
# Arisan Bodong Keluarga Suami
Bab 33 ( Kabar Buruk menurut Budi )
Mela pergi dengan wajah ditekuk, Tessa menyalahkannya karena tadi pagi begitu sulit dibangunkan sehingga Mukhlis pergi tanpa pamit pada Tessa.
" Ini semua gara gara kamu, makanya jadi anak hadis harus gesit. Bangun seenaknya, keluyuran terus ngabisin duit saja kerjamu " ucapan Tessa terus terngiang di telinganya membuat dia kesal dan memukul setir mobilnya berkali kali.
" Gara gara Dini jadi begini nii, Mamih sampe merepet. Apa sih lebihnya dia? Papih saja sampai berubah gitu, huhhh dasar si*l " dia terus saja mengumpat sepanjang jalan.
Tessa tambah marah ketika Mukhlis menjawab panggilannya dan memberi kabar bahwa Dini hamil, tambah saja ibunya mengamuk tak karuan. Karena itu artinya sang putra mahkota akan terlahir menurut pemikiran Mela.
Semalam setelah penolakan Mukhlis atas permintaan mobil barunya Mela langsung masuk kamar menyusul Tessa datang ke kamarnya untuk menghiburnya.
Tepatnya bukan menghibur tapi terus memberikan hasutan agar membenci Dini. Karena menurutnya perubahan di rumah ini semua gara gara Dini. Dulu pun kejadian Deni seperti itu, semenjak mengenal Dini sikap Deni berubah bahkan keluar dari rumah.
" Mending aku telepon Budi aza deh buat ketemuan nanti malam "
Tuutt tuttt
[ Hallo ]
[ A' Budi apa kabar? ]
[ Baik, ada apa? ]
jawaban Budi begitu dingin tak sesuai harapannya, padahal sudah beberapa kali bertemu. Mela berusaha bersabar mungkin dia butuh usaha extra saja.
[ A' nanti malam ketemu ya di tempat biasa, aku lagi suntuk nih ]
Hening tak ada jawaban.
[ A' ? ]
[ Oke jam 8 ya ]
Klik
Sambungan telepon langsung ditutup sepihak.
" Ishhh dasar kulkas, kalau gak ganteng ogah deh deketin kamu " rutuk Mela.
Lalu dia melanjutkan perjalanan ke kampus. Padahal dia hanya sekedar nongkrong bersama teman temannya.
***
__ADS_1
Hari ini Mela pulang cepat supaya tidak kena marah ibunya, apalagi malam ini dia sudah membuat janji dengan Budi untuk bertemu.
Mau bagaimana pun caranya dia harus keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
" Tumben sudah pulang jam segini? " sindir Tessa pada anak gadisnya.
" Mamih ini serba salah deh pulang cepet nyindir nyindir, pulang malam malah merepet. Atau gak usah pulang aza gitu? " kilahnya.
" Eh kamu di omongin bukannya ngerti gimana sih. Ngomong ngomong kamu udah ngerasain kan gimana perubahan Papih kamu " tanya Tessa memancing anaknya agar mau bercerita.
" Iya sih Mih, liat dulu aza mau sampe mana. Mamih udah nengok Dini? kan katanya dia hamil "
" Belum, Mamih kan gak dikasih tahu apartement nya dimana. Kayak sengaja gitu, gak ngerti apa maksudnya apa " Tessa mencebikan bibirnya.
" Udah Mih aku mau ke kamar dulu ya ada tugas, please jangan ganggu ya. Aku lagi gak mau denger curhat Mamih soal Dini hahaa "
Mela pergi ke kamarnya sambil tertawa, Tessa kesal dia langsung melempar bantal ke arah anak gadisnya.
" Bukannya bantuin malah ngeledek " gerutu Tessa.
Masuk ke kamar, Mela bukan mengerjakan tugas karena itu hanya alasan saja supaya Tessa tidak mengganggunya. Untuk berjaga jaga jika sewaktu waktu ibunya masuk dia tetap menyalakan laptop di meja belajarnya.
Dia sudah membayangkan wajah tampan Budi, malam ini tak akan dilewatkannya Mela akan berusaha tampil secantik mungkin untuk merebut hati Budi.
Mela turun kebawah untuk makan malam bersama orang tuanya. Kali ini Mela tak banyak bicara, begitu pun Mukhlis.
" Iya " jawab Mukhlis singkat.
