
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 54 ( Pertengkaran Tessa dan Mukhlis )
Acara pun sudah selesai setelah semua tamu mencicipi semua hidangan yang tersedia dilanjut sedikit obrolan basa basi akhirnya mereka pamit pulang, begitu pun dari keluarga Tessa mereka satu persatu pamit.
Tak ada satu pun dari keluarga Mukhlis yang hadir karena kebanyakan berada di luar pulau. Disini Mukhlis hanya perantau yang beruntung bertemu dengan Bunda nya Deni. Kemudian atas sokongan dana dari keluarga Bunda Deni mereka membuka usaha yang sampai sekarang bertambah maju.
Dengan alasan itu Mukhlis merasa tak memiliki hak sepenuhnya atas harta yang dia miliki karena sebegitu sayangnya di pada mendiang bundanya Deni. Sampai sampai semua harta yamg dimilikinya di atas namakan Deni.
Hanya sedikit harta yang dibuat atas namanya sebagai bekalnya di hari tua. Bahkan hak waris jika dia sudah tak ada pun sudah dibuat tanpa sepengetahuan Tessa.
Semua diserahkan untuk cucu kandungnya, yaitu anak yang akan terlahir dari rahim Dini.
Dia hanya memberikan sebagian kecil hartanya untuk Tessa sebagai uang kompensasi. Mukhlis menyadari Tessa tidak tulus padanya terbukti dengan kebohongan kebohongan yang dilakukannya.
Rumah itu kembali sepi hanya ada para ART yang sibuk membereskan sisa sisa acara mereka.
" Mih, Pih Mela ke kamar dulu ya mau istirahat " ucap Mela pada kedua orang tuanya.
" Iya istirahatlah, seminggu lagi kamu menikah siapkanlah dirimu supaya tampil cantik dan manglingi " jawab Tessa sambil mengusap pucuk kepala Mela
Sedangkan Mukhlis hanya menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Kaki Mukhlis melangkah menuju kamar lantai atas.
Mela dan Tessa saling pandang keheranan tak lama terdengar suara Tessa yang menggerutu " Kamu yang pamit istirahat tapi Papihmu yang duluan ke kamar, aneh "
" Apa sih Mih misuh misuh aja, masih untung Papih gak marah dengan kejadian Mamih tadi yang memalukan " Mela mengingatkan kembali kelakuan Mamihnya yang hampir saja membuatnya malu.
" Itu karena Mamih kesal sama Dini, dimana mana dia suka bikin gara gara. Kamu lihat gak sih calon suami kamu curi curi pandang terus pada Dini. Ya gimana Mamih gak kesal " Tessa berusaha membela diri.
" Huffttt Mamih aneh kalau Mamih berani harusnya Mamih marahin Budi bukan Dini. Ya gimana Papih gak marah sama kelakuan Mamih. Mau siapapun yang melihat kejadian tadi pasti akan menyalahkan Mamih "
" Ah sudah kamu tuh harusnya senang Mamih belain kamu, eh ini malah belain si Dini. Sama anehnya sama Papih kamu "
Karena kesal Tessa meninggalkan Mela sendirian di bawah. Dia merasa dikhianati anaknya karena tak membelanya sama sekali padahal itu semua dilakukan karena membela Mela.
Mela yang ditinggalkan Tessa berdiri sambil bengong melihat tingkah Mamihnya. Dia duduk di sofa yang ada di dekatnya. Melamunkan setiap perkataan yang di ucapkan Tessa.
" Maaf Mih bukan aku gak berterima kasih, ini konsekuensi yang harus aku terima sudah memilih Budi. Aku dapat memaklumi karena Budi masih belum bisa move on dari Dini. Aku hanya bisa berusaha dan berdo'a semoga Budi bisa menerimaku "
" Non, ada yang dibutuhkan biar saya bantu " tawar seorang ART yang memperhatikan Mela sedari tadi.
" Gak usah Bi, aku mau ke kamar sekarang. Makasih ya Bi " Mela beranjak dari duduknya menuju kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Mukhlis yang tadi meninggalkan Tessa dan Mela tidak langsung beristirahat di kamarnya. Dia menuju kamar Deni dimana ada Dini yang sedang beristirahat di temani Marni.
Tok tok tok
Pintu terbuka dan menampilkan wajah Marni di balik pintu.
" Iya Pak? "
" Dini jadi pulang atau menginap? " tanya Mukhlis.
" Aku pulang aja Pih " jawab Dini yang berada di belakang Marni.
" Kamu yakin? ini sudah malam Papih khawatir "
" Gak apa Pih aku kuat " jawab Dini.
Mukhlis faham mengapa Dini tak pernah betah diam di rumahnya. Walaupun Dini tak mengadu tapi Mukhlis sangat yakin Dini tak nyaman karena sering mendapat ucapan tak menyenangkan dari Tessa.
Sebagai suami Mukhlis sudah menegur Tessa tapi istrinya itu tak bisa berubah. Hanya baik sebentar dan akan kembali pada.setelan semula.
