
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 34 ( Tetap Ingin Bekerja )
Setelah mengetahui Dini hamil Mukhlis dan Hanif memutuskan untuk sementara Dini akan tinggal di rumah Hanif sampai kondisi Dini membaik.
Awalnya Dini menolak namun setelah dibujuk akhirnya dia pun setuju. Dini langsung di bawa ke rumah orang tuanya.
Sudah dua hari Dini berada di sana sekarang, dia pun merasa sudah mulai membaik karena mengkonsumsi berbagai vitamin yang dianjurkan dokter.
" Bu sepertinya aku mulai sehat kembali, bosan banget tiduran aku mau kerja lagi " pinta Dini pada ibunya.
" Kamu yang bener aza Din, mertuamu pasti gak ngizinin. Lagian ya, kamu kan lagi hamil muda. Rawan "
" Ibu lupa ya dulu sering cerita, waktu hamil Ocha kita lagi bener bener prihatin. Ibu jadi buruh cuci buat bantu ayah, sampe gak sadar lagi hamil Ocha.
Berarti pas hamil Ocha ibu tuh kerja keras. Beda sama aku Bu cuma ngontrol aza. Percaya deh sama aku " Dini membujuk ibunya agar mengizinkannya untuk bekerja kembali.
" Kamu Din bisa aza, sekarang kan posisinya berbeda. Kamu udah kayak tuan puteri pasti gak bakal bekerja keras seperti ibu dulu " kilah Ibu Dini.
" Nah berarti kan bukan gak sanggup kerja tapi karena keadaan ekonomiku lebih baik jadi di anggap gak mampu bekerja alias manja "
" Ah kamu gak mau ngalah ya hehee, kalau Ibu gimana kamu saja, yang tahu keadaanmu ya diri kamu sendiri . Tapi kan nanti harus izin sama mertuamu. Dan Ibu yakin mereka tak akan setuju "
" Nanti aku minta izin sama Papih Mih, kalaupun di izinkan gak akan langsung kerja kok paling dua atau tiga hari ke depan lah Bu "
" Terus suamimu gimana, apa dia ngizinin ? Ibu rasa dia yang bakalan paling susah ngasih izin "
" Belum bicara Bu, nanti aku pasti bicara sama Mas Deni. Mungkin nanti malam aku meminta izin sama Mas Deni "
" Ya udah sebaiknya kamu minta izin dulu, kalau gak dikasih izin gak usah maksa ya. Ibu gak ingin kalian ribut, karena itu buat kebaikan kamu "
" Iya Bu "
" Sekarang kamu istirahat dulu ya "
***
Di Rumah Mukhlis
" Pih kapan mau nengok Dini, mumpung Papih libur. Mamih kan belum lihat dia semenjak tahu dia hamil "
Tessa datang menemui Mukhlis yang sedang berada di ruang kerjanya. Walaupun libur Mukhlis lebih senang berdiam diri di sana untuk melakukan beberapa hal.
__ADS_1
" Boleh, kita kesana sekarang Papih juga pengen ke sana, sudah beberapa hari belum kesana. Kamu siap siap dulu ajak sekalian Mela bukannya dia mau bertemu Dini juga "
" Ya udah Mamih siap siap ya, sekalian ngasih tahu Mela "
Tessa keluar dari ruang kerja Mukhlis dan memberitahu Mela untuk segera bersiap. Mela yang sedang rebahan di kamarnya segera bersiap untuk pergi.
Tentu saja mereka sangat antusias karena memiliki tujuan sendiri.
Kali ini Mela ingin memberitahukan hubungannya bersama Budi dan ingin melihat reaksi Dini.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing masing sampai tiba tiba Tessa setengah berteriak bertanya pada Mukhlis.
" Loh Pih kita mau kemana? ini kok jalannya rasanya gak asing deh. ini kayak ke rumah Dini Pih "
Mendengar ibunya berteriak Mela yang sedang memainkan gadgetnya langsung melihat keluar jendela dan memperhatikan jalanan.
" Iya Pih ini kan menuju rumah orang tua Dini " Mela membenarkan ucapan Tessa.
Tessa dan Mela terlihat kesal karena merasa dibohongi Mukhlis.
" Iya bukannya kalian mau nengok Dini, ini kita mau nengok dia. Sudah dua hari Dini tinggal di rumah orang tuanya. Karena dia mengalami morning sickness " Mukhlis menjawab pertanyaan Mela dan Tessa.
