Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
67. Bersekongkol


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 67 ( Bersekongkol )


Pukul 8 pagi Tessa bangun dari tidurnya setelah tadi malam dia melempar barang barangnya di kamar karena kesal pada suaminya.


" Bi, Mela dimana? " tanya Tessa pada salah satu ART nya Sumi dengan wajah bantalnya.


" Loh bukannya Non Tessa masih di hotel bareng Mas Budi ya Bu " jawab Sumi.


" Ah iya saya lupa " ucap Tessa.


" Kalau Bapak dari jam 7 sudah berangkat, tadi terima telepon pas sarapan sepertinya penting " tambah Sumi.


" Ah paling dia ke apartement Dini, sudah seperti istri muda saja ketimbang jadi menantu " celetuk Tessa didepan Sumi.


Mata Sumi membulat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tahu Tessa tidak menyukai Dini tapi tak menyangka berucap demikian.


" Buatkan saya nasi goreng dan omlet ya " titahnya pada Sumi.


" Baik Bu " Sumi segera ke dapur dan menyiapkan permintaan majikannya.


Sambil menunggu pesanannya Tessa menghubungi Rudi dan Ikbal ingin membuat janji untuk bertemu.


Namun sudah beberapa panggilan pada Rudi tapi tak ada jawaban.


" Halah paling tadi malam dia mabuk apalagi sudah dapat duit setelah menjadi wali Mela. Orang aneh, ngasih bantuan dana gak bisa anak nikahan malah minta dibayar.


Benar benar memalukan, andai saja aku tak butuh bantuannya rasanya malas sekali berhubungan dengannya "


Tessa menggerutu tak berhenti sedari tadi karena panggilannya tak mendapat respon dari Rudi.


" Lebih baik aku hubungi Ikbal saja " dicarinya kontak Ikbal dan hanya butuh 2 kali panggilan Ikbal sudah menjawabnya.


[ Hallo ]


[ Hallo Bal, dimana kamu? ]


[ Ada apa Mih? ]


Tessa tertegun dan melihat kontak yang di panggilnya, aneh sekali rasanya Ikbal memanggil Mamih pikir Tessa.


[ Mih ada apa sih katanya telepon tapi malah diam, aku matiin saja ya ]


[ Eh bukan gitu, tadi aneh saja rasanya kamu manggil Mamih ]


[ Oh jadi tak boleh? gimana kalau aku panggil Si mbok saja hehee ]


[ Anak gak waras ]

__ADS_1


Tessa memaki Ikbal dan di balas tawa oleh putra dari suami pertamanya itu.


[ Hahaaa lagian aneh saja masa Budi dan Deni manggil Mamih aku panggil Ibu. Yang anak kandung itu kan aku ]


[ Ah terserah kamu saja lah berisik ]


[ Jadi Mamih ada perlu apa? ]


[ Mamih ada perlu sama kamu dan Ayahmu bisa kamu datang ke cafe Barroka jam 12 siang nanti? ]


[ kenapa gak sekarang saja? ]


[ Emang Ayahmu bisa datang jam segini? dia pasti lagi tidur ]


[ Ah iya benar Mih kemarin pulang jam 2 shubuh. Sepertinya dia lagi banyak uang Mih ]


[ Ya sudah kita bertemu jam 12 di kafe yang Mamih bilang, jangan telat kamu ]


[ Baiklah Mih, oh ya isi dompetku sudah menipis kirim lagi lah Mih ]


[ Uang saja yang ada di kepalamu, kerjaaaaa ]


Teriak Tessa sambil menutup sambungan teleponnya " Bapak sama anak sama saja, pemalas "


***


Pukul 12 Tessa sudah berada di parkiran cafe Barroka dia mencari anak dan mantan suaminya tapi belum terlihat lalu dia mencari meja untuknya.


Tessa memesan menu untuknya dan untuk 2 orang yang akan dijumpainya. Dia sengaja memesan terlebih dahulu karena jika tidak anak dan mantan suaminya akan memesan banyak makanan. Seakan mereka tak makan berhari hari.


Tak lama Ikbal dan Rudi datang menuju meja Tessa. Mata Rudi masih terlihat merah entah karena baru bangun atau karena mabuk semalam.


" Lama sekali kalian, kalian tak usah pesan sebentar lagi makanan siap " ucap Tessa.


" Mamih sudah memesannya? " tanya Ikbal.


" Ya kalau tidak kalian bakalan pesan makanan untuk satu RT " sahut Tessa ketus.


" Pelit " jawab Ikbal dan Rudi kompak.


Tessa hanya tersenyum miring mendengar jawaban kedua lelaki tersebut.


