
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 41 ( Ditegur Mukhlis )
Tessa masih merasa kesal pada Mela apalagi obrolan mereka diputuskan begitu saja oleh Mela. Belum lagi dia membaca pesan dari anak laki lakinya Ikbal yang terus merengek meminta di belikan mobil.
" Si*l uang darimana aku buat beli mobil, kalau jual perhiasan lagi aku takut Mas Mukhlis curiga. Aku gak mau rumah tanggaku jadi bermasalah " dia menggerutu di sepanjang perjalanan.
" Aku juga aneh kenapa Mas Mukhlis jadi perhitungan gini sih, gak mungkin uangnya habis gara gara ngadain pesta perkawinan Deni kemarin. Ini pasti gara gara beli mobil si Dini. Mas Mukhlis beliin dia mobil tapi jatah aku yang dikurangi "
" Aku pulang langsung gak ya, malas banget di rumah. Kepalaku jadi pening atau aku ke mall aza ya? tapi kalau ke mall ntar aku pengen belanja mana semua kartuku sudah dibatasi Mas Mukhlis.
Ah aku tahu gimana kalau aku minta sama Deni saja, aku bilang aza pinjam masa iya dia nagih. Tapi kalau dia bilang Mas Mukhlis gimana ya? "
Tessa terus berbicara sendiri dia sedang berpikir bagaimana caranya mencari uang. Karena Ikbal terus mendesaknya supaya segera dibelikan mobil incarannya.
Ddrrttt ddrrrttt
Diliriknya ponsel yang berada di atas dashboard mobil, sekilas terlihat Ikbal yang menghubunginya.
" Anak ini lagi, kenapa sih punya anak gak ada yang bisa di andelin. Yang perempuan susah diatur yang laki laki pemalas bisanya cuma minta uang saja "
Walaupun di abaikan ponselnya terus berbunyi memaksa agar Tessa mau mengangkatnya. Dengan malas Tessa langsung menerima panggilan tersebut.
[ Hallo ]
[ Mah mana mobilnya kapan dong? ]
[ Ya sabar dong itu kan bukan uang sedikit kamu pikir kayak beli bakwan datang tinggal bayar karena murah ]
Kali ini Tessa sedikit mengeluarkan suara ketusnya, dia kesal anaknya tak faham dengan kondisi yang sedang terjadi.
[ Kok Mamah marah sih, Mamah jangan lupa ya aku di tinggalin gak di urus sama Mamah dari kecil harusnya Mamah sekarang ngebahagiain aku sebagai penebus kesalahan Mamah dulu ]
[ Minta sama Bapak kamu, kami punya tanggung jawab yang sama. Mamah sudah mengurus Mela dengan baik. Harusnya dia juga melakukan hal yang sama padamu. Jangan seperti Bapakmu pemalas pengen enak sendiri ]
Klik
__ADS_1
Obrolan tersebut di putus sepihak oleh Tessa " Bikin kesal saja, punya anak bukannya bisa ngebantu orang tua malah jadi beban. Lebih baik aku pulang saja daripada menambah pening kepalaku kalau ke mall "
Tessa memutuskan langsung kembali ke rumahnya saja. Mungkin dia akan tidur atau sekedar istirahat saja sambil menunggu Mela untuk ditanyai soal Budi.
Setelah 20 menit perjalanan Tessa sudah memasuki gerbang kompleknya. Mendekati rumahnya Tessa melihat mobil suaminya sudah terparkir di depan rumah.
" Tumben Mas Mukhlis ada di rumah jam segini " dengan tergesa gesa dia masik ke dalam rumah.
" Pih kok udah pulang, apa ada tamu datang? " mendapati suaminya sedang duduk di ruang tamu dia merasa heran.
" Mau apa Mamih ke resto? " tanya Mukhlis.
Degh
" Cu-cuma mampir Pih " wajah Tessa langsung pucat, dia menjawab dengan terbata bata.
Mukhlis tak mengeluarkan suara dia hanya menatap tajam Tessa. Seperti berharap istrinya mau berkata jujur.
" Tadi Mamih cuma mau ke resto tapi lihat Mela lagi gandengan sama Budi mantan tunangan Dini. Mamih mau mengejar tapi keburu mereka pergi. Jadi Mamih nanya ke Dini kenapa Mela bisa sama Budi " Tessa berusaha membela dirinya.
" Kenapa Mamih harus marah sama Dini, yang jalan sama Budi kan Mela? " balas Mukhlis, dia merasa heran dengan tingkah istrinya yang menyalahkan orang lain.
