
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 25 ( Pertemuan Mela dan Budi )
Malamnya Deni menepati janjinya untuk berkunjung ke rumah orang tua mereka berdua.
Setelah beberapa hari mereka berbulan madu di Bali mereka pun tidak lupa membawa buah tangan untuk keluarga mereka.
Mereka berdua pergi ke rumah Deni terlebih dahulu menggunakan mobil yang diberikan Pak Mukhlis untuk Dini sebagai hadiah perkawinannya.
Kini rasa penasaran ibu tiri Deni tersebut terobati karena sudah melihat hadiah tersebut yang sekarang terparkir di depan halaman rumahnya. Lebih tepatnya rumah Deni
" Kurang ajar Papih membelikan mobil mahal untuk si Dini, ini terlalu berlebihan mentang mentang menikah dengan anak kesayangannya.
Tapi aku gak boleh nunjukin ketidak sukaanku di depan suamiku apalagi di depan Deni karena akan berakibat buruk untukku " Bu Tessa bermonolog dalam hatinya.
" Assalammu alaikum Mih " sapa Dini pada ibu mertuanya.
" Waalaikum salam " singkat jawaban yang diberikan Bu Tessa. Namun Dini abaikan karena dia mengetahui ibu mertuanya tidak menyukainya.
Dini mencium tangan kedua mertuanya bergantian. Tak peduli dengan wajah ketus ibu mertuanya.
" Masuklah kalian kita makan bersama-sama kalian pasti belum makan malam kan? " ajak Pak Mukhlis sambil merangkul Deni.
Kemudian Deni menarik tangan Dini, kini hanya Bu Tessa yang berdiri sendirian di teras rumah.
Dia langsung menyusul sambil menghentak hentakan kakinya merasa kesal karena di abaikan.
Dini hanya tersenyum melihat tingkah Ibu mertuanya itu.
" Papih sengaja belum makan karena nunggu kalian, untung saja kalian segera datang kalau ngga bisa bisa keburu pingsan hahaaa " Pak Mukhlis tertawa di ikuti Deni dan istrinya.
" Seharusnya Papih makan duluan gak usah menunggu kita " jawab Deni.
Kini mereka berempat sudah duduk berbarengan, Pak Mukhlis terlihat mencari seseorang " Kemana Mela apa dia gak makan, kakaknya baru saja datang harusnya dia menyambut kedatangan mereka "
" Iya Pih ini aku, maaf tadi aku di kamar sedang bersiap siap. Mas apa kabar, Teh Dini gimana asik gak bulan madunya? "
Mela bertanya dengan ramahnya bahkan dia memeluk Dini. Deni dan Pak Mukhlis saling berpandangan heran dengan sikap Mela.
Biasanya dia bersikap ketus pada Dini seperti ibunya, atau mungkin dia sudah berubah, fikir mereka berdua.
Bu Tessa langsung melotot kemudian memalingkan wajahnya tak mau memperlihatkan keheranannya.
__ADS_1
Dia jadi khawatir Mela akan berteman dengan Dini makan itu akan menjadi hal yang merugikan buatnya.
" Kalian pasti heran kan aku jadi ramah begini, karena aku ingin mendekati Teh Dini supaya tahu lebih banyak tentang Budi. Hahaa lucu banget lihat wajah mereka yang cengo gitu " Mela bermonolog dalam hatinya.
Dini yang langsung dipeluk Mela pun terlihat kaget, tidak biasanya Mela bersikap seperti itu. Dia sampai melirik ke arah Deni dengan pandangan mata penuh tanya. Deni pun tak tahu, dia hanya mengendikan kedua bahunya.
" Pih aku mau minta izin ya buat keluar sebentar ketemu sama temanku " pinta Mela pada Papihnya.
" Tapi kan Mas mu baru saja datang, sebaiknya kita ngumpul ngumpul dulu. Apalagi dia akan segera berangkat berlayar " jawab Pak Mukhlis.
" Gak apa apa Pih, biarkan Mela bertemu temannya saja. Besok besok kita masih bisa bertemu " Deni mencoba menengahi obrolan Papih dan adiknya.
Pak Mukhlis menggelengkan kepala sambil menarik nafas kemudian dia melirik ke arah Bu Tessa memberi tatapan tak suka.
" Ya sudah Mela berangkat sekarang ya Pih " ujar Mela, dia langsung berdiri dari duduknya dan menyambar tas di sebelah kanannya.
