Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Sedikit Gangguan


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 53 ( Sedikit Gangguan )


" Mih, berhentiii !!! " suara Mukhlis menggelegar ke seluruh ruangan.


Marni sudah beralih tempat posisinya berada di antara Dini dan Tessa. Dia menatap tajam Tessa seakan menantang keberanian Tessa untuk melayangkan tangannya.


" Ada apa ini? " tanya Mukhlis sambil berjalan ke arah Tessa.


" Dia mengganggu tamu Pih, gak sopan lihat gelas sampai pecah " Tessa mencoba membela dirinya.


" Terus hanya dengan melihat ini kamu dengan seenaknya mau menampar Dini? " suara Mukhlis begitu pelan tapi penuh penekanan.


" Jangan bikin malu, ini acara anakmu masih juga kamu membuat ulah " tegasnya.


Tessa langsung diam menunduk namun ekor matanya masih menatap nyalang ke arah Dini.


" Maaf Pak, nona ini berniat kasar pada Non Dini dia terus memprovokasi Non Dini " ucap Murni menjelaskan apa yang didengar dan dilihatnya.


Mendengar pernyataan wanita dihadapannya Nita langsung berang " Hehhh siapa kamu berani menuduh sembarangan? jangan asal bicara ya "


Dalam hatinya sebenarnya sudah merasa ketakutan, apalagi ada banyak orang di sekeliling mereka. Wajah sepupunya pun terlihat pucat tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Padahal niatnya hanya ingin membuat Dini kesal saja.


" Saya mendengarkan ucapan anda dari tadi " jawab Marni santai membalas semua ucapan Nita.


" Sembarangan main tuduh, kamu harus minta maaf sama saya ya karena udah berani fitnah saya. Nanti saya bakalan laporin kamu ke Polisi " Nita berusaha menyembunyikan ketakutannya dengan menekan Marni.


Namun perkiraan Nita salah dengan berharap Marni takut, Marni malah balik menantang " Silahkan saja saya tidak takut tapi CCTV di sekeliling ruangan ini akan menjadi saksi "


Degh


Wajah Nita berubah pucat dia lupa di rumah orang kaya sebesar ini pastilah ada banyak CCTV yang memantau mereka.


" Maaf Pak Mukhlis anak saya membuat suasana menjadi tidak nyaman saya akan menegurnya.


Nita minta maaf pada Dini dan Pak Mukhlis! " Abah Budi yang mulai membaca situasi tidak kondusif dia lantas menghampiri Mukhlis dan menegur Nita.


" Tapi Bah.."


" Sekarang! " mata Abah Budi melotot hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Orang orang yang mengenalnya sampai kaget tak menyangka bisa marah seperti itu.


" Aku gak mau, lebih baik aku pulang duluan " Nita berlari menuju keluar seraya mengumpat menyebut nama Dini.


" Nitaaa " namanya kembali dipanggil oleh Bapaknya tapi tetap di acuhkannya.


Kini tatapan Abah Budi beralih pada keponakannya yang tadi ikut menemani Nita untuk menyakiti Dini.


" Iya Bah. Din aku minta maaf aku di ajak Nita buat nyakitin kamu. Aku gak ada niat buat nyakitin kamu " pintanya dengan suara lirih entah itu ikhlas atau tidak.


Dini hanya tersenyum " Saya maafkan dan saya harap kamu tak mengulanginya lagi dan benar benar ikhlas meminta maaf bukan karena di suruh atau karena dilihat banyak orang "


Wanita itu makin menunduk matanya merah memendam amarah merasa dipermalukan Dini. Sayang dia tak bisa melawan Dini karena apa yang dikatakan Dini benar saat ini banyak orang dan kesalahan memang ada pada dirinya sehingga hanya bisa pasrah.


" Iya Din "


" Sudahlah Pak mari kita lanjutkan acara lagi anggap saja ini kesalah fahaman, silahkan menikmati hidangannya kembali " seru Mukhlis pada semua tamunya.


Semua pun kembali pada kegiatannya semula, menikmati hidangan dan sedikit mengobrol.


" Pih Dini izin berisitirahat di kamar ya " Dini mulai tak nyaman karena kejadian tadi.


Dan yang paling membuat tak nyaman Dini beberapa kali melihat dengan ekor matanya Budi terus menatap Dini. Dia tak mau ulah Budi menambah masalah baru untuknya. Jangan sampai Dini merusak acara ini secara tidak langsung.