" Kok Papih gak bilang Dini di rumah orang tuanya, Mamih pikir dia ada di apartement " Tessa berbicara dengan ketus.
" Lah Mamih mau nengok Dini atau mau lihat apartementnya sih? lagian memang kenapa kalau kita ke rumah orang tua Dini "
Mukhlis merasa heran dengan tingkah ibu dan anak ini. Seakan mereka lupa mereka berasal darimana. Mungkin Mela tak mengetahuinya tapi Tessa harusnya sadar diri kalau dulu dia pun berasal dari keluarga tidak mampu.
Bahkan tempat tinggal Dini terasa lebih baik dibanding rumah Tessa dulu. Dini dan keluarganya lebih baik dari kondisi Tessa dulu. Hanya karena sebuah keberuntungan Tessa di lamar Mukhlis sehingga bisa menikmati fasilitas mewah seperti sekarang.
" Ya gak apa apa sih Pih, cuma Mamih kira kita bakalan ke apartement, disana kan lebih nyaman " jawab Tessa sambil terbata-bata.
" Udah lah sama saja niat kita kan nengok Dini bukan soal dia ada di mananya, sebentar lagi kita sampai kalian tolong jaga sikap ya "
Mukhlis sangat tahu sifat kedua wanita yang di bawanya, mereka sering terlihat ketus bila berurusan dengan keluarga Dini.
Mendengar perkataan Mukhlis Tessa dan Mela langsung terdiam namun terlihat dari wajah mereka yang seakan tidak menerima.
Mobil Mukhlis sudah berada di halaman rumah Dini, Mukhlis pun memarkirkan kendaraannya.
" Kita sudah sampai, ayo kita turun. Jangan lupa perkataan Papih tadi jaga sikapnya "
" Iya iya " anak dan ibu itu kompak menjawab.
__ADS_1
Selesai berucap Mukhlis langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu disusul Tessa dan Mela yang berjalan di belakangnya.
Dan kebetulan Ayah Dini sedang duduk di teras, Mukhlis langsung disambut besannya.
" Assalammu Alaikum Besan "
" Waalaikum salam " Hanif membalas ucapan salam besannya.
" Silahkan masuk Pak, kok tidak memberi kabar dulu mau datang kesini "
" Iya maaf Pak ini mendadak, anak dan istri saya ingin bertemu Dini "
" Oh silahkan masuk, biar Dini nya saya panggil "
Tessa dan Mela langsung duduk di sofa, duduk mereka terlihat tidak nyaman. Mereka melihat sekeliling dan memperhatikan foto foto yang terpasang di dinding.
" Mih, Mela " sapa Dini lalu.mencium tangan Tessa dan menyalami Mela.
" Bagaimana keadaanmu Din? Papih bilang kamu positif hamil " tanya Tessa berbasa basi.
" Iya Mih alhamdulillah "
Wajah Dini sudah terlihat segar tidak sepucat kemarin dia ikut duduk di ruang tamu. Semua berkumpul di ruang tamu.
Hanif mengajak Mukhlis ke taman belakang untuk melihat tanaman hias milik nya.
Dini merasa ini kesempatan baik untuk berbicara dengan mertua dan ayahnya. Dia pun pamit untuk ke belakang sementara Tessa dan Mela bersama Ibunya.
" Pih, Ayah Dini minta waktunya sebentar. Dini mau minta izin setelah Dini membaik Dini ingin kembali bekerja " ucap Dini pada ayah dan mertuanya.
Hanif dan Mukhlis terbelalak mendengar permintaan Dini " Kamu gak salah Din? kamu kan lagi hamil " ucap Mukhlis.
" Iya apalagi hamil muda sangat rawan, sebaiknya kamu di rumah saja. Apapun keinginanmu akan kami penuhi tak perlu sampai bekerja "
" Dini hanya bosan Pih di rumah, lagipula Dini bisa jaga diri. Dini janji kok akan hati hati "
" Bukan begitu Din, Papih khawatir lagipula Deni belum tentu mengizinkan "
" Nanti Dini minta izin pada Mas Deni Pih, yang penting Papih dan Ayah percaya sama Dini "
Hanif dan Mukhlis tidak memberikan jawaban mereka terdiam.
" Gimana Pih? boleh ya " Dini terlihat memohon.
__ADS_1
Muklis pun bingung dia meminta pendapat Hanif. Akhirnya dengan berat hati mereka mengizinkan Dini kembali bekerja dengan beberapa persyaratan terutama menyangkut kesehatan Dini dan bayinya dan yang paling penting izin dari Deni.