Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Mela Hamil?


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 45 ( Mela Hamil? )


Setelah penolakan dari Deni, Tessa tak pernah menghubungi Deni lagi. Hari hari dijalani seperti biasa oleh Dini. Perut Dini mulai terlihat membesar.


Setiap Dini melakukan panggilan Video Call dia selalu menunjukannya pada Deni. Perkembangan janinnya pun tak luput dari pantauan Deni.


Hari hari Dini tetap terasa menyenangkan karena mendapat perhatian dari suami yang berjauhan serta orang orang di sekelilingnya.


Berbeda dengan hari yang dijalani Mela, saat ini dia dalam kondisi bingung. Sudah satu bulan ini dia terlambat datang bulan.


Hari ini dia akan memastikan dengan menggunakan testpack. Barang tersebut sudah dia pesan melalui ojol. Saat ini dia sedang menunggu pesanannya.


" Non Mela di tunggu Ibu sama Bapak di meja makan " terdengar suara Narsih salah satu ART di rumahnya.


" Iya Bi, bilang nanti aku nyusul " balasnya dari dalam tanpa berniat keluar.


" Tap maaf Non, Ibu bilang tadi Non Mela harus ikut sarapan di bawah " ucapnya lagi.


" Iya iya cerewet amat sih " Mela berdecak kesal hari ini moodnya benar benar jelek.


Dalam pikirannya banyak yang terlintas. Bagaimana kalau dia benar hamil?


Apa Budi mau bertanggung jawab atas bayinya?


Dan bagaimana dengan kuliahnya? hal yang paking dia takutkan adalah Mukhlis.


Dengan terpaksa dia bangun dari ranjangnya. Bercermin sebentar, setelah dirasa cukup dia langsung keluar.


Dari kejauhan dia melihat Tessa dan Mukhlis sedang sarapan.


" Kamu lama banget sih Mel di panggil dari tadi " Tessa berucap dan menampakan wajah ketusnya.


" Ya maaf Mih tadi aku di toilet " kilah Mela supaya Tessa gak bicara panjang lebar.


" Kamu sakit Mel? kok wajahmu pucat begitu " kali ini Mukhlis yang bertanya pada anak sambungnya.


" Ng-nggak Pih tadi malam aku tidur larut karena mengerjakan tugas. Baru tidur sekitar jam 2 pagi. Ini juga aku masih ngantuk "


" Ya sudah kamu minum susu aza dulu terus istirahat. Bi tolong buatkan susu buat Mela " pinta Tessa pada Narsih.


Mukhlis dan Tessa baru saja menyelesaikan sarapannya. Susu untuk Mela pun tiba dan disimpan tepat di depannya.


Susu masih terlihat panas, Mela biarkan tetap di mejanya karena sebenarnya dia pun malas untuk meminumnya.


Rupanya aroma susu tersebut tercium Mela dia mengendus aroma susu tersebut, seketika kepalanya pusing dan langsung merasa mual.

__ADS_1


" Uwekkk uweeekkk "


Mela berlari ke toilet di belakang dia ingin memuntahkan isi perutnya namun tak ada yang keluar. Yang ada hanya cairan bening saja.


Mukhlis yang masih duduk langsung memandang ke arah Tessa, dari pandangan matanya seperti penuh rasa curiga.


" Mmmhhh aku ke Mela dulu Pih, kayaknya dia masuk angin kan begadang terus " Tessa pun merasa curiga hanya saja dia berusaha menepis apa yang ada di pikirannya.


Gegas Tessa berjalan menuju toilet, dilihatnya Mela sedang tertegun di depan cermin.


" Kamu kenapa Mel, apa kamu sakit? " tanya Tessa.


" Gak tahu Mih mungkin aku masuk angin. Tadi nyium bau susu langsung mual " jawabnya dengan wajah sendu.


" Mual? cium bau susu? apa bener Mela hamil ya? " Tessa membatin.


" Udah selesai? " Tessa kembali bertanya, Mela tak memberi jawaban dia langsung berjala keluar.


Mereka menuju meja makan kembali dan duduk bersama lagi.


" Kamu kenapa Mel? " baru juga duduk Mela sudah mendapat pertanyaan kembali dari ayah sambungnya.


" Aku masuk angin Pih, kemarin begadang terus udah dua hari malas makan " jawabnya dengan wajah yang terlihat pucat.


" Ya sudah kamu kembali saja ke kamar, istirahat dulu. Nanti biar Papih panggil dokter Irma ke rumah "


Mela menolak kedatangan dokter Irma karena dia masih gamang. Dia khawatir ternyata benar benar hamil maka akan menjadi masalah besar untuknya. Lebih baik dia menggunakan tespect terlebih dahulu.


