
# Gara Gara Pergi Berlayar
Ban 11 ( Kemarahan Budi )
" Budi sudah pulang kamu? sebaiknya kamu menemui Abahmu dia sudah menunggu mu pulang dari tadi "
Baru juga sampai pintu Umi sudah langsung mencegatnya.
" Iya Umi aku simpan tas dulu ya "
Setelah menyimpan tas kerja Budi segera ke ruang keluarga disana Abah nya sudah menunggu.
" Budi, tadi siang Ayah dan Ibu Dini datang kemari untuk bersilaturahmi " Abah Budi memulai percakapan.
" Abah langsung saja jangan berbasa basi, apa mereka mengatakan membatalkan pertunanganku bersama Dini? "
Budi langsung memotong ucapan Abahnya. Dia tak mau mendengar cerita panjang lebar karena dia sudah menebak maksud kedatangan orang tua Dini.
" Ya benar Bud, kamu harus berbesar hati. Kalian memang tak berjodoh " ujar Abah Budi.
Umi hanya terdiam tak memberi komentar dia tahu anak laki lakinya sedang bersedih. Tangannya terangkat dan mengelus pundak Budi.
" Sudah Teteh bilang dari awal, Teteh gak suka sama perempuan itu. Kelihatannya aza kaleum, makanya kamu jangan tertipu dengan mukanya yang cantik dan sok polos itu "
Nita kakak Budi ikut bergabung duduk bersama. Dia terlihat geram karena adik laki lakinya di sia siakan.
" Sudah kamu gak usah bicara seperti itu, kalau bukan jodoh mau kita nangis darah pun tak akan bisa bersatu. Semua sudah kehendaknya " timpal Abah Budi.
" Ah Abah jadi orang sabar banget, kalau aku jadi Abah sudah ku usir orang tua si Dini pas datang kemari "
" Tapi Abah bukan kamu yang apa apa pakai emosi. Dan kamu gak akan bisa jadi Abah. Sudah sebaiknya kamu masuk ke dalam kalau hanya membuat suasana jadi panas "
" Gimana abah saja lah " Nita menggerutu kemudian dia pergi ke kamarnya.
" Bagaimana Budi? mau tak mau kamu harus menerima keputusan Dini. Abah faham dan mengerti kesedihan kamu, tapi disinilah dituntut keikhlasanmu "
" Abah aku sangat mencintai Dini, aku yakin Dini terpaksa membuat keputusan ini karena di tekan keluarga Deni "
" Apapun itu Bud seperti yang Abah bilang kamu harus ikhlas. Apalagi orang tua Dini sudah memberi restu pada Deni dan Dini "
Budi hanya terdiam tak memberi bantahan, namun dia juga tidak mengiyakan.
" Belajarlah untuk ikhlas Bud " ucap Umi Budi sambil membelai rambutnya.
" Abah Umi aku mau istirahat dulu "
__ADS_1
" Ya beristirahatlah tenangkan hatimu dan jangan melakukan hal buruk. Ingat Budi ikhlaskan hatimu maka kamu akan merasa tenang " Abahnya memberi nasehat pada Budi.
Budi langsung berdiri dan menuju kamarnya, ketika menuju kamarnya dia berpapasan dengan Nita kakaknya.
Wajah Nita tersenyum mengejek, pelan namun jelas terdengar Nita berbisik sambil berlalu pergi " kasihan "
Budi tak mempedulikannya, dia langsung masuk kamar. Budi menutup pintu kamarnya badannya disandarkan pada pintu. Dia pun menangis tanpa suara.
Dia merasa harga dirinya diinjak, setelah tadi siang Dini menolak ajakannya untuk berbicara empat mata. Apalagi penolakan itu didepan banyak orang yang dia kenal.
Ini semua pasti karena Deni, laki laki yang sudah menghancurkan hari pertunangannya. Budi sangat membencinya.
** Flash Back On
Setelah kejadian kemarin bertemu dengan Dini yang ternyata wanita pujaannya itu sedang bersama Deni. Laki laki yang tanpa kehadirannya sudah sanggup membatalkan acara yang sudah dipersiapkannya sedari lama.
Budi begitu kecewa tapi tak bisa berbuat banyak. Apalagi dari mulut Dini sendiri Budi mendengar kata maaf. Dini pun meminta keikhlasannya untuk melepasnya.
