Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Alasan Memisahkan Dini dan Budi


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 15 ( Alasan memisahkan Dini dan Budi )


Pov Deni


Setelah pamit pulang pada Dini dan Ibunya aku datang berniat menemui Papih untuk melihat tempat resepsi pernikahanku.


Sebenarnya aku malu karena tidak membantu tapi itu sudah keinginan Papih sebab aku anak laki laki satu satunya.


Kami sudah janjian menuju gedung tempat resepsi di sebuah hotel bintang lima. Papih benar benar menginginkan kesempurnaan di acara nanti.


Apalagi akan ada banyak relasi yang datang. Papih berharap aku meneruskan usahanya mengelola cafe cafe yang dimilikinya, pesta nanti merupakan salah satu caranya untuk mengenalkanku pada teman temannya.


Mungkin orang bertanya kenapa aku pergi jauh jauh berlayar bekerja di kapal pesiar padahal usaha resto dan cafe orang tuaku banyak.


Jawabannya aku tak mau berlindung dan mengandalkan orang tua. Alasanku pada semua orang saat itu ingin menabung untuk biaya pernikahanku dan Dini dan ingin mencari pengalaman.


Sebisa mungkin aku ingin mandiri, walaupun semua harta Papih akan jadi milikku. Apalagi usaha yang Papih miliki sekarang berasal dari peninggalan Ibu kandungku.


Mamih bukanlah ibu kandungku. Papih menikahinya ketika aku berumur lima tahun. Saat itu Mela baru berusia dua tahun yang dibawa Mamih dari pernikahan sebelumnya.


Ya benar Mamih seorang janda beranak jadi aku dan Mela tidak memiliki hubungan darah. Bahkan yang aku dengar Mamih pun memiliki anak laki laki dari suaminya terdahulu namun anak itu tinggal bersama mantan suaminya.


Semenjak kuliah, aku lebih sering menghabiskan waktu di apartement jarang sekali pindah ke rumah.


Sikap Mamih sedikit menggangguku, dia seperti menjodohkanku dengan Mela. Aku sering di suruh menemani Mela hanya untuk sekedar nonton, belanja ke Mall atau bertemu teman temannya.


Dini tidak keberatan kalau aku mengantar Mela karena dia tidak tahu hubungan keluarga kami sebenarnya. Yang dia tahu Mamih adalah Mamih kandungku.


Akhirnya kusampaikan pada Papih ketidaknyamananku dengan sikap Mamih. Papih pun membelikanku apartement tanpa sepengetahuan Mamih. Aku khawatir Mela akan sering datang kalau tau dimana apartemenku.


Dini tahu aku sering tinggal di apartement untuk menenangkan diri. Tapi belum pernah sekalipun dia berkunjung kesana.


Setiap ku ajak dia sering kali menolak dengan alasan perempuan tidak boleh ke rumah laki laki apalagi di tempat itu hanya berdua.

__ADS_1


Awalnya Dini bertanya kenapa aku lebih sering disana, dan hanya kujawab ingin menyendiri.


Apartemenku cukup besar semua tatanan dan furniture sesuai seleraku, bahkan ada beberapa foto bunda yang ku pasang di ruangan. Rencananya setelah menikah nanti aku akan membawa Dini kesini dan menceritakan semuanya.


Melihat kondisi Dini tadi aku merasa kasihan dia pasti shock dengan sikap Budi.


Dini tidak mengetahui banyak hal tentang Budi. Sebagai kekasihnya dulu sewaktu aku masih bekerja di kapal aku masih memantau Dini.


Dini tidak tahu Pak Sarif yang dianggap Bos nya itu adalah pamanku adik dari Bunda. Dulu aku meminta pada Paman agar menerima Dini bekerja disana.


Aku hanya memberitahu pada Dini bahwa ada perusahaan kontraktor yang membutuhkan karyawan.


Makanya aku bisa tahu ketika Dini akan bertunangan dengan Budi ya dari Paman Sarif. Memang benar 6 bulan sebelumnya Dini meminta berpisah dan aku sempat menolak.


Itu tidak sepenuhnya salah Dini, selain kami LDR aku juga ikut andil memperburuk situasi. Saat itu Mamih sering memberitahu kalau Dini bersikap tidak baik.


Saat itu aku memberitahu Dini agar mengalah pada Mamih, namun Dini beranggapan lain.


