
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 24 ( Pulang Berlibur )
Enam hari sudah berlalu, dan hari ini merupakan hari terakhir Deni dan Dini berada di Bali untuk berbulan madu.
" Kamu udah siap kan? bagaimana bulan madu kita, kamu suka? " tanya Deni pada istrinya.
" Iya aku suka Mas, makasih ya " jawab Dini namun wajahnya terlihat sendu.
" Kok kamu sedih, apa ada masalah atau kamu masih ingin disini? kalau kamu masih betah bagaimana kalau kita tambah liburan kita beberapa hari lagi "
" Gak Mas sudah cukup kok, aku cuma ingat sebentar lagi kamu bakal ninggalin aku lagi jadi aku sedih " jawab Dini lirih.
Deni pun jadi teringat waktu kebersamaannya bersama Dini akan segera berakhir dia harus segera kembali bekerja. Kemudian ditariknya Dini ke dalam pelukannya.
" Maafkan Mas ya, Mas janji bakalan segera beresin semuanya agar kita bisa segera berkumpul kembali. Dan sebelum Mas pergi semua akan Mas aturin supaya kamu nyaman dan gak merasa sendirian "
" Aku hanya ingin kamu segera pulang kembali, rasanya pasti akan berbeda bila sendirian. Aku takut " Dini makin mengeratkan pelukannya, banyak hal yang terlintas di fikirannya.
" Sabar ya cuma sebentar kok, setelah itu kita akan bersama selamanya " ucap Deni berusaha menenangkan Dini sambil mengecup pucuk kepala Dini.
" Ayo segera kita bersiap jangan sampai ketinggalan pesawat jangan sedih lagi dong " ajak Deni sambil tersenyum.
Dini mengangguk dan bersiap untuk berangkat. Dia mengecek daftar bawaannya karena khawatir ada barang yang tertinggal.
Apalagi banyak sekali oleh oleh yang Dini bawa untuk keluarga Deni dan keluarganya.
" Oh ya Mas nanti kita pulang ke rumah siapa? " tanya Dini.
" Tentu saja kita pulang ke apartement, malamnya saja kita berkunjung sambil membawa oleh oleh untuk orang rumah.
Oh ya aku juga gak akan memberitahu Mamih dimana apartement kita. Aku gak mau dia nanti bakal gangguin kamu "
Wajah Deni penuh kekhawatiran karena dia tahu persisi watak Ibu tirinya itu. Selama keinginannya belum tercapai maka ia akan melakukan apapun.
" Iissshh sampe segitunya " Dini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
***
Pukul 2 siang pasangan pengantin baru tersebut sudah sampai di bandara. Ternyata kepulangan mereka sudah di tunggu Papih Deni. Beliau sengaja menjemput anak dan menantu kesayangannya.
" Gimana bulan madu kalian, kalian puas gak? " tanya Pak Mukhlis ketika mereka sudah di lobby.
" Alhamdulillah Pih kami senang, makasih atas hadiah hadiah yang Papih beri buat kami " ucap Dini setelah mencium tangan mertuanya.
" Syukurlah kalau kalian puas, ayo kita segera ke mobil biar kalian cepat istirahat karena ada banyak hal yang harus dibicarakan" ajak Pak Mukhlis.
" Papih, kita kan baru pulang kok udah di kasih banyak hal " gerutu Deni.
" Mas gak boleh gitu gak enak sama Papih " tegur Dini pada suaminya.
" Bukan gitu, masa Papih gak ngerti kita ini masih pengantin baru " Deni mencoba membela dirinya.
" Sudah biarkan saja, sudah biasa dia begitu Din. Nanti juga dia ngikut kok " sahut Pak Mukhlis sambil terkekeh.
" Papih cuma sendirian? " tanya Dini dia melihat ke sekeliling mencari sosok lain yang dikenalnya tapi tak ada yang dikenalinya lagi.
Didalam mobil Deni dan Dini menceritakan tentang liburan mereka. Deni begitu antusias mengingat ini hal yang dinantikannya setelah sekian lama mereka menjadi sepasang kekasih.
Pak Mukhlis pun ikut senang dan mendo'akan agar mereka segera diberikan momongan.
Sampai di apartement mereka istirahat sebentar kemudian Pak Mukhlis memanggil Deni dan Dini untuk membicarakan rencana selanjutnya.
