Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Tessa Cemburu


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 29 ( Tessa Cemburu )


Acara arisan telah selesai teman teman Tessa mulai pamit satu persatu, banyak dari mereka berbisik ke telinga Dini sambil memandang Tessa.


Melihat itu Tessa jadi merasa kesal, dia merasa sedang dibicarakan oleh teman temanya. Karena terlihat jelas Dini hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum namun bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun selain kata Terima Kasih.


Sekarang yang tersisa hanya Fitri bestie terbaik Tessa. Sepertinya dia sengaja pulang paling akhir agar bisa berbincang berdua atau mungkin ingin menghabiskan hidangan yang tersisa.


" Din, kamu bereskan ya semuanya " titah Tessa pada Dini.


" Maaf Mih aku kesini bukan untuk membereskan pekerjaan bukankah aku datang atas undangan Mamih. Lagipula aku ini menantu bukan pembantu " jawab Dini dengan suara yang tenang namun terdengar tegas.


Mendengar jawaban Dini, mata Tessa langsung melotot tak percaya menantunya sekarang sangat berani tidak seperti dulu begitu penurut dan tak mau membantahnya.


" Duh Jeng mantu kamu kurang ajar juga ya, belum sebulan jadi mantu udah berani ngelawan gimana kalau setahun bisa bisa Jeng Tessa yang disuruh suruhnya atau malah di usirnya " Fitri berbisik mengompori Tessa, dia berharap Tessa memarahi Dini karena sepertinya dia masih kesal soal kejadian tadi.


" Kamu mau nolak perintah saya? " tanya Tessa sambil menatap tajam Dini.


Dini hanya tersenyum tak terlihat gentar sedikitpun. Dia sudah siap dengan kondisi seperti ini.


" Ekheemm, maaf Non Dini kamar Mas Deni sudah saya siapkan untuk beristirahat " suara Marni memecah ketegangan mereka.


Nyali Tessa langsung ciut dia tak berani pada Marni yang menjadi orang kepercayaan dari Ibu kandung Deni. Dan sekarang dipercaya untuk menjaga Dini istrinya.


Tessa langsung mendelik memperlihatkan rasa tidak sukanya, melihat gelagat Tessa yang langsung terdiam Fitri langsung heran lalu dia bertanya sambil berbisik.


" Dia siapa Jeng? " tanyanya.


" Cuma pembantu " jawab Tessa ketus.


" Kok Jeng Tessa kayak yang takut gitu? "


Tessa langsung menatap tidak suka pada Fitri, membuat Fitri langsung terdiam.


" Mmmhhh maaf Jeng saya kan cuma nanya, kan aneh saja masa majikan takut sama pembantu " ucapnya sambil mencebikan bibirnya.


" Ya sudah kamu ke belakang saja " titahnya pada Dini.

__ADS_1


Dini berdiri dari duduknya dan pamit pada Tessa dan Fitri. Kemudian berjalan menuju kamar diikuti Marni.


Kamar yang dimasuki Dini merupakan kamar milik Deni yang sengaja disiapkan untuk dia dan suaminya tersebut apabila berkunjung.


" Dia orang kepercayaan suami saya Jeng " ucap Tessa pada Fitri setelah Dini dan Marni sudah tak terlihat.


Tapi dia tak menceritakan kalau Marni orang kepercayaan ibu kandung Deni karena teman temannya tak tahu kalau Tessa hanya ibu tiri Deni.


Dia tak mau itu sampai diketahui banyak orang apalagi kalau sampai tahu Mela pun anak bawaan dari suaminya yang pertama. Harga dirinya bisa hilang di olok teman temannya.


" Kok mukanya nantang gitu ya? kalau saya punya ART kayak gitu pasti udah saya pecat "


Sedang asiknya ngobrol dari arah ruang tamu terdengar langkah berjalan seperti terburu buru. Mereka melihat ke arah langkah kaki tersebut.


" Loh Pih kok udah pulang, lagi gak enak badan atau ada yang tertinggal? " tanya Tessa heran melihat suaminya sudah pulang ke rumah padahal jam menunjukan pukul 2 siang.


" Gak Mih aku udah janjian sama Dini buat bawa dia ke resto di xxx. Sengaja aku jemput dia kesini biar barengan karena ini pertama kali dia kesana " jawab Mukhlis sambil terus berjalan menghampiri istrinya.


" Bu Fitri apa kabar? " tanya Mukhlis sambil menyalami teman istrinya itu.


" Baik Pak " jawabnya sambil tersipu.


" Loh yang lain kemana atau acaranya sudah beres? " tanyanya lagi.


