
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 51 ( Kedatangan Budi Dan Keluarga )
Ceklek
" Darimana saja kamu Bud? " Nita kakak Budi sedang duduk di ruang tamu.
Sepertinya dia sengaja menunggu kepulangan Budi. Sampai sengaja menunggu dalam kondisi ruangan gelap.
" Ckck bukan urusanmu " jawab Budi mencebikan bibirnya.
" Tentu saja ini urusanku, karena masalahmu menyangkut keluarga. Aku tak mau kau membuat malu keluarga lagi seperti saat kau batal bertunangan. Andai saja malam itu aku ikut mungkin kejadiannya tak akan seperti itu "
" Yang ada acaranya tambah gagal, tunangan batal huru hara sudah pasti " balas Budi dengan nada kesal.
" Wajar saja karena mereka sudah mempermalukan keluarga kita. Kamu kira Abah dan Umi tidak malu karena kejadian itu. Dan sekarang kamu mau bikin malu lagi dengan menghamili adik ipar Dini.
Ckck murahan sekali caramu untuk membalas dendam dan benar benar bisa di tebak. Bisamu hanya mempermalukan keluarga saja "
Budi tersenyum menyeringai dan selanjutnya dia tertawa mendengar ocehan Nita.
" Hahaaa kamu pikir kamu lebih baik dari aku hahh? Kau lupa dua kali menjanda dan menggugurkan kandungan karena tak tahu siapa ayahnya. Jangan sok suci di depanku " bentak Budi tak terima dengan perkataan kakaknya
" Brengs*k tak perlu kau mengungkit kesalahanku dulu.."
Belum beres Nita berkata, Budi memotong perkataannya.
" Dan kau juga tak perlu mengurusi urusanku. Kita sama sama manusia brengs*k dan belum bisa membahagiakan orang tua kita. Tapi aku tak pernah menghakimimu.
Satu lagi, aku tak suka kau mencampuri urusanku. Jangan sampai aku menyakitimu karena mulutmu yang tak bisa di jaga "
Ucap Budi dengan kasar dan membalikan semua perkataan Nita bahkan dia mengancam kakak perempuannya.
Tanpa mau mendengar balasan kakaknya Budi langsung pergi, terdengar umpatan umpatan Nita dengan ucapan ucapan kasarnya.
" Brengs*k ikut campur urusanku, sudah ngerasa paling bener rupanya " ucap Budi sambil memukul pintu kamarnya.
Diluar kamar Budi karena mendengar keributan lebih tepatnya makian Nita pada Budi, Abah dan Umi Budi terbangun dari tidurnya.
" Ada apa ini, kenapa kamu teriak teriak Nita? " Abah dan Umi datang tergopoh gopoh.
" Itu Mi si Budi gak bisa di omongin, di nasehati malah nyolot " ucap Nita dengan nafas memburu.
" Emang Budi udah pulang? " tanya Umi sambil melihat ke arah kamar Budi.
__ADS_1
" Udah Mi baru saja pulang, bikin kesel aja. Dinasehatin malah marah marah "
" Mungkin kamu nasehatinnya kasar. Kalau nasehati orang itu harus lembut supaya orangnya gak kesinggung " balas Umi.
" Halahh Umi mentang mentang sama anak laki laki kesayangan dibelain teruuss " bukannya terima dinasehatin Nita malah balik marah pada Umi nya.
" Kamu juga sama Nit, dinasehatin malah balik marah " balas Umi.
" Udah Mi, biarkan saja gak usah diladenin. Syukurlah kalau Budi sudah pulang. Besok saja kita ngobrol sama dia. Dia juga pasti lelah kalau kita ajak bicara sekarang. Lebih baik kita istirahat saja "
" Iya Bah, Abah duluan saja Umi mau ke kamar Budi sebentar " yang lain kembali ke kamarnya, Umi datang ke kamar mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
" Bud, kamu sudah makan nak? " Umi memanggil dari luar.
Senakal apapun Budi dia tetap sayang pada orang tuanya. Setiap kenakalan yang dilakukannya tidak pernah melibatkan orang tuanya.
Budi membuka pintu kamar kemudian mencium tangan ibunya " Udah Mi, maaf Budi langsung masuk kamar kirain Budi Umi sudah tidur "
" Ya sudah kamu istirahat ya, besok kita bicara lagi " Umi mengelus pucuk kepala Budi membuat perasaan nyaman di hati Budi.
