Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Positif


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 32 ( Positif )


" Pih, boleh gak aku minta ganti mobil. Masa mobil Teh Dini lebih bagus dari punyaku? " dengan entengnya Mela meminta pada Mukhlis.


" Mobil? bukannya mobil kamu belum lama ganti, kenapa minta lagi? "


" Tapi Pih..."


" Sudah gak usah ganti mobil dulu, selesaikan saja sulu kuliahmu dengan benar. Papih harap kamu lulus dengan hasil yang baik. Syukur syukur cumlaude " belum selesai Mela bicara sudah dipotong Mukhlis.


Bahkan di kalimat terakhir Mukhlis terlihat tersenyum miring seakan meledek Mela.


Tangan Mela langsung terkepal dia ingin berteriak tapi dia berusaha menahan diri. Pandangannya beralih pada Tesa yang ternyata sedang memandangnya sambil mengangkat kedua alisnya.


" Ternyata Papih sudah berubah "


***


Apartement Dini


Sudah seminggu ini Dini ke Resto dia ingin segera menguasai semuanya. Setiap malam dia bercerita pada suaminya lewat sambungan telepon walaupun tak bisa lama tapi cukup untuk sekedar berbagi.


Hari ini Dini merasa lemas dan tak bertenaga, kepalanya terasa pusing. Setelah sholat shubuh dia kembali bergelung dalam selimut.


Marni merasa aneh sudah jam 7 pagi tapi majikannya masih belum bangun.


Tok tok tok


Sudah tiga kali panggilan tapi tak ada jawaban, Marni mencoba membuka pintu karena khawatir dengan keadaan Dini. Andaikan Dini marah dia akan meminta maaf nantinya.


" Non, Non Dini "


ceklek


Didorongnya pintu perlahan dan masuk kedalam, ternyata Dini tertidur namun wajahnya pucat. Gegas dia mendekati Dini dan menyentuh keningnya.


" Duh panas, gimana ini? sebaiknya aku hubungi Pak Mukhlis saja "


Marni langsung menghubungi Mukhlis yang ternyata sedang sarapan. Dipanggilan pertama panggilan langsung dijawab karena ponselnya berada di atas meja.


[ Hallo, ada apa? ]


[ Pak, Non Dini demam saya baru tahu barusan mau bawa ke dokter tapi bingung ]


[ Apa Dini sakit? ya sudah saya kesana sekarang ]


Dia langsung berdiri " Bi tolong bilang sama Ibu saya berangkat. Penting " terpaksa dia tidak pamit ke Tessa karena sedang membangunkan Mela. Saking terburu-burunya sarapannya yang sudah siap tidak disentuhnya.

__ADS_1


" Baik Pak " jawab ART tersebut.


Mukhlis langsung masuk mobil dan menuju apartement Dini dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan keadaan menantunya.


Selang 20 menit dia sudah sampai di apartement, Mukhlis memiliki akses untuk masuk sehingga dia dengan mudah untuk keluar masuk apartement Dini.


Marni sudah menunggu dari tadi, dia sudah bersiap membuka pintu untuk Mukhlis.


" Gimana Marni keadaan menantuku? " tanyanya terlihat panik.


" Badannya demam tapi sudah saya kompres sementara "


" Kita tunggu sebentar, saya sudah menghubungi dokter anak teman saya untuk segera datang. Tolong antar saya melihatnya ke kamar " pinta Mukhlis.


Dia tak berani memasuki kamar menantunya sendirian tanpa ditemani Marni, dia hanya khawatir terjadi salah faham.


" Coba kamu pegang keningnya, masih panas gak? " titah Mukhlis pada Marni.


" Sedikit Pak "


Mukhlis membuka ponselnya dia mendapat notifikasi bahwa dokter sudah sampai di lobby. Tak lama setelah itu dokter tersebut sudah tiba dan langsung memeriksa Dini.


Dokter Kinar merupakan anak dari teman bisnisnya. Sengaja Mukhlis membawa dokter wanita sesuai permintaan Deni, agar menyiapkan dokter wanita untuk Dini bila sewaktu waktu dibutuhkan.


Tidak lama kemudian Kinar keluar berbicara dengan Mukhlis dia menyarankan membeli beberapa testpack untuk Dini.


" Jadi menurutmu Dini sedang hamil? "


" Ini baru perkiraan saya saja Om, tapi kalau dilihat dari gejalanya ya memang seperti itu " jawab Kinar.


" Ya semoga semoga saja, saya pun mengharapkan segera mendapatkan cucu " mata Mukhlis penuh pengharapan walau disisi lain dia merasa kasihan karena Dini tidak didampingi suaminya.


Marni sudah datang, testpacknya langsung diserahkan pada Kinar.


Kinar kembali masuk ke kamar Dini dan menyerahkannya testpack tersebut pada Dini. Sebelumnya dia sudah memberitahu cara menggunakannya. Dini tahu kegunaan alat itu, membuat dia merasa gugup akan hasilnya.


