
# Gara Gara Pergi Berlayar
( Rencanaku? )
Sakit? tentu saja, ada sedikit rasa perih di hati. Tapi biarlah buatku diam itu emas, lagipula tanganku cuma dua tak mungkin kubungkam mulut mereka satu persatu.
---------
" Din, Din? " Siti mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Dini.
" Eh iya apa Sit? maaf aku terpana hehee "
" Kamu gak apa apa kan? " tanya Siti.
" Enggaklah, biar aza mereka mau ngomong apa aku gak peduli. Diam itu emas nanti juga mereka lelah sendiri " ucap Dini sambil menyimpan ponselnya.
" Ya syukurlah kalau kamu tidak merasa terganggu. Kalau ada apa apa hubungi aku ya " pintanya pada Dini.
Siti khawatir pada Dini karena dia sudah membaca sendiri isi percakapan di grup WA yang sangat memojokan Dini.
Beruntung Dini memiliki mental baja yang tak peduli gunjingan teman sekantornya.
" Hey Ti ngapain kamu deket deket dia. Awas nanti kamu ketularan virus plin plan dan virus gak tahu malu loh " Siti langsung melihat ke asal suara.
Ternyata ada Wida yang sudah berada dibelakang Siti.
Dengan santainya Wida menunjuk wajah Dini. Namun Dini hanya diam memasang wajah datar tak menanggapi ucapan Wida.
" Apa sih kamu Wid, ngapain kamu disini? meja kamu disana gak ada kerjaan apa sampai jauh jauh kesini " jawab Siti sambil menunjuk ke arah meja Wida.
" Ih dikasih tahu malah nyolot " ucap Wida sambil berlalu menuju mejanya.
" Huuhhh gak kerjaan emang, sengaja jauh jauh cuma ngomong gitu doang " Siti menggerutu sambil melihat punggung Wida yang menjauh.
Dini mulai merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini. Namun dia punya tanggung jawab atas pekerjaannya jadi dia berusaha bertahan.
" Apa sebaiknya aku ikuti saja saran dari Mas Deni? sepertinya mereka tak akan berhenti merundungku. Bukan aku takut hanya saja malas untuk menanggapi " Dini bergumam dalam hatinya.
Sampai siang hari ketika jam istirahat perlakuan yang Dini terima masih saja sama saja. Terlihat teman temannya berbisik bisik sambil melihat ke arah Dini.
Ada yang menghakimi, ada yang tak perduli dan ada juga yang memaklumi.
" Fix mereka ghibahin kamu Din " ucap Siti yang datang membawa dua box makan siang.
" Si Wida sama si Vika gitu amat sih apa untungnya buat mereka terus jelekin kamu Din " sambil mengunyah Siti tetap berbicara.
__ADS_1
" Biarin saja dia kan tipe tipe usil senang lihat orang susah, susah lihat orang senang " ucap Dini yang berusaha tak peduli dengan keadaan sekitar.
" Menurut aku sih dia lagi jadiin ini buat ajang balas dendam karena sering kalah saing sama kamu.
Semua orang disini kan tahu kalau dia pernah ditolak Budi. Malah kamu yang bisa menangin hatinya "
" Ya biasalah kalau orang kalah saing ya seperti itu " balas Dini.
Ting
Ada pesan masuk ke ponsel Dini, Siti ikut mengintip dari samping.
" Eh ciyeehh pake nama Mas, kayaknya spesial ya " Siti menggoda Dini, karena melihatnya tersenyum setelah melihat nama si pengirim.
" Dia laki laki yang ada di foto? kamu gak mau cerita gitu sama aku? Kemarin aku belum nanya kelanjutan acara kamu karena takut ganggu kamu"
" Iya, dia cinta pertamaku. Kami terpisah karena dia bekerja di kapal pesiar. Dan kamu tahu tiga hari lagi kami menikah " Dini berucap sambil mengedip ngedipkan matanya menggoda Siti.
" Apa, nikah?? " saking kagetnya Siti berbicara setengah berteriak.
" Hey bisa diam gak berisik banget sih. Ini bukan di rumah sendiri " ujar salah satu teman Vika yang sedang bergerombol.
Siti langsung membekap mulutnya sendiri " Kamu serius? "
" Iya lah. 3 hari lagi aku menikah dan seminggu lagi aku pesta "
" Iya tapi kamu jangan bilang bilang sama yang lain. Aku gak mau mereka berfikir tambah buruk tentangku. Kamu faham kan maksudku? "
Siti hanya mengangguk angguk " Trus emang bener ya kalau kalian dulu pernah bertunangan terus kamu selingkuh sama Budi? "
Siti bertanya kembali, sepertinya di kepalanya sudah terisi banyak pertanyaan.