" Baiklah kalau kamu keukeuh biar sopir yang akan mengantarmu. Nanti sopir pulang naik taksol. Gimana? "
" Iya Pih aku setuju. Papih segera istirahat ya. Jangan sampai Papih sakit karena memikirkan banyak hal. Ini permintaan cucu Papih " ucap Dini membuat Mukhlis tersenyum dengan ucapan menantunya.
" Iya Papih bakal jaga kesehatan, ini semua untuk cucu Papih. Kamu juga jaga kesehatan ya. Jaga baik baik cucu Papih ini, dia calon putra mahkota keluarga ini " seru Mukhlis membalas ucapan Dini.
Marni yang selalu sigap sudah berada di belakang Dini membawakan tas clutch milik majikan cantiknya itu.
Dini melangkah menuju kamar mertuanya " Din mau kemana? " tanya Mukhlis.
" Aku mau pamit ke Mamih Pih " sahut Dini sambil menghentikan langkahnya.
" Gak usah Mamih dan Mela sudah istirahat tak usah diganggu. Lebih baik kamu segera pulang ini sudah malam. Ayo " ajak Mukhlis sambil berjalan mendahului Dini, Mukhlis memegang ponselnya untuk memanggil sopir yang akan mengantar Dini.
Dini sudah turun dan berada teras rumah, berbarengan dengan kedatangan mobil yang dibawa sopir keluarga Deni.
" Pih aku pulang dulu ya "
" Iya, istirahatlah jangan sampai lelah berlebihan "
Dini mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil disusul Marni dibelakangnya. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Deni.
Rumah itu kembali sepi, Mukhlis merasa sendirian walaupun ada istri dan anak tirinya tapi dia merasa tak ada teman.
__ADS_1
Mukhlis berbalik hendak ke kamarnya namun dia tersentak kaget karena tiba tiba Tessa berada di belakangnya sembari menatapnya tajam.
" Pantas tak ada di kamar rupanya ngantar mantu kesayangan ya " ujar Tessa.
Dia kesal ketika ditinggalkan Mukhlis bersama Mela. Niat hati ingin menyusul Mukhlis ke kamar ternyata tak ada. Dicari di ruang kerja pun tak ada, biasanya ruang kerja merupakan ruang favorit suaminya. Setelah di cari ternyata suaminya itu sedang menyusul Dini ke kamar Deni.
" Astagfirullah, kamu apa apaan sih Mih. Bikin kaget saja " ucap Mukhlis sambil mengurut dadanya.
" Aku nyusul Papih tapi tak ada, rupanya Papih sedang bersama mantu kesayangan. Kamu tuh terlalu berlebihan aku lihat Pih "
Mukhlis yamg sudah mencium aroma pertengkaran dia segera berjalan menuju kamarnya menghindari Tessa yang berteriak teriak memanggilnya.
Dia tak mau sampai terjadi keributan di bawah karena masih banyak pegawainya yang masih membereskan sisa acara tadi.
" Pih, Pih " Tessa kesal dia mengusul Mukhlis sambil menghentak hentakan kakinya.
Sampai di kamar Mukhlis sudah sampai duluan karena kesal Tessa membanting pintunya.
Bruughhhh
" Kamu apa apaan sih Mih? ini sudah malam " terpaksa Mukhlis membentak istrinya karena sudah dinilai keterlaluan.
" Terus, terus aja salahin Mamih. Papih bikin Mamih malu dihadapan tamu dengan membela Dini. Itu sama saja Papih tak menghargai Mamih sebagai istri "
" Menghargai gimana sih Mih, apa Mamih gak mikir kelakuan Mamih pun tak menghargai Papih dengan hampir membuat onar. Jangan kira Papih gak tahu isi kepala Mamih, kejadian tadi sudah jelas Mamih hanya mencari pelampiasan atas kekesalan Mamih pada Dini. Iya kan? "
Todong Mukhlis membuat Tessa tak bisa menjawab semua perkataan yang ditujukan Mukhlis untuknya.
" Dini kok yang salah Pih, dia udah ganggu tamu... "
" Stop Mih, pembelaan Mamih tak akan bisa diterima. Semua orang bisa menilai jangan menganggap orang lain bodoh. Aku mau istirahat jangan ganggu aku "
Mukhlis langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan Tessa sendirian, pintu di tutup Mukhlis dengan cara dibanting sepertinya ingin membalas perlakuan Tessa tadi.
Bruughhh
Tessa terhenyak, dia langsung melepas heel nya dan melempar tepat ke pintu.
Dugghhh
Tak lama pintu kembali terbuka memperlihatkan wajah Mukhlis seraya berkata " Carilah ayah kandung Mela, karena dia masih hidup. Di akad nanti dia harus menjadi wali nikah "
Bruughhh
__ADS_1
Kembali Mukhlis menutup pintu dengan kencang. Tessa sedikit kaget untung saja pintu terbuka tidak berbarengan dengan lemparan heel nya. Kalau tidak maka akan terjadi bencana.
" Tapi sebentar, aku harus mencari ayah Mela? aku gak mau, bisa malu aku nanti dengan teman teman sosialita ku. Setahu mereka Mela anak kandung Mukhlis. Bisa jatuh harga diriku bila semua orang mengetahui kenyataannya "