Selama Kinar bersama Dini di dalam Mukhlis melihat ke sekeliling ruangan. Dilihatnya ada foto keluarga ketika istri pertamanya masih hidup. Waktu itu usia Deni baru satu tahun.


Mukhlis merasa sedih pandangan matanya langsung kabur. Marni melihat majikannya bersedih dia merasa kasihan, karena dia mengenal baik wanita di foto tersebut.


Setelah cukup lama di dalam, Kinar kemudian membuka pintu kamar Dini. Dengan wajah tersenyum Kinar menyampaikan hasilnya.


" Selamat ya Om, menantu Om positif hamil. Hasilnya garis dua dan sebentar lagi Om bakal jadi Opah " ucapnya sambil tersenyum dan langsung menyalami Mukhlis.


Mukhlis langsung menerima ucapan selamatnya dan membalas salam dari Kinar " Alhamdulillah ternyata Allah memberi kepercayaan secepat ini. Terima kasih Kinar untuk bantuannya "


" Iya Om sama sama, maaf aku gak bisa lama karena harus segera praktek. Saya sudah membuatkan resep vitamin tapi sebaiknya menantu Om segera di bawa ke dokter kandungan " jawab Kinar.


Kinar memang seorang dokter umum disebuah Rumah Sakit dan memiliki jadwal praktek hari itu.

__ADS_1


Karena menghargai Mukhlis yang merupakan sahabat ayahnya sehingga dia meluangkan waktu untuk datang.


" Ok, terima kasih banyak ya salam untuk orang tuamu "


Setelah mengantar Kinar, Mukhlis kembali ke dalam " Marni coba lihat Dini tanya apa yang dia butuhkan saya akan menghubungi orang tuanya supaya datang kesini " titah Mukhlis.


Setelah itu Mukhlis langsung memberitahu orang tua Dini agar segera datang ke apartement Dini.


Untung saja Ayah Dini belum pergi mengajar sehingga dia dan istrinya bisa langsung berangkat menuju apartement Dini bahkan Ocha pun ikut serta karena dia kuliah siang.


Dini sudah merapihkan dirinya dibantu Marni, kini dia masih berbaring di ranjang miliknya.


Setelah setengah jam menunggu keluarga Dini sudah tiba di apartement. Mukhlis baru saja selesai sarapan yang disiapkan Marni.


Sekarang mereka berkumpul di kamar Dini. Ada perasaan bahagia di hati Dini namun ada juga perasaan sedih karena jauh dari Deni.


Kemarin dia bisa bertahan sendirian, namun kali ini berbeda dalam perut Dini sudah ada calon buah hati bersama Deni.


Sebisa mungkin dia tutupi kesedihannya, Dini pun ditawari untuk ditemani Ocha tinggal di apartement selama Deni belum kembali. Namun Dini menolak dengan dalih ada Marni yang menemani.


Hari ini semua berbahagia atas kehamilan Dini. Mukhlis langsung menghubungi Deni yang ada dibelahan dunia lain. Sehingga waktu mereka tak sama, nampak Deni baru terbangun dari tidurnya karena mendapat telepon dari Mukhlis.


Dia langsung menangis haru, dia menitipkan Dini dan calon bayinya pada Mukhlis dan orang tua Dini.


Dia berjanji akan segera menyelesaikan kontrak pekerjaannya agar bisa segera kembali dan menemani Dini.


***


Rumah Mukhlis


" Bi, Bapak kemana, bukannya tadi ada di meja? sarapannya juga belum habis " tanya Tessa pada ART nya.


" Iya Bu tadi Bapak pamit katanya ada urusan penting "


Tessa terdiam karena merasa aneh dengan suaminya biasanya sesibuk apapun Mukhlis akan menghabiskan sarapannya dan pasti pamit padanya.


" Kemana Mas Mukhlis ya? " Tessa berusaha menghubungi Mukhlis namun selalu di abaikan, kemudian dia mengirim pesan menanyakan keberadaan Mukhlis tapi tetap tak ada jawaban.


" Mih, Papih udah berangkat? " Mela datang dan mengambil sarapannya.


Pertanyaan Mela tak dijawab Tessa dia anteng membuka gawainya " Bi tadi Bapak mendadak pergi atau gimana " tanya Tessa lagi pada ART nya.


" Itu Bu tadi Bapak terima telepon saya dengar Non Dini sakit terus Bapak langsung berdiri dan pergi, Bapak cuma bilang supaya kasih tahu Ibu karena ada hal penting "


Mendengar hal itu Tessa langsung menggebrak meja, nafasnya begitu memburu. Bahkan Mela pun ikut kesal.


Brak


" Dini lagi, dia lagi dia lagi berengs*k"

__ADS_1


__ADS_2