" Apa gak kebalik tuh? "
" Maksud Papih apa? Mamih gak ngerti maksudnya apa " Tessa balik bertanya pada Mukhlis.
Mukhlis berdiri dari duduknya, tangannya dimasukan ke dalam saku celananya " Mamih introspeksi diri saja, gak usah nyari kambing hitam. Lebih baik Mamih berpikir lebih jernih sebelum semua terlambat "
Selesai berbicara Mukhlis langsung menuju pintu, Tessa langsung mengejarnya sambil berteriak " Pih berhenti Pih, pasti si Dini yang udah ngadu sama Papih kan. Dia itu memang gak tahu diri. Baru jadi menantu udah bikin rumah ini jadi panas "
Mukhlis membalikan badannya tatapannya tajam mengarah pada Tessa " Kamu salah, aku tahu bukan dari Dini. Apa kamu lupa resto itu milikku semua pekerja mengenalku, jadi kejadian apapun aku bisa tahu.
Satu hal lagi kalau kamu mengganggu Dini lagi dan kalau sampai terjadi sesuatu pada Dini atau cucuku maka kamu akan menanggung akibatnya. Mengerti kamu? "
Dengan tegas Mukhlis berbicara, dia acuhkan wajah Tessa yang hampir menangis.
Selesai bicara Mukhlis langsung pergi menaiki mobilnya kembali. Wajah Mukhlis terlihat kesal. Dia langsung tancap gas namun dia berpapasan dengan mobil Mela. Tapi Mukhlis tak peduli, tanpa menyapa anak gadisnya dia langsung pergi.
__ADS_1
Mela heran melihat Mukhlis terlihat kesal bahkan tak menyapanya sama sekali. Gegas dia masuk ke dalam.
Dilihatnya ibunya sedang menangis di sofa " Mih kenapa, Mamih ribut sama Papih? "
Tessa langsung mendongakan wajahnya " Ini semua gara gara kamu "
" Kok aku sih Mih? " dengan wajah heran Mela bertanya.
" Iya tadi Mamih lihat kamu jalan sama mantan tunangan Dini, terus Mamih tegur Dini. Papih kamu marah dan mengancam Mamih kalau terjadi apa apa sama Dini atau cucunya Mamih akan merasakan akibatnya hiks hiks "
" Emang Mamih ngomong apa sama Dini? "
" Gak ada, Mamih cuma nanya aza apa benar kamu sama Budi. Tapi dia malah nyolot " jawab Tessa, dia tak mau bicara jujur karena dia memang salah.
Lebih baik berbohong daripada Mela ikut marah seperti Mukhlis.
" Masa sih aku gak percaya deh, nanti aku tegur Dini. Gitu aza cengeng sampe ngadu segala nyebelin banget "
Tessa tersenyum menyeringai melihat Mela kesal pada Dini.
" Sepertinya aku harus seperti ini supaya mendapat dukungan dari Mela. Karena tak mungkin aku sendirian menghadapi Mas Mukhlis " gumamnya dalam hati.
" Kamu juga ngapain jalan sama mantan si Dini. Emang gak ada laki laki lain? cari pengusaha muda supaya hidupmu tak susah " kini Tessa mulai mengoceh dan menolak kedekatan Mela dan Budi.
" Gak bisa dong Mi kalau urusan hati gak bisa dipaksa. Lagian Budi kerja kok jabatannya juga lumayan. Aku tuh lihat dia berbeda sama laki laki lain " bantah Mela.
" Mamih gak mau tahu pokoknya kamu harus jauhin dia, nanti Mamih kenalin kamu sama anak laki laki temen Mamih yang lebih segalanya dari Budi.
Lebih tampan, lebih mapan dan tentu saja bibit, bebet, bobotnya sudah pasti terjamin "
" Haduh Mih ini bukan zaman Siti Nurbaya yang main jodoh jodohan kayak gitu. Aku gak suka ya, ini hidup aku Mamih gak usah repot cariin jodoh buatku. Oke Mih? " Mela bersikeras dengan keinginannya bersama Budi.
Karena dia melihat Budi laki laki yang baik dan bertanggung jawab. Hanya butuh sedikit kesabaran saja.
" Kamu tahu apa soal cinta, kuliah aza gak beres beres. Pantes Papih mu marah terus. Sekarang ngomong cinta, emangnya cinta bisa ngasih makan " tegas Tessa.
" Udah ah aku cape, soal Dini nanti aku tegur dia. Jam segini belum pulang kerja pasti susah angkat telepon. "
__ADS_1
Tessa melongo melihat anak gadisnya yang benar benar tidak bisa diatur.