Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Teman Julid Mertua


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 28 ( Teman Julid Mertua )


Sehari setelah kepergian Deni barulah Dini mendapat kabar suaminya sudah sampai dan selamat sampai tujuan.


Mereka berbagi cerita di telepon karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka berdua. Walaupun jarak mereka jauh namun komunikasi harus terjaga.


Deni sedikit merasa tenang meninggalkan istrinya di apartement karena ditemani Bi Marni pengasuhnya sedari dia kecil dulu.


Keamanan di apartement juga sudah dilengkapi, banyak cctv yang terpasang di beberapa ruangan bahkan di pintu masuk.


Setiap ada tamu yang datang Dini bisa melihat melalui monitor terlebih dahulu siapa tamu yang berkunjung. Sehingga dia bisa menolak tamu tersebut apabila tidak berkenan.


Sebelum itu pun tamu tersebut harus melewati bagian keamanan dan membuat janji dulu dengan penghuni apartement. Apabila sudah ada konfirmasi dari penghuninya maka tamu tersebut diperbolehkan masuk.


Dini baru keluar dari kamarnya dan bersiap sarapan, untuk mengusir rasa bosannya dia menyiapkan banyak buku tentang manajemen dan buku resep.


Karena dia sudah berjanji untuk membantu mertuanya mengelola cafe dan resto milik ayah mertuanya.


" Non tadi Pak Mukhlis menelepon, beliau berpesan agar Non meluangkan waktu berkunjung ke rumah karena Bu Tessa mengadakan acara. Tadi Bapak telepon Non tapi gak dia angkat " Bi Marni menyampaikan pesan dari mertuanya.


" Oh iya Bi nanti kita kesana berdua, saya juga belum kesana semenjak pulang dari Bali karena Mas Deni seperti enggan berkunjung "


Dini membuka ponselnya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari mertuanya. Dia pun menghubungi kembali mertuanya.


[ Assalammu Alaikum Pih ]


[ Waalaikum Salam ]


[ Maaf Pih tadi Dini sedang mandi jadi tidak mendengar panggilan Papih. Bi Marni sudah menyampaikan pesan Papih. Inshaa Allah nanti siang Dini ke rumah ]


[ Iya Din gak apa apa, datanglah nanti siang. Papih sedang dalam perjalanan ke kantor. Mamihmu yang mengadakan acara dia ingin memperkenalkan kamu ke teman temannya ]


[ Iya Pih ]


[ Ya sudah Papih jalan dulu, Assalammu Alaikum ]


[ Iya Pih hati hati, Waalaikum Salam ]


" Ternyata yang ngadain acara Mamih kalau gini ceritanya aku harus siap perang hahaha. Secara Mamih kan gak suka aku, kok bawaannya suudzon ya, sepertinya dia mau ngerjain aku paling gak dia mau bikin aku malu Ckckk Mamih mamih " Dini berguman.


Dini segera menyelesaikan sarapannya dan ingin menyiapkan penampilannya untuk berkunjung ke rumahnya.


Dia harus tampil baik karena tak ingin membuat malu suaminya.

__ADS_1


" Bi aku ke kamar dulu ya, kita pergi agak siang saja "


" Baik Non "


Dini menuju kamarnya dan memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Dia berdiri di depan lemari pakaiannya.


Isi lemari Dini tidak penuh karena dia tak membawa pakaian miliknya ketika pindah ke apartement.


Suaminya sudah menyiapkan banyak pakaian untuknya, dengan alasan Deni ingin memulai semua dari awal.


Walaupun begitu Deni tak melarang istrinya membawa pakaian miliknya dulu. Namun melihat isi lemari yang sudah komplit Dini pun memilih menyimpan pakaian lamanya di rumah orang tuanya saja.


Setelah memilih beberapa pakaian akhirnya Dini memilih gaun anggun berwarna lilac dilengkapi dengan hijabnya.


Tidak lupa dia memilih tas hadiah dari suaminya sebuah tas bermerk keremes yang di gandrungi banyak wanita.


Dini sangat bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Suami dan ayah mertua yang baik serta keluarga yang menyayanginya. Juga mendapat bonus rezeki yang berlimpah walaupun untuk sementara dia harus berpisah dari suaminya.


Pukul 10 Dini sudah bersiap berangkat karena acara akan dimulai pukul 11 siang. Dini dan Bi marni keluar dari apartement dengan mengendarai mobil Dini.


Ternyata siang itu cukup macet, sehingga Dini datang terlambat dan sudah ada beberapa teman Ibu mertuanya yang sudah datang.


" Assalammu Alaikum " Dini menyapa semuanya mencium tangan Tessa dan menyalami semua teman ibu mertuanya.


