Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Masih Di Pesta Pernikahan


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 63 ( Masih Di Pesta Pernikahan)


Pov Dini


" Din bilangin Pak Sarif naikin gaji aku ya hahaaa " seru Siti membuat teman yang lainnya tertawa.


" Ah siyaaap " sahutku sambil tertawa.


Siti itu lucu banget, dia teman dekatku sekaligus tempat aku curhat sewaktu masih bekerja di kantor kontraktor dulu.


Rupanya owner kantor tersebut Pamannya Deni dari pihak Ibu. Aku baru mengetahuinya setelah menikah. Sebenarnya Pak Sarif tahu aku pacar Mas Deni, kalau ingat itu aku jadi malu.


Karena dengan teganya aku mutusin Mas Deni yang sudah baik memasukanku ke kantor milik pamannya. Walaupun tidak secara langsung tapi pasti Mas Deni mereferensikan aku. Untung saja aku gak buat malu disana.


Bahkan posisiku cepat sekali naik dan banyak job, kok aku jadi mikir jangan jangan karena aku pacar Mas Deni lagi. Mungkin kalau waktunya tepat aku akan menanyakannya agar hati aku menjadi tenang.


Langkahku semakin dekat dengan meja Papih dan Paman Sarif di ikuti Bi Marni yang dengan setia berada di belakangku.


" Din sini kita ngobrol ngobrol dulu " Papih sudah memanggilku dari kejauhan.


" Ini Paman Sarif, kamu sudah di kenalkan Deni kan? " tanya Papih padaku.


" Sudah Pih, tadi Dini sudah ketemu juga pas ngumpul sama teman kantor dulu " jawabku sambil tersenyum ke arah Papih dan Paman Sarif.


" Oh begitu baguslah kalau begitu, nanti kalau ada waktu kamu kunjungi Paman mu ini. Deni itu keponakan kesayangannya, dulu kalau kabur pasti ke rumah Paman Sarif hahaa " tambah Papih di iringi tawanya.


" Iya betul itu Din bahkan saat dia minta agar kamu diterima kerja di kantor Om, Deni sampai nginap dua malam di rumah karena nungguin Om yang keluar kota. Sengaja Om lama lamain dan gantung dia supaya mau nginap hahaaa " kini giliran Om Sarif yang tertawa dan saling bersahutan dengan Papih.


" Tapi beruntung Om mengabulkan permintaannya, karena ternyata kamu gadis yang pintar dan cekatan. Kamu jangan salah faham Din, jabatanmu cepat naik karena memang kinerja kamu bagus jadi bukan karena Deni " tambah Om Sarif.


" Alhamdulillah kalau seperti itu Om, pas aku tahu Om Paman Mas Deni aku jadi sedikit takut kalau keberadaanku di paksakan karena atas permintaan Mas Deni " kini aku sedikit merasa tenang mendengar ucapan Paman Sarif.


" Sebenarnya kalau Deni mengizinkan Om pengen kamu balik lagi kerja buat megang kantor Om yang disini "


Aku dan Papih salin berpandangan dengan mata membulat.


" Oh tidak bisa, resto ku saja banyak tak ada yang pegang. Beruntung Dini berhasil merayu Deni sehingga dapat bekerja di resto. Anda kurang beruntung Pak " ujar Papih sambil menepuk bahu Paman Sarif.


" Hahaaa iya benar sekali, kamu beruntung Mas dapat menantu seperti Dini. Anakmu itu pandai cari istri sudah cantik, pintar, bersahaja dan lemah lembut. Kalau anak sekarang bilang sih spech bidadari "

__ADS_1


Wajahku langsung merah merona" Om jangan memuji berlebihan, saya gak se spesial itu. Malahan saya lebih beruntung bersuamikan Mas Deni yang benar benar baik dan menerima saya apa adanya.


Belum lagi mertua seperti Papih yang sayang dan melindungi aku, terima kasih juga buat Papih dan Paman yang sudah menerima ku di keluarga ini "


" Jodoh itu cerminan diri, semoga kalian langgeng. Jaga baik baik cucu kami ya Din. Kalau kamu ingin sesuatu terus Papihmu gak ngasih cari saja Paman nanti akan Paman kabulkan " ucap Paman Sarif.


" Terima kasih Paman " balasku sambil tersenyum.


" Alhamdulilah dede bayi banyak yang sayang " ucapku sambil mengusap perut yang mulai terlihat.


" Pih " tiba tiba Mamih sudah ada di belakang Papih, entah kapan datangnya tiba tiba saja muncul seperti jailangkung.


Mukanya terlihat masam, apa dia mendengar obrolan kami ya?


Pasti dia cemburu dan iri berat mendengar semua penuturan Papih dan Paman.


Mendengar panggilan Mamih, Papih langsung melihat ke belakang lalu memalingkan wajahnya lebih memilih melihat ke arah kami.


