
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 47 ( Meminta Pertanggung Jawaban )
Mukhlis cukup terpukul setelah mengetahui Mela hamil di luar nikah. Walaupun statusnya ayah sambung tapi dia benar benar menyayangi Mela.
Mukhlis pernah menegur Mela yang kerap keluar malam namun Tessa merasa tidak terima yang berakhir dengan pertengkaran mereka.
Akhirnya Mukhlis bersikap tidak langsung menegur Mela tapi dengan cara menegur Tessa agar mengingatkan Mela supaya tidak terjadi salah faham lagi.
Cara itu pun tidak efektif karena Tessa sering menutupi tingkah laku Mela. Setelah kejadian ini Mukhlis benar benar marah karena Tessa tidak bisa mendidik Mela dengan baik.
Pikiran Mukhlis kini tertuju pada Dini, dia langsung mengarah ke apartement Dini. Dia ingin bertanya sosok Budi pada Dini, dalam pikiran Mukhlis setidaknya Dini pernah dekat dengan Budi.
Sesampainya di Apartement Mukhlis langsung masuk ke kamar yang diperuntukannya.
Marni heran melihat tingkah majikannya, namun dia memilih mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Pukul 12 siang Mukhlis masih belum keluar dari kamarnya, Marni membangunkannya untuk makan siang.
Mukhlis hanya makan sebentar kemudian masuk lagi. Banyak telepon masuk dari Tessa tapi di selalu abaikannya.
Untuk urusan kantor dia tak khawatir karena memiliki wakil di tiap cabang restonya. Tugasnya hanya sesekali mengontrol saja.
Marni yang mengkhawatirkan majikannya langsung mengirim pesan pada Dini agar segera pulang karena Mukhlis menunggunya. Tak lupa Marni pun menceritakan kondisi Mukhlis yang terlihat kusut.
Dengan cepat Dini membalas pesan tersebut dan berjanji pulang lebih cepat ke rumah. Dia pun ikut merasa khawatir mendengar keadaan mertuanya.
Jam 5 sore Dini sudah tiba di apartementnya. Seperti biasa Marni akan menjemputnya di basement. Karena itu salah satu tugas yang diberikan Deni dan Mukhlis.
" Papih kenapa Bi? " tanya Dini ketika di dalam lift.
" Saya gak tahu Non tapi sepertinya ada masalah di rumahnya Pak Mukhlis "
" Mmhhh gitu ya, biarkan saja Papih istirahat dulu ya. Nanti aku mandi dulu, udah gerah banget "
" Baik Non " jawab Marni.
pukul setengah tujuh malam seperti biasa Dini akan keluar dari kamarnya untuk makan malam setelah selesai membersihkan diri dan menunaikan sholat maghrib.
Mukhlis pun sudah tahu kebiasaan Dini, dia pun keluar dengan keadaan yang lebih baik.
" Pih " sapa Dini seraya mencium punggung tangan mertuanya.
" Bagaimana kabar mantu dan cucu Papih? " tanya Mukhlis sambil tersenyum.
" Kami baik Pih, hanya nafsu makan aku bertambah. Papih lihat kan pipiku jadi Chubby hehee " jawab Dini sambil terkekeh.
" Alhamdulillah, tak apa biar cucu Papih sehat. Nanti setelah lahiran kamu bisa kembali langsing kan hehee " jawab Mukhlis sambil terkekeh.
Mereka bertiga tertawa di meja makan, kemudian menyantap hidangan yang sudah disediakan Marni.
Selesai makan Mukhlis langsung menuju ruang TV, Dini mengerti kebiasaan mertuanya biasanya ada hal penting yang harus di bicarakan.
__ADS_1
" Apa ada masalah Pih? " tanya Dini sambil menghenyakan bokongnya di sofa.
Mukhlis melihat ke arah Dini lalu beralih ke TV yang menyala kemudian dia mengambil remote dan mematikan siaran TV tersebut.
" Iya Din, ini mengenai Mela " jawabnya singkat.
" Mela? ada masalah apa Pih? "
" Mela hamil "
" Hahh hamil? jangan bilang Mela hamil sama Budi " Dini kaget dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan miliknya.
Mukhlis hanya mengangguk perlahan sambil menatap langit langit apartement.
" Ternyata mereka sudah seintim itu ya Pih. Budi sudah tahu Mela hamil? " Dini kembali bertanya.
" Papih belum tahu, tapi sudah Papih suruh Mela buat memberitahu Budi tentang kehamilannya. Menurut kamu Budi gimana Din? "
" Mmmhhhh maaf Pih, maksudnya gimana? " Dini merasa tak nyaman dengan pertanyaan mertuanya apalagi ini menyangkut Budi.
