
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 18 ( Bulan Madu )
Malam ini malam pertama buat pasangan pengantin tersebut, namun mereka berdua menghabiskan malam dengan bercerita ketika mereka terpisah.
Sesekali mereka berpelukan bila menceritakan hal sedih. Apalagi ketika mengingat rasa rindu yang mereka rasakan.
" Sayang, aku mau menceritakan sesuatu. Sebelumnya aku minta maaf baru bercerita sekarang " ujar Deni.
" Cerita apa Mas? jangan bikin aku takut. Apa kamu punya pacar di sana? " fikiran Dini sudah buruk pada Deni.
Mendengar penuturan Dini, rasanya Deni ingin tertawa kuat " Ishhh apaan sih kamu belum denger udah suudzon. Lagian ya fikiran seperti itu malah merusak suasana bulan madu kita saja "
" Ya terus apa dong jangan bikin aku suudzon, biasanya ya laki laki kalau awal bicaranya seperti itu biasanya dia bikin salah " belanya.
" Mmmhhhh gitu, emang kamu udah ngalamin? " goda Deni.
" Ya ini sekarang lagi ngalamin hehee. Gak lah sayang aku cuma denger cerita dari teman teman "
" Kirain. Jadi gini sebenarnya Mamih itu buka Ibu kandungku "
" Hahhhh apa Mas? kamu serius Mas? " mata Dini langsung membulat sempurna. Dini langsung terdiam seperti sedang menerawang dan mengingat sesuatu.
" Kamu kenapa sayang? " tanya Deni melihat Dini jadi melamun.
" Ngga Mas, coba Mas cerita dulu jangan sepotong potong biar aku gak penasaran " pintanya pada Deni yang sekarang sudah jadi suaminya.
" Dulu waktu Mas berumur dua tahun Bunda meninggal karena sakit, ketika usia Mas lima tahun Papih menikah dengan Mamih. Saat itu Mamih membawa anak dari suami sebelumnya yaitu Mela usianya sekitar 2 tahun "
Deni menjeda kisahnya, dia menarik nafas terlebih dahulu. Kemudian dia mulai bercerita kembali.
" Sebenarnya Mamih baik namun aku merasa dia tidak tulus. Apalagi semasa kita kuliah ada hal yang membuat aku gak suka. Kamu masih mau dengerin kan? " tanya Deni karena merasa tak enak bercerita soal Mela.
" Iya maulah Mas, kan dari tadi aku dengerin Mas " Dini merengut karena merasa penasaran.
" Mamih seperti menjodohkan Mas dengan Mela. Awalnya Mas berfikir hanya perasaan Mas saja namun sikap Mamih makin terlihat dia sering ninggalin Mas dengan Mela berduaan.
__ADS_1
Karena Mas risih jadi Mas ceritakan pada Papih. Akhirnya Papih membelikan Mas apartement tanpa sepengetahuan Mamih agar Mas bisa beristirahat nyaman. Dan soal apartement Mamih memang baru tahu tadi siang "
" Oh sekarang aku baru faham Mas pantesan Mamih gak menyukaiku mungkin memang niat menjodohkan Mas sama Mela. Ckckck Mamih ada ada saja " Dini sampai menggelengkan kepalanya.
" Mas waktu itu gak cerita karena tak mau bikin kamu khawatir "
" Pantesan Mamih jutek ma aku, sepertinya dia anggap aku jadi penghalang. Tapi Mas aku juga mau sedikit bercerita soal Mamih.
Dulu aku sering disuruh bantu di cafe dari pulang kuliah sampai malam. Tugasku sama seperti karyawan lain. Bahkan lebih lelah karena Mamih seperti sengaja memberiku banyak tugas.
Setelah Mas pergi berlayar aku masih diperlakukan hal sama, untung saja aku dapat pekerjaan itu pun berkat Mas hehee.
Semenjak bekerja aku tetap membantu setiap hari libur dari pagi sampai malam tanpa di gaji. Maaf Mas bukan aku perhitungan hanya saja aku merasa Mamih seperti menyiksaku jadi aku menghindar.
Semenjak itu Mamih makin galak, herannya Mas sering meminta aku mengalah aku jadi berfikir Mas membela Mamih. Makanya aku putusin minta berpisah. Maaf ya Mas "
Dini benar benar menceritakan uneg uneg nya. Dia menceritakan semua hal yang dirasakannya saat Deni tak ada di sampingnya.
