
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 16 ( Akhirnya Sah.. )
Pov Dini
Pukul empat dini hari aku sudah terbangun, padahal tadi malam tidur agak malam. Mas Deni terus mengajakku ngobrol, dia menceritakan kegelisahannya menunggu pagi.
Padahal aku juga merasakan hal yang sama, ya tentu saja hari besok adalah hari yang kami impikan sedari dulu.
Sampai sekarang aku masih tak percaya bahkan merasa seperti mimpi saja. Harapan kami akan terlaksana esok pagi, untuk membina rumah tangga.
" Din sudah bangun? " sapa Ibu.
" Iya Bu "
" Sebentar lagi adzan shubuh kamu sholat dulu udah gitu siap siap untuk di rias " ucap Ibu.
Aku hanya mengangguk berjalan menuju dapur karena merasa haus. Kemudian aku berwudhu bersiap sholat shubuh.
Sesuai rencana acara akad akan dilaksanakan pagi pukul 8 di rumahku. Kami mendapat jadwal paling awal dari Pak Penghulu karena pada hari itu beliau banyak jadwal untuk menikahkan pasangan lain.
Aku hanya mengundang Siti teman dekatku di kantor, karena dia sudah mengetahui cerita kami dari awal. Untuk sisanya aku hanya mengundang ketika resepsi saja.
Dari jam lima pagi Mas Deni terus menghubungiku katanya tak sabar ingin segera akad, ada ada saja memang saking antusiasnya heheee. Dari semalam itu terus yang diucapkannya.
Aku menengok keluar semua sudah tertata rapih, rumahku disulap memakai backround putih dan gold.
Bunga bunga di tata sedemikian rupa, wanginya semerbak sampai kebelakang rumah itulah yang membuat aku tertarik untuk melihat karena mencium wangi harum.
Meja untuk akad pun sudah tertata bahkan meja untuk hidangan sudah di tata rapih di halaman rumah.
Tepat jam enam pagi MUA yang bertugas merias sudah datang, aku hanya pasrah dengan apa yang mereka kerjakan.
Sampai pukul setengah 8 riasanku baru saja selesai, aku duduk sendirian kulihat ponselku ada pesan dari Mas Deni kalau dia sedang dalam perjalanan.
Banyak juga teman yang masih mengirim pesan menanyakan kebenaran soal pernikahanku yang akan dilaksanakan hari ini. Namun sengaja belum kubalas menunggu acara akadku selesai.
Setengah jam kemudian rombongan Mas Deni sudah datang, aku digandeng Ibu menuju pelaminan. Kulihat Mas Deni begitu tampan. Dia sudah duduk di meja pelaminan.
Mas Deni pun tak melepas pandangannya dari wajahku, membuat aku tersipu. Kemudian aku duduk disampingnya.
" Bagaimana Mas Deni sudah siap " tanya Pak Penghulu.
" Insha Allah Pak " aku merasa Mas Deni sangat gugup. Hal yang wajar karena aku juga merasakan hal yang sama. Apalagi pernikahan ini hal yang kami idamkan sedari dulu.
" Gimana Pak Hanif, sudah siap? " tanya nya lagi pada Ayah.
__ADS_1
" Siap pak " jawab Ayah sambil tersenyum.
" Bismillahirrahmanirrahim...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Deni Wijaya bin Mukhlis Wijaya dengan anak kandung saya yang bernama Dini Hanifah Az-Zahra binti Hanif Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 100 gram dibayar tunai! "
" Saya terima nikahnya dan kawinnya Dini Hanifah Az-Zahra binti Hanif Kusumah dengan mas kawin tersebut tunai! "
" Sahh "
" Sahh "
Semua menjawab berbarengan pertanda kini kami sudah halal
" Alhamdulillah " semua mengucap hamdallah, Ibu sampai menangis haru.
Aku pun mencium tangan Mas Deni dengan takzim kemudian Mas Deni mencium keningku.
Moment itu di abadikan oleh Fotografer yang sudah kami sewa dan paparazi dadakan tentunya.
Setelah akad kami pun duduk para kerabat, tetangga mulai memberi selamat bergantian.
" Alhamdulillah akhirnya Neng Dini nikahnya sama si Mas ya. Dari dulu zaman SMA pacaran kalau jodoh gak akan kemana " sapa Bu Imas tetanggaku.
" Iya alhamdulillah walau harus melewati banyak ujian tapi akhirnya kami dipersatukan " jawab Mas Deni sambil tersenyum.
" Dini selamat ya akhirnya berjodoh " kini giliran Siti memberi selamat pada kami.