Sudah berkali kali dia berusaha menghubungi Dini, namun tak direspon.
" Aargghhh "
Budi mengacak rambutnya kasar, dia benar benar terlihat kacau.
" Kenapa seperti ini jadinya, aku gak terima Din. Aku masih mencintaimu, kamu tak bisa seperti ini "
Seharian ini Budi duduk dengan gelisah dia tak fokus bekerja. Jam makan siang tiba Budi benar benar tak selera untuk mengisi perutnya. Yang ada difikirannya hanya wajah Dini.
" Aku harus menemui Dini aku tak bisa seperti ini terus "
Dia bangkit dari duduknya kemudian menuju ruangan Dini. Budi sudah tak berfikir rasa malu yang di inginkannya hanya bertemu Dini untuk meminta kejelasan.
" Din? " Budi sudah berada dibelakang Dini.
Sontak semua mata tertuju pada kubikel Dini. Walaupun hanya sedikit orang yang ada di ruangan karena sebagian makan siang diluar.
Suasana menjadi tegang, mereka berbisik bisik membicarakan Budi dan Dini.
" Iya A' ada apa? " Dini begitu kaget dia memegang tangan Siti meminta perlindungan.
" Ada perlu apa Bud? " tanya Siti.
Siti memanggil Budi dengan nama karena mereka lebih lama saling mengenal. Dan Budi pun bukan atasannya karena berbeda divisi.
" Aku ada perlu sama Dini bukan sama kamu. Aku ingin berbicara sebentar dengannya. Empat mata " jawab Budi datar tanpa memandang Siti. Matanya hanya menatap ke arah Dini.
__ADS_1
" Baiklah aku faham, aku juga tak mau mengganggu. Tapi kita tanya dulu Dini apa dia bersedia berbicara denganmu "
Dini terdiam dan melihat sekeliling. Dia bimbang apakah harus menerima permintaan Budi. Namun dia tak mau ada masalah baru. Apalagi teman teman kantornya banyak yang mencela dan mencibirnya.
Bila dia menerima ajakan Budi maka bisa dipastikan cibiran teman temannya akan bertambah tajam.
" Maaf gak bisa A' " Dini tertunduk.
" Kenapa? " Budi berniat menyentuh bahu Dini.
Dini langsung menepisnya dan dia berdiri disamping Siti yang reflek ikut berdiri ketika Dini menepis tangan Budi.
" Kamu jijik sama aku Din? " tanya Budi.
" Bukan seperti itu A' aku gak mau orang lain berfikir buruk lagi tentangku. Lagi pula aku sudah menjelaskannya kemarin. Aku pun sudah meminta maaf "
" Kamu lupa keluargaku Din "
" Kamu jangan khawatir A' orang tuaku sedang menemui Abah dan Umi untuk meminta maaf. Sekali lagi maafkan aku, kita sudahi semuanya " ucap Dini sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Budi menarik nafasnya dalam dalam, dilihatnya sekeliling selain mereka bertiga masih ada karyawan lain yang memperhatikan percakapan mereka.
Tanpa pamit Budi langsung pergi dari ruangan Dini dengan membawa amarah yang tertahan.
Dini langsung terduduk lemas, sejenak dia tak mampu berfikir.
" Untung ada kamu Sit, makasih ya "
** Flash back off
" Dini, dini bahkan kamu tak mau berbicara denganku. Kenapa kamu berubah begitu cepat. Apa karena dia memiliki segalanya? "
Diki terus mengeluarkan segala kekesalannya, bahkan dia memukul mukul tembok dengan kedua tangannya. Sampai tangannya berdarah.
Tok tok tok
" Bud, Budi kamu baik baik saja kan nak? " Umi nya merasa khawatir karena mendengar suara aneh dari kamar Budi.
Budi langsung tersadar dan mengelap air matanya.
" Aku gak papa Mi "
" Kamu gak makan dulu? dari pulang kantor Umi lihat kamu belum makan "
" Nanti Umi kalau lapar aku akan makan, makasih Mi " Budi hanya menjawab di dalam kamar dia tak mau menampakan wajahnya.
__ADS_1
Setelah tak mendengar suara Umi nya Budi menatap dirinya di cermin. Tangannya terkepal dengan tatapan mata penuh amarah.
" Aku akan tetap mengejarmu Dini, kamu hanya milikku "