
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 23 ( Mela )
Pov Mela
Namaku Mela usiaku 22 tahun, aku masih kuliah di sebuah perguruan tinggi favorit di kotaku. Aku memiliki satu kakak laki laki dan seorang ayah yang sangat menyayangiku.
Sampai ketika aku duduk di bangku SMA kelas satu, Mami sering menyuruhku untuk jalan bareng Mas Deni.
Awalnya aku mengira itu hal biasa seorang kakak menjaga adiknya, namun Mamih menceritakan hal yang sangat mengejutkan. Ternyata aku hanya seorang anak tiri, dan Mas Deni juga bukan kakak kandungku.
Awalnya aku shock dan merasa minder, namun Mamih menasehati aku bahkan memberitahu kalau aku bisa merubah nasibku. Dan Mamih pastikan aku akan terus mendapatkan limpahan kasih dan juga harta.
" Mih emang aku harus ngapain agar aku tetap memiliki ini semua? " sebenarnya aku heran dengan apa yang Mamih ungkapkan, karena kulihat Papih dan Mas Deni sangat menyayangiku.
Papih menganggap aku seperti anak kandungnya, begitu pun Mas Deni dia memperlakukan aku selayaknya adik perempuan.
Dia selalu menjagaku, setiap ada teman laki laki yang menggangguku dia menjadi orang terdepan yang melindungi aku.
Tidak sedikit teman teman perempuanku menyukai Mas Deni, mereka sering mencari perhatian dengan mendekatiku memberi hadiah untuk aku dan Mas Deni.
Mamih tersenyum miring mendengar pertanyaanku, dari senyumnya aku lihat dia memiliki rencana buruk.
" Caranya gampang kamu bikin Mas mu kamu mencintai kamu " ucap Mamih sambil tersenyum.
" Tapi Mih Mas Deni udah cinta sama aku, sayang sama aku "
" Kamu tuh ngerti gak sih maksud Mamih, cinta yang ini beda. Kamu harus bikin Deni jadi pacar kamu dan nantinya harus menikahi kamu "
Mataku langsung melotot mendengar ucapan Mamih. Aku gak ngerti fikiran Mamih kenapa aku harus mencintai Mas Deni seperti itu.
" Tapi Mih kita kan adik kakak mana boleh kita menikah " protesku.
" Hufftt " Mamih menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya lewat mulutnya.
" Mamih belum bercerita hal ini, karena Mamih gak mau kamu berkecil hati. Asal kamu tahu kamu tuh bukan anak kandung Papih "
__ADS_1
Mamih menjeda ucapannya, dia melihat ke arahku seperti ingin melihat reaksiku.
Tentu saja reaksiku seperti yang Mamih sangkakan. Aku tak percaya dengan apa yang Mamih bilang
" Mamih serius? " ucapku terbata-bata, aku berharap ini hanya prank.
Mamih menganggukan wajahnya dia terus menatapku " Iya Mamih serius, apa Mamih terlihat sedang bercanda? " jawabnya sambil mendelikan wajahnya.
Kutundukan wajahku air mataku langsung luruh begitu saja, aku merasa kecewa.
Bukan kecewa pada Mamih, Papih atau Mas Deni. Tapi aku kecewa pada diriku sendiri. Aku yang selalu membanggakan diri dengan harta, kakak dan orang tuaku ternyata aku hanya anak tiri.
Bagaimana seandainya teman temanku tahu, mau ditaruh dimana mukaku. Jangan, jangan sampai mereka tahu bisa hancur reputasiku.
" Jadi aku harus bagaimana Mih? " aku mencoba mencari tahu rencana Mamih.
" Seperti yang Mamih bilang, kamu dekati Deni buat dia jatuh cinta padamu. Kalau kalian menikah semua harta Papih yang jatuh ke Deni pasti akan jadi milikmu juga kan? " jawab Mamih dengan senyumnya, yang aku lihat lebih ke seperti seringaian licik.
" Tapi Mas Deni udah punya pacar Teh Dini, aku kalah cantik Mah sama Teh Dini pasti Mas Deni langsung nolak aku "
Tukas Mamih terlihat marah, bahkan tak segan dia menoyor kepalaku. Aku sampai tersentak kaget.
Hal ini lah yang aku benci dari Mamih tanpa sepengetahuan Papih, Mamih sering kasar padaku. Tapi aku tak berani melawan, seandainya melawan Mamih akan berlaku lebih kasar padaku
Dulu aku sering merasa iri pada Mas Deni karena Mamih begitu perhatian apalagi kalau di depan Papih. Ternyata Mamih berlaku baik untuk mengambil hati Mas Deni dan Papih, ternyata Mamih orang yang bermuka dua bahkan suka memaksakan kehendaknya.
