Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 12 ( Surat Pengunduran Diri )


" Sudah sampai Tuan Putri " ucap Deni sambil memarkirkan mobilnya didepan rumah Dini.


" Ayo kita masuk dulu " lanjutnya.


" Hahhh? " Dini melongo mendengar ucapan Deni.


" Kenapa, ada yang salah? " tanyanya.


" Perasaan ini rumahku deh, kok jadi kayak Mas yang punya rumah " ucap Dini.


" Hahaa iya aku tahu sayang, tapi sebentar lagi aku juga jadi bagian rumah ini kan? ayolah sudah malam Mas takut ayah khawatir "


Deni tertawa apalagi melihat Dini memanyunkan bibirnya menurutnya itu terlihat sangat menggemaskan.


Deni membukakan pintu untuk calon istrinya.


Mendengar suara mobil yang diparkir Pak Hanif bergegas ke depan. Dan membukakan pintu.


" Assalammu alaikum Yah, maaf tadi Dini gak langsung di antar pulang. Tadi kami fitting baju dulu "


" Gak papa, masuklah kalian. Minum dulu Den. Ibu lagi siapin wedang jahe, dingin dingin gini enak buat badan "


" Iya Yah makasih " jawab Deni.


Mereka duduk bertiga di ruang TV dan berbincang bincang. Kemudian Bu Isma datang membawa minuman hangat untuk menemani mereka berbincang.


" Bagaimana persiapan pernikahannya Den? " tanya Pak Hanif.


" Sudah 80% Yah karena Papah menanganinya langsung. Dan undangan akan disebar setelah kami akad. Karena itu permintaanku "


" Baguslah, Ayah sudah tenang. Sebaiknya mulai besok kalian tak usah bertemu berduaan. Tak baik pengantin masih deketan seperti ini. Harusnya kalian dipingit loh "


" Iya Yah, lagipula besok sudah kuniatkan untuk resign. Malam ini aku buat surat pengunduran diri dulu "


Ayah Dini langsung mengernyitkan keningnya " Kamu yakin Din? "


" Aku yakin Yah bukannya kemarin Ayah juga sudah menyuruhku resign "


" Iya Ayah tahu hanya saja Ayah ingin memastikan dan berharap itu keinginan dari diri sendiri bukan karena ada paksaan dari orang lain "


" Dini sudah yakin dan sudah membicarakannya dengan Mas Deni lagipula Ayah benar akan lebih baik jika aku tidak bekerja lagi disana "


" Deni juga gak memaksa Yah, Dini yang menginginkannya. Dan besok Deni akan mengantarkan Dini menyerahkan surat pengunduran dirinya " timpal Deni.

__ADS_1


" Rasanya itu tidak perlu Mas " Dini menolak keinginan Deni. Karena khawatir akan bertemu Budi.


" Gak papa, kan Mas sudah bilang ingin menebus semua waktu yang sempat hilang "


" Kirain gara gara cemburu " Ocha yang baru datang dan ikut bergabung ikut menimpali.


" Iya itu juga "


" Hahaaa " semua tertawa melihat Deni yang menjawab dengan wajah polosnya.


Setelah berbincang lama waktu pun menunjukan pukul 9 malam. Deni pamit untuk pulang.


Dia berjanji pada Dini besok pagi akan datang menjemput kembali dan mengantarkannya ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri.


Setelah mengantar kan Deni pulang sampai pintu Dini menutup pintu kembali dan duduk bersama keluarganya.


" Din, ayah ingin berbicara sebentar " ujar Pak Hanif.


" Ayah harap ini keputusan yang terbaik untukmu. Ayah menyukai Deni dari dulu ayah sudah melihat bahwa dia sangat menyayangimu. Namun Ayah kurang suka dengan sikap Mamihnya " terang Ayah Dini.


" Aku faham maksud Ayah, Dini sudah belajar dari pengalaman bagaimana cara menghadapinya. Semua sudah Dini sampaikan pada Mas Deni bagaimana perlakuan Mamih dan keluarganya. Ayah dan Ibu jangan khawatir lagi " Dini berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.


" Baiklah kalau seperti itu, kami percaya kamu bisa mengatasi semuanya. Kalau ada apa apa sampaikan pada kami jangan memendam sendirian "


" Iya Yah makasih untuk perhatian dan kasih sayang kalian berdua " ucap Dini sambil memeluk Ibunya.