Deni terdiam bahkan dia memejamkan matanya " Maafin Mamih ya, maafin Mas juga yang gak peka sama keadaan kamu "
" Semua sudah berlalu lagipula kita sudah menikah, terbukti kan kalau jodoh tak akan kemana " ucap Dini sambil mengerlingkan matanya.
" Iya Mas aku faham, ya sudah kita tidur yu " ajak Dini.
" Jadi gak ada acara bulan madu nih " mata Deni mengerling nakal.
" Ih Mas bilang besok kan " Dini tersenyum kemudian mencium bibir Deni.
Deni yang tanpa persiapan sempat kaget namun dia berusaha mengimbangi. Dia pun memeluk Dini. Mereka pun saling ******* bibir penuh nafsu.
Sampai Dini kehabisan nafas barulah Deni melepasnya, kemudian Deni menarik Dini ke dalam pelukannya " Dini Hanifah Az-Zahra Love You So Much "
" Love You Too Deni Wijaya " ucap Dini sambil memandang Deni kemudian menciumnya kembali.
Tak lama lampu kamar mereka padamkan diganti dengan lampu tidur yang menambah suasana syahdu di kamar pasangan pengantin baru tersebut.
***
__ADS_1
Di tempat berbeda
Sedari pulang kerja Budi langsung masuk ke dalam kamarnya, dia langsung mengurung diri berapa kali pun dipanggil dia tak mau keluar.
" Budi, Bud kamu makan dulu yuk " panggil Umi pada anak laki lakinya.
Ini sudah ketiga kalinya Umi memanggil Budi. Dia tak pernah bosan, hatinya begitu faham dengan apa yang anaknya rasakan.
Namun dia berfikir rasional tak mungkin memaksakan sesuatu yang tak bisa dimilikinya.
Abah dan Umi nya pun merasa bersalah karena terlalu cepat mengambil keputusan mengikuti keinginan Budi untuk melamar Dini. Padahal mereka belum lama saling mengenal.
Dini memang gadis yang baik dan pandai mengambil hati orang tua Budi dengan tutur katanya yang sopan dan lembut.
Orang tua Budi merasa beruntung Budi bertemu gadis sebaik Dini, mengingat masa lalu Budi yang tak begitu baik.
Namun harapan dan kebahagiaan mereka sirna ketika acara pertunangan Budi dan Dini batal. Awalnya mereka berharap Dini akan memilih Budi.
Namun kenyataan berkata lain, Dini memilih kembali pada Deni. Bahkan hari ini mereka mendengar akad nikah Deni dan Dini diadakan hari ini.
Mereka maklum Dini tak mengundang mereka karena pastinya hanya dihadiri kerabat saja.
Kedua orang tua Budi pun tak akan marah jika Dini tak mengundang mereka di resepsi pernikahannya karena untuk menjaga perasaan mereka.
" Lagi apa sih Mi teriak teriak gitu? " Nita kakak Budi menghampiri ibunya yang sedang mengetuk pintu kamar Budi.
" Ini Budi daritadi tak mau keluar semenjak pulang kerja, mana belum makan. Umi kan khawatir takut dia sakit " jawab Umi.
" Ah Umi biarkan saja kenapa sih. Nanti juga kalau lapar bakal keluar sendiri. Lagian yah jadi laki kok cengeng di tinggal cewek aza galau. Bikin malu "
Ucap Nita berteriak menghadap pintu kamar Budi, berharap adiknya itu mendengar segala ocehannya.
" Kamu apa apaan sih Nit, malah memperkeruh suasana. Umi gak suka ya, bukannya ngehibur adik kamu ini malah bikin rusuh " Umi terlihat kesal.
" Apa sih Umi gitu aza marah, emang benar kan apa yang aku bilang. Jangan jadi pecundang kamu. Ngapain kamu bersedih sedangkan orangnya lagi *** *** " teriaknya lagi berbicara sampai menyentuhkan badannya di pintu kamar Budi.
Kemudian dia berlalu pergi setelah puas mengoceh depan pintu kamar Budi.
__ADS_1
Budi yang berada di dalam hanya terdiam namun terlihat jelas di wajahnya bahwa dia marah dan tak menerima kekalahannya. Tangannya mengepal sempurna, dia mengeratkan gigi giginya.
Yang ada difikirannya saat ini adalah Dini, dia ingin bertemu Dini namun tentu saja itu tidak mungkin karena saat ini Dini sudah sah menjadi istri Deni.