
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 66 ( Gara Gara Dini )
Dini kembali ke apartement nya bersama Mukhlis dan Sarif dengan menggunakan mobil yang berbeda.
Tessa tak mengetahui kepergian Mukhlis karena suaminya itu tak memberi tahu.
Hanya saja dia bertanya pada manager resto dan manager tersebut berkata bahwa Mukhlis pergi bersama Sarif dan Dini.
Tentu saja manager tersebut mengetahuinya karena gedung yang digunakan untuk pernikahan Mela adalah bagian dari Resto yang dimiliki oleh Mukhlis, lebih tepatnya milik Deni.
Mukhlis tak pernah memberitahu Tessa semua harta yang dimilikinya sudah sah menjadi milik Deni.
Bahkan rumah yang mereka tempati pun milik Deni. Karena Mukhlis sadar semua kekayaan yang dia miliki berasal dari istrinya yaitu bunda nya Deni.
Mukhlis memiliki beberapa aset untuk bekal hari tuanya, tapi itu pun tetap tanpa sepengetahuan Tessa.
Mungkin dulu dia masih ada sedikit rasa percaya pada Tessa. Tapi perasaan itu makin terkikis begitu pun rasa cintanya.
Setelah mengetahui sifat dan ambisinya, apalagi setelah mengetahui kecurangannya dengan memberikan uang dan menjual banyak perhiasan miliknya untuk membiayai anak laki lakinya.
Andai saja Tessa jujur mungkin Mukhlis masih bisa memaafkan, tapi harapan Mukhlis sia sia karena Tessa tak berubah malah makin menjadi.
Mukhlis ingin berpisah tapi belum menemukan waktu yang tepat, Mukhlis hanya menjaga jarak dari Tessa.
Dan saat ini dimana Mela sudah menikah keinginan Mukhlis untuk berpisah makin besar.
Firasat Mukhlis mengatakan akan ada hal buruk setelah kehadiran Rudi. Makanya dia meminta tolong pada Sarif untuk ikut menjaga Dini.
Sebagai orang tua Deni, Mukhlis merasa bertanggung jawab atas diri Dini. Dia akan menjaga Dini sebisa mungkin selagi Deni belum kembali.
" Ah si*l mereka pergi tanpa mengajak ku. Jangankan mengajak pamit pun tidak "
Tessa mengumpat di mobilnya sambil sesekali memukul setir mobilnya.
" Dini, Dini teruuuss apa aku harus menyingkirkannya agar hidupku bahagia?
__ADS_1
Hahaaa benar benar juga sepertinya aku harus menyingkirkan Dini. Gara gara dia hidupku makin kacau.
Bahkan hidup Mela pun di usiknya, perhatian Mukhlis semua teralih pada Dini. Semua gara gara Dini. Aargghh "
Tessa berteriak di dalam mobil, untung saja mobil tersebut berkaca hitam dan kedap suara.
Sehingga apapun yang dilakukan Tessa tak akan ada yang menyadarinya.
***
Dini dan Marni sudah tiba di apartement disusul Mukhlis dan Sarif yang menyusul di belakangnya dengan menggunakan mobil berbeda.
" Kangen sekali sudah lama tidak kesini semenjak Deni pergi berlayar. Entah apa yang di cari anakmu Mas jauh jauh pergi padahal orang tuanya sangat mampu " ujar Sarif pada Mukhlis.
" Foto foto kakakku masih tersimpan baik hanya ada sedikit perubahan furniture saja. Aku sangat merindukannya, apa kau merindukannya juga? " tambah Sarif dengan wajah nanar.
" Ya aku sangat merindukannya, dia sangat spesial tak akan ada yang menggantikannya. Sifatnya menurun pada Deni, dia sangat bertanggung jawab " jawab Mukhlis dengan mata berkaca.
" Biarkan bunda Deni tenang disana, dia pasti bahagia dan tenang melihat kebahagiaan Deni dan istrinya. Mas sudah merawatnya dengan baik " ujar Sarif sambil menepuk bahu Mukhlis pelan.
" Ya terima kasih ini juga berkat dukunganmu. Aku harap kita masih bisa menjaga Deni dan istrinya bersama sama. Apalagi sekarang kita akan memiliki cucu. Firasatku mengatakan akan ada badai menerpa " ucap Mukhlis sambil tetap memandangi foto Bunda Deni.
