Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Menenangkan Diri


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 50 ( Menenangkan Diri )


Pov Budi


Ponselku terus berbunyi namun tak ku hiraukan, apalagi pekerjaan sedang menumpuk sekali. Aku punya rencana untuk mengambil cuti tahunan untuk berlibur jadi semua pekerjaan aku coba selesaikan lebih cepat.


Pulang kerja aku langsung pulang ke rumah karena merasa lelah, kudengar ponselku berbunyi kembali. Penasaran juga siapa sih yang menghubungiku berkali kali apa sepenting itu?


Karena semenjak berpisah dengan Dini aku sudah tak mempedulikan yang lain. Biasanya ponsel tak pernah lepas dari tangan atau dari pantauanku. Aku selalu menunggu kabar dari Dini.


Oh ternyata dari Mela panggilannya sampai puluhan seperti ini, sepenting apa sih urusannya. Terkadang aku bosan dia menghubungiku hanya sekedar bertanya sedang apa, sudah makan belum, sudah sampai rumah belum dan bla bla bla.


Alay sekali seperti anak ABG saja, Mungkin kalau aku menyukainya pasti akan kubalas dengan senang hati. Tapi sejujurnya aku hanya menganggapnya teman biasa. Kalau pun hari itu terjadi hal yang tidak terduga itu karena aku sedang mabuk. Dan aku pun sangat menyesalinya.


Lebih baik aku telepon balik saja, siapa tahu memang ada hal penting.


Tuuttt tuuutt


[ Ada apa? maaf ponselku tertinggal di rumah ]


Tak perlu menunggu lama panggilanku langsung di jawabnya.


[ Hallo ]


[ Budi, papih ingin bertemu denganmu ]


[ Untuk apa? ]


[ Aku, hamil Bud..]


Aku cukup kaget mendengarnya, hamil? Bagaimana bisa?


Malam itu aku mabuk jadi benar benar tak ingat, malam itu yang kulihat dan terbayang hanya wajah Dini sehingga aku mau mencumbunya.


[ Hallo hallo ]


[ Ya, nanti aku pikirkan dulu ]


[ Kenapa harus berpikir, ini an.... ]


Tuuutttt


Aku matikan sambungan telepon secara sepihak, aku benar benar shock dan belum bisa menerima berita ini.

__ADS_1


Mela hamil?


Bagaimana ini?


Apa itu memang anakku?


Ah aku benar benar pusing, rasanya tak bisa berpikir. Apa yang harus kukatakan pada Abah dan Umi. Hancur sudah semua rencanaku.


Aku menghamili adik ipar Dini, orang tuaku pasti malu dan sangat marah. Sebaiknya aku pergi menenangkan diri terlebih dahulu beberapa hari ini.


Lagipula semua pekerjaan penting sudah aku bereskan. Jadi mendadak cuti pun tak akan ada masalah.


Aku segera memasukan pakaianku ke dalam satu tas karena tak banyak yang kubawa. Aku akan pergi pukul 5 pagi nanti supaya Umi tak curiga.


Lebih baik aku masukan sekarang saja ke dalam mobil supaya besok tak perlu mengangkut barang. Andaikan aku bertemu orang rumah mereka tak akan tahu aku sudah membawa pakaianku.


Untuk urusan kantor hal hal yang penting sudah aku selesaikan, izin cuti aku bisa menghubungi bagian HRD by phone. Sekarang aku butuh menenangkan pikiranku saja.


Selepas shubuh aku pergi ke daerah Lembang. Mungkin dengan suasana dingin akan membawa pikiranku pun menjadi dingin, kembali fresh tak sekalut sekarang.


Sudah tiga hari aku menginap di sebuah wisma yang sangat asri. Pengunjungnya pun tak terlalu banyak, justru ini yang kucari sebuah ketenangan.


Dalam dua hari ini Mela terus menghubungiku dan dia terus menanyakan keberadaanku. Aku yakin orang tuanya mendesak dia untuk mencariku agar bertanggung jawab.


Sebejat apapun laki laki tentu saja menginginkan wanita baik untuk pendamping hidupnya. Makanya dulu aku memilih Dini karena yakin dia wanita baik baik dan akan menjadi ibu sempurna bagi anak anakku.


Walaupun aku harus berpura pura menjadi laki laki yang baik dan menjauh dari lingkungan pergaulanku tapi tak apa aku masih bisa melakukannya secara sembunyi sembunyi.


