
# Gara Gara Pergi Berlayar
Ban 21 ( Bulan Madu Sebenarnya )
Di sore hari tamu yang hadir sudah mulai sedikit bahkan pihak EO sudah mulai membereskan semua perlengkapan mereka.
Kini sepasang pengantin itu sedang duduk di meja jamuan bersama keluarga inti mereka.
" Alhamdulillah akhirnya selamatan anak kita beres dan lancar ya Pak " ucap Pak Mukhlis pada Pak Hanif.
" Iya Alhamdulillah, saya ucapkan banyak terima kasih untuk Bapak dan keluarga yang sudah susah payah menyiapkan ini semua " jawab Pak Hanif.
" Ya iya lah situ nerima beres enak banget kalian sebagai besan taunya beres. Kalau aku jadi Mas Mukhlis sudah aku coret dari dulu jadi bagian keluarga ini " Bu Tessa bermonolog dalam hatinya.
" Tidak masalah Pak, karena ini janji saya pada Bundanya Deni sebelum beliau meninggal "
Mendengar ucapan Pak Mukhlis orang tua Dini langsung terlihat bingung.
" Mmhhh begini Yah, Mamih ini bukan Ibu kandungku. Mamih menikah dengan Papih ketika aku berusia lima tahun " Deni yang menjawab pertanyaan Pak Hanif.
" Oohhh " mulut kedua orang tua Dini hanya ber oh ria sambil memandang bergantian ke arah Pak Mukhlis dan Bu Tessa.
" Pantesan galak " batin Ocha yang mendengar percakapan orang tuanya, padahal mereka berbeda meja namun bersebelahan.
Bu Tessa terlihat salah tingkah dan tak nyaman duduk.
" Ekheemm walaupun saya ibu tiri tapi saya sangat menyayangi Deni, saya tak pernah membedakan Deni dengan anak anak saya dari suami sebelumnya " tukas Bu Tessa.
" Maksudnya gimana ya? " kini giliran Bu Isma yang bertanya.
" Mela adik aku beda ayah, jadi Mamih menikah dengan membawa Mela yang berusia dua tahun "
" Mmhhh " cuma itu yang keluar dari mulut Bu Isma mendengar penjelasan Deni.
" Kamu belum bercerita pada mertuamu Den? Maafkan saya Pak, saya kira Deni sudah bercerita " ujar Pak Mukhlis.
" Oh tidak apa apa Pak, ya saya sempat kaget juga saya fikir Bu Tessa ibu kandung Deni "
" Oh ternyata kamu cuma anak tiri tapi gayamu selangit ckckck, kalau teman temanmu tahu bisa bisa kamu dijauhi "
Ocha bermonolog dalam hatinya pandangannya pun beralih pada Mela yang duduk satu meja dengannya.
Mela menjadi salah tingkah jati dirinya diketahui oleh Ocha. Dia takut Ocha membocorkannya pada teman teman nongkrongnya.
" Apaan sih ngebahas yang beginian, kan jadi ketahuan kalau aku bukan anak kandung Papih " batin Mela.
Ocha dan Mela satu kampus, jadi dia tahu keseharian dan gaya hidup Mela. Dia dan teman temannya bergaya bak selebritis.
__ADS_1
Namun Ocha tak pernah dekat dengan Mela, bahkan mereka seperti tidak saling mengenal.
" Apa kamu ada rencana bulan madu Den? Papih udah nyiapin tiket untukmu pergi ke Bali semuanya sudah Papih siapin " Pah Mukhlis kembali memberikan hadiah untuk pasangan pengantin baru itu.
" Papih membelikan tiket ke Bali tidak mencari yang jauh, karena Papih khawatir kamu punya agenda lain " tambah Pak Mukhlis.
" Iya Pih rencana aku gitu, tapi aku gak bisa lama lama. seminggu lagi aku harus berangkat menyelesaikan kontrakku " ucap Deni.
" Papih dulu pernah bilang sama kamu untuk apa kamu pergi berlayar, usaha Papi disini kan untuk kamu lanjutkan. Apa kamu gak kasian sama Dini harus kembali di tinggal.
Beruntung kalian berjodoh, Papih gak mau nanti akan ada masalah muncul. Ingat kamu sampai nangis nangis karena Dini hampir diambil orang "
Pak Mukhlis berbicara panjang lebar mengingat Deni ketika memohon padanya agar membatalkan pertunangan Dini dan Budi.
Semua jadi tertawa dan Deni hanya menunduk malu sambil tersenyum " Papih buka kartu saja "
" Ya sudah sebaiknya kita pulang biar tim EO membereskan ini semua. Sebaiknya kalian bersiap besok kalian segera terbang ke Bali untuk berbulan madu "
Keluarga Deni dan Dini itu pun bergegas pulang setelah berpamitan pada sepasang pengantin baru itu, untuk memberikan waktu agar mereka beristirahat.
