Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Deni Atau Budi?


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 7 ( Deni Atau Budi? )


Pov Dini


" Waalaikum salam " jawab Mas Deni sambil membuka pintu dan tersenyum.


Di depan Mas Deni ada A'Budi yang berdiri mematung sepertinya terpana melihat A'Deni.


Dia pasti merasa heran dan bertanya-tanya siapa lelaki yang ada di hadapannya?


Ya memang tak bisa dipungkiri Mas Deni sangat tampan makanya sewaktu SMA dulu dia menjadi idola para siswi sekolah.


Mukanya yang mirip artis drakor wajah bersih putih dengan perawakan yang menunjang tinggi dan sedikit berotot menambah kesan maskulin.


Sebenarnya A'Budi juga tak kalah ganteng namun dalam versi berbeda. Dia memiliki wajah yang tampan namun terlihat dewasa. Setiap melihatnya membuat hati kita merasa teduh.


Mungkin itu salah satu yang membuatku tertarik padanya selain sikapnya yang begitu tenang.


" A' Budi? " aku berucap sambil terbata.


Mendengar nama Budi wajah Mas Deni langsung terlihat masam. Dia langsung menarik nafasnya dalam.


" Huftt " kudengar tarikan nafas Mas Deni.


" Silahkan masuk " kulihat Mas Deni tersenyum walau terpaksa.


Kini ada kami bertiga ada di ruangan ini. Hening tak ada yang memulai pembicaraan.


" Ekheemm, Din sebaiknya ambil air minum untuk tamunya " kata terakhir terdengar lebih ditekan membuat A'Budi memandang Mas Deni sinis.


" Iya Mas " aku segera menuju dapur seraya memberitahu ayah dan ibu kedatangan A'Budi.


" Yah, ada A'Budi datang gimana dong aku takut mereka ribut malu sama tetangga " raut mukaku sudah benar benar tak karuan.


Mata ibu langsung membulat, wajahnya langsung panik sama sepertiku. Namun tidak dengan ayah dia masih terlihat tetap santai.


" Tak apa, mereka sudah dewasa. Lebih baik kalian membicarakannya bertiga agar selesai permasalahannya.


Kamu juga harus dewasa bisa menerima konsekuensi keputusanmu. Tenang saja ada ayah disini tak akan terjadi apa-apa "


" Baiklah Yah " aku langsung melangkah walau ragu, kusiapkan minuman untuk mantan calon tunanganku itu.


Setelah selesai aku langsung menuju ke depan, dan menyuguhkan minuman tersebut.

__ADS_1


Situasinya masih sama, hening tak ada yang bersuara. Aku mencoba memulai percakapan untuk memecah keheningan


" A' kenalkan ini Mas Deni, dia baru kembali berlayar baru tiba hari ini dan langsung kemari "


Mas Deni mengulurkan tangannya, namun tidak langsung disambut A'Budi.


Keringat dingin mulai membasahi dahiku, aku takut A'Budi marah dan bertindak tidak terkendali.


Namun akhirnya dia menerima uluran tangan Mas Deni.


" Fiuuuhh, akhirnya " gumamku dalam hati, aku jadi bisa bernafas sedikit lega.


" Din saya datang kesini untuk menanyakan kelanjutan pertunangan kita "


Gleekk


Aku langsung menelan kasar ludahku. Tapi mau tak mau ini harus kuhadapi. Sebenarnya aku sendiri masih bingung dengan perasaanku.


Siapa orang yang benar benar aku cintai. Aku memang mencintai Mas Deni dialah cinta pertamaku yang menerima aku apa adanya bahkan dengan keadaan keluarga. Dia selalu berusaha membahagiakanku.


Andai saja perlakuan Mamih nya baik mungkin aku akan sabar menunggu. Saat itu aku berfikir tak mau tersakiti.


Namun semoga saja sikapnya berubah setelah pembicaraan tadi, apalagi Mas Deni berjanji akan memperbaiki semuanya.


Karena aku akui jauh dalam lubuk hatiku masih belum bisa sepenuhnya melupakan Mas Deni.


Dari kedua laki laki ini tentu saja memiliki kekurangan dan kelebihan. Ya Allah begitu sulit memilih.


Namun sepertinya aku sudah tidak bisa memilih atau merubah keputusanku lagi karena aku sudah menerima Mas Deni.


