Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Bertemu Mantan


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 37 ( Bertemu Mantan )


Seminggu setelah setelah Dini dinyatakan positif hamil barulah Dini kembali bekerja di Resto mertuanya.


Itu pun setelah Deni memberikannya izin untuk bekerja dengan berbagai persyaratan yang Deni berikan.


Dini berusaha mematuhinya karena keinginannya yang kuat untuk bekerja. Dia pun selalu di bawah pengawasan Bi Marni untuk urusan makan, minum vitamin dan semua yang berhubungan dengan kehamilannya.


Dia tidak merasa terbebani karena itu merupakan syarat mutlak agar diperbolehkan bekerja, dan juga itu semua tak ada salahnya karena menyangkut kesehatannya serta bayi yang dikandungnya.


Setiap malam Dini dan Deni saling berkomunikasi untuk menanyakan kabar dan juga saling memberikan perhatian. Meski Deni jauh Dini tidak merasa kekurangan kasih sayang dari Deni, hanya jarak saja yang memisahkan mereka.


Awalnya Dini meminta tiga hari setelah beristirahat dia ingin langsung bekerja kembali namun tidak mendapat izin dari Deni, ayah mertua dan juga orang tuanya. Karena mereka sangat mengkhawatirkan kesehatan Dini.


Jadilah pagi ini Dini sedang bersiap untuk bekerja dengan pakaian rapih dan sopan memakai hijab serta dandanan natural membuat aura ibu hamilnya sangat kentara.


Bahkan terlihat lebih cantik dan bersinar yang pasti membuat setiap orang yang melihatnya akan terkesima.


" Non sarapan dulu ya Bibi udah siapin sarapannya 4 sehat 5 sempurna spesial buat bumil "


Terdengar ketukan pintu dan sahutan dari luar agar Dini segera keluar kamar untuk sarapan.


" Iya Bi, bentar lagi beres " Dini hanya tinggal mengoleskan lipbalm di bibirnya karena bibir Dini tanpa menggunakan apapun sudah terlihat ranum.


Setelah selesai Dini keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan " Wah Bi kok banyak banget masaknya, emang ada yang mau datang kesini ya? "


" Ngga Non itu khusus Bibi bikin buat Non Dini, wanita hamil pasti lapar terus jadi Bibi siapin cemilan juga. Nanti sebagian akan Bibi bungkusin ya "


" Tapi Bi aku kan kerja di Resto jadi kalau soal makanan rasanya tak akan kekurangan deh "


" Iya sih Non cuma kan ini benar benar makanan bergizi kalau di Resto bibi takut itu banyak kolesterolnya gak baik buat bumil sama debaynya "


" Oh ya sudah aku akan bawa makanannya, maaf ya Bi udah repot repot dari pagi bikinin aku sarapan hehee "

__ADS_1


" Gak lah gak repot ini sudah kewajiban Bibi kan Non "


Setelah selesai sarapan Dini langsung mengambil tasnya untuk berangkat. Dia diantar Bi Marni yang menenteng banyak makanan sampai masuk mobilnya. Dan itu akan berlaku setiap hari untuk pulang dan pergi.


Mobil Dini pun meluncur menuju Resto, karena ini jam masuk kantor kondisi jalanan cukup macet. Saat di lampu merah tak sengaja Dini melihat seorang laki laki yang dikenalnya sedang menyetir di mobil sebelahnya.


Buru buru Dini membuang muka karena tak mau berurusan lagi dengannya. Ya laki laki itu Budi yang sepertinya akan menuju kantornya. Namun keinginan Dini tak terlaksana Budi yang berada di dalam mobil tersebut juga melihat ke arah Dini.


" Din " Budi memanggilnya, beruntung lampu lalu lintas sudah berubah hijau sehingga Dini langsung melajukan mobilnya tanpa mengidahkan Budi yang berteriak memanggilnya.


" Fiuuuh untung saja lampunya keburu hijau " Dini menarik nafasnya.


Namun Dini kembali kecewa karena Budi masih mengikutinya padahal arah resto dan kantornya berbeda.


" Duh ini gimana ya aku gak mau Mela salah faham " Dini bergumam.


Beruntung jarak resto sudah dekat dalam hitungan menit Dini sudah sampai. Dia langsung memarkir mobilnya di area parkir staf dan segera masuk ke dalam.


Budi pun menyusul dan melihat mobil Dini yang diparkir di area parkir staf.