" Tidak apa Yah Teh Nita memang seperti itu, dia pun dulu kurang menyetujui hubungan kami bahkan sering terlihat sinis padaku "


" Ya sudah semua sudah berlalu, kamu istirahat sudah malam sebaiknya kamu jangan terlalu lelah " ucap Bu Isma.


" Iya nih pengantin masih saja kesana kemari "


" Iri bilang Boss " jawab Dini sambil menjawil dagu Ocha.


" Isshhh enak aza, ngapain iri weeww " jawab Ocha sambil menjulurkan lidahnya dan meninggalkan kakak dan kedua orang tuanya.


Menyusul Dini yang kemudian pamit untuk beristirahat.


Setelah selesai membersihkan diri Dini membuka laptopnya berniat membuat surat pengunduran diri.


Ting


Dini mendengar ada notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. Lalu dia melihat profilnya ternyata Nita kakak Budi.


" Wah tumben dia kirim pesan ada apa ya? "


Dia merasa heran karena mereka tak pernah berkomunikasi. Nita selalu menunjukan wajah tak suka dan sinis setiap kali Dini ke rumahnya.

__ADS_1


Pernah satu kali dia berpapasan dengannya di Mall jangankan menyapa, Nita malah membuang muka seakan mereka tak kenal sama sekali.


Karena penasaran Dini akhirnya membuka pesan tersebut.


[ Hehhh dasar perempuan murahan, jangan sok cantik kamu. Seenaknya kamu tinggalin adikku. Kamu fikir kamu siapa? ]


Dini langsung mengernyitkan keningnya melihat kiriman pesan dari Nita.


[ Maaf Teh, maksudnya apa ya dengan berkata seperti itu? ] send


[ Halahhh gak usah alim, pasti kamu ninggalin Budi karena pacar kamu itu lebih kaya kan? Dasar perempuan miskin silau dengan harta ]


[ Cukup ya Teh, aku gak mau berdebat dengan Teteh. Aku sudah meminta maaf walau mungkin menurut Teteh kata maaf tak cukup. Orang tuaku pun sudah datang ke rumah Teteh meminta maaf pada Abah dan Umi. Bahkan mereka bisa menerima dengan lapang dada ] send


[ Jangan kamu samakan aku dengan Abah dan Umi yang selalu diam mengalah. Aku tak terima adikku disakiti dan keluargaku di permalukan ]


[ Ya gimana Teteh saja yang penting aku sudah minta maaf. Ok? ] send


" Malesin amat sih ya ampun. Lebih baik aku blokir nomornya biar tak mengganggu. Belum apa apa udah ada gangguan saja "


Sebelum membuat surat pengunduran diri Dini membuka filenya yang berisi foto fotonya.


Ternyata banyak foto Budi yang menghiasi galerinya. Dini berniat menghapus semua kenangannya bersama Budi.


Apalagi dia akan segera menjadi istri Deni. Tak ingin sampai terjadi salah faham di kemudian hari apabila tanpa sengaja Deni melihat galeri fotonya.


Walaupun alasannya hanya karena sebuah kenangan, tapi tak selayaknya masih menyimpan foto mantan.


" Maaf ya A' ini emang salahku yang terlalu terburu buru mengambil keputusan untuk menerimamu.


Aku tak menyadari ternyata Mas Deni masih mengisi hatiku. Mungkin saat itu aku butuh teman untuk berbagi. Sehingga tidak memahami isi hatiku sendiri.


Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku yakin kamu akan segera menemukan jodohmu karena kamu memang laki laki baik "


Dini bergumam sambil memandang foto fotonya bersama Budi.


Dengan cepat Dini langsung menghapus semuanya tanpa sisa, dia berharap ke depannya akan baik baik saja.


Entah mengapa dia meyakini Budi belum bisa menerima keputusan Dini, terlebih kakaknya Nita yang dengan berani menyatakan kemarahannya lewat pesan yang dikirimnya tadi.


Hanya satu jam Dini sudah selesai membuat surat pengunduruan diri setelah sebelumnya menghapus semua kenangannya bersama Budi.


" Akhirnya beres semoga besok dilancarkan. Bismillah..."


Dengan cepat Dini membereskan semuanya, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur empuknya setelah membalas pesan dari Deni yang mengucapkan selamat tidur.


Tanpa Dini tau di tempat lain ada laki laki yang menangis dalam diam, menahan segala amarah karena kekalahannya mendapatkan wanita yang dicintainya...

__ADS_1


__ADS_2