Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Menghindar


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 39 ( Menghindar )


Pov Dini


" Maaf apa aku datang terlambat? "


Degh


Suara ini, suara yang sangat aku kenal. Aku masih belum memalingkan wajahku dari Mela dan berusaha untuk tidak melihat wajahnya. Tanpa aku lihat saja aku yakin itu A' Budi, selain aku menghafal suaranya aku juga bisa yakin karena melihat Mela tersenyum sumringah.


Fin ini pasti Budi, untuk apa sih dia datang. Terus terang aku curiga dia memiliki niat buruk kalaupun tak buruk aku yakin sekali dia tidak tulus mencintai Mela.


Walaupun aku dan Mela tak akrab, bahkan bisa dibilang Mela kurang ramah padaku tapi tetap saja dia adik Mas Deni. Kalau ada masalah dengan Mela pasti Papih dan Mas Deni bakalan sedih.


Akhirnya aku melihat ke arahnya agar tidak membuat Mela kecewa walaupun dengan memasang wajah datar. Terus terang tadi aku merasa kaget cuma aku berusaha tenang.


Maaf A' aku bersikap seperti ini, bukan aku sombong hanya saja ingin menjaga perasaan banyak orang. Aku belum tahu niat sebenarnya kamu mendekati Mela.


" Enggak kok, ayo duduk disini " Mela menjawab pertanyaan A'Budi. Dan memang A'Budi tidak terlambat karena kami memang belum lama duduk disini


" Kalian mau makan apa, biar di pesan dulu ya " ucapku pada dua sejoli di hadapanku. Kuberikan buku menu yang sengaja tadi kuambil sebelum kesini.


" Kamu mau apa." Mela bertanya pada kekasihnya.


Heheee rasanya lucu dan aneh mantan calon tunanganku kini berpacaran dengan adik iparku.


" Terserah " itu jawaban yang keluar dari mulut A'Budi.


Sebenarnya aku risih duduk bersama mereka, bukan karena aku cemburu tapi karena A' Budi terus curi curi pandang padaku. Aku takut Mela melihatnya dan nantinya terjadi salah faham.


Mela langsung menulis menu yang di inginkannya, dan menu yang diperuntukkan A'Budi.


Setelah Mela selesai aku langsung memberikan catatan tersebut pada salah satu pelayan yang berdiri di dekat kami.


" Loh Teteh gak pesan? " tanya Mela padaku, mungkin dia aneh karena aku memberikan langsung catatan pesanan Mela pada pelayan.


" Enggak Mel, aku disini kerja bukan mau makan siang lagian dari pagi aku makan terus di bawain bekal sama Bi Marni. Aku juga gak mau ganggu kalian berdua. Kalian yang santai aza ya aku mau keliling lihat karyawan ".


Aku menjawab seingatku saja karena niatku ingin menghindari mereka supaya tidak makan siang bersama.


" Oh oke teh, makasih ya " Mela pun sepertinya senang, karena pastinya dia ingin berduaan dengan A'Budi.

__ADS_1


Lain lagi dengan A'Budi wajahnya langsung terlihat kecewa, aku tahu betul kebiasaannya karena kami jalan pun hitungan bulan. Cukup lama untuk saling mengenal kebiasaan pasangan.


Aku langsung berdiri dan pamit pada mereka berdua, untunglah ada kesempatan menghindar. Kalau kejadiannya seperti ini sepertinya aku harus bercerita pada Mas Deni.


Karena aku khawatir akan ada moment lain yang akan mempertemukan aku dan A' Budi. Aku tak mau Mas Deni salah faham.


Begitupun Papih dan keluargaku harus mengetahuinya, supaya ke depannya mereka bisa membantu untuk melindungiku atau membantu menghindari dari hal seperti ini.


Akhirnya satu jam kemudian Mela menghubungiku, dia pamit pulang karena acara makan siang selesai A'Budi pun harus segera kembali ke kantornya.


Namun aku meminta maaf pada Mela aku tak bisa menemuinya kembali karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dan syukurnya dia mengerti.


***


Pov Mela


Setelah ditinggal Dini kami pun mengobrol karena pesanan kami belum tiba. ini jam makan siang pasti banyak sekali customer datang wajar saja akan menjadi sedikit lama.


Tapi justru menurutku itu hal yang kuinginkan karena aku bisa berlama lama dengan Budi.


Tapi setelah Dini pergi Budi kembali menjadi dingin bahkan matanya terus menatap ke arah Dini pergi. Mungkin dia berharap Dini kembali dan bergabung bersama kami.


Andaikan mau aku bisa membawanya ke ruangan Dini karena ini resto milik Papih. Tapi aku gak mau sebab hal itu akan membuatku cemburu.


Bukannya aku tak tahu semenjak datang Budi terus saja melihat ke arah kakak iparku itu.


Karena perpisahan mereka belum terlalu lama, lagian alasan mereka berpisah adalah hal yang jarang terjadi. Aku pun bila menjadi Budi rasanya tak akan sanggup lagi menghadapi dunia.