" Maaf Non ini ada ojol nganterin ini buat Non " Narsih membawa satu keresek berwarna putih pada Mela.


" Loh itu apa Mel? pagi pagi kamu udah pesan makanan " Tessa penasaran dia langsung berdiri membuka plastik yang di bawa Bi Narsih.


" Itu Mih lontong sayur, lagi pengen aza. Tadi beli pake ojol " jawab Mela sambil merebut plastik yang diambil Tessa.


" Oh kamu lagi pengen lontong. Ya sudah kamu ke kamar aza makan disana sambil istirahat. Bi anterin mangkok ke kamar Mela ya " titahnya pada Narsih.


" Pih aku ke kamar dulu " ucap Mela pada Mukhlis, walau bagaimana pun dia masih segan pada sosok Mukhlis apalagi setelah mengetahui Mukhlis ayah sambungnya. Mela tahu hidupnya bergantung pada Mukhlis untuk saat ini.


" Hmmm " balas Mukhlis singkat.


Tessa hanya memandang Mukhlis dan Mela bergantian. Ada rasa marah dan iri, karena perhatian yang diberikan Mukhlis pada Mela jauh berbeda dengan perhatian yang diberikan Mukhlis pada Dini.


Setelah Mela tak terlihat dari pandangannya Tessa langsung berbicara pada Mukhlis.


" Pih kok kamu terlihat beda sekarang? " tanya Tessa memulai percakapan.


" Beda tentang apa? " Mukhlis bertanya balik namun matanya masih mengarah pada ponselnya.

__ADS_1


" Kamu gak perhatian lagi sama Mela, beda dengan Dini. Dengar Dini sakit kamu pasti lari entah pun sakitnya apa " suara Tessa mulai terdengar berat karena memendam emosi.


" Kamu gak usah berlebihan, Deni sedang jauh dan Dini dalam kondisi hamil. Tentu saja Dini akan menjadi tanggung jawabku selama Deni tidak ada. Kamu gak lupa itu kan?


Jelas aku khawatir pada Dini karena dia sedang mengandung cucuku yang berarti darah daging anak laki-laki ku.


Lebih baik kamu awasi Mela lihat pergaulannya. Aku tidak bodoh melihat wanita muntah di pagi hari seperti itu, ya mungkin kamu lebih tahu bukan?


Semoga saja pikiran yang terlintas di kepalaku salah "


Mukhlis menjawab pertanyaan Tessa panjang lebar, supaya Tessa faham dan berhenti berpikiran buruk.


Namun bukan Tessa namanya kalau dengan mudah akan menerima penjelasan Mukhlis. Dia terlihat memicingkan matanya.


Kedua tangannya yang berada di bawah meja mengepal, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan.


Benar apa yang dikatakan Mukhlis dia harus memastikan keadaan Mela terlebih dahulu. Rupanya prasangka yang tadi terlintas di kepalanya tentang Mela sama juga terlintas di kepala Mukhlis.


" Ya Tuhan jangan sampai itu terjadi, aku gak tahu lagi harus berbuat apa " gumam Tessa dalam hatinya.


" Aku berangkat dulu, pastikan keadaan Mela. Apapun yang terjadi aku harus tahu. Jangan buat aku bertambah marah "


Tanpa menunggu jawaban Tessa yang sedang duduk termenung Mukhlis langsung berdiri dan keluar menuju mobilnya.


Tessa pun tak mengejar Mukhlis sedikitnya dia juga kesal dengan perlakuan suaminya.


Dia bergegas menyusul ke kamar Mela, sengaja dia tak mengetuk pintu dan masuk perlahan. Dilihatnya Mela tak ada di ranjang. Plastik berisi lontong sayur masih utuh beserta mangkoknya.


Namun kini ada dua plastik di meja salah satunya berlogo sebuah apotik. Di bacanya struk pembayaran dalam plastik tersebut dan disana tertulis pembayaran untuk tiga testpack berbeda merk.


Degh


Hati Tessa langsung ketar ketir, sudut matanya mulai basah. Tapi dia tak putus asa, dia berharap ada jawaban lain. Mungkin saja ini milik teman Mela.


Walau hati kecilnya menyangkal, karena tak mungkin temannya nitip sepagi ini. Tessa berdiri karena mendengar suara keran air berbunyi. Dia berdiri menuju pintu toilet.


Pintu toilet pun terbuka, Mela yang tak menyadari ada ibunya keluar perlahan, tangannya memegang tiga buah benda yang sudah bisa ditebak Tessa.


" Mela "


" Mamih "


Suara mereka berbarengan, karena kaget tiga benda yang dipegang Mela terjatuh kelantai dan berhamburan.


Seketika Tessa menjerit sambil menangis.


" Melaaa kamuu huaa huaa "

__ADS_1


__ADS_2