" Mamih tolong dong gak usah kasar, aku gak suka ya Mamih memperlakukan aku seperti ini " aku mencoba untuk berani melawan Mamih.
" Berani kamu melawan Mamih, kamu tak punya siapa siapa selain Mamih. Sebaiknya kamu ikuti saran Mamih ini juga untuk kebaikan kamu "
" Baiklah aku ikutin kemauan Mamih " malas panjang lebar mendebat Mamih.
Setelah berfikir beberapa saat aku setuju dengan keinginan Mamih. Daripada aku jatuh miskin dan di jauhi teman teman. Lagian Mas Deni juga tampan gak rugilah kalau aku berjodoh dengannya.
Beberapa hari kemudian apa yang Mamih inginkan mulai aku jalankan, Mamih sering meminta Mas Deni menemaniku. Jalan ke mall, nonton, dinner.
Kali ini berbeda biasanya aku pergi tanpa tahu rencana Mamih, sekarang aku tahu keinginan Mamih suasana pun jadi berbeda. Aku terkesan lebih berani menggoda Mas Deni.
__ADS_1
Awalnya Mas Deni biasa saja, namun aku lihat dia mulai tak nyaman. Wajarlah karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri begitupun Mas Deni terhadapku pasti menganggap aku seperti adik perempuannya.
Saking gak nyamannya Mas Deni dia jadi sering ketus padaku, dia berkata langsung padaku, dengan aku seperti ini seperti gadis manja dan tak memikirkan perasaan Teh Dini.
Seringkali Mas Deni tak mempedulikanku menganggap aku hanya sebagai pengganggu.
Mamih pun tak tinggal diam, dia makin memaksaku dan berbuat lebih berani di mulai dengan berpakaian seksi dan meninggalkan kami berduaan di rumah.
Semenjak itu Mas Deni terlihat makin tak suka padaku, dia seperti jijik setiap berpapasan dan selalu membuang muka.
Setelah beberapa hari kejadian itu Mas Deni jarang pulang bisa berminggu minggu. Mamih pun sempat bertanya jawabannya selalu sama dia kalau dia bersama temannya. Papih seperti tak peduli ada atau tak ada Mas Deni dia tak pernah bertanya tentang Mas Deni.
Keadaan itu berlanjut sampai Mas Deni kuliah. Seelain Mamih berusaha menyatukan kami, Mamih pun mencoba memisahkan Teh Dini dan Mas Deni.
Mamih sering memaksa Teh Dini bekerja membantu di kafe milik Papih. Sepertinya agar Teh Dini menjauh.
Setelah aku melihat betapa besar cinta Mas Deni pada Teh Dini akhirnya aku menyerah.
Untuk apa aku mengikuti kemauan Mamih, aku pun sering terluka dengan perlakuan Mas Deni yang menolak ku. Aku merasa punya harga diri.
Melihat hubungan mereka makin kuat, aku tak mau jadi pengganggu. Mamih sempat marah padaku karena tak mengikuti rencananya, namun aku abaikan.
Bahkan ketika Mas Deni pergi berlayar aku sering mendengar Mamih mengadukan Teh Dini pada Mas Dini. Segitu kuatnya keinginan Mamih, setelah kutolak entah rencana apa lagi yang dibuatnya.
Di hari pernikahan Mas Deni aku baru tahu, ternyata Mas Deni memiliki apartement sedari lama, ucapan itu keluar dari mulut Papih.
Aku baru sadar sepertinya Mas Deni dulu tak nyaman dan mengetahui maksud kami. Sehingga dia memilih keluar dari rumah. Andaikan Mas Deni menyadarinya aku sangat malu, mungkin nanti aku akan meminta maaf padanya.
Lain lagi dengan Mamih, dia langsung meradang seakan tak menerima Papih dan Mas Deni sudah lama membohonginya.
Apalagi mendengar Papih memberikan hadiah mobil dan paket honeymoon untuk Mas Deni dan Teh Dini membuatnya tambah geram.
Dari sorot matanya aku bisa melihat kebencian untuk Teh Dini. Terus terang aku tak peduli. Justru aku tertarik pada mantan tunangan Teh Dini yang bernama Budi.
Aku bertemu dengannya ketika Mamih menggagalkan acara pertunangannya. Kejam memang, tapi itu permintaan Mas Deni yang harus Mamih turuti kalau Mamih ingin mendapat bagian harta Papih.
Untuk sekarang aku hanya fokus untuk mengejar Budi, bukan lagi Deni. Tunggu aku Budi, aku pasti mendapatkanmu...
__ADS_1