" Apa yang kamu lakuin tepat sekali, bertanya pada sumbernya " jawab Dini sambil menjentikan jarinya.
" Mas Deni pacar aku sejak SMA setelah kami lulus kuliah aku bekerja disini sedangkan Mas Deni pergi berlayar ingin mencari pengalaman sekalian mengumpulkan biaya pernikahan kami " Dini bercerita seperti sedang menerawang masa lalu.
" Oohh namanya Deni. Lah bukannya dia anak orang kaya ya? buat biaya nikah doang mah masa emak bapaknya gak sanggup biayain sih "
" Justru itulah Mas Deni dia sangat mandiri. Bahkan rencananya setelah habis kontrak kerjanya dia akan pulang ke Indo dan membuka cafe sendiri tanpa bantuan orang tuanya "
" Hebat banget udah ganteng, pinter, mandiri romantis juga ya hehee "
" Ekheemm maaf ya ini ada calon istrinya "
" Deuuhh jangan marah lah calon ibu pengusaha hehee " Siti terkekeh.
__ADS_1
" Kok kalian bisa pisah sih? " lanjut Siti.
" Ya namanya hubungan pasti ada godaan. Yang pasti aku gak selingkuh dari Mas Deni karena sebelum nerima A'Budi aku udan pisah dari Mas Deni ya walaupun dia gak terima "
" Terus pertunangan kamu gimana sama Budi? "
" Ya putuslah, lagi pula dari pihak A'Budi memberi keputusan ke aku. Awalnya aku udah pasrah dan mutusin tetap berpisah dari Mas Deni dan tak akan kembali pada A'Budi biar adil.
Namun Mas Deni meyakinkan aku kalau dia akan memperbaiki semua "
Panjang lebar Dini bercerita pada Siti sahabatnya, agar dia tak salah faham seperti temannya yang lain.
" Enak banget ya dicintai dua orang laki laki yang ganteng ganteng dan mapan mapan "
" Yowis lah aku do'akan kamu supaya lancar segala niatan kamu. Aku selalu dukung kamu kok "
" Makasih ya, kamu emang temen terbaik aku " ucap Dini kemudian tangan mereka saling genggam dengan erat.
" Terus rencana kamu gimana kedepannya? sebaiknya kamu resign deh soalnya ada Budi kan gak enak sama Deni. Lagian mereka gak akan berhenti gangguin kamu " Siti menunjuk gerombolan Wida dan Vika menggunakan dagunya.
" Rencanaku? Iya kamu benar, awalnya aku berniat untuk bekerja sampai Mas Deni pulang ke Indo. Tapi kalau seperti ini lebih baik aku resign sesuai saran dari Mas Deni dan ayah "
" Jadi Mas mu itu udah nyuruh resign? kalau gitu ngapain kamu cape cape kerja. Diluaran sana banyak istri yang berharap jadi istri seutuhnya.
Nah kamu yang dapat anak orang kaya malah mau kerja. Hadeuuhh aneh aneh wae kamu mah " Siti hanya menggelengkan kepalanya.
" Sebaiknya kamu buru buru bikin surat resign terus menghadap pak Ardi biar aman tuh kuping kamu dari mulut mulut usil si Vika CS "
" Besok aku bakal bawa suratnya, sekalian bawa undangan " ucap Dini sambil mendengkus.
" Ciyeee calon manten, kalau butuh bridesmaid aku siap loh sapa tahu Mas mu itu punya temen yang gak kalah ganteng dan gak kalah gaya hehee "
" Gampang lah itu sekarang kita habisin dulu nih makan siang biar ada tenaga buat ngadepin kenyataan hahaaa "
Mereka tertawa berdua walaupun sambil menahan agar tidak bersuara keras.
Setelah selesai makan mereka membereskan sampahnya.
" Aku bakal kangen kamu nanti loh " ucap Siti sambil memasang wajah sedih.
" Aku masih dikota ini, kan kamu bisa main ke rumahku atau mengunjungi kafeku nanti "
" Aamiin " mereka serempak berucap.
" Din "
__ADS_1
Budi tiba tiba ada di belakang Dini, satu ruangan itu teralihkan melihat Budi yang mendatangi Dini.