Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Fakta Baru


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 44 ( Fakta Baru )


[ Oh ya apa ada hubungannya sama Mamih, Mela dan Budi? ]


Degh


Dini langsung menautkan alisnya, sepertinya dia heran karena Deni sudah mengetahui kejadian tadi siang.


[ Mas sudah tahu dari siapa? ]


[ Barusan Mamih telepon aku sayang ]


Dini merasa lega masih tersemat panggilan sayang berarti Deni tidak berpikiran buruk tentangnya. Karena berdasarkan pengalaman dulu ketika LDR mereka sering berselisih faham karena aduan dari Tessa.


Baik Dini ataupun Deni sekarang sudah mulai membenahi diri. Deni yang tak akan langsung percaya pada aduan Tessa, begitupun Dini yang tak akan memendam masalah hanya karena rasa sungkan.


Itulah janji mereka ketika Deni meminta kembali pada Dini dan Dini menerima permintaan Deni.


Sebagai suami Deni mengenal sifat Dini, begitupun sebagai anak dia tahu bagaimana sifat Tessa.


Deni tak ingin menyesal dua kali apalagi harus kehilangan Dini lagi. Dia belum mendengar penjelasan Dini itu hal yang wajar karena waktu untuk mereka mengobrol adalah saat ini.


[ Hhmmm, tadi Papih juga bahas soal Mamih sih. Padahal aku gak ngadu sama Papih, gak tahu itu siapa yang ngadu sama Papih ]


[ Emang ada masalah apa Yang? ]


[ Tadi siang Mamih marahin aku di kantor sampai nunjuk nunjuk aku gara gara lihat Mela sama Budi lagi jalan berdua. Mamih mengira aku yang menjodohkan mereka padahal aku gak tahu sama sekali. Karena semenjak aku kembali sama Mas kan aku blokir semua akses tentang Budi ]


Kini panggilan Aa sudah tidak tersemat di nama Budi, karena untuk menghargai Deni sebagai suaminya.


[ Emang Mamih lihat mereka jalan dimana? ]


[ Jadi tadi siang Mela datang sama Budi makan siang di resto, aku emang ketemu mereka sebentar. Kukira Mela sendirian pas ngasih kabar sedang di resto, lalu aku samperin karena dia duduk sendiri. Baru ngobrol sebentar ternyata Budi menyusul datang. Ya aku langsung pamit Mas karena gak enak aku juga gak mau ada salah faham antara kita. Kata Mamih sih dia lihat Mela sama Budi pas keluar dari resto. Mamih cuma bilang itu aza ]


Sampai sini Deni langsung faham maksud Dini, hanya saja dia belum tahu apa maksud Budi mendekati Mela dan sejak kapan mereka bersama.


[ Tapi Mas aku kaget Mamih sampai nuduh aku bekerja sama dengan Budi buat memeras keluarga Mas ]

__ADS_1


[ Ya sudah sabar sayang, kamu tahu kan Mamih seperti apa. Kalau bisa kamu jangan dekat dekat dengan Mamih atau Mela. Terus sejak kapan sayangnya Mas tahu kalau Mela sama Budi ada hubungan? ]


[ Pas aku istirahat kemarin karena morning sickness di rumah Ayah. Mereka kan nengok nah Mela cerita dia deket sama laki laki yang aku kenal, terus dia minta dirahasiakan. Tapi aku menolak karena tak mau ikut campur urusan Mela, khawatirnya nanti malah jadi kambing hitam lagi ]


[ Pintar sekali istri Mas ini, kamu benar sebaiknya jangan ikut campur. Ngomong ngomong soal kambing kamu kan bukan kambing hitam tapi kambing cantik ]


[ Ih Mas kok nyamain aku sama kambing sih ]


Dini memanyunkan bibirnya membuat Deni makin gemas.


[ Hahaaa Mas bercanda, masa iya disamain sama kambing istri tercantik Mas ini. Terus kenapa kamu gak cerita sama Mas kemarin soal hubungan mereka ]


[ Sejujurnya aku tak mau tahu urusan mereka karena bagaimanapun Budi pernah jadi bagian masa lalu aku. Aku gak mau Mas salah faham dan berpikir aku kepo. Tapi tadi Papih bilang sebaiknya aku cerita sama Mas takutnya keduluan Mamih dan bercerita sesuai versinya ]


[ Mas percaya sama kamu, tapi benar kata Papih lain kali cerita dulu sama Mas ya. Benar juga dugaan Papih kamu keduluan sama Mamih kan ]


[ Emang Mamih bilang apa Mas? ]


[ Ya sama seperti yang kamu bilang seperti tadi. Sudah tak usah dipikirkan, Mas gak mau kamu banyak pikiran. Jaga bayi kita ya sayang. Mas janji bakal cepat pulang ]


[ Iya Mas, aku sayang banget sama Mas ]


[ Iya Mas, Waalaikum Salam ]


Deni mengakhiri panggilannya dengan Dini dan menarik nafasnya dalam dalam


" Mamih ada ada saja sih, saking nggak suka nya sama Dini sampai nuduh yang enggak enggak. Untung mereka gak serumah kalau serumah kasihan sekali Dini pasti sangat tertekan "


Baru juga Deni selesai berbicara dengan Dini kini ponselnya kembali berbunyi dan sekarang ada panggilan dari ayahnya.