Hal yang membuat aku pusing bukan karena Mela hamil, karena aku sudah biasa memiliki pacar hamil lalu mereka akan kusuruh untuk menggugurkannya.


Aku hanya bingung karena niat awalku mendekati Mela agar tahu kabar Dini dan bisa mendekatinya kembali, tapi ternyata Mela malah menjebakku.


Gara gara Mela menyampaikan kabar kehamilan Dini membuat aku frustasi dan sedih akhirnya aku minum banyak sampai mabuk.


Dia pasti menjebakku seharusnya pada saat aku mabuk dia membawaku pulang tapi malah membawaku ke hotel.


Ah si*l gara gara Mela semua rencanaku gagal, masih berharap pada Dini tapi malah ketemu dia dasar jal*ng.


Apa Abah akan merestuiku menikahi Mela ya, karena dia sepertinya bukan tipe menantu idaman Umi dan Abah seperti Dini.


Apalagi Mela sedang mengandung anak di luar nikah pasti akan membuat mereka sangat malu. Umi dan Abah yang sangat fanatik memiliki cucu di luar nikah. Aku tak bisa membayangkan hancurnya hati mereka. Aku saja selalu menyembunyikan kenakalanku. Kenapa juga si Mela dan keluarganya datang ke rumahku


Ting


Ada pesan masuk lagi, pasti ini dari Mela, lebih baik aku biarkan saja. Aku masih butuh ketenangan. Bosan juga membaca pesannya yang merengek terus. Suruh siapa dia membawaku ke hotel malam itu.

__ADS_1


Tapi penasaran juga siapa tahu dari temanku lebih baik aku baca dulu.


Ini kan nomor baru, aku gak kenal. Siapa ya kira kira.


[ A' sebaiknya kamu pulang, kami menunggu pertanggung jawabanmu. Jadilah pria sejati jangan jadi pengecut. Kami sudah menemui Abah dan Umi. Dini ]


Haahhh ini Dini?


Ternyata dia menghubungiku. Malu juga dia tahu kalau Mela tengah hamil walau aku masih ragu dia anakku atau bukan. Intinya Dini tahu kalau aku sudah meniduri Mela.


Rusak sudah image ku di depannya. Andai Dini tahu saat aku melakukannya hanya wajah Dini yang terbayang bukan Mela.


Gimana ya aku balas jangan ya? aku kangen banget sama dia. Tak apa biar kucoba saja lah.


[ Maaf Din bukan aku tak mau bertanggung jawab, aku hanya butuh waktu menenangkan diri saja. Beri waktu aku untuk berpikir. Aku masih shock belum siap menerima ini ]


Aku harap Dini mau menjawab pesanku, sudah lama kami tidak berbincang. Aku benar benar merindukannya.


Kalau boleh jujur aku ingin membalas dendam pada keluarga Deni karena sudah menggagalkan pertunanganku.


Apa aku tinggalkan saja Mela?


Ting


Ada pesan masuk, aku harap ini dari Dini lagi.


[ Kami tunggu kehadiran kamu di rumah kami. Tolong jangan buat keluarga kami menunggu lagi dan jangan membuat hal yang memalukan diri sendiri. Terima kasih ]


Dia benar benar meminta pertanggung jawaban. Apa dia tahu yang sedang kupikirkan barusan. Balas dendam, ide yang bagus juga.


Tunggu mereka sudah ke rumah berarti Abah dan Umi sudah tahu masalahku, ah gawat lancang sekali mereka berani datang menemui Umi dan Abah. Sebaiknya aku harus segera pulang untuk menyelesaikan semuanya.


Malam itu juga aku pulang ke rumah walaupun sudah larut. Sebaiknya aku segera menjelaskannya pada Abah dan Umi.


Hanya butuh satu jam perjalanan aku sudah sampai rumah karena jarak Lembang ke rumahku tak terlalu jauh apalagi ini sudah malam jalanan cukup lengang.


Aku tiba jam 11 malam, lampu rumah sudah mati sepertinya mereka sudah tidur. Baguslah supaya tak ada drama keluarga terlebih dahulu.


Aku berjalan perlahan supaya tak menimbulkan suara.


Ceklek


Tiba tiba lampu rumah menyala dengan terangnya, sampai membuat silau mataku.


" Darimana saja kamu Bud? "

__ADS_1


__ADS_2