
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 57 ( Tangisan Mela )
Besok adalah hari pernikahan Mela dan Budi yang akan di gelar di Resto milik keluarga. Walaupun di Resto tapi pesta tersebut tetap mewah. Karena Resto milik Mukhlis memiliki gedung khusus untuk acara pesta seperti pernikahan, khitan, ulang tahun dan lain lain.
Dari pihak keluarga Mela mereka menginap di hotel dekat Resto termasuk Dini dan keluarganya yang di undang dan mendapat kamar family room sehingga mereka bisa bersama sama layaknya di rumah.
Mela saat ini sedang berdiri di dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Hatinya begitu bimbang dan takut untuk menjalani rumah tangga. Padahal pernikahan ini yang sangat diharapkannya.
Dia masih ingat pertanyaan Budi tentang sebuah nama yang tertulis di undangan pernikahan mereka.
Flash Back On
Ddrtt drrtt
Mela tersenyum ketika melihat nama Budi yang terpampang dilayar ponselnya.
[ Hallo Mas sudah sampai undangannya? ]
[ Sudah, Mel apa bagian pencetakan ada kesalahan ya? kenapa ada nama Rudi Wibowo. Bukannya nama Papihmu Mukhlis Dwiguna? ]
Degh
Dada Mela langsung berdegup kencang " Apakah ini akan jadi masalah ya? " tanya Mela dalam hatinya.
[ Mmhhh itu ya Mas, gak ada yang salah kok. Sebenarnya aku bukan adik kandung Mas Deni. Kami saudara tiri Mamih nikah sama Papih ketika aku berusia 2 tahun dan Mas Deni 5 tahun ]
Hening tak ada suara, membuat Mela gelisah karena tak ada suara Budi bahkan suara nafasnya pun tak terdengar padahal detik waktu di ponsel masih berjalan.
[ Mas, apa ada masalah? ]
[ Mmhhh enggak, kenapa kamu gak cerita dari awal? ]
[ Apa itu perlu, apakah itu berpengaruh pada pernikahan besok? ]
[ Eng-enggak, ya sudah aku hanya menanyakannya saja.Oke aku lanjut kerja lagi ya ]
Panggilan pun selesai, Kini hati Mela jadi gusar takut Budi berubah pikiran dan membatalkan acara pernikahannya hanya karena dia berstatus anak tiri Mukhlis.
" Benar apa yang dibilang Mamih ternyata status sosial sangat penting. Aku jadi menyesal kenapa gak ikut saran Mamih saja untuk tidak memakai nama Ayah " gumam Mela.
Tok tok tok
" Mela, ayo kamu ikut. Bukannya kamu mau menemui ayahmu? Mamih gak mau mendatanginya sendiri. Dia orangnya menyebalkan " Tessa datang ke kamar Mela dengan tampilan yang sudah siap.
__ADS_1
" Ya Mih aku ganti baju dulu, Mamih tunggu ya "
Tanpa.menjawab Tessa langsung duduk di pinggiran ranjang sambil membuka ponselnya.
Mela mengganti pakaiannya dan berdandan secukupnya. Setelah selesai dia menghampiri Tessa yang sedang asik menggunakan ponselnya.
" Ayo Mih aku sudah siap " ajak Mela pada Tessa.
" Ayo "
Mereka berjalan bersisian dan pergi menggunakan mobil Mela. Sepanjang perjalanan Mela hanya terdiam tak menanggapi obrolan Tessa. Karena masih memikirkan obrolannya dengan Budi tadi.
" Mih ini gak salah jalannya kan, kok makin sempit ya? " tanya Mela.
" Ngga udah bener kok, ayahmu memang tinggal di daerah kumuh. Makanya Mamih malas mendatanginya " jelas Tessa.
Mela tak melanjutkan pertanyaannya karena akan ada pembahasan tentang penolakan Mela agar Mukhlis yang menjadi wali.
" Nah itu kamu bisa berhenti di depan, nanti kamu parkir di tanah lapang itu. Terus kita jalan ke gang sebelahnya " titah Tessa pada Mela.
Setelah memarkirkan mobilnya mereka berdua turun dari mobil. Mela mengikuti langkah kaki ibunya menuju ke gang yang tadi di tunjuk.
" Eh Bu Tessa apa kabarnya? Pak Rudi tadi keluar mungkin sebentar lagi pulang " ucap seseibu yang berpapasan di depan sebuah rumah yang halamannya terlihat berantakan.
" Oh iya makasih biar saya tunggu di dalam saja " jawab Tessa tak mau berpanjang lebar.
Tessa hanya menganggukan kepalanya kemudian seperti mencari sesuatu di dalam tasnya.