[ Assalammu Alaikum Pih ]


[ Waalaikum salam, gimana kabarmu Den. Sehat kan? ]


[ Alhamdulillah sehat, Papih juga sehat kan? ]


[ Alhamdulillah sehat, Den tadi Papih ke apartement ketemu Dini. Tadi siang dia dimarah Mamih gara gara Mela ]


[ Iya Pih barusan aku telepon Dini, dia sudah cerita semuanya ]

__ADS_1


[ Ya baguslah, sekalian kamu kasih support sama dia. Takutnya dia tertekan sama Mamih kamu ]


[ Sudah Pih, tapi tadi sebelum aku telepon Dini mamih udah telepon aku duluan. Mamih cerita soal tadi siang sesuai versinya. Cuma Pih ada yang mau aku tanya. Kenapa Mamih mau pinjam uang sama aku, apa udah minta ke Papih tapi gak dikasih? ]


[ Gak ada Mamihmu minta sama Papih. Emang berapa yang dimintanya? ]


[ 300 juta Pih ]


[ Besar sekali, untuk apa katanya? ]


[ Mamih gak bilang, apa ada yang belum Papih ceritakan padaku? ]


[ Papih memang belum cerita Den, ini tentang Mamihmu. Papih gak sengaja lihat Mamihmu sedang bersama laki laki muda seumuranmu. Papih kira dia simpanan Mamihmu.


Lalu Papih selidiki ternyata dia kakak kandung Mela, Mamihmu berbohong dulu dia bilang anaknya hanya Mela. Mungkin mamihmu malu jadi menyembunyikannya. Huftt ]


Mukhlis menjeda ucapannya, dia menarik nafasnya dalam.


[ Papih sebenarnya tak akan marah hanya kecewa pada kebohongan Mamihmu. Yang bikin Papih kecewa Mamih mulai menjual perhiasannya dan memberikan uang tanpa sepengetahuan Papih pada anak tersebut.


Banyak pengeluaran yang tidak jelas makanya Papih membatasi Mamihmu. Papih juga menyelidiki ternyata anak Mamihmu bukan laki laki yang baik dia tak bekerja dan sering mabuk mabukan.


Mungkin uang Mamihmu banyak yang mengalir kesana. Andaikan anak itu baik perilakunya Papih pasti akan menganggapnya anak seperti pada Mela ]


Deni benar benar tak percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Pantas saja ibu tirinya meminjam uang padanya. Dan dia pun yakin uang itu tak akan kembali.


Seperti yang sudah sudah Deni pun sungkan untuk memintanya kembali, ini bukan pertama kalinya Tessa meminta dengan alasan meminjam uang.


Namun kali ini uang yang diminta sangat besar sehingga Deni enggan memberikannya. Andaikan penggunaannya jelas mungkin Deni bersedia membantu.


[ Untung saja aku bertanya dulu pada Papih. Karena seperti ada yang janggal saja ]


[ Papih harap kamu segera pulang, Firasat Papih gak enak apalagi mendengar Budi dekat dengan Mela. Entah apa tujuan mereka tapi Papih mengkhawatirkan rumah tangga kalian. Kita harus segera membuat antisipasi ]


[ Iya Pih aku pun sudah meminta pada atasanku agar kontrakku dipercepat, semoga saja permintaanku di acc. Untuk sementara aku percayakan Dini pada Papih dan mungkin aku sarankan ada penjaga tambahan. Atau sebaiknya Dini tinggal di rumah orang tuanya dulu? ]


[ Papih gak mau, gak enak dengan keluarga mereka. Ini masalah intern keluarga kita. Tapi nanti akan Papih pertimbangkan usulmu. Kita lihat saja perkembangannya nanti ]


[ Baiklah Pih aku mau bersiap kerja dulu. Jaga kesehatan Papih karena aku berharap pada Papih. Assalammu Alaikum ]

__ADS_1


[ Iya, jaga juga kesehatanmu. Waalaikum salam ].


__ADS_2