Dia harus berhemat karena memiliki rencana besar yang akan memakan biaya besar juga. Jadi dia tak mau membuang uang percuma.


Tak lama makanan yang sudah dipesan datang, mereka makan terlebih dahulu karena sudah masuk jam makan siang.


Rudi sangat lahap seperti orang tidak makan seminggu, Tessa dan Ikbal meringis melihatnya.


Selesai makan Tessa mengeluarkan rokok dari tasnya lalu menyalakannya. Dia berani melakukannya karena ruangan di cafe tersebut khusus tamu VIP dan ruangannya privat.

__ADS_1


Ikbal terbelalak " Mamih merokok? "


" Kamu kira Ibumu seanggun itu hahaaa " Rudi tertawa renyah.


" Diam " seru Tessa sambil melotot.


" Ternyata status Ibumu yang sekarang tak bisa merubah kebiasaan buruknya. Papih tirimu gak tahu kebiasaannya kalau tahu dia pasti ilfeel "


" Jangan dengarkan ayahmu dia memang ngaco " ujar Tessa.


" Justru jangan dengar Ibumu dia pasti akan mengajakmu berbuat buruk. Ayah tahu dari kejadian kemarin bagaimana keadaan keluarga barunya " tukas Rudi.


" Memang apa yang kau tahu tentang keluargaku dan rencanaku? " tantang Tessa pada Rudi.


" Aku belum tahu rencanamu, yang pasti aku yakin kamu tak menyukai sikap suamimu dan ingin melakukan sesuatu pada suamimu itu atau pada menantu kesayangnya. Iya kan? " tebak Rudi penuh percaya diri.


" Hahaaa, tebakanmu tepat sekali sepertinya otakmu masih encer apalagi setelah semalam minum banyak " jawab Tessa tertawa dan kemudian menghembuskan asap rokoknya.


" Apa yang kamu rencanakan, jangan kau ajak putraku melakukan hal buruk. Aku tak mau nanti dia berurusan dengan hukum " Rudi berkata dengan tegas pada Tessa.


" Hey tenanglah, kalian mau hidup enak nggak? atau kalian mau selamanya hidup susah seperti ini? " Tessa memindai wajah Ikbal dan Rudi bergantian.


" Kita tidak akan melukainya, kita hanya akan meminta sebagian hartanya " tambahnya lagi


" Untuk apa memintanya, bukankah kau istrinya tentu kamu akan mendapat bagianmu. Bahkan bila kamu bisa bersikap baik maka suami, anak dan menantumu maka hidupmu akan tenang dan damai berlimpah harta. Jangan kau menyia-nyiakannya "


Rudi berbicara panjang lebar agar Tessa mengurungkan niatnya. Tapi dasarnya Tessa sudah dikuasai nafsu keserakahan, dia menolak nasehat Rudi.


" Tahu apa kamu tentang suami, anak tiri dan menantuku itu. Menantu sok cantik yang merebut perhatian sosok seorang suami untukku dan sosok ayah bagi Mela.


Semua dikuasai Dini, kamu ingat permintaan mobil Mela kemarin? kenapa Mukhlis begitu berat memberikannya, seharusnya dia memperlakukan Mela lebih baik daripada Dini. Orang yang baru masuk menjadi anggota keluarga "


Rudi terdiam mendengar keluhan Tessa, dia juga ingat kekecewaan yang harus di telan Mela ketika permintaannya di tolak


Walaupun dia tak merawat Mela sedari kecil tapi ikatan batin seorang ayah dan anak begitu terasa ketika Mela merasa sedih atas penolakan Mukhlis.


Rudi mulai goyah dia terdiam dan menundukan wajahnya.


" Benarkan aku bilang, kamu pun pasti merasakan kesedihan Mela. Itulah yang aku rasakan setiap hari ketika melihat Dini mendapatkan segala hal yang dia mau. Sedangkan Mela dia harus mengemis dan memohon bahkan di hari bahagianya "


Tessa kembali berdrama dengan memasang wajah sedih agar Rudi luluh dan mau membantunya.


Menurut Tessa makin banyak orang bergabung maka makin besar peluang keberhasilannya.


" Aargghhh, aku pusing " Rudi mengacak rambutnya kasar.


Pengalaman hidupnya yang hidup miskin hingga pernah masuk penjara memberinya pelajaran agar menjauh dari urusan hukum.


Dia merasakan pedihnya hidup di penjara dan tak mau anaknya mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Tapi dia juga ingin anaknya hidup bahagia dan berkecukupan. Sekarang dia benar benar merasa dilema.


" Jadi bagaimana? " tanya Tessa sambil menyeringai.


__ADS_2