" Aku pergi dulu semua, oleh oleh buat aku kasih Mamih aza ya Teh. Byee "
Tak ada jawaban semua hanya terdiam, Dini yang tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini langsung menatap suaminya..
Namun hanya dibalas senyuman, dia faham Dini pasti heran dengan tingkah Mela yang berlaku kurang sopan tersebut. Namun itu sudah menjadi hal yang biasa dilihat Deni.
Mereka pun melanjutkan acara makan yang terhenti.
***
Setelah melihat temannya Mela langsung duduk dan memesan minuman. Mereka terlihat mengobrol dan kadang kadang mereka tertawa.
" Sebentar aku kesana dulu ya " ucap Mela pada temannya.
Tak sengaja Mela melihat laki laki yang di incarnya sedang duduk sendirian. Ya dia melihat Budi sedang menikmati minumannya.
" Hai, boleh saya duduk disini? " sapa Mela dan langsung duduk di sebelah Budi.
Budi yang baru bertemu Mela sekali terlihat tak peduli, karena dia merasa tak mengenalnya.
" Kamu lupa ya sama saya, padahal kita pernah duduk satu ruangan "
Budi masih terdiam bahkan tak sekalipun menoleh Mela. Dia masih fokus dengan minumannya.
" Ihhh gemesin banget sih, dia gak kalah ganteng dari Mas Deni udah gitu cool banget lagi. Kenapa sih Teh Dini begitu beruntung di kelilingi pria ganteng seperti mereka " ucap Mela dalam hatinya.
" Aku Mela, adik Mas Deni suami Teh Dini "
__ADS_1
Degh
Menyebut nama Deni dan Dini saja berhasil membuat Budi memalingkan wajahnya langsung memandang Mela.
" Ada perlu apa? " suara Deni terdengar parau kemudian memalingkan wajahnya kembali.
Sebenarnya Budi merasa tertarik mengobrol dengan Mela setelah menyebut nama Dini namun dia berusaha terlihat tak perduli.
" Gak ada, aku hanya ingin duduk disini karena melihat kamu sendirian. Dan tentu saja karena kita pernah satu ruangan setidaknya kita bisa jadi teman "
" Teman? terima kasih tapi saya sedang ingin sendiri saya sedang tak tertarik mencari teman " Budi tersenyum lalu kembali meneguk menghabiskan minumannya.
" Sok jual mahal juga ni cowok " batin Mela namun dia masih belum menyerah.
" Baiklah aku hanya ingin berteman denganmu, kalau misal kamu berubah fikiran kamu bisa menghubungiku "
Mela mengeluarkan kartu namanya, dan disimpan tepat di hadapan Budi.
" Aku permisi dulu ya " Mela berniat kembali ke tempat temannya.
" Siapa Mel, ganteng juga ya " ucap salah satu temannya.
" Iya dong incaran aku gak pernah yang abal abal. Mela gitu loh " ucap Mela dengan angkuhnya.
" Hahaa semoga berhasil ya, kulihat dia tak terlalu menanggapimu " tambah temannya.
" Justru itu yang aku suka, dia jinak jinak merpati. Ini jadi sebuah tantangan buatku "
Mela melanjutkan obrolannya bersama teman temannya. Setelah mereka puas ngobrol satu persatu mereka pamit pulang.
Mela berjalan sendirian menuju mobilnya yang terparkir di basement.
Greepp
Tiba tiba tangan Mela ada yang menahan. Mela sampai terhenyak dan akan berteriak.
" Ssttt, maaf bikin kamu kaget " suara yang begitu lembut namun menggoda.
" Kamu? ya ampun bikin kaget saja sih " nafasnya terlihat tak beraturan dia benar benar dibuat sport jantung.
" Tadi saya menunggu kamu sampai teman teman kamu pulang. Karena lama jadi aku putusin buat nunggu di parkiran. Maaf ya bikin kamu kaget "
Sebenarnya Mela kesal tapi Mela tak mau marah takut Budi lari dan pergi tak suka dengan sikapnya.
__ADS_1
" Seharusnya kamu jangan bikin saya ketakutan seperti ini, tapi ya sudahlah aku hanya kaget saja. Ada apa? " tanya Mela dengan suara manjanya.
" Aku ingin jadi temanmu sesuai penawaranmu sebelumnya "