Aku diberitahu paman setelah 4 bulan kami berpisah Dini dekat dengan Budi karyawan baru pindahan dari kantor kota lain dan baru bekerja satu bulan.


Akhirnya aku pasrah andaikan Dini memilih laki laki lain, namun aku ingin memastikan laki laki yang dipilih Dini merupakan laki laki yang tepat.


Aku pun mencari tahu soal Budi, dengan uang segalanya lebih mudah. Aku menyewa orang untuk mengetahui sosok Budi.


Dia memang berasal dari keluarga baik baik, orang tuanya orang yang taat pada agama. Dia memiliki seorang kakak perempuan yang ternyata hidupnya sangat bebas.


Sedangkan Budi laki laki yang terlihat pendiam dan dewasa menyimpan masa lalu yang kelam.


Dia seorang pemakai, dan hidup bebas. Di kota tempat sebelumnya bekerja dia sering bergonta ganti pacar.


Sejauh mana hubungan dia dan pacar pacarnya aku tak mau tahu, karena itu bukan urusanku.


Budi pun memiliki karakter yg mudah emosi. Entah mengapa di kantor pamanku dia terlihat bijak dan dewasa bahkan posisinya lumayan.


Mungkin dia sudah berubah atau mungkin itu hanya untuk menutupi kekurangannya.

__ADS_1


Mengetahui hal itu aku merasa tak rela kalau Dini harus bersanding dengannya. Firasatku mengatakan Budi belum benar benar berubah. Lagipula aku memang masih menyayangi bahkan sangat mencintai Dini.


Tiga hari sebelum pertunangan Dini paman memberitahuku karena dia pun mandapat undangan pesta tersebut.


Akhirnya aku memutuskan mengambil cuti untuk pulang namun izin nya keluar sehari sebelum pertunangan Dini.


Menurut perhitunganku aku akan tiba di tanah air ketika Dini telah bertunangan. Aku tak mau itu terjadi, karena akan lebih sulit memisahkan mereka.


Akhirnya aku meminta bantuan Papih, namun sosok Papih yang tenang akan sulit untuk menghentikan pertunangan itu.


Rencana pun aku rubah aku meminta Mamih menghentikan pertunangan itu bagaimana pun caranya. Dengan sedikit mengancamnya akhirnya aku berhasil memaksa Mamih melakukan permintaanku.


Aku mengancam Mamih dia tak akan mendapatkan bagian harta Papih kalau Mamih tidak membantuku.


Tentu saja wanita mata duitan itu tak akan rela. Entah apa yang dikatakannya di pesta itu. Yang pasti akhirnya berhasil di hentikan.


Besoknya setelah pertunangan pukul 3 siang aku tiba di rumah. Tanpa beristirahat aku langsung meminta Papih mengantarkanku ke rumah Dini.


Untung Papih mengerti keinginanku beliau langsung membawaku ke rumah Dini bersama Mamih dan Omku untuk secara resmi meminang Dini.


Alhamdulillah usahaku tidak sia sia dengan sedikit mengingatkan Dini pada kenangan kenangan kami dan juga janji untuk memperbaiki hubungan kami. akhirnya Dini bersedia menerimaku kembali.


Tanpa menimbang terlalu lama aku pun meminta izin pada orang tua Dini dan orang tuaku untuk menikah dalam tiga hari ke depan. Serta resepsi seminggu kemudian.


Awalnya aku hanya ingin pesta sederhana namun Ayah meminta pestaku di buat semeriah mungkin karena aku anak laki laki satu satunya. Lebih tepatnya anak satu satunya.


Semua setuju, terkecuali Mamih wajahnya terlihat masam bahkan dia tidak tersenyum sama sekali.


Mobilku sekarang menuju hotel, ponselku berdering kulihat nama Paman Sarif yang terpampang di layar ponselku.


Pasti dia akan membawa berita tentang Budi. Tadi ketika Dini berada di kamar bersama Ibunya aku menghubunginya dan menceritakan kejadian di area parkir.


Pamanku sedikit marah, dia pun merasa tak percaya Budi bisa melakukan hal itu.


Dia berniat untuk memecatnya, tapi aku tak setuju aku tak ingin bila suatu saat nanti orang orang di kantornya akan mengetahui hubungan kami dan berfikir aku menggunakan posisi Paman sebagai pemilik perusahaan untuk menyingkirkan Budi.

__ADS_1


__ADS_2