
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 58 ( Curhat Mela )
Tok tok tok
Dini mengetuk kamar Mela bermaksud menyerahkan hadiah pada adik iparnya. Kemarin malam setelah mengobrol dengan Deni akhirnya mereka sepakat untuk memberikan paket honeymoon pada adik iparnya itu.
Kadang Dini tersenyum sendiri mengingat status Budi yang awalnya kekasihnya bahkan hampir bertunangan tapi sekarang malah menjadi adik iparnya. Sungguh lucu sekali hidup ini.
Ketukan pintu yang dilakukan Dini tidak mendapat respon padahal dia yakin Mela ada di dalam. Dini ingin masuk sayangnya pintunya terkunci.
" Mel, Mela tolong buka pintunya Teteh ingin memberikan titipan Mas Deni " tanpa menyerah Dini kembali mengetuk pintu kamar Mela berulang ulang.
Klotak
Pintu kamar terbuka menampilkan wajah Mela yang terlihat kalut. Mata yang merah dan sembab serta pipi yang basah.
Dini kaget melihat hal tersebut " Boleh Teteh masuk? " tanyanya dengan lembut karena takut Mela marah Dini datang pada saat kondisi yang tidak tepat.
" Boleh Teh " Jawab Mela sambil terisak.
Tanpa menunggu lama Dini bergegas masuk ke dalam. Kemudian mendorong pintunya.
" Kamu kenapa Mel, apa ada masalah? kalau kamu percaya ceritalah sama Teteh supaya bebanmu berkurang. Inshaa Allah "
" Hiks hiks " Mela tak menjawab hanya ada suara isak tangisnya yang terdengar pilu.
" Kalau kamu tak mau cerita tak apa. Teteh ingin memberikan hadiah untuk pernikahan kalian. Semoga kamu berkenan menerimanya " Dini menyerahkan sebuah amplop yang berisi tiket liburan paket honeymoon.
" Makasih Teh tapi sepertinya aku tak memerlukannya. Aku gak tahu apa besok akan melanjutkan pernikahanku atau tidak? "
Mela berbicara sambil merebahkan tubuhnya di ranjang menatap ke atas langit langit seakan menerawang.
" Kalau boleh tahu ada masalah apa sehingga kamu berpikiran seperti itu? " Dini merasa bingung dengan sikap adik iparnya.
Bukannya menjawab Mela malah menangis sambil memeluk Dini. " Teh aku takut hiks hiks "
__ADS_1
" Takut? "
" Beberapa hari yang lalu ketika undangan sudah tercetak aku memberikan undangan pada Budi untuk disebarkan pada teman dan kerabatnya. Dia kaget karena ada nama asing di sana, lalu ku jelaskan kalau aku hanya anak tiri Papih. Sepertinya Budi kecewa dia tak menghubungiku lagi "
Dini mengernyitkan keningnya rasanya dia tak percaya dengan perlakuan Budi tersebut.
" Tapi Mel kamu sudah menghubunginya kembali? besok kan pesta pernikahannya " ujar Dini sedikit khawatir.
Walaupun pernikahan Mela tak semegah pernikahannya tapi pesta ini mengeluarkan yang yang tak sedikit. Belum lagi bila sampai batal maka akan membuat keluarga Deni malu.
" Kamu sudah bilang sama Papih? " tanya Dini kembali. Dan Mela hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
" Ya ampun Mel, masalah sebesar ini kamu gak cerita " Dini langsung mencari kontak ayah mertuanya dan menghubunginya.
[ Assalammu alaikum Pih, maaf mengganggu. Papih bisa ke kamar Mela sebentar? Dini ada di sini dan ingin berbicara hal penting ]
[ Soal apa Din? ]
[ Mmmhhhh soal Mela Pih ]
[ Ada masalah apa? ]
[ Ckk baiklah, tunggu sebentar ]
Mukhlis berdecak kesal, entah mengapa akhir akhir ini dia selalu merasa malas dengan segala hal yang berhubungan dengan istri dan anak tirinya.
Andai bukan karena kasihan dan kewajiban pada istri dan anak tirinya dia sudah sedari dulu ingin melepas mereka. Karena sudah terlalu sering membuat masalah.
Apalagi sekarang anak laki laki Tessa sudah mulai merongrong rumah tangganya dengan banyak permintaan pada Tessa. Membuat Tessa sering berbohong padanya untuk memenuhi kebutuhan anak laki lakinya.
" Kamu panggil Papih? nanti dia marah " tanya Mela dengan ketus.
" Ya mau gimana lagi, kalau misal kekhawatiranmu terjadi dan Papih baru tahu besok apa jadinya coba? Bukankah lebih baik tahu dari sekarang supaya Papih mencari solusi " sahut Dini dengan lemah lembut supaya Mela bisa merasa tenang.