" Ya sudah Mamih lanjut saja aku mau panggil Dini. Mari Bu Fitri " Mukhlis berpamitan pada Fitri kemudian berjalan menuju ke dalam.


" Tuh kan Jeng makin mencurigakan saja, masa mereka berduaan kan gak lucu. Hati hati loh Pak Mukhlis itu bakal ngalamin Puber kedua jangan sampe kecolongan.


Apalagi dia masih kelihatan gagah dan ganteng di usianya. Saya saja sampe kesemsem hehee " tanpa sadar Fitri berbicara seperti itu membuat Tessa makin panas dan kesal juga pada temannya.


Menyadari raut wajah Tessa berubah Fitri langsung berhenti tersenyum dan meminta maaf " Maaf Jeng saya cuma bercanda kok, gak usah dimasukin ke hati gitu lah "


" Gak lucu " ketus Tessa.


Mereka pun mengobrol kembali, terlihat beberapa ART membereskan makanan dan sampah sisa acara mereka.


" Mih aku pergi dulu ya sama Dini, Papih mau pakai mobil Dini masa Papih belum nyobain hehee " ucap Mukhlis sambil melihat ke arah Dini.


Mata Tessa langsung melotot melihat Dini berada di belakang suaminya, siapapun tak akan menyangkal kecantikan Dini.

__ADS_1


Nafas Tessa sedikit tak beraturan menahan amarah. Apalagi melihat Fitri yang tersenyum seperti meledeknya.


" Cuma berdua Pih? " tanya Tessa berusaha terlihat setenang mungkin.


" Gak lah Mih kita bertiga karena nanti Dini langsung pulang makanya pakai mobil Dini "


Tessa berdiri dan menghampiri suaminya. " Emang mau ngapain Dini ke Resto Pih? " tanyanya penasaran.


" Papih udah ngobrol sama Deni kemarin, sepulang dari Berlayar Deni akan mengelola Resto dibantu Dini. Itu pun setelah kami berdebat karena awalnya Deni menolak.


Jadi untuk sementara Dini yang akan belajar. Lagipula Papih yakin Dini akan cepat belajar. Ya kan Din?" papar Mukhlis pada istrinya.


Dini hanya memberi seulas senyum, karena melihat ibu mertuanya seperti tidak suka.


" Apa Mamih cemburu ya? masa sih cemburu sama aku. Tapi sorot matanya seperti itu " gumam Dini dalam hatinya.


" Berarti nanti mereka yang mengelola Pih, terus Papih gimana? " Tessa makin terlihat gelisah dia khawatir hal yang selama ini dia takutkan akan segera terjadi.


" Papih pensiun saja lah Mih, ngapain cape cape. Udah lah Mih gak enak bahas ini ada Jeng Fitri yang lagi dengerin "


Mendengar namanya disebut Fitri melengos dan pura pura tak mendengar dia langsung mengambil kue lalu dimasukan ke mulutnya.


Marni tersenyum melihat tingkah Fitri, karena terlihat jelas kepura puraannya. Dia ingin mendengarkan obrolan majikannya.


Tessa hanya terdiam kemudian dia beralih menatap Dini ingin rasanya memaki menantu cantiknya itu, tapi rasanya itu tidak mungkin.


Dia takut pada suaminya, apalagi pada Deni walaupun sedang jauh. Dan lagi sebelumnya Tessa sudah mendapat ancaman dari Deni agar tak mengganggu Deni atau dia akan menyesali perbuatannya.


" Ya udah kamu hati hati Din " ucapnya dengan wajah masam dilanjut senyum yang dipaksakan.


Dini menyadari tingkah mertuanya, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri selama ibu mertuanya tidak keterlaluan dia akan memakluminya.


" Makasih Mih " balasnya kemudian dia mencium tangan Tessa sebagai rasa hormatnya pada orang tua.


Beralih pada Marni, Tessa hanya memandang sinis dengan sedikit menyunggingkan senyum miringnya. Marni tak membalasnya dia hanya memandang datar pada Tessa.


Setelah itu mereka bertiga keluar, selang beberapa menit terdengar suara mobil menjauh menandakan mereka sudah berangkat.


" Tuh kan Jeng, apa saya bilang hati hati loh. Walaupun mereka pergi bertiga bisa saja itu ART diturunkan dijalan. kemudian mereka jalan berdua mana tahu tahu kita "

__ADS_1


" Ah itu gak mungkin Jeng, udah gak usah mikir yang nggak nggak kok ya saya jadi pusing dengerin Jeng Fitri terus ngomongin mereka " ketus Tessa.


" Hehee ya sudah gak usah difikirin saya kan cuma ngingetin saja toh hehee " balas Fitri sambil tersenyum dengan tampang tanpa dosanya.


__ADS_2