" Mih aku permisi " tak lupa Dini pamit pada ibu mertuanya.


" Hhmmm " jawab Tessa dengan wajah ketusnya tanpa mau memandang ke arah Dini.


Dini tak menghiraukannya dia langsung berjalan menuju Abah dan Umi Budi untuk pamit, karena merasa pernah dekat dengan mereka bahkan sudah menganggap seperti orang tua sendiri.


Setelah berpamitan Dini langsung menuju kamar suaminya di ikuti oleh Murni di belakangnya.


Budi terlihat kecewa ketika Dini pergi, ingin sekali dia mengejar mantan kekasihnya itu. Dan bertanya apa dia baik baik saja?


Dia yakin pasti kakaknya sudah mengganggu Dini karena tahu Nita sangat membenci Dini entah dengan alasan apa. Dan dia juga yakin Dini bukan wanita yang usil hanya untuk menyakiti atau memfitnah orang lain.


Pemandangan kecewa Budi di tangkap Mela, dalam hati dia merasa kecewa tapi dia harus menerima konsekuensinya. Sedari awal dia tahu Budi belum bisa move on dari Dini.


Namun dia bertekad akan membuat Budi melupakan Dini dan menjadikan Mela wanita satu satunya di dalam hati Budi.


" Urusan kita belum selesai " ucap Mukhlis pada Tessa.

__ADS_1


Dalam hati Tessa merasa takut dengan ucapan suaminya, dia memang salah karena berbuat memalukan seperti tadi. Dia pun merasa bodoh mengikuti nafsu tanpa berpikir memakai logika.


Mukhlis berjalan pergi meninggalkan Tessa. Acara pun berjalan kembali dan semua menikmati hidangannya.


" Bud " panggil Mela lirih.


Saat ini mereka sedang duduk berdua menikmati hidangan.


" Ya " jawab Budi hampir tak terdengar.


" Kamu yakin mau menikahi aku? "


" Kalau kamu gak mau ya gak usah " jawab Budi dengan polosnya membuat mata Mela melotot.


" Si*lan si Budi mau merajuk malah dibikin kena mental " umpat Mela dalam hati.


" Ya gak gitu aku .."


" Makanya jangan sok merajuk, aku mencoba bertanggung jawab jangan berpikiran yang lain lain " belum selesai Mela bicara Budi sudah memotongnya.


" Aku hanya cemburu karena melihat kamu terus mencuri pandang pada Dini " dengan perasaan rendah diri Mela mencoba menyampaikan kekesalannya pada Budi.


" Maaf kalau aku membuatmu kesal " sahut Budi sambil memandang Mela lekat.


Mendengar permintaan maaf Budi hati Mela sedikit luluh, seulas senyum terbit di bibirnya.


" Apa kamu mau berusaha menerimaku nanti dan mengisi hati kamu hanya untuk aku saja? "


Budi memandang Mela menatap ke manik hitam matanya untuk mencari kesungguhan dan berharap bisa menumbuhkan rasa cinta untuk Mela.


" Ayolah Bud, Mela cantik walaupun tetap lebih cantik Dini. Mela juga kaya bahkan kamu bisa mendekati Dini bila bersama Mela. Asal kamu bisa membuatnya nyaman semua akan baik baik saja. Gunakan kesempatan ini jangan di sia siakan " Budi bermonolog dalam hatinya.


" Akan aku coba, kita sama sama berusaha. Kamu tahu keadaanku dan juga apa yang aku alami tidak mudah bukan? semoga kamu bisa menjadi obat sakit ku "


Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Budi membuat hati Mela berbunga bunga. Mela menganggukan kepalanya dan tersenyum.


" Makasih Bud, boleh aku panggil Mas? " tanya Mela dengan wajah memerah.


Budi terkekeh mendengarnya membuat Mela keheranan " Boleh aja maaf aku tertawa aku cuma ngerasa aneh aja biasa di panggil Aa sekarang Mas hehee "


" Kamu boleh panggil apa aja asal jangan panggil Abah nanti tertukar dengan bapakku " lanjut Budi.

__ADS_1


Mela jadi ikut tertawa, ternyata Budi konyol juga. Mereka berdua duduk bersebelahan dan terlihat bahagia.


" Setelah Dini pergi, Budi bisa bersikap biasa bahkan terlihat dekat dengan Mela. Aku tambah yakin andai Dini menghilang semua akan bahagia terutama aku hahaaa " Tessa berbicara dalam hatinya.


__ADS_2