
" Gara Gara Pergi Berlayar
( Fitting Baju Pengantin )
Pukul lima sore mobil SUV berwarna putih milik Deni sudah terparkir didepan kantor Dini.
Sebentar lagi jam pulang karyawan hari ini Seni berencana fitting baju untuk pernikahannya.
Dini tak membuang waktu lama dia ingin menjadi orang pertama yang keluar dari kantornya.
Dia tak mau menjadi bahan pembicaraan teman temannya lagi.
Namun tetap saja Vika dan Wida yang belum puas merundung Dini mengekorinya dari belakang.
" Buru buru amat Wid pulangnya, udah dijemput pangerannya ya? " sindir Vika.
Dini tak menanggapinya dibiarkan saja bahkan kedua orang itu dianggapnya manusia astral.
Dia melangkah dengan santai tepat di depan pintu Pak Yanto kembali menyapa " Bu Dini tadi ada laki laki ganteng nyari Bu Dini sekarang nunggu di mobilnya "
" Iya makasih Pak Yanto " jawab Dini sambil tersenyum.
Dari kejauhan Deni melambaikan tangannya.
" Saya duluan ya Pak " ucap Dini. Mata Vika dan Wida langsung mengikuti kemana Dini berjalan.
" Wah pantesan Wid si Dini pilih yang baru, lihat mobilnya aza keren ternyata dia matre juga ya "
" Wah beneran si Dini, ternyata kalem kalem gitu matre juga ya "
" ekhem ekhem " Pak Yanto berdehem.
" Apa sih Pak Yanto berisik " mata Wida dan Vika fokus melihat Dini yang memasuki mobil Deni.
Pak Yanto menarik blazer Wida supaya melihat ke arah belakang. Reflek Wida pun ikut berpaling.
Degh
" Eehh Pak Budi maaf Pak " mendengar nama Budi disebut Vika ikut melihat ke belakang.
" Duh mati aku " gumamnya pelan.
" Maaf saya mau lewat " ucap Budi terkesan dingin.
" Silahkan Pak " Pak Yanto yang menjawab Budi.
" Duh gimana dong? " tanya Wida.
" Ya udah gimana lagi udah kejadian " jawab Vika sambil berjalan keluar.
***
Dini masuk ke dalam mobil Deni tak mempedulikan banyak pasang mata yang memperhatikannya.
__ADS_1
Bukan hanya lingkungan di dalam kantor, lingkungan luar kantor pun banyak yang mengetahui jika Budi dan Dini memiliki hubungan khusus.
Mereka pernah mendapat julukan pasangan ideal karena begitu seimbang yang laki laki tampan dan yang perempuan cantik.
Banyak perempuan yang merasa iri pada Dini karena dapat menaklukan Budi yang terkenal pendiam.
Begitupun laki laki, banyak yang merasa iri pada Budi karena bisa mendekati Dini. Apalagi setelah santer terdengar mereka akan bertunangan.
Sebagian sudah mengetahui batalnya pertunangan mereka, dan sebagian lagi belum mengetahui.
Maka bagi yang belum mengetahui pertunangan Budi dan Dini batal mereka merasa heran mengapa Dini dijemput laki laki lain bahkan tingkat ketampanannya melebihi Budi pun dengan penampilannya.
" Kayaknya kamu jadi idola deh di kantor, dari tadi aku perhatiin banyak mata laki laki dengan pandangan kagum padamu " ucap Deni sambil menyalakan mobilnya.
" Ah sudah Mas gak usah mulai lagi deh. Lagian perasaan aku mah biasa.aza kok " jawab Dini.
" Masih Dini yang dulu, Dini yang rendah hati. Oh ya aku lupa belum bilang hari ini jadwal fitting baju pengantin. Kamu gak ada acara kan? biar kita kesana "
" Engga Mas, lagian waktu kita udah mepet semua persiapan harus buru buru dilakukan. Pasti aku dahulukan kepentingan pernikahan kita "
" Iya kamu bener. Sayang kamu lapar gak kalau misal lapar kita ke resto dulu gimana? "
" Gak Mas aku belum lapar, nanti aza pulang dari butik ya "
" Oke " di dalam mobil Deni sering mencuri pandang ke arah Dini. Sangat terlihat kalau Deni sangat mencintai Dini.
" Dini sayang kok kamu diam aza, apa ada masalah? bicaralah "
" Gak ada Mas " jawab Dini singkat.
