa dari lantai dua.


Setelah berbicara pada ART dan menyuruh kembali bekerja, Mukhlis langsung naik ke lantai atas menuju kamar Mela. Dia tak masuk kamar hanya berdiri di samping pintu yang kebetulan sedikit terbuka.


Rupanya Tessa lupa tidak menutup pintu dengan rapat, sehingga Mukhlis bisa mendengarkan percakapan Mela dan Tessa.


" Katakan sama Mamih apa yang Mamih lihat salah kan? Mela kenapa seperti ini. Mamih sangat kecewa sama kamu hiks hiks " terdengar suara Tessa di iringi isak tangis.


Ibu mana yang tak akan sedih melihat putri kesayangannya hamil sebelum menikah tanpa tahu siapa suaminya.


Karena selama ini Mela tak pernah membawa teman laki laki yang diperkenalkan sebagai kekasih. Semua hanya teman biasa. Tessa hanya melihat Budi yang pernah berjalan bergandengan dengan Mela saat itu di resto.


" Maafin Mela Mih hiks hiks " kini terdengar suara Mela yang memohon maaf yang juga di iringi tangisan.


" Apa mantan tunangan Dini itu yang sudah menghamilimu? katakan Mela katakaan huaaa huaaa " kali ini Tessa menangis lebih histeris.


" Iya Mih, Budi " Mela tertunduk.


" Kenapa harus dia Mel, dia mantan tunangan Dini. Apa kamu tak malu? apa kata orang nanti.


Mamih malu dengan kelakuan kamu, Mamih sudah gagal mendidikmu. Apa yang harus Mamih bilang sama Papihmu? "


" Biar Mela yang bilang Mih, kalau Papih marah biar Mela terima konsekuensinya "


" Nggak Mamih gak setuju, biar kita gugurkan kandunganmu. Mamih gak sudi punya menantu Budi. Mamih ingin yang lebih baik buatmu "


" Tapi Mih aku gak mau, aku mau pertahanin bayi ini. Aku mencintai Budi Mih " Mela menolak keras ide Tessa karena dia tak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


" Mamih gak peduli, kamu harus ikuti kemauan Mamih. Jangan melawan lagi "


" Permisi Pak, Bu Nurma sudah datang katanya mau menemui Bapak " Bi narsih datang bersama dokter Nurma.


Degh

__ADS_1


Sontak Mela dan Tessa berhenti berdebat. Mereka melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka.


Dan apa, Bapak?


Apa Mukhlis kembali lagi ke rumah, bukannya dia berangkat ke kantor?


" Jangan jangan dia mendengarkan percakapanku dengan Mela " Tessa membatin dia pun merutuki kebodohannya yang lalai menutup pintu.


" Masuklah dok, Mela sakit ada di dalam. Mohon diperiksa dulu " ujar Mukhlis pada dokter Nurma yang merupakan dokter keluarga mereka.


Mau tak mau Tessa yang sedang duduk dipinggiran ranjang langsung berdiri, dia mengusap air matanya dan membuka pintu.


" Dokter, mmhhh anak saya cuma masuk angin istirahat sebentar juga akan sembuh " ucap Tessa mengusir dokter Nurma secara halus.


" Masuk saja dok, biar saya berbicara dengan istri saya " sahut Mukhlis sambil menatap tajam Tessa.


Tessa langsung terdiam dia memilih mengalah, karena percuma menolak karena dokter Nurma sudah berada disini.


Kini dia hanya pasrah karena sudah bisa dipastikan berita apa yang akan diterimanya.


Mukhlis dan Tessa langsung duduk di kursi menunggu dokter Nurma yang sedang memeriksa Mela di dalam.


Mereka duduk berjauhan dan tak saling bicara, mereka sibuk dengan pikiran masing masing dan rencana masing masing masing.


Masuk ke dalam kamar dokter Nurma melihat sedikit kekacauan, ada tiga testpack berserakan di lantai dan sekilas dia melihat salah satu testpack bergaris dua.


" Tolong Mbak Mela nya tidur di ranjang, saya periksa sebentar ya "


Mela hanya mengangguk dan segera merebahkan badannya.


" Dokter tak perlu memeriksa saya, pasti dokter sudah tahu saya hamil bukan "


" Hhmmm iya, tapi saya hanya melakukan tugas saja. Lagipula saya ingin memastikan hal lain. Wajah Mbak Mela pucat jadi saya ingin memeriksa tekanan darah dan lainnya " seulas senyum ramah tersungging di bibir dokter Nurma.


" Saya hamil sebelum menikah dok, Mamih menyuruh saya menggugurkannya. Tapi saya gak mau saya menginginkan bayi ini lagipula saya mencintai ayah anak ini "


Mela seperti tak malu bercerita pada dokter Nurma. Saat ini dia bingung harus bercerita pada siapa. Mamihnya?


