
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 30 ( Kunjungan Ke Resto )
Mobil Dini melaju keluar dari pekarangan rumah Deni yang mewah. Dini duduk di kursi sebelah sopir, mobil tersebut dikemudikan oleh bapak mertuanya.
Sepanjang perjalanan Dini terdiam melihat keluar jendela.
" Kamu kenapa Din? pasti kefikiran sifat Mamih mu kan? " tebak bapak mertuanya.
" Sudah gak usah difikirin Papih lebih tahu sifatnya, gak usah diladenin. Tanya Bi Marni dia juga udah khatam bahkan tak pernah akur " lanjutnya lagi.
Mendengar namanya disebut Marni hanya tersenyum " Saya sudah memberitahu Non Dini Pak "
" Terus kamu mikirin apa Din? "
" Nggak Pih aku hanya khawatir tidak bisa membantu Papih dengan baik untuk mengelola Resto. Aku kan gak punya pengalaman Pih "
Dini mencoba berkilah, walau sebenarnya Dini memang sedang memikirkan ibu mertuanya. Dia khawatir ibu mertuanya terhasut temannya tentang kedekatannya dengan bapak mertuanya.
" Apa aku harus jaga jarak dari Papih ya? tapi masa sih kan jadi kasihan Papih " gumam Dini dalam hati.
" Sepertinya Non Dini bukan memikirkan itu Pak, tapi memikirkan ucapan Bu Fitri. Tadi seperti menghasut Bu Tessa "
" Bi tolong jangan cerita sama Papih aku malu " ujar Dini sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Gak usah malu Non justru harus ada keterbukaan supaya tidak ada kesalah fahaman " jelas Marni.
" Memang mereka bicara apa? "
" Gak ada Pih, gak usah Papih fikirin kita fokus aza buat ke Resto nanti ya Pih. Aku dari kemarin udah baca buku soal manajemen, terus sebelum pergi Mas Deni udah ngajarin aku point point pentingnya "
Panjang lebar Dini berbicara hanya untuk mengalihkan perhatian mertuanya. Marni hanya tersenyum melihat hal itu.
Mukhlis melihat Marni dari spion tengah mereka saling tersenyum melihat tingkah Dini seperti anak kecil yang punya salah dan mau menyembunyikan kesalahannya.
Setengah jam perjalanan mereka sudah tiba di Resto yang dituju. Ini merupakan Resto terbesar yang dimiliki keluarga Deni letaknya ada di pusat kota dan di daerah pusat perkantoran.
Resto ini tidak pernah sepi pengunjung selain tempatnya nyaman resto ini juga memakai chef chef handal pilihan sehingga untuk citarasanya tak perlu diragukan lagi.
__ADS_1
" Ayo Din kita harus ketemu Manager dulu, biar Papih kenalin dulu ya "
Dini berjalan mengikuti mertuanya, mereka masuk ke ruang kerja Mukhlis.
" Eh itu bukannya si Dini ya yang dulu pernah kerja disini? "
" Dini yang pacar anaknya si Bos kan? "
" Eh jangan salah sekarang dia dah jadi menantu Bos kita. Berhasil juga dia nikahin anak Bos. Dulu kan dia sampe dibikin kerja rodi sama Bu Tessa "
" Ah paling sekarang dia juga bakal dijadiin jongos sama mertuanya. Atau jangan jangan dia jadi simpanan mertuanya hahaa "
" Husss kamu Li ngomong sembarangan " tegur salah satu temannya.
" Lah iya kamu lihat aza akrab banget, mana suaminya aku denger pergi berlayar lagi. Jijik banget lihat dia kesini lagi " ucap Lili seraya pergi ke dapur.
" Ada masalah apa sih dia kok kayak benci banget sama yang namanya Dini? " ucap Tita yang merupakan karyawan baru jadi dia belum mengenal Dini.
" Kalah saing kali hahaa " ucap salah satu temannya sambil tertawa.
" Udah kamu gak usah dengerin si Lili dia emang orangnya sirikan gitu. Mereka dulu punya masalah. Sebenarnya Dini biasa aza si Lili nya aza yang luar biasa "
" Huhuuu " dia malah mendapat sorakan dari kumpulan perempuan tersebut, namun tak urung mereka akhirnya bubar juga.
Setelah cukup lama berada di dalam bersama manager Resto yang bernama Ronald akhirnya Muklis dan Dini di ajak berkeliling untuk melihat sekitar restoran bahkan sampai melihat ke area dapur.