" Din seperti yang kamu tahu beberapa hari lagi Deni akan segera kembali berlayar, namun akan Papih usahakan agar Deni segera pulang.
Papih gak mau kamu terlalu lama sendirian, karena setelah rumah tangga alangkah baiknya kalian tetap bersama.
Papih pernah berbicara dengan Deni soal dimana kamu akan tinggal setelah Deni berangkat nanti " Pak Mukhlis menjeda obrolannya.
" Terus terang Papih gak setuju kamu tinggal disini sendirian karena Papih khawatir. Menurut kamu gimana Din? Papih serahkan semua keputusan padamu saja yang penting kamu nyaman "
Ucapan Pak Mukhlis begitu lembut tidak ingin membuat Dini merasa tidak nyaman. Karena selama Deni pergi maka dia akan ikut bertanggung jawab atas diri Dini.
Dini melihat ke arah Deni, kemudian beralih pada mertuanya. Benar yang mertuanya bilang Dini pun merasa belum terbiasa tinggal sendiri, jadi untuk tinggal sendiri di apartement rasanya dia juga sedikit keberatan.
__ADS_1
Andaikan dia tinggal di rumah mertua dia tahu resikonya akan bertemu dengan ibu mertua yang tidak menyukainya. Dia takut kejadian dulu terulang ketika harus selalu mengikuti kemauan Mamih Deni hanya untuk menjaga perasan calon mertuanya itu.
Namun bila harus kembali ke rumahnya dan tinggal bersama orang tuanya dia juga merasa sungkan karena sekarang Dini sudah menikah dan menjadi tanggung jawab Deni sebagai suaminya.
" Aku ngikutin gimana Mas Deni aza Pih, karena sekarang aku istri Mas Deni dan sudah jadi tanggung jawab Mas Deni " ucap Dini.
Deni menggenggam tangan Dini sambil memandang Dini dia begitu kagum pada istrinya.
" Terima kasih " ucap Deni.
" Pih sebenarnya aku juga khawatir meninggalkan Dini sendirian di apartement, tapi aku juga tak bisa membiarkan Dini tinggal bersama Papih. Aku khawatir sama sikap Mamih "
" Iya itu juga yang Papih khawatirkan, Mamihmu masih belum berubah dia selalu memaksakan keinginannya sedari dulu "
" Aku punya opsi kedua Pih bagaimana kalau Dini tinggal di apartement dan Bi Marni ikut bersama Dini saja " usul Deni pada Papihnya.
Bi Marni adalah wanita paruh baya yang sedari kecil merawat Deni, namun semenjak Deni berlayar Bi Marni mengundurkan diri dan kembali ke kampungnya.
" Itu juga bagus, Papih lebih setuju seperti itu. Biar Papih memanggil Bi Marni untuk bekerja kembali dan menemani Dini.
Satu lagi Din Papih minta kamu meluangkan waktu untuk belajar mengelola cafe dan resto karena bagaimanapun ke depannya akan menjadi milik kalian jadi kalian harus segera belajar untuk mengelolanya "
" Inshaa Allah Pih Dini akan bantu, andai Mas Deni mengizinkan " jawab Dini seraya melihat ke arah suaminya.
Senyum langsung terbit di bibir Pak Mukhlis karena selama ini Deni selalu menolak untuk mengelola Cafe dan Resto miliknya dengan dalih ingin mandiri.
" Gimana Den, sepertinya Dini tidak keberatan "
" Baiklah selama aku masih berlayar aku izinkan Dini membantu Papih tapi aku minta jangan sampai kelelahan dan jangan sampai mengabaikanku.
Tapi kalau aku sudah kembali nanti aku fikirkan lagi. Aku hanya ingin Dini tetap di rumah karena aku sanggup memenuhi kebutuhannya "
Walaupun Deni terlihat keberatan tapi akhirnya Deni memberikan izinnya agar Dini tidak bosan berdiam diri di rumah.
Setelah sepakat Pak Mukhlis pamit untuk pulang, Deni pun berjanji nanti malam akan berkunjung ke rumah orang tuanya.
Karena Deni akan segera berangkat berlayar makan Deni akan berkunjung ke rumah orang tuanya dan orang tua Dini sekalian pamit untuk keberangkatannya nanti.
__ADS_1