Ah tidak mungkin karena dengan egoisnya Tessa menyuruhnya untuk menggugurkan bayi itu. Sebab tak suka dengan Budi.


" Tindakan Mbak Mela sudah tepat, karena menggugurkan itu perbuatan dosa. Bayi ini tak bersalah jadi Mbak Mela hanya perlu meyakinkan Mamihnya agar mau menerima bayi ini juga ayah bayi ini "


Dokter Nurma berusaha menghibur Mela karena saat ini kesehatan psikisnya harus dijaga.


" Mbak Mela suda saya periksa, saya sudah resepkan obat dan vitamin ya. Sekarang lebih baik istirahat dulu dan jangan lupa sarapan "

__ADS_1


" Iya dok makasih " jawab Mela sendu.


Dia kembali berbaring di ranjangnya. Kepalanya terasa pening memikirkan bagaimana caranya dia menyampaikan berita ini pada Budi. Apa Budi akan menerima bayi ini?


" Kenapa aku jadi berpikiran buruk begini, tentu saja Budi harus menerimanya karena setelah dengan Budi aku tak pernah di sentuh pria lain " Mela bergumam dalam hati.


Mela menyadari ketika tidur bersama Budi itu bukanlah yang pertama kali dia lakukan, gaya hidupnya yang bebas sehingga dia pernah berkencan dengan beberapa laki laki yang pernah menjadi kekasihnya.


" Aku harus yakinkan Budi kalau ini anaknya. Andaikan dia meminta tes DNA pastilah hasilnya 100% ini anaknya. Jadi kenapa aku harus takut. Lagipula dia tak akan sadar kalau aku bukan perawan. Bukankah dia mabuk berat qsaat melakukannya, ah pintar sekali kamu Mela "


Rasa sedih yang Mela rasakan berubah menjadi senyum menyeringai. Dia merasa menang karena berhasil menjebak Budi.


" Aku gak peduli meski Budi belum bisa move on dari Dini. Anak ini akan jadi senjataku untuk menaklukan Budi. Hal yang harus aku lakukan sekarang hanya menjaga baik baik anak dalam perutku "


Selesai memeriksa Mela dokter Nurma menghampiri Mukhlis dan Tessa yang sedang duduk.


" Bagaimana dok? " tanya Mukhlis tanpa basa basi.


" Maaf Pak, setelah saya periksa putri Bapak hamil usia kandungannya sekitar empat minggu. Saya dokter Umum, kalau Bapak ingin lebih akurat Bapak bisa mendatangi dokter kandungan. Saya juga sudah meresepkan vitamin nanti Bapak bisa membelinya di apotik " papar dokter Nurma.


" Baiklah dok saya faham, saya akan ikuti saran dokter. Terima kasih atas waktunya " jawab Mukhlis.


" Baiklah saya permisi. Mari Pak, Bu " dokter Nurma pamit tanpa di antar Mukhlis atau Tessa dia keluar dari rumah tersebut karena dia pun sudah sering datang ke rumah ini.


Mukhlis dan Tessa langsung masuk ke kamar Mela tanpa mengetuk pintu.


Mela yang sedah tertidur langsung duduk di ranjangnya. Dia mulai khawatir karena Mukhlis pasti sudah mengetahui semuanya.


" Bilang sama Budi, kapan dia akan datang ke rumah? kandunganmu tak mungkin dibiarkan terlalu lama " Mukhlis berkata dengan tegas.


" Iya Pih nanti aku sampaikan pada Budi secepatnya " dengan pandangan menunduk Mela menjawab Mukhlis.


" Tapi Pih aku gak setuju Mela menikah dengan Budi, aku malu Pih " tolak Tessa.


" Ini bukan soal kamu setuju atau tidak, tapi ini demi anak yang sedang dikandung Mela. Kamu mau dia melahirkan anaknya tanpa ayah?


Atau kamu mau menggugurkannya seperti niatmu? Memalukan " Mukhlis tidak membentak tapi ucapannya benar benar menusuk di hati Tessa.


" Papih tunggu jawaban Budi, jangan lama atau Papih tak mau mengurusnya " selesai berucap Mukhlis langsung keluar kamar.


Tessa mengikutinya dari belakang dan berusaha berbicara " Mas..." teriaknya.


" Tidak usah menolak kita harus menikahkan mereka secepatnya. Andaikan kamu bisa mendidik Mela dengan baik mungkin ini semua tak akan terjadi "


Mukhlis langsung pergi keluar rumah, terdengar suara mobil di halaman dan suaranya mulai menjauh.

__ADS_1


" Aargghhh " teriakan Tessa kembali terdengar di seisi rumah.


__ADS_2