" Boleh gak aku nengok sama Mamih? "
" Boleh, nanti kita bareng kesana "
Wajah Tessa langsung cerah, dia yang sudah sedari lama ingin tahu apartement Deni akhirnya memiliki kesempatan untuk kesana.
Dia sangat penasaran apa isi dari apartement tersebut sampai Deni merahasiakannya. Dia tahu di apartement mana Deni tinggal namun tah tahu secara detail, disana pun Tessa tidak bisa mencari tahu karena data penghuni sangat di rahasiakan.
Selesai makan Mela langsung kembali ke kamar dan mulai berdandan, biasanya Mukhlis akan berdiam diri di kamar atau berdiam diri di ruang kerja. Kalau soal urusan ibunya itu hal mudah baginya.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam satu jam lagi dia akan bertemu Budi. Beruntung mobil dia parkir di luar pagar jadi dia tak akan kesulitan jika nanti waktunya pergi.
Dia mulai mengendap ngendap keluar kamar tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya.
Setelah dirasa aman Mela langsung keluar pintu, Satpam yang menjaga pun tak banyak bertanya karena mungkin sudah terbiasa melihat anak majikannya keluar malam.
Namun alasan sebenarnya bukan itu yang membuat mereka tak bertanya, tapi atas perintah Mukhlis Mela bisa keluar tanpa ada pertanyaan.
__ADS_1
Mukhlis sedang berdiri di ruang kerjanya memperhatikan Mela yang memasuki mobilnya dengan dandanan ala pestanya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak sambungnya.
Di dalam mobil Mela tertawa bahagia karena merasa berhasil mengelabui Mukhlis. Sepertinya dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Budi pujaan hatinya.
Mela sudah tiba di parkiran bar dimana mereka bertemu pertama kali, dia segera keluar dan masuk ke dalam. Ternyata Budi sudah datang dan sedang menikmati minumannya.
" Hai, kamu sudah lama? " dengan suara manjanya Mela menyapa Budi kemudian duduk di sampingnya.
" Lumayan, ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku ? " tanpa basa basi Budi langsung bertanya tanpa menoleh pada Mela.
" Mmhhh aku kan bilang tadi siang suntuk di rumah. Rasanya bosan pulang kuliah langsung di kamar. Papih sibuk ngurusin Dini "
Hanya dengan menyebut nama Dini, wajah Budi langsung beralih menatap Mela.
" Kenapa dia sampai membuat Papihmu sibuk begitu? "
" Kamu masih mencintai Dini? " tanya Mela.
" Bukan urusanmu? "
" Dini hamil " ucap Mela ingin melihat reaksi Budi.
Tanpa harus bertanya perasaan Budi pada Dini, Mela bisa melihat kalau Budi masih mencintai Dini. Terlihat dengan jelas sorot matanya yang menahan marah, sedih dan kecewa.
Mungkin menurut keluarga Deni ini berita baik hal yang paling mereka tunggu, namun bagi Budi ini merupakan kabar buruk. Dia akan makin sulit meraih Dini.
" Kamu baik baik saja kan? " tanya Mela lagi.
" Tentu saja, memangnya aku kenapa? "
Budi kembali memanggil waiter untuk menambah minumannya. Dia ingin menghilangkan kesedihannya dengan cara minum sepuasnya. Apalagi sekarang ada Mela yang sedang menemaninya.
Dia pun sudah terbiasa meminum alkohol sampai mabuk. Di sisa kesadarannya Budi melihat Dini berada disampingnya berdandan cantik dan memberinya senyum.
" Dini " Budi yang sedang mabuk berat tanpa sadar menyebut nama Dini.
Mela tahu Budi sudah mulai kehilangan kesadarannya dia terus menambahkan minuman beralkohol tersebut ke gelas Budi.
Budi yang menganggap Mela adalah Dini menciuminya tanpa merada malu. Mela pun merasa senang sehingg dia pun membalas ciuman Budi.
Ketika Budi sudah mabuk berat bahkan tak bisa berdiri Mela langsung membopongnya membawa masuk ke dalam mobilnya. Dia tersenyum menyeringai " Dasar Bucin " ucapnya.
Di bawanya Budi menuju hotel terdekat, dia memesan kamar untuk mereka berdua dan membawa Budi ke kamar tersebut.
" Dini, Din " Budi terus menyebut nama Dini. Walau sedikit kesal Mela berusaha mengabaikannya. Yang penting keinginannya tercapai.
__ADS_1
" Oke Budi, malam ini kita akan bersenang senang, aku pastikan kamu tak akan menyesal "