" Kerja kalau gak bisa heboh lagian aku pengen ngabarin pernikahan kalian. Aku juga gak mungkin ngelewatin moment pernikahanmu. Boleh ya minta fotonya " pinta Siti.
Tentu saja aku tak menolak permintaannya, kami pun berfoto menggunakan ponselnya.
Acara kami lanjutkan dengan makan makan sederhana, kami pun mengumumkan bahwa pesta resepsi akan dilaksanakan seminggu lagi.
Acara berlangsung sampai siang hari karena hanya akad dan dihadiri kerabat dan tetangga saja. Sehingga tamu pun tidak terlalu banyak.
Banyak tamu yang sudah pulang begitupun kerabat kami kini hanya tinggal keluarga inti orangtua Mas Deni dan orangtuaku serta adik adik kami.
" Jadi gimana Den setelah ini kamu mau tinggal dimana? " tanya Papih.
Inilah pertanyaan yang ingin aku tanyakan dari kemarin. Karena Mas Deni belum membahas hal ini.
" Sepertinya kami akan tinggal di apartement saja Pih. Lagipula aku ingin menghabiskan waktu berdua saja " jawab Mas Deni.
" Cieeee pengantin baru " ucap Andri, membuat aku tersipu.
Semua tertawa kecuali Mamih mertuaku, dari awal datang dia memasang wajah masam.
" Emang mau di apartement mana kok Mamih gak tahu? " tanya Mamih dengan wajah judesnya.
__ADS_1
Entahlah dari dulu dia terlihat tak suka padaku, entah salahku apa padahal semua keinginnannya sudah aku ikuti sampai sampai bekerja rodi di cafe nya dulu.
" Deni sudah lama memiliki apartement bahkan dari semenjak dia kuliah " jawab Papih mertuaku.
" Kok kalian gak bilang sih, pantesan dulu Deni sering gak pulang " wajahnya terlihat tak suka.
" Sudah Mih ini bukan waktu dan tempat yang tepat buat ngebahas ini semua. Begini saja Pak Hanif saya permisi pulang karena acara sudah selesai saya titip Deni anak saya " ujar Papih.
" Oh ya Din, Papih punya hadiah untuk perkawinan kalian. Papih sudah menyiapkan mobil untukmu Papih harap kamu jangan menolak ya ini hanya bentuk ucapan kasih sayang Papih pada kalian " lanjutnya lagi.
Aku sampai membelalakan mata tak percaya ini semua " Pih Dini gak tau harus berucap apa selain terima kasih "
" Papih hanya minta jaga rumah tangga kalian baik baik agar langgeng sampai tua nanti "
" Inshaa Allah Pih Dini akan ingat pesan Papih "
Setelah kami mengobrol banyak dan kedua orang tua kami memberikan banyak petuah akhirnya Papih pulang.
Hanya Mamih yang tidak begitu suka melihat pernikahan kami. Sebenarnya aku heran kenapa Mamih begitu tak menyukaiku mungkin nanti aku akan mencoba mengambil hatinya perlahan. Karena walau bagaimanapun beliau tetap Ibunya Mas Deni.
" Deni, kalau bisa sebaiknya kalian menginap dulu disini semalam " pinta Ayah pada Mas Deni.
" Iya Yah gak apa, besok pagi aza kami ke apartement "
" Diihh gak sabaran amat sih pengantin hahaa " Ocha meledek kami berdua.
Lagi lagi aku hanya bisa tersenyum menahan malu begitupun Mas Deni.
Sekitar jam 12 siang aku sudah mengganti pakaianku dengan pakaian biasa begitu pun Mas Deni. Kami hanya duduk berdua di taman belakang.
Sedangkan orang orang sibuk di depan membereskan semua sisa pesta kami.
Tiinn tiiiinn
Kami mendengar suara klakson mobil, tak lama Andri datang menemui kami.
" Mas, teh kayaknya di depan itu kiriman mobil dari Papih Mas Deni soalnya kelihatan baru " ucapnya sambil tersenyum.
Kami saling berpandangan lalu berdiri menuju halaman. Dan ternyata benar di depan Ada sebuah mobil Mini Cooper sudah terparkir manis di halaman rumah.
" Masyaallah Mas hadiah nya mewah banget " aku berucap sambil menggenggam tangan Mas Deni.
Kami sekeluarga berdecak kagum dan tak menyangka hadiah yang diberikan sangat mewah.
" Ini bukti sayangnya Papih sama kamu Din " ucap Mas Deni sambil mengecup keningku walau saat itu ada Ayah, ibu dan kedua adikku.
" Iihh pengantin ngerusak mata aza deh " Ocha protes melihat adegan ini.
__ADS_1
Kami hanya tertawa melihat Ocha dan Andri menutup mata mereka.