Dini terlihat ragu ragu berbicara, namun Deni tak mau memaksa calon istrinya karena tak mau membuat perasaannya menjadi tak nyaman.
" Mmhhh, Mas mulai besok aku mau resign " Deni yang sedang menyetir langsung melihat ke arah Dini.
Mata Deni membulat tangan kirinya langsung menggenggam tangan Dini. Dia terlihat senang mendengar berita ini.
" Alhamdulillah, ada angin apa rupanya tiba tiba berubah fikiran? "
" Gak ada Mas, setelah aku fikir fikir ada baiknya aku resign dari sekarang saja. Aku bakal ikut saran Mas untuk merintis usaha kuliner "
" Baguslah sayang, kalaupun kamu tak bekerja Mas masih sanggup memberimu nafkah hasil keringat Mas sendiri "
" Aku percaya Mas " ucap Dini sambil tersenyum manis.
***
Di butik
Dini sedang mencoba pakaian pengantin yang akan digunakannya nanti.
Dia keluar dari fitting room sambil menggunakan kebaya modern berwarna putih untuk akad nanti.
" Mas kamu suka gak? " ucap Dini sambil berdiri di depan Deni.
__ADS_1
Deni melihat ke arah Dini " Bagus sayang aku suka, kamu pakai apapun pasti terlihat cantik "
Dini langsung tersipu malu " gombal " ucapnya.
Kemudian Dini dan Deni mengenakan gaun pengantin untuk acara pesta.
Mereka melihat cermin dan saling menggenggam tangan. " Rasanya bener bener seperti mimpi. Mas pengen buru buru akad hehee "
Para pekerja butik tersenyum mendengar ucapan Deni yang begitu polos.
" Mas malu banyak orang Ya Allah "
" Heheee " Deni hanya terkekeh.
Setelah mencoba beberapa gaun akhirnya mereka menjatuhkan pilihan pada gaun berwarna peach.
Warna itu merupakan warna favorit Dini namun Deni tak keberatan untuk mengenakannya.
Modelnya yang simple namun tetap terlihat elegan dan mahal.
Setelah dirasa cukup akhirnya mereka berdua pulang dan mampir ke sebuah resto.
Sambil menunggu pesanan mereka datang Deni bertanya pada Dini.
" Sayang apa ada masalah lain yang belum aku tahu? Sebaiknya kita harus sudah mulai terbuka agar tak terjadi salah faham"
" Iya Mas, tapi aku minta kamu jangan marah ya. Aku resign karena merasa tak nyaman di kantor "
" Apa karena kamu membatalkan pertunanganmu? " Deni tetap bersikap tenang.
" Iya Mas " jawab Dini sambil tertunduk.
" Maafkan Mas ya Din sudah membuatmu tak nyaman "
" Gak papa Mas aku udah perhitungkan resikonya. Lagipula ada baiknya aku segera resign. Tadi A'Budi menghampiriku di meja.
Tapi aku gak sendirian Mas di sebelahku ada Siti dan di ruanganku banyak orang " wajah Dini menyimpan kekhawatiran.
Deni terpaku melihat Dini dan memandang matanya lekat " Terima kasih kamu sudah menjaga diri, Mas percaya sama kamu Din. Syukurlah kalau kamu mau mengundurkan diri tanpa Mas paksa hehee "
" Syukurlah Mas tak marah, tadi aku sudah takut Mas "
" Untuk apa Mas marah. Besok Mas akan mengantarmu menghadap atasanmu. Besok langsung bawa surat pengunduran dirinya ya "
Dini menganggukan kepalanya. Obrolan mereka terhenti karena pesanan mereka sudah siap. Dan langsung menyantap makanan yang dihidangkan dengan lahap.
" Din apa boleh Mas tahu ada apa Budi menghampirimu? " tanya Deni setelah selesai makan.
" Aku gak tahu Mas, dia bilang ingin bicara. Namun aku menolaknya, kalau soal pertunangan rencana Ayah tadi siang mau ke rumah A'Budi menemui orang tuanya untuk meminta maaf "
" Apa kita harus bicara bertiga lagi agar Budi merelakanmu bersama Mas? "
" Tak usah Mas, itu kan sudah disampaikan. Untuk urusan keluarga ada ayah yang menyelesaikannya "
__ADS_1
" Baiklah Mas percaya padamu "