Paman Sarif pun langsung terdiam, kini senyuman yang tadi menghiasi wajahnya sudah tak terlihat lagi. Rupanya Mamih membawa vibes buruk buat Paman heheee.


" Mas " Mamih menyapa Paman dan di jawab anggukan, mereka pun bersalaman.


" Papih gak temenin Mamih di pelaminan? " tanyanya, suaranya di buat manja. Ih geli banget dengarnya heheee sudah tua juga gak ingat umur.


" Mamih disana saja kan ada Ayah Mela. Aku sedang ngobrol dulu, lagipula kita sudah lama gak ngobrol. Nanti aku ke sana " jawab Papih dan berkesan tak acuh.


" Hufftt ya sudah kalau gitu aku kesana lagi, mari Mas " Mamih memilih pergi setelah sebelumnya pamit pada paman Sarif lalu dia berjalan sambil menghentakan kakinya karena kesal.


Yang anehnya Mamih gak basa basi sama sekali padaku, padahal aku segede gaban masa iya sih gak lihat. Kelihatan banget kalau dia itu sentimen. Sabar sabaaarr Din ucapku dalam hati sambil mengelus dada dan perut.


Sepertimya Paman dan Papih menangkap pergerakanku. Mereka langsung tersenyum dan menghiburku.


" Sabar Din gak usah di ambil hati, Mamih kamu memang seperti itu " ujar Papih.


" Din paman minta nomormu ya, kalau yang dulu kamu save itu khusus pekerjaan. Ini nomor pribadi biar lebih mudah menghubungi Paman. Nanti kalau ada apa apa cari Paman ya " ujarnya sambil mengeluarkan ponselnya.


Aku pun mengetikan nomor hp ku yang baru karena yang lama sudah kubuang atas permintaan Mas Deni.


Bukannya aku bucin tapi buatku permintaan Mas Deni bukan hal sulit. Lagipula aku masih boleh mensave nomor nomor yang menurutku penting dan nomor baruku sudah aku berikan pada teman teman dengan syarat jangan membaginya pada orang lain tanpa seizinku.


Sepertinya hal itu dilakukan agar Budi tidak menggangguku, aku pun memahami maksud Mas Deni apalagi kami berjauhan jadi tak ada salahnya mengikuti permintaannya.

__ADS_1


" Din kalau kamu mau gabung dengan teman temanmu lagi silahkan saja, lagipula ini obrolan kakek kakek kamu pasti bosan dan tak akan nyambung hahaa " ujar Papih sambil menepuk bahu Paman.


" Isshhh kamu saja yang sudah tua dan kakek kakek aku sih masih muda " balas Paman membuat kami semua tertawa.


" Iya Pih, aku juga mau mencicipi hidangannya. Sepertinya debay pengen makan rujak deh "


" Wah sepertinya begitu, untung Papih kemarin meminta menu tambahan rujak. Feeling saja pasti kamu pengen. Biar nanti Papih suruh bungkus juga ya. Papih gak mau cucu Papih ileran hahaaa "


" Ya Mas benar kan gak lucu cucu orang kaya ileran gara gara pengen rujak hahaaa "


Paman menjawab ucapan Papih yang akhirnya mereka tertawa bersahutan.


" Marni, antar Dini dia pengen rujak " Papih memanggil Marni yang sedari tadi duduk dengan jarak beberapa meja dari kami.


Bi Marni ini memang tanggap, dia langsung mendekat dan memapahku, emang gak salah pilihan Mas Deni dan Papih ketika menyiapkan Bi Marni untuk menjagaku karena dia selalu siaga satu.


" Aduh Bi aku malu, jangan di papah. Aku masih kuatku hehee "


" Eh iya Non, bukan maksud Bibi seperti itu " Bi Marni terlihat salah tingkah.


" Gak apa Bi aku ngerti heheee , ayo kita makan rujak bareng " Ajakku.


" Pih, Paman aku mau keliling dulu "


" Iya silahkan " jawab mereka kompak.


Aku segera pergi dari meja tersebut, sepertinya mereka ada obrolan serius. Tapi aku gak tahu itu tentang apa. Yang pasti aku gak boleh mengetahuinya.


Aku pergi melangkah di ikuti Bi Marni dari belakang, lalu mencicipi beberapa hidangan.


Sekilas ku tangkap pandangan dua wanita yang selalu usil padaku ketika dulu masih bekerja. Siapa lagi kalau bukan Wida dan Vika, gak tahu mereka punya masalah apa sampai begitu sentimennya padaku.


Aku yakin pasti mereka memperhatikan aku sedari tadi. Aku memilih pergi dan mencicipi hidangan lain saja.


Buughhhhhh


tiba tiba ada seseorang yang menabrak lenganku sampai makanan yang aku pegang tumpah.


" Aduh maaf ya " ujar seorang laki laki berperawakan tinggi.


Sepertinya aku tak asing melihat raut wajahnya, tapi aku gak tahu itu siapa.

__ADS_1


__ADS_2