Apalagi dua keluarga sudah menyetujui pernikahan kami yang akan diadakan tiga hari lagi.


Apa selemah itu kah aku? tapi aku hanya ingin mengikuti kata hatiku saja.


" Mmhhh soal itu A' aku mau minta maaf..." aku tak sanggup berucap lagi mulutku rasanya terkunci.


" Kami akan menikah tiga hari lagi, saya harap anda bisa berbesar hati menerima keputusan Dini untuk kembali pada saya " Dengan santai Mas Deni berucap.


A'Budi terlihat kaget dan langsung memandangku " Benar itu Din? "


Ku anggukkan kepalaku perlahan tanpa berani menatapnya.


" Kamu sudah yakin dengan keputusanmu atau mungkin kamu mendapatkan tekanan dari dia dan keluarganya? " A'Budi terlihat marah bahkan dia berani menunjuk Mas Deni.


" Tolong anda jangan bicara sembarangan, saya tidak pernah memaksanya. Kami berbicara baik baik tanpa ada paksaan atau ancaman " Mas Deni terlihat balik menatap tajam ke arah A'Budi.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin Dini berubah dalam semalam kalau tak ada yang menekannya? " nafas A'Budi terlihat tak beraturan sepertinya dia menahan amarahnya.


Ya Allah aku harus bagaimana ini, apa aku harus minta tolong ayah. Ah jangan lah mau sampai kapan aku terus berlindung pada ayah. Rasanya aku tak akan pernah dewasa.


" Maaf A' ini keputusanku sendiri tanpa ada paksaan, tolong hormati keputusanku "


" Kenapa Din kamu begitu cepat berubah? apa kamu anggap aku sebagai pelarian saja untuk mengisi kekosongan hatimu? "


" Maksud A'Budi apa? aku tak bermaksud seperti itu. Maaf kalau aku sudah mengecewakan A'Budi " ku gigit bibir bawahku untuk menahan kecewa mendengar ucapannya.


Apa aku terlihat seperti itu? maafkan aku yang tidak bersikap.


" Kamu lupa janji kita akan berumah tangga dan memiliki anak, merawatnya dan akan menua bersama "


" Stop saya mohon berhenti. Saya harap anda menghargai keputusan Dini "


Mas Deni menggenggam tanganku, mungkin dia takut aku akan kembali goyah.


Melihat genggaman tangan kami A'Budi langsung memalingkan wajahnya pada Mas Deni.


" Mudah sekali anda berbicara seperti itu, apa karena anda merasa pemenangnya. Apa anda tidak tahu rasa malu yang saya dan keluarga saya rasakan? "


" A' tolong maafkan Dini " lirih aku berucap.


" Kemarin Dini berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini dan sekarang Dini sudah membuat keputusan. Sampaikan maaf Dini untuk Abah dan Umi " pandangan mataku terasa kabur karena genangan air mata.


" Baiklah kalau itu keputusan kamu Din, saya tak bisa memaksa. Tapi saya benar benar kecewa sama kamu "


" Baiklah saya permisi pulang, semoga hubungan kalian berjalan lancar " A'Budi sudah berdiri bersiap pulang.


" Budi " tiba tiba ayah sudah berada di antara kami.


" Duduklah kita bicara dulu sebentar " A'Budi terlihat sungkan, pasti suasana hatinya sudah tak enak.


Namun dia akhirnya duduk kembali.


" Budi sebelumnya ayah minta maaf. Namun ayah tak bisa memaksa keinginan Dini karena dia yang akan menjalani semuanya. Ayah harap kamu mengerti dan berbesar hati menerima keputusannya itu "


" Iya saya faham Yah " jawab A'Budi sambil menunduk.


" Ayah harap tali silaturahmi kita tidak terputus sampai disini. Ayah sudah anggap kamu dan Deni seperti anak anak ayah "


" Terima kasih ya, saya mengerti maksud ayah. Saya akan berusaha ikhlas menerima keputusan Dini. Saya permisi pulang Yah. Maaf kalau saya sudah mengganggu "


A'Budi langsung berdiri dan menyalami kami, namun pandangannya tampak berbeda ketika menyalami Mas Deni.

__ADS_1


Semoga saja tidak terjadi masalah di kemudian hari. Maafkan aku...


__ADS_2