Bahkan Dini mendapat banyak pujian dari beberapa orang tamu.


" Duh pengantin baru gimana kabarnya? kasian udah di tinggal lagi " ledek seorang Ibu.


" Alhamdulillah sehat Tan "


" Cantik banget menantunya Jeng Tessa "


" Pantas saja Deni tergila gila, tante juga gak akan nolak kalau punya menantu seperti kamu "


" Makasih Tante "


Mendapat pujian dari para tamu Dini hanya menjawab seperlunya karena dia segan melihat Ibu mertuanya yang memasang wajah masam.


" Ekheemm kamu duduk saja, atau kalau ngga bantu siapin makanan dan minuman ya bawa kesini "


Semua temannya langsung melihat ke arah Tessa " Loh jeng kan ada pembantu masa nyuruh mantunya sih? "


"Iya biarin aza disini kita pengen lebih mengenal mantunya. Lagian sayang banget udah dandan secantik ini malah disuruh bantu bantu "


Tessa terdiam tak bisa berbicara, dia hanya tak suka Dini mendapat banyak pujian dari teman temannya.

__ADS_1


" Selamat siang semua maaf saya terlambat. Duh jalanan macet banget " obrolan mereka teralihkan oleh suara dari arah pintu.


" Jeng Fitri, mari masuk. Santai saja kami belum mulai acaranya kok " Tessa menyambut kedatangan tamunya.


Yang lain hanya terlihat senyum terpaksa pasalnya Fitri ini orang yang paling sombong diantara mereka.


" Jeng itu ada mini coop*r terbaru punya siapa, Jeng Tessa beli mobil baru? "


Tessa bingung andaikan dia berbohong dan berkata miliknya rasanya tak mungkin karena ada Dini di hadapannya.


" Oh itu punya mantu saya hadiah pernikahan dari suami saya " dengan suara perlahan dia menjawab pertanyaan Fitri.


" Wah hebat banget ya ngasih hadiah semewah itu, pasti ini mantu kesayangannya. Mela aza mobilnya gak semahal itu. Hati hati loh Jeng mantunya cantik mana Deni di luar negeri " ucapnya sambil melihat Dini.


Dikata terakhir Fitri berbisik sedikit berbisik namun masih terdengar jelas oleh Dini dan yang lainnya.


Mata Tessa langsung memicing mendengar hal itu entah kenapa hatinya menjadi was was.


" Ada benarnya juga yang dikatakan Jeng Fitri apalagi Mas Mukhlis terlihat berlebihan sama si Dini. Aku memang harus berhati hati " ucapnya dalam hati.


" Jeng Fitri ini bicara apa sih, saya kira Pak Mukhlis bukan orang seperti itu begitupun Dini. Tak ada terlihat wajah Dini perempuan seperti itu " ucap teman Tessa.


" Saya fikir Tante Fitri terlalu berlebihan, saya gak tahu Tante ada masalah apa, jangan sampe fikiran buruk Tante berbalik sama Tante loh " ucap Dini yang sedari tadi menahan kesal karena ucapan Fitri.


" Maksud kamu apa? kamu do'a in saya hal yang jelek " Fitri langsung meradang mendengar ucapan Dini.


" Saya rasa tante faham apa yang saya bilang dan saya gak pernah mendo'akan hal jelek untuk Tante. Saya cuma mengingatkan saja "


" Halah kamu banyak omong, anak kemarin sore. Lagian ya saya juga denger kalau kamu itu orang biasa yang beruntung dinikahin Deni karena modal cantik saja.


Nanti kalau dia bosan pasti dia nyari yang lain. Apalagi dia berlayar emang tahan jauh dari istri? "


Fitri sangat geram pada Dini, dia tak mau kalah dan tetap memojokan Dini.


" Mungkin itu hanya pemikiran Tante atau memang Tante yang seperti itu. Jangan samakan sikap dan pandangan Tante dengan orang lain " dengan suara yang tenang Dini menjawab Fitri.


" Sudah Dini kamu gak sopan sama teman Mamih sebaiknya kamu ke dalam saja gak usah ikut bergabung. Kamu bikin Mamih malu saja " tukas Tessa pada menantunya.


" Sudah gak usah ribut kita kan mau arisan bukan mau adu mulut " ucap salah satu teman Tessa yang dari tadi hanya menyimak.


" Sabar ya, Tante Fitri itu memang teman dekat Mamih mertuamu. Mereka sama julidnya. Semoga kamu bisa sabar menghadapi mertua julid seperti Tessa "


Bisik seorang Ibu yang duduk di sebelah Dini seraya mengusap bahu Dini.


Dini hanya tersenyum masam " Sabarlah hati, ini ujian " ucapnya Dini dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2