" Kok Dini kesini ya, kan restonya masih tutup. Apa dia bekerja disini? aneh saja kalau misal pengunjung masa parkir di area staf "


Seorang Satpam mengetuk kaca mobil Budi, dia pun menurunkan kaca mobilnya.


" Maaf Pak Restonya belum buka mungkin sekitar satu atau dua jam an lagi " ucap Satpam tersebut dengan santun.


" Oh ya pak maaf, tadinya saya mau sarapan disini. Kalau begitu saya kembali nanti siang saja kesini untuk makan siang. Makasih ya Pak "


Setelah itu Budi menutup kembali kaca mobilnya dan pergi dari area resto.


Dini melihat kejadian itu di dalam kantornya karena area parkir staf bisa terlihat jelas dari ruang kerjanya


" Duh mau apa lagi A'Budi bukannya dia sudah jadian sama Mela. Apa aku harus cerita sama Mas Deni ya, tapi kalau cerita aku takut dia berpikiran aneh. Entah kenapa aku punya firasat jelek mengenai hubungan mereka " gumam Dini.


Setelah Budi terlihat pergi dia kembali duduk di kursi kerjanya. Dini pun mulai membuka bekal camilan yang dibuat Bi Marni. Karena ternyata benar Ibu hamil bawaannya lapar. Untung saja Dini memiliki ART yang sangat faham dan pengertian.

__ADS_1


Dini menikmati cemilannya, karena ini masih pagi karyawan pun masih bersiap siap.


Dini menjeda camilan yang dimakannya, dia berniat berkeliling melihat karyawan yang sedang bersiap siap. Dia memulainya dari area kitchen karena disanalah yang paling sibuk.


Mereka sudah terbiasa melihat Dini apalagi sudah diperkenalkan sebelumnya pada karyawan bahwa Dini sebagai menantu owner akan membantu mengelola Resto.


Semua selalu bersikap ramah, kecuali Lili yang sering menghindar dan mukanya selalu terlihat ketus bila berjumpa Dini. Beruntung Dini wanita yang sabar dan tak mau memperpanjang masalah. Tapi dia sudah berniat suatu hari akan mengajak Lili berbicara empat mata dan bertanya mengapa Lili terlihat membencinya.


Setelah selesai berkeliling Dini kembali ke ruangannya dan mengecek laporan yang dibuat karyawannya.


Dini begitu fokus bekerja, jika dia bosan maka dia akan berkeliling sebentar kemudian kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaannya.


Sampai tiba makan siang dia mendapat pesan dari Mela dan berkata bahwa dia sedang makan siang di resto tempat Dini bekerja dan ingin memberi kejutan.


" Tumben banget ni anak mau ngasih kejutan, apa ya kejutannya? jangan sampai aku jantungan hehee " Dini bergumam lalu terkekeh sendirian.


Dini segera bersiap lagipula ini jam makan siang sekalian saja dia akan makan, tapi ketika melihat kotak bekal yang dibuat Bi Marni dia jadi merasa sayang apabila tidak dimakan.


" Kalau aku makan bekal ini di depan rasanya aneh banget deh, padahal sudah ada himbauan dilarang bawa makanan dari luar. Eh ini aku malah bawa bekal. Hahaa lucu banget. Ya sudah aku minum juice aza deh nanti "


Dia pun berjalan menuju table yang sudah diberitahukan Mela. Dari kejauhan Dini melihat Mela sedang duduk sendirian.


Awalnya Dini sudah khawatir Mela akan datang bersama Budi, namun ternyata yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Rasanya hal yang wajar dia tak mau berurusan dengan Budi walau hanya berkedok silaturahmi, itu karena dia ingin menghindari masalah karena Deni sedang jauh tidak bersamanya.


Apalagi dia tahu betul kalau Ibu mertuanya tidak menyukai. Jangan sampai ada celah sedikitpun untuk membuat masalah.


Dini berjalan menuju table Mela yang sedang duduk fokus membuka ponselnya.


" Hallo Mel, lama nunggu? " tanya Dini.


" Eh ngga Teh baru lima menitan, gimana badannya sudah enakan? "


" Alhamdulillah, itu mah hal biasa buat bumil "


" Maaf apa aku datang terlambat? "

__ADS_1


Degh


Dini mendengar suara laki laki yang tak asing di telinganya.


__ADS_2