Bukan hanya diriku sendiri yang dipermalukan tapi keluarga besarku juga. Semoga hal buruk itu tidak terjadi padaku.


" Selamat siang kak " seorang pelayan datang dan membawa pesanan kami, membuat obrolan kami terjeda.


Lebih tepatnya ocehanku karena hanya aku yang banyak bicara disini. Sedang Budi raganya disini tapi jiwanya sedang berkeliling di resto ini mencari Dini. Oh **** kenapa aku sih yang harus ngalamin ini semua.


Tapi pesona Budi sangat kuat sampai aku masih bisa bersabar dengan apa yang dia lakukan padaku, biasanya aku yang diperlakukan bak ratu oleh pacar pacarku tapi sekarang aku yang harus bersabar dengan sikap pria satu ini.


" Silahkan dinikmati kak " ucap gadis pelayan tersebut.


" Ayo A' kita makan dulu, ini makanan favorit di resto ini. Aku harap kamu suka pilihanku " dia hanya mengangguk tidak mengucapkan sepatah kata pun.


" Dini kerja disini? "


Ah sekalinya dia bicara hanya bertanya soal Dini benar benar mengesalkan. Makanan yang siap masuk hanya mengambang di depan mulutku.Tidak lihatkah kini aku yang ada di depannya.

__ADS_1


Ya walaupun kami tidak pernah mendeklarasikan bahwa kita sepasang kekasih. Harusnya dia faham dong dengan perasaanku apalagi mengingat kejadian malam itu. Gak peka banget sih jadi laki laki.


" Iya " kujawab singkat karena tanggung dengan makanan yang siap mendarat di mulutku. Biar kupanasi saja dia sekalian.


" Dini bekerja setelah Mas Deni berangkat katanya bosan di rumah. Lagipula Papih memang ingin Mas Deni mengelola resto miliknya. Ya mungkin ke depannya resto ini akan mereka kelola berdua. Atau mereka akan mengelola semua resto milik Papih " paparku.


" Memang ada berapa banyak resto yang keluarga kalian miliki? " tanya Budi tapi aku tak melihat kekaguman dari wajahnya, malah dia tampak biasa saja.


" Di kota ini ada dua resto besar, ada juga resto di Bali dan kota lainnya. Aku tak tertarik mengelola resto, mungkin aku akan memilih bisinis Papih yang lain. Sepertinya aku lebih cocok di bidang properti "


" Papih kamu menggeluti properti juga? tapi aku lihat kamu tak cocok bekerja. Kamu lebih cocok diam di rumah menjadi seorang istri yang diratukan suaminya " ucapnya sambil tersenyum manis.


Apa kata kata yang barusan terucap adalah sebuah gombalan yang ditujukan untukku? awww hatiku langsung berbunga bunga.


" Semoga saja aku bertemu laki laki yang sanggup meratukan aku " sahutku sambil tersenyum malu malu.


" Kenapa kamu gak tertarik untuk mengelola resto ini? " Budi kembali bertanya, hal seperti ini yang kusuka jadi tak perlu hanya aku saja yang membuka mulutku.


" Aku kurang suka makan, jadi aku tak tertarik mengelolanya. Aku lebih suka investasi. Jadi aku rasa cocok jika bekerja di bidang properti " jawabku asal.


Karena aku pun tak mengerti apa yang aku bicarakan, aku hanya ingin ada obrolan di meja ini. Karena alasan sebenarnya aku tak mau mengelola resto ya karena aku malas.


Aku tak suka bekerja, hal yang lebih aku sukai hanya belanja, clubbing dan ngabisin duit. Gambaran masa muda zaman kini. Hidupku hanya sekali jadi aku harus benar benar menikmatinya.


Tak terasa makanan kami hampir habis sudah hampir satu jam kami disini. Sebaiknya kami pulang saja karena Budi pun masih bekerja.


" Kamu sudah beres makannya, sebaiknya kita pulang ya. Aku kan masih bekerja, kita pamit pada Dini "


Ah Dini lagi yang diingatnya, sabar lah hati jangan bersedih.


" Aku kirim pesan dulu ya pada Teh Dini " ucapku.


[ Teh, kami mau pulang ]


[ Ok, maaf ya aku tak bisa mengantar karena ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan ]


[ Ok, makasih Teh ]


" Aku udah bilang sama Teh Dini dia gak bisa datang lagi sibuk " ucapku sambil memperlihatkan balasan dari Dini di ponselku. Wajah Budi langsung terlihat kecut.


" Ya sudah kita pulang saja " kami pun berdiri dan Budi sepertinya menuju meja kasir.


" A' gak usah bayar, mereka tahu siapa aku " inilah hal yang aku suka dari Budi, setiap kami jalan aku tak pernah mengeluarkan uangku. Aku suka pria seperti ini dia terlihat bertanggung jawab.

__ADS_1


" Tapi aku malu masa kita makan gak bayar " ucapnya.


" Tak apa yuk " langsung ku gandeng tangannya dan keluar dari resto ini.


__ADS_2