Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Rencana Tessa


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 42 ( Rencana Tessa )


" Udah ah aku cape, soal Dini nanti aku tegur dia. Jam segini belum pulang kerja pasti susah angkat telepon. "


Tessa melongo melihat anak gadisnya yang benar benar tidak bisa diatur.


" Punya anak satu pun tak ada yang bisa membantu, sepertinya Deni bisa menjadi jalan keluar untuk ku. Nanti malam aku akan menghubunginya agar dapat meminjamkan uang padaku " monolog Tessa dalam hati.


" Tapi bagaimana kalau Deni menolak. Aku harus punya planning yang lain. Tabunganku tak banyak karena sudah habis membiayai hidup Ikbal. Atau aku bicara dulu dengan Mela mungkin saja dia punya solusi "


Tessa langsung berdiri menuju kamar Mela. Mela belum pernah bertemu dengan kakaknya tapi dia sudah tahu sejak dulu dia memiliki seorang kakak kandung laki laki yang seusia Deni.


Namun dia enggan menemuinya dengan alasan sibuk atau apapun. Padahal sebenarnya dia menghindar karena kakaknya yang miskin itu sering meminta uang pada Ibunya.


Kakaknya pasti akan melakukan hal yang sama padanya jika mereka saling mengenal. Dia merasa malu memiliki kakak seperti Ikbal. Yang diakui di depan teman temannya kakaknya hanya Deni.


Selain tampan Deni juga kaya dia tak akan malu bila berjalan bersama Deni. Setidaknya itulah yang dipikirkannya.


Tok tok tok


" Masuk "


Setelah mendapat izin Tessa langsung masuk dan duduk di ranjang " Mel, kamu punya tabungan gak? "


" Tabungan? mana mungkin aku punya tabungan Mih. Selama ini uangku selalu habis, kalau habis tinggal minta Papih lagi. Iya kan? " jawab Mela begitu enteng.


" Gimna ya, Mamih bingung kakakmu terus meminta uang "


" Hahhhh Mas Deni? " mata Mela melotot.


" Kalau dia mana mungkin minta sama Mamih. Ini kakak kandungmu Ikbal " balas Tessa.


" Ah pantesan kukira Mas Deni makanya aneh. Kalau si Ikbal sih gak heran dia kan gak ada kerjaan semenjak ketemu Mamih aza hidupnya jadi enak. Habis kan Mamih di peras sama dia " sahut Mela terlihat kesal.


" Husss kamu sama kakakmu kok gitu, dia kakak kandungmu loh. Sama Deni kamu baik padahal dia hanya kakak tiri "


" Aku malas Mih sama Ikbal, dari awal aku udah duga kalau dia cuma bakal nyusahin. Mamih kenapa sih gak jujur dari awal sama Papih jadi dia gak bisa Memeras Mamih.

__ADS_1


Andalannya kan kalau gak dikasih bakal datang ke Papih dan bilang Mamih punya anak kandung laki laki selain aku.


Kalau gak dia minta supaya Mamih menebus kesalahan karena dulu pernah ninggalin dia. Padahal kan harusnya suami Mamih yang gak tanggung jawab itu yang harus ngurus dia juga "


" Husss Mela kamu gak boleh ngomong gitu, mau gimanapun mereka ayah dan kakak kandung kamu. Ada darah yang sama mengalir di tubuhmu " Mela mendapat teguran dari Tessa.


" Ckckk " Mela mencebikan bibirnya.


" Minta apalagi dia sekarang? " tanya Mela dengan wajah malas.


" Kakakmu minta mobil xxxxx " jawab Tessa dengan suara yang pelan namun masih jelas terdengar.


" Apa? gak tahu diri banget dia. Gak usah dikasih kenapa sih. Mamih jangan merusak diri sendiri jangan terlalu nurutin mau dia "


" Ah kamu gak ngerti Mel, kakakmu itu tidak suka penolakan "


" Terserah Mamih deh yang penting aku udah kasih tahu Mamih ya. Kalau ada apa apa aku gak akan bantu. Titik "


Mela sudah malas meladeni ibunya dia memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


***


Sementara itu setelah keluar dari rumahnya Mukhlis langsung menuju ke apartement Dini.


" Mar bagaimana Dini apa dia betah disini? " tanya Mukhlis yang kini sedang duduk di sofa.


" Sepertinya tak ada masalah Pak, lagipula Non Dini memang anak yang mandiri dan pekerja keras. Dia sangat menjaga kandungannya. Dan mengikuti apapun saran dari dokter " jawab Marni.