Saat ini Dini sedang berisitirahat dikamarnya setelah meminta izin pada Mukhlis dan Sarif. Awalnya Dini tetap bertahan untuk menemani mereka mereka berdua karena sungkan. Akhirnya Dini mau beristirahat setelah di yakinkan Mukhlis dan Sarif bahwa mereka ingin berbincang terlebih dahulu.
Kini Mukhlis, Sarif dan Marni berada di ruang kerja. Mereka sedang berbicara serius tentang Deni dan Dini.
" Maaf Pak tadi saya melihat ada laki laki mendekati Non Dini, sepertinya dia memiliki niat buruk. Non Dini pun terlihat terganggu " ujar Marni memberi laporan pada Sarif.
" Benarkah, bagaimana ciri cirinya? " tanya Mukhlis.
" Badannya tinggi berkulit sawo matang, usianya sekitar awal 30an. Sekilas saya seperti mengenal bentuk wajahnya tapi lupa dimana. Non Dini pun berbicara seperti itu "
Mukhlis langsung terdiam, dan mencoba mencerna ucapan Marni.
" Nanti saya lihat CCTV dan lihat kira kira siapa yamg hendak mengganggu Dini " ujar Mukhlis, hatinya mulai tidak tenang.
" Mas apakah Dini aman tinggal disini? bagaimana kalau Dini tinggal dulu bersama ku? " tawar Sarif pada Mukhlis.
__ADS_1
Sarif yakin di rumahnya aman karena dijaga Satpam selama 24 jam, disana pun ada 3 ART selama 24 jam.
" Seharusnya aman, karena Deni sudah mempersiapkan semuanya. Kalau suatu saat dibutuhkan Mas akan menghubungimu " jawab Mukhlis.
" Baiklah Mas, aku akan menunggu kabar darimu " sahut Sarif.
" Yang terpenting sekarang, kamu Marni selalu siaga dan jaga Dini tapi jangan membuatnya merasa tak nyaman " titah Mukhlis pada ART yang merangkap jadi pengawal Dini.
" Bagaimana dengan surat surat penting, apakah sudah aman? " Sarif kembali bertanya.
" Itu sudah aman, semua atas nama Deni dan disimpan rapih di Bank. Kalau pun ada yang atas namaku Tessa tak mengetahuinya. Karena ingin di masa tuaku hidup damai dan tenang "
" Baguslah, aku juga setuju dengan Mas, di hari tua nanti aku ingin kita tenang dan menikmati hidup "
" Hahaaaa benar sekali " Mereka akhirnya tertawa berdua.
Karena hari sudah malam Mukhlis dan Sarif pamit untuk pulang. Mereka berpisah di basement dengan mengendarai mobil masing masing.
Kini Muklis merasa tenang karena dia sudah tak sendirian menjaga Dini. Ada Sarif yang turut membantunya.
Mukhlis membawa mobil dengan pelan dia malas berada di rumah. Ingin sekali dia tidur di hotel tapi dia tak ingin membuat keributan dengan Tessa.
Sehingga mau tak mau dia memilih mengalah dengan pulang ke rumah.
Di gerbang masuk komplek dia melihat mobil Tessa berada di depannya, mereka sama sama baru datang.
" Darimana dia? ah untuk apa aku bertanya. Aku pun baru pulang. Mungkin dia baru pulang dari hotel menemani Mela lebih dulu "
Mereka tiba berbarengan, Tessa pun baru menyadari setelah mereka parkir kendaraan. Sebenarnya Tessa kaget dan gugup tapi dia berusaha tenang.
Dia turun dari mobil dan bertatapan dengan Mukhlis. Tanpa ada ucapan apapun dari mulut mereka, sepasang suami istri tersebut memilih pergi ke kamar masing masing.
Di dalam kamar Mukhlis sedikit heran dengan perubahan Tessa, biasanya dia akan marah apalagi mengetahui Mukhlis pergi ke apartement Dini.
" Tapi baguslah dia sekarang diam daripada ngajak ribut, lagipula aku pergi bersama Sarif. Aneh juga kalau Tessa selalu marah setiap aku ke apartement Dini. Masa iya cemburu sama Dini hehee "
Mukhlis terkekeh dia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri agar segera bisa beristirahat setelah seharian ini lelah di pesta Mela.
__ADS_1
Lain lagi keadaan di kamar Tessa, dia sangat kesal sehingga melempar tas dan sepatunya ke sembarang arah.
" Baru pulang dia, kemana saja seharian. Tunggu saja Dini kamu akan aku lenyapkan supaya semua kembali seperti semula. Aarrgghh "