Mela sedikit heran dan ada pertanyaan terbersit dalam hatinya " Ibu-ibu tadi ngobrol sama Mamih seakan mereka sudah kenal lama. Apa Mamih sering kesini ya? "
" Mih ini rumahnya? " tanya Mela
" Iya " jawab Tessa singkat kemudian mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu rumah tersebut.
Mata Mela terbelalak " Ini maksudnya apa, kenapa Mamih punya kunci rumah ini? ah jangan sampai Mamih masih berhubungan dengan ayah. Walaupun aku anak tiri tapi aku gak rela Papih di khianati Mamih "
Melihat Mela yang termenung.Tessa tahu pasti anaknya curiga " Kamu jangan curiga walaupun Mamih sering kesini tapi tak pernah berbuat yang aneh aneh "
Ada sedikit lega dalam hati Mela, namun tidak sepenuhnya percaya apalagi mereka dua orang dewasa berbeda jenis dan pernah memiliki masa lalu.
" Masuklah " titah Tessa.
Mela masuk memindai seisi rumah yang benar benar berantakan. Piring kotor ada di mana mana. Pakaian kotor yang digantung sembarang membuat rumah mengeluarkan bau tak sedap. Apalagi kondisi Mela yang sedang hamil membuat perutnya serasa mau meledak.
Cukup lama mereka menunggu berusaha bersabar, akhirnya orang yang di tunggu datang karena terdengar suara motor terparkir di depan rumah.
__ADS_1
" Itu ayahmu " ujar Tessa.
Dengan rasa penasaran yang tinggi Mela langsung berdiri ingin melihat rupa ayahnya yang tak pernah dijumpainya sejak kecil. Dia hanya pernah bertemu Ikbal itu pun hanya sekali karena Mela tak mau berurusan dengannya.
Rudi masuk ke dalam rumah dalam keadaan sedikit sempoyongan dan mulut bau alkohol. Dia langsung masuk ke dalam memandangi mantan istrinya dan anak perempuannya kemudian membaringkan tubuhnya di kursi memejamkan matanya sambil menarik nafas berkali kali.
" Bangunlah Mela ingin bertemu " Tessa menggerak gerakan tubuh Rudi.
Dibukanya matanya perlahan " Ada apa dia mau bertemu denganku? Bukankan dia malu memiliki ayah sepertiku "
" Dia mau menikah dan ingin kamu menjadi walinya " tukas Tessa.
" Hahaaaa, apa aku tak salah dengar? " Rudi langsung bangun dan menarik Tessa ke ruangan sebelah.
" Kamu tak salah memintaku untuk jadi wali nikahnya? "
" Tentu saja kamu kan ayah kandungnya " jawab Tessa tegas.
" Ckck aku tahu, mmmhhh baiklah aku mau jadi walinya. Tapi itu tak gratis, aku meminta di belikan pakaian bagus karena tak mau membuatnya malu dan juga uaaang " jawab Rudi sambil menjentikan jarinya.
Mela yang tadi sengaja mengikuti mereka langsung terbelalak mendengar penuturan ayah kandungnya. Sungguh memalukan sedar kecil tak pernah merawat dan mengurusnya, kini ketika memintanya untuk menjadi wali Mela pun harus memberikan upah.
Air mata Mela langsung luruh membasahi kedua pipinya. Sedih dan sakit itulah yang Mela rasakan.
Mela langsung masuk ke ruang sebelah " Sudah Mih tak usah meminta padanya, aku malu mendengarkan permintaannya "
" Melaa " kini Tessa serba salah dia tak menyangka Mela akan mengikutinya sehingga mendengar percakapan mereka berdua.
" Lihatlah anakmu itu, dia tak pernah menghargaiku "
" Sebaiknya kita pulang Mih, percuma meminta tolong padanya. Padahal ini sudah menjadi kewajibannya "
Mela langsung bergegas keluar tanpa menunggu ibunya.
" Mel, Mela tunggu " Tessa memanggil Mela berkali kali namun di abaikan. Bahkan Tessa berjalan tergopoh gopoh mengejar Mela.
Kini Mela dan Tessa sudah berada di mobil, Tessa merasa bingung melihat Mela yang menangis tersedu sedu.
" Mamih kan udah bilang malas nemuin dia, kamu sih bandel " ucap Tessa sambil mengusap rambut Mela.
Flash Back Off
Kini Mela masih berdiri dekat jendela dengan perasaan yang sulit di artikan.
" Ya Allah sakit sekali hiks hiks "
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar bunyi ketukan pintu kamarnya membuat lamunannya buyar.