Untuk Dini sendiri lingkungan Resto tersebut tidaklah asing karena dia dulu pernah bekerja disana walau tanpa bayaran.
Melihat sekeliling mengingatkan Dini ketika dulu dia bekerja sampai lelah hanya untuk menjaga perasaan calon mertuanya.
Ternyata sekarang Dini sudah menjadi menantu pemilik Resto tersebut. Namun niat dulu Dini membantu bukan untuk mencari muka tapi karena Dini orang yang sering merasa tidak enakan sampai akhirnya Dini merasa lelah dan memilih mundur.
Banyak orang baru yang Dini lihat, tapi ada satu perempuan yang menarik perhatian Dini yaitu Lili. Karyawan perempuan yang sering sinis padanya.
Padahal Dini tak pernah merasa punya masalah tapi entah kenapa Dini merasa Lili sangat membencinya. Bahkan ketika sekarang tak sengaja mereka beradu pandang Lili langsung membuang muka.
Dini tak mau ambil pusing andaikan dia berniat buruk pastinya dengan mudah dia memecat Lili. Namun fikiran jeleknya itu dia tepis jauh jauh.
" Bagaiman Din setelah berkeliling kamu tertarik kan? " tanya Mukhlis ketika mereka sedang berdiri di taman Resto bersama Manager Resto dan Marni.
__ADS_1
" Iya Pih aku tertarik lagipula aku bosan di rumah " jawab Dini.
" Baguslah Papih suka semangat kamu, Papih harap nanti Deni pulang kalian akan mengurus Resto kita supaya Papih bisa beristirahat "
" Inshaa Allah Pih, aku juga pengen Mas Deni cepat pulang " sahut Dini sambil tersenyum.
Entah mengapa setiap mengingat Deni hatinya serasa berbunga bunga, dia merasa Deni tak pernah jauh dari nya walau ada di belahan dunia yang lain.
" Pak Ronald tolong antar Dini ke bagian depan supaya dia melihat langsung kondisi Resto " titah Mukhlis pada Manager Resto.
" Baik Pak " Ronald pun berjalan bersama Dini melihat kondisi Resto.
Setelah Dini pergi Mukhlis duduk di sebuah meja bersama Marni " Marni sebenarnya ada masalah apa sampai Dini tak mau bercerita? "
" Itu Pak, Bu Tessa sepertinya cemburu dengan kedekatan Bapak dan Dini. Kalau saya lihat lebih ke perasaan iri jadi Non Dini merasa tak enak " sahut Marni.
" Ada ada saja Tessa ini, padahal apa yang dia mau sudah saya beri. Anak nya pun sudah saya biayai dari kecil bahkan saya tak pernah membedakan mereka. Kamu tahu sendiri kan kalau Mela bukan anak kandung saya "
" Iya saya tahu Pak " sahut Marni.
" Tolong jaga Dini, saya bawa kamu kemari untuk menjaganya terutama dari Tessa. Sejauh ini kesalahan Tessa masih bisa di atasi dan bisa di tolerir. Hanya saja karena Deni tak ada saya takut dia lebih leluasa mengganggu Dini "
" Iya Pak saya mengerti, Bapak jangan khawatir saya pasti menjaga Non Dini dengan baik "
" Nanti setelah Dini datang biarkan kami bicara berdua supaya Dini tidak merasa sungkan " pintanya pada Marni.
Marni hanya mengangguk mendengar perintah dari majikannya. Dia sangat tahu bagaimana sifat Mukhlis karena Marni sudah bekerja sari sebelum Deni lahir.
Setelah puas berkeliling Dini kembali ke tempat Mukhlis duduk, mereka mengobrol sejenak bersama Ronald. Kemudian Ronald pamit karena ada pekerjaan lain menunggu.
" Din ada yang Papih sampaikan padamu. Papih sudah tahu soal sikap Mamihmu "
Dini hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
" Kamu jangan terbawa arus, Papih memilih kamu karena tahu kamu pintar dan kuat. Papih yakin kamu wanita yang tepat mendampingi Deni.
Jangan kamu hiraukan ucapan dan sikap Mamihmu. Kamu kan sudah tahu sifatnya seperti apa. lebih baik kamu buktikan kalau kamu wanita terbaik untuk Deni "
Panjang lebar Mukhlis menasehati Dini agar bisa bersabar dengan sikap ibu mertuanya selagi belum melebihi batas. Namun Mukhlis berjanji akan menegur istrinya untuk tidak berfikiran buruk dan mulai menerima Dini.
__ADS_1
Mendengar penuturan mertuanya Dini merasa lega dan bisa sedikit tersenyum.