Pasangan pengantin baru itu pun kembali menuju ke kamar mereka untuk beristirahat dan menyiapkan diri pergi berbulan madu ke Bali esok hari.
Di mobil yang dikendarai Pak Mukhlis Bu Tessa berdiam diri tak banyak bicara, suasana begitu hening karena hanya mereka berdua yang berada dalam mobil tersebut.
Mela pulang dengan menggunakan mobilnya sendiri, dia pergi beralasan sudah punya janji dengan teman kuliahnya.
" Papih kenapa sih mesti cerita kalau Mamih ini ibu tiri Deni, toh Deni juga gak bercerita " jawab Bu Tessa.
" Ya Papih kira Deni sudah bercerita, lagipula wajar saja kalau mereka tahu. Toh mereka juga gak mempermasalahkannya "
" Ya bukan gitu Pih, Mamih ngerasa gak enak saja "
" Udah gak perlu dipermasalahkan, sekarang Papih sudah merasa tenang karena pesan Bunda nya Deni sudah terlaksana. Menikahkannya dengan wanita pilihannya " Pak Mukhlis bercerita namun matanya tetap fokus pada jalanan.
" Huhhhh andai saja Mela berhasil menjerat Deni hidupku pasti sudah tenang. Karena harta Mas Mukhlis sangat banyak. Dasar si Mela yang bodoh malah sibuk ngabisin duit.
Untung saja Mas Mukhlis baik. Tapi mau sampai kapan? aku khawatir kalau Deni sudah mengambil semua usaha Mas Mukhlis pasti semuanya akan berubah tak akan sama seperti sekarang "
Bu Tessa bermonolog dalam hatinya, tatapannya terus melihat ke arah jalanan sambil sesekali menarik nafasnya dalam.
***
Menjelang shubuh Dini sudah terbangun, kemudian dia membangunkan suaminya " Mas bangun.nanti keburu adzan shubuh, kita harus mandi besar dulu "
" Mmhhh tapi nanti boleh nambah ya hehee " pinta Deni pada Dini.
" Iya, sekarang mandi dulu trus sholat. Kita juga kan mesti siap siap takut ketinggalan pesawat "
__ADS_1
" Tenang saja yang, pesawatnya jam 10 masih ada waktu buat kita berduaan " dengan sigap Deni langsung menarik Dini dan menutupi tubuh mereka dengan selimut "
" Mass aduuhhh "
Dini kaget dengan gerakan Deni yang tiba tiba, sebentar dia tertawa, namun lama lama tawanya berubah menjadi *******.
***
Saat ini Deni sudah selesai sholat bersama Dini, kemudian mereka bersiap memasukan pakaian ke dalam koper.
" Kalau sudah selesai kita nanti sarapan ya terus siap siap pergi ke bandara " ujar Deni.
" Iya mas " jawab Dini yang terlihat lelah.
" Kamu cape ya Yang? "
" Gak apa-apa cape sama Mas kan ibadah " sahut Dini sambil tersenyum.
" Istri Mas pintar ya sekarang, makasih ya sayang " Dini dihadiahi kecupan oleh suaminya.
Deni menciumi Istrinya penuh gairah tak perduli pakaian yang mereka siapkan untuk dibawa ke Bali masih berserakan.
Setelah mereka selesai keduanya tertawa karena mereka merasa selalu belum selesai.
" Mas udah ah aku jadi mandi lagi, bukan aku nolak tapi kan kita mau ke bandara. Nanti kan kita bisa lanjut disana " ucap Dini manja.
" Istri Mas pengertian banget, nanti Mas tagih ya janjinya awas kalau nolak "
" Nggak Mas " Dini langsung bangun dan meraih handuk yang tadi digunakan dan masih tergeletak di sofa.
" Mau kemana? " tanya Deni.
" Mandi lagi lah Mas "
" Bareng lah " Deni pun beranjak dari tidurnya tanpa sehelai benang pun.
Dini langsung tersipu dan menutup wajahnya malu malu " Jangan ah nanti bukannya mandi kalau barengan "
" Gak lah ini beneran mandi kok, lagian kok wajahnya di tutup dari kemarin kemarin kita kan udah saling lihat " ucap Deni sambil menarik tangan Dini.
Mereka tertawa dan masuk ke dalam kamar mandi " Mas beneran ya langsung mandi " terdengar suara Dini dari dalam.
" Iya" jawab Deni namun suaranya terdengar berat
" Mas, ih Mas tuh kan bohong Mmhhh "
Kamar mandi pun menjadi hening..
__ADS_1