
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 62 ( Pesta Pernikahan Mela Dan Budi )
Iringan keluarga Budi sudah datang, dalam adat mereka ketika rombongan pengantin pria tiba maka akan di sambut oleh perwakilan pihak pengantin wanita. Yaitu orang tua dari pengantin wanita tersebut.
Seharusnya yang berdiri saat ini menyambut kedatangan keluarga Budi adalah Rudi namun sampai sekarang dia belum muncul.
" Kemana ayah Mela kenapa sampai jam sekarang belum muncul juga? " sambil mengeratkan giginya Mukhlis bertanya pada Tessa yang sedang berdiri di sebelahnya menyambut kedatangan keluarga Budi.
" Mamih udah ngasih tahu Pih tapi gak tahu kenapa dia belum datang " jawabnya dengan suara lirih dan wajah menunduk.
" Apa tak ada kakaknya, pamannya atau siapapun dari ayahnya? " geram Mukhlis tanpa melihat ke arah Tessa.
" Tak ada Pih " jawab Tessa takut takut.
" Benarkah? " kali ini Mukhlis melihat ke arah Tessa dengan wajah marah.
Tessa menunduk tak berani menatap Mukhlis. Pandangan Mukhlis kali ini seperti sedang menyelidikinya.
" Kenapa Mas Mukhlis bicara seperti itu, apa dia sudah mengetahui kalau Mela memiliki kakak laki laki. Si Rudi juga dasar brengs*k bantu dana ngga, bisanya cuma bikin susah saja " Tessa mengumpat dalam hati.
Acara penyambutan pun selesai kini mempelai pria sudah duduk bersama penghulu. Mukhlis meminta waktu sebentar menunggu kedatangan ayah Mela.
Sedangkan Tessa sudah panik berkali kali dia menghubungi Rudi namun ponselnya tak aktif. Di dalam kamar pun Mela sangat tegang dan merutuki ayahnya yang sampai saat ini belum memperlihatkan batang hidungnya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Mukhlis memutuskan tugas ayah Mela di gantikan Wali Hakim.
" Tunggu! " tiba tiba ada suara menginterupsi.
" Maaf saya terlambat, jalanan cukup macet tadi " Rudi ayah dari Mela sudah datang.
Mukhlis pun merasa tenang karena Rudi sudah datang. Berbeda dengan Tessa, di sisi lain dia senang Rudi datang karena Mukhlis tak akan marah lagi padanya.
Tapi dia malu andaikan teman temannya mengetahui kalau Mela bukan anak kandung Mukhlis. Belum lagi penampilan Rudi yang jauh berbeda dengan Mukhlis. Dia benar benar merasa malu.
Acara akad nikah pun selesai Budi mengucapkannya ikrarnya sekali dan lancar. Kini Mela dan Budi sudah sah menjadi suami istri.
Sekarang mereka duduk berdampingan di pelaminan. Rudi berdiri bersama Tessa yang juga terlihat cantik di usianya.
__ADS_1
" Kamu kenapa sih lama banget datangnya, aku kan jadi kena marah Papih Mela " ucap Tessa tanpa melihat ke arah Rudi.
" Tadi aku kesiangan, kamu kenapa sih ketus banget seperti gak butuh aku saja. Bukankah aku salah satu orang penting yang kalian tunggu " jawab Rudi dengan wajah pongahnya.
" Jangan mimpi kamu, Mas Mukhlis hanya menghargai kamu sebagai ayah kandung Mela. Kalaupun kamu tak berniat hadir itu tak masalah karena tugasmu bisa di ganti wali hakim.
Justru aku lebih senang kalau kamu tak ada. Aku dan Mas Mukhlis yang akan berdiri disini bukan denganmu " jawab Tessa dengan geram.
Rudi terlihat marah rasanya dia ingin menampar Tessa. Dan Tessa pun menyadari itu " Jangan berani macam macam ini bukan di lingkunganmu. Kecuali kalau kamu mau menanggung malu " ancam Tessa.
Rudi pun terdiam tak berbicara lagi, dia menatap sekeliling memang lingkungan ini asing buatnya. Dia tak mau berbuat macam macam apalagi sampai membuat Mela malu. Walaupun dari kecil dia taj mengurusnya tapi dalam hatinya dia sangat menyayangi putrinya itu.
Mela terlihat cantik dan sumringah, sisa sisa tangisannya tadi pagi tertutup oleh kemampuan para tim MUA yang di sewa Mukhlis.
Hanya Budi yang terlihat biasa, matanya selalu mencari dimana Dini berada. Sayang sekali Mukhlis lebih cepat mengetahui tingkah Budi.
Sehingga dia menugaskan Marni agar selalu mengikuti Dini kecuali ketika sedang bersama keluarganya.