" Gak apa apa Din, Papih cuma nanya aza karakter Budi seperti apa? Walau bagaimanapun Papih ingin Mela mendapatkan suami yang baik " Mukhlis menyadari ketidaknyamanan Dini.
" Heheee, dulu pas jalan sama aku sih baik Pih. Tapi pas menjelang pernikahan dia sempat kasar sama sku untung aza ada Mas Deni yang melindungi.
Mas Deni pernah cerita kalau Budi tak sebaik yang aku kira. Tapi masalahnya apa aku kurang tau Pih "
" Bagaimana keluarganya Din? " tanya Mukhlis lagi.
" Abah sama Umi masih sehat, Budi memiliki satu kakak perempuan bernama Nita tapi aku gak terlalu dekat Pih sama Nita.
Sampai sini Mukhlis faham Budi dari keluarga sederhana. Buatnya itu tak masalah yang terpenting sikap Budi sendiri.
Rupanya Deni lebih banyak tahu tentang Budi. Mukhlis langsung pamit pulang pada Dini karena berniat menghubungi Deni. Agar bisa berbicara lebih nyaman.
***
Sedari siang Mela sudah menghubungi Budi, tapi panggilannya selalu di abaikan. Mela mulai merasa gelisah dengan sikap Budi yang mulai mengabaikannya.
Tapi dia berusaha tenang dan berpikir semuanya akan baik baik saja.
" Ini terakhir kali aku mencoba menghubunginya. Semoga saja ini berhasil " gumam Mela.
Tuuuttt tuuutt tuuutt
Panggilannya masih di abaikan, Mela berdiri dan pergi ke toilet dia bersiap untuk pergi keluar.
Kali ini pakaiannya sedikit tertutup, karena tak ingin orang lain mengetahui kehamilannya sebelum dia resmi menikah dengan Budi.
Mela keluar dari kamarnya dengan cara mengendap ngendap. Sayang sekali dia kurang beruntung ketika menuju tangga dia berpapasan dengan Tessa.
" Mau kemana kamu ini sudah malam? " Tessa bersuara dengan keras.
" Mm-miihh a-aku mau keluar sebentar " jawabnya terbata bata.
__ADS_1
" Kamu mau bikin ulah lagi? kamu mau bikin Papih tambah marah. Kamu kenapa sih Mel gak bisa berpikir waras. Coba fahami posisi Mamih, jangan seenaknya kamu saja " bentak Tessa sambil mendorong kepala Mela.
Mata Mela langsung berembun, hatinya menjadi sensitif setelah dia berbadan dua.
" Ada apa ini? " tiba tiba Mukhlis sudah ada di belakang mereka.
" A-anu Pih Mela mau ke bawah makan hehee "
Melihat tampilan Mela tentu saja Mukhlis tak percaya. Apalagi wajah mereka berdua terlihat pucat.
" Pih aku mau menemui Budi, dari siang aku telepon tapi belum di angkat " ucapnya lirih
" Tidak usah kamu temui dia, sudah kamu masuk ke dalam. Lebih baik kamu beristirahat saja " tukas Mukhlis.
" Tapi Pih "
" Sudah kamu ikuti aza ucapan Papih gak usah banyak komentar " Tessa menyela ucapan Mela.
Mela pun kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk, ada rasa takut di hatinya. Bagaimana seandainya Budi menolak bertanggung jawab.
Bagaimana pula nanti masa depannya beserta anak dalam perutnya. Menyesal?
Mungkin ada sedikit perasaan itu menyelinap di hatinya. Dia mengira semua jalan akan mudah ternyata semua diluar perkiraannya.
Ting
Ponsel Mela berbunyi dan melihat ada notifikasi pesan masuk. Dengan malas dia berusaha membukanya.
[ Ada apa? maaf ponselku tertinggal di rumah ]
Ternyata pesan tersebut dari Budi. Mela merasa sedikit tenang ternyata Budi bukan mengabaikannya. Gegas dia menghubungi Budi.
Tuuttt tutttt
[ Hallo ]
[ Budi, papih ingin bertemu denganmu ]
[ Untuk apa? ]
[ Aku, hamil Bud..]
Hening tak ada suara...
[ Hallo hallo ]
[ Ya, nanti aku pikirkan dulu ]
[ Kenapa harus berpikir, ini an.... ]
Tuuutttt
Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Budi.
__ADS_1
" Aargghhh " Mela berteriak tertahan sambil membanting ponselnya kemudian dia menangis sambil memeluk bantal.