" Baguslah kalau begitu, selama Deni belum pulang sayalah yang bertanggung jawab atas Dini. Saya tak mau ada hal buruk terjadi pada dia dan cucu yang sedang dikandungnya " ucap Mukhlis.


" Apa ada masalah Pak? " kini Marni yang bertanya pada Mukhlis.


" Entahlah, semoga ini hanya perasaan saya saja. Kamu ingat kan waktu saya menikahi Tessa dulu?


Dia mengaku hanya memiliki satu anak yaitu Mela, namun secara kebetulan saya mengetahui kalau dia ternyata memiliki dua anak.


Satu anaknya lagi bersama suaminya terdahulu, dan usianya sama dengan Deni " papar Mukhlis panjang lebar membuat Bi Marni melongo.


" Berarti dia bohong dong Pak? "

__ADS_1


" Ya sepertinya begitu, awalnya saya curiga Tessa jadi semakin boros dan sering meminta uang dengan alasan yang tak jelas. Bahkan koleksi perhiasannya berkurang.


Tak sengaja saya melihat ketika dia di jalan berdua dengan seorang pemuda. Ya awalnya saya pikir itu kekasih Tessa tapi setelah diselidiki dengan menyuruh orang ternyata itu anak laki lakinya. Hufttt "


Mukhlis menarik nafas panjang, dia bersandar pada sofa dan memejamkan matanya.


" Kalau Bapak lelah apa perlu saya siapkan kamar tamu buat Bapak " tanya Marni yang merasa sungkan pada majikannya.


" Baiklah tolong siapkan saja, saya ingin istirahat sebentar sambil menunggu Dini pulang "


Marni pun menyiapkan kamar untuk majikannya. Apartement ini cukup besar dengan memiliki 3 kamar tidur yang cukup luas. Sehingga ada kamar kosong tersedia bila ada tamu datang.


Mukhlis berdiri memandang foto seorang wanita yang masih muda dan cantik. Dia sangat merindukan wanita tersebut. Wanita yang dulu mengisi hari harinya, menemani dalam keadaan susah dan selalu menghiburnya.


Ya dialah ibu kandung Deni yang sudah meninggal ketika Deni berusia 3 tahun. Setiap mengingatnya Mukhlis selalu menangis. Dia menjaga Deni selain kewajibannya sebagai seorang ayah juga amanat dari sang istri agar mendidik dan merawat Deni dengan baik.


" Pak, maaf kamarnya sudah siap"


Lamunan Mukhlis buyar mendengar suara Marni, dia pun segera berjalan menuju kamarnya untuk merebahkan badannya sejenak sambil menunggu Dini pulang.


Pukul 6 sore Dini sudah ada di rumah, dia diberi tahu Ayah mertuanya ada di kamar sedang berisitirahat menunggunya dari siang.


Dini menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai melakukan aktifitasnya dan menunaikan ibadah 5 waktu dia segera keluar kamar untuk bertemu ayah mertuanya.


Ternyata ayah mertuanya sudah menunggu di meja makan.


" Pih maaf Dini lama tadi mandi sekalian sholat dulu " ucap Dini.


" Gak apa Papih juga baru duduk tadi Papih sholat di kamar juga. Gimana keadaanmu dan calon cucu Papih " tanya Mukhlis pada menantunya.


" Alhamdulillah Pih, Dini sering berkonsultasi sama dokter dan selalu mengikuti anjurannya. Belum lagi Bi Marni selalu menyiapkan kebutuhan Dini dengan baik. Berat badan Dini jadi nambah, tapi kata dokter kandungan masih dalam tahap wajar "


Dini berbicara sambil sesekali melihat ke arah Marni yang sedang menyiapkan hidangan makan malam. Marni hanya tersenyum menanggapi semua perkataan Dini.


" Alhamdulillah kalau kalian sehat Papih senang sekali. Inshaa Allah pas lahiran nanti Deni pasti mendampingi kamu "


" Iya Pih Dini pun berharap seperti itu, tapi Mas Deni tiap malam menelepon jadi Dini gak merasa kehilangan sekali "


Dini sangat berharap Deni segera pulang, karena sejatinya seorang Ibu hamil pastinya ingin selalu didampingi suaminya. Apalagi ini kehamilan pertamanya.

__ADS_1


" Ya sudah ayo kita makan dulu, Mar kita makan bareng " ajak Mukhlis pada Marni.


Marni sudah dianggap seperti keluarga karena sudah bekerja semenjak dulu bahkan sedari Deni belum lahir. Setiap kali makan pun Marni selalu satu meja dengan majikannya.


__ADS_2