Andaikan Mela tak hamil sebenarnya dia tak ingin Budi menikahi Mela. Karena dia khawatir akan mengganggu rumah tangga kedua anaknya.
Dia khawatir Budi akan selalu mencari kesempatan mendekati Dini dan berakibat buruk untuk hubungan Dini dan Deni.
Sepanjang acara wajah Tessa di tekuk karena kini teman temannya tahu laki laki di sampingnya mantan suami terdahulunya.
" Aduh Jeng ini toh suami pertamanya, saya kira Pak Mukhlis itu suami pertama dan terakhir hehee " ujar salah satu temannya seraya berbisik.
Tessa hanya tersenyum terpaksa dalam hatinya dia ingin memaki semua teman temannya.
" Iya Jeng kok gak pernah cerita sih, sebenarnya gak kalah ganteng sih sama Pak Mukhlis cuma mungkin kalah duit saja hehee " salah satu temannya ikut menimpali.
" Maaf ibu ibu tolong segera maju karena tamu sudah mengantri di belakang " seorang pengatur acara menegur teman teman Tessa yang bergerombol di pelaminan.
Tessa merasa sedikit lega setelah kepergian mereka. Tinggal nanti dia menghadapi teman temannya ketika arisan nanti karena pasti dia akan jadi bahan pembicaraan.
Tamu pun banyak berdatangan tidak terkecuali teman kantor Budi. Mereka silih berganti memberi selamat pada Budi.
Tak sedikit juga yang mengenal Dini, mereka menyapa Dini dan mengucapkan selamat ketika melihat perut Dini terlihat besar karena sedang hamil.
" Wah Dini lagi hamil ya, selamat ya udah bulan ke berapa? " tanya salah seorang teman perempuannya.
__ADS_1
" Alhamdulillah jalan 4 " sahut Dini sambil tersenyum.
" Aneh juga ya Din dulu kalian pacaran sekarang malah iparan, apa itu gak bahaya tuh? awas loh hati hati " dengan santainya Wida berkata tanpa merasa berdosa.
Siti langsung geram mendengar ucapan Wida sebagai sahabat Dini, dia merasa tak terima dengan ucapan Wida " Hehhh sembarangan kalau ngomong, Dini gak mungkin macam macam. Gak tahu kalau kamu berada di posisi Dini mungkin saja itu terjadi. Kamu kan manusia gak punya akhlak "
Wida langsung berang mendengar ucapan Siti dan merasa tak terima " Eh kenapa kamu yang sewot Dini nya juga biasa saja "
" Gimana gak sewot punya mulut gak di rem, pake otak dong kalau ngomong " jawab Siti sambil menunjuk kepalanya penuh emosi.
" Sudah sudah ini lagi ada acara penting tolong jangan bikin masalah. Siti, sudah gak usah hiraukan ucapan Wida. Dan buat Wida gak usah khawatir kami sudah memiliki rumah sendiri sendiri. Lagipula imanku tak serendah itu " balas Dini telak membuat Wida terdiam.
" Ada apa ini sepertinya seru sekali? " tiba tiba Sarif pamannya Deni pemilik perusahaan tempat mereka bekerja datang.
" Eh paman " Dini mencium tangan Sarif dengan takzim.
Wida langsung terdiam menunduk, dulu dia tak percaya bahwa Dini punya hubungan saudara dengan Sarif dan kini dia melihat keakraban itu dengan mata kepalanya sendiri.
" Gimana kabarnya Din? kapan Deni pulang gak kasihan dia sama kamu Din? heee " Sarif terkekeh.
" Insha Allah 2 bulanan lagi Paman "
" Baguslah, nanti kalau sudah pulang kalian main lah ke rumah. Tante Nia sudah kangen lama tak jumpa katanya "
" Inshaa Allah Paman nanti kami akan berkunjung " jawab Dini sambil tersenyum.
" Ya sudah paman mau menemui Papih mertuamu. Ingin ngobrol ngobrol sebentar, ayo semuanya saya permisi ya. Yang akur lah kalian " ujar Sarif membuat Wida makin menundukan kepalanya.
" Iya Pak " jawab semuanya serempak.
" Mampus lu " ucap Siti pada Wida setelah Sarif pergi.
" Non Dini di tunggu Pak Mukhlis di meja. Katanya ada Paman Mas Deni ingin mengobrol " Marni menyusul Dini yang sedang berkumpul dengan teman kerjanya dulu.
" Aku permisi dulu ya teman teman selamat menikmati pestanya " ujar Dini.
" Din bilangin Pak Sarif naikin gaji aku ya hahaaa " seru Siti membuat teman yang lainnya tertawa.
" Ah siyaaap " sahut Dini sambil tertawa.
__ADS_1