Dini mengerti karena dia juga pernah mengalami kegugupan ketika malam besoknya akan menikah dengan Deni. Banyak pikiran berkelebat membuat dia sedikit setres. Beruntungnya dia bisa melewati itu karena Deni selalu menghubunginya via telepon untuk mensupport Dini.
" Iya kamu benar maafkan aku, entah kenapa aku sering merasa panik dan emosi "
__ADS_1
" Heheee biasa itu calon pengantin, aku pun pernah mengalaminya " kekeh Dini.
Mukhlis sudah berada di pintu dia sengaja tidak langsung masuk karena melihat pintu sedikit terbuka, dia sengaja ingin mencuri dengar percakapan dia wanita tersebut.
" Masalahku banyak Din, selain masalah Budi aku juga memiliki masalah lain. Aku sudah menemui ayah kandungku dan memintanya untuk menjadi wali di.pernikahanku. Tapi dia seperti enggan dia mau datang asalkan Mamih memberinya uang.
Tentu saja aku marah dan kecewa Papih saja yang merupakan Bapak sambung ku sudah mempersiapkan semua hal tapi dia dengan seenaknya meminta uang sebagai upah menjadi waliku hiks hiks aku sedih Din "
Mendengar cerita Mela, Dini langsung membelalakan matanya tak percaya dengan sikap ayah kandung Mela " Kamu serius Mel beliau meminta uang upah? "
" Hiks hiks, iya aku mendengarnya sendiri. Mamih mengobrol berdua dengannya dan aku menguping di ruangan sebelah yang terhalang dinding " tangis Mela langsung pecah.
Mukhlis yang mendengarkan langsung mengepalkan tangannya. Dia kesal pada istrinya mengapa tidak memberitahukan dari sebelumnya pada dirinya sehingga bisa mengatasinya sedari awal.
" Jadi aku harus bagaimana Din? aku benar benar bingung. Berhari hari aku menangis sendirian sehingga kepalaku makin pusing "
" Huftt harusnya kamu berbicara jujur dan terbuka pada keluarga, jangan menahannya sendirian. Karena itu akan membuatmu lelah dan setres. Kasihan bayi dalam kandunganmu dia akan ikut setres juga.
Sekarang sebaiknya kita menunggu Papih terlebih dahulu. Tentang Budi yang tak ada kabar dan ayah kandungmu yang meminta upah kita ceritakan dulu pada Papih. Semoga saja Papih memiliki solusi buat permasalahanmu "
Dini tak bisa memecahkan masalah Mela karena ini merupakan masalah besar, dan menurutnya peran orang tua sangat penting. Sehingga Dini memilih menunggu kehadiran ayah mertuanya.
" Din menurut kamu Budi bakal ninggalin aku gak setelah dia tahu kalau aku hanya anak tiri Papih? " tanya Mela dengan wajah mendongak pada Dini yang sedang berdiri.
" Semoga saja itu tidak terjadi, andaikan itu terjadi mungkin Allah memberitahukan sikap Budi yang sesungguhnya padamu sebelum terjadi pernikahan. Percayalah akan ada suatu hikmah di balik masalah yang datang. Jadi sebaiknya kamu tetap tabah dan ikhlas " terang Dini pada adik iparnya.
Mendengar penuturan Dini hati Mela terasa tenang, dia pun berusaha lebih tenang dan ikhlas dengan segala kejadian yang akan menghampirinya. Benar kata Dini dengan kejadian ini dia jadi tahu bagaimana sifat calon suami dan ayah kandungnya.
" Terima kasih ya Din kamu sudah membantuku, setidaknya pikiranku tidak sekalut kemarin. Kamu benar seharusnya aku memberitahu Papih dari kemarin kemarin. Papih pasti akan marah karena memberi tahunya mendadak. Aku malu selalu merepotkannya "
" Sudah tenanglah, Papih baik kok beliau pasti mengerti dengan kondisimu " balas Dini sambil mengambil sekotak tisu dan mengusap air mata Mela.
Mukhlis yang sedari tadi mendengarkan obrolan Dini dan Mela bertambah kagum pada Dini karena sifat dewasanya. Mereka tak menyadari kehadiran Mukhlis karena mengobrol membelakangi pintu.
Tak lama dia pun mengetuk pintu dan meminta izin masuk " Din, Mela. Papih boleh masuk? "
Dini berjalan ke arah pintu berbarengan dengan Mukhlis yang membuka pintu.
__ADS_1
" Iya Pih masuklah " jawab Dini.
Mukhlis langsung masuk dan dia langsung melihat wajah Mela yang sudah tegang.