***
Pagi hari Budi terbangun dan keluar dari kamarnya. Sudah nampak kakaknya sedang berada di ruang TV sedang merawat kuku kuku cantiknya. Mereka berpandangan dengan aura permusuhan.
" Sarapan Bud " ajak Umi.
" Bah " Budi mencium tangan Abahnya.
" Makanlah " Abah nya Budi memang jarang berbicara sehingga membuat Budi sungkan.
Budi memulai sarapannya tanpa banyak bicara. Umi dan Abah nya menemaninya.
" Kamu gak kerja Bud? kemana aja kamu pergi gak memberitahu kami. Kami khawatir, apa kamu gak menganggap kami sebagai orang tuamu? " ujar Umi memulai pembicaraan.
" Maaf Abah, Umi gak ada maksud seperti itu. Budi hanya butuh waktu buat menenangkan diri "
" Apa ini ada hubungannya dengan Mela adik ipar Dini? " kali ini Abah yang bertanya.
" Mmhhh i-iya Bah " sahut Budi terbata bata.
" Apa benar yang mereka ceritakan kemarin, anak yang dikandung Mela anak kamu Bud? " suara Abah kini sedikit meninggi.
Mungkin Abah malu karena di lingkungannya dia sangat terkenal taat beribadah.
__ADS_1
" Iya Bah "
" Huffttt terus apa keputusanmu? "
" Sebagai laki laki Budi akan bertanggung jawab Bah " jawab Budi tegas.
" Bagus Abah suka, tapi Abah ingin bertanya satu hal. Kenapa kamu mendekati Mela apa karena dia adik Deni lantas kamu punya tujuan lain? "
" Enggak Bah, pertemuan kami memang tak sengaja. Dan kejadian itu murni khilaf Bah. Maafkan Budi " sesal Budi.
" Baiklah nanti sore kita ke rumah Pak Mukhlis untuk melamar Mela. Kita tak mau mereka juga menanggung malu. Walau bagaimana pun bayi dalam kandungan Mela itu nanti itu cucu Abah dan Umi. Kamu segera bersiaplah "
Tanpa bantahan Budi menganggukan kepalanya pertanda mengerti.
Setelah pembicaraannya dengan Budi, orang tuanya menghubungi Mukhlis dan memberitahu nanti sore mereka akan berkunjung ke rumah untuk melamar Mela.
Dengan perasaan lega Mukhlis menerima kabar baik tersebut. Dia pun menyuruh Tessa untuk menyiapkan semuanya. Mela sedikit kesal padahal dia sudah senang Budi menghilang. Andai Mela tidak hamil terlebih dahulu sebenarnya Tessa malas menerima lamaran Budi.
Menurutnya Budi bukan menantu idamannya. Dia berharap Mela menikah dengan pengusaha yang akan menjamin hidupnya nanti.
Sorenya sesuai janji keluarga Budi datang bersama beberapa orang keluarganya.
Kedatangan mereka di sambut Mukhlis dan Tessa dan beberapa kerabatnya juga bahkan Dini juga hadir. Walau kabarnya sangat mendadak tapi Dini menyempatkan waktu untuk datang atas permintaan Mukhlis.
Keluarga Budi datang menggunakan tiga mobil berbeda. Mereka sudah tiba dan memarkirkan kendaraan mereka di halaman rumah Mukhlis yang cukup luas.
Mukhlis dan Tessa sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan keluarga Budi.
Senyum ramah tersungging di bibir Mukhlis walaupun hatinya belum tenang jika Mela belum sah menjadi istri Budi. Setidaknya ini langkah yang bagus yamg bisa dilakukan saat ini.
" Mari Pak, Bu masuk kami sudah menunggu kedatangannya " ucap mukhlis sambil menyalami tamu satu persatu.
Mereka pun membalas ramah Mukhlis kemudian duduk di ruang tamu. Mata Budi memindai sekeliling dia terlihat sering mencuri pandang seperti mencari seseorang.
" Kamu cari siapa Bud? nyari Dini hahaa " bisi Nita di telinga Budi.
" Diam kamu " bentak Budi pelan sambil seraya menatap tajam kakak perempuannya. Nita diam tapi senyumnya masih terukir seakan mengejek Budi.
Tak lama setelah membicarakan banyak hal akhirnya Mela dipanggil untuk datang ke ruang tamu dan Dini berada di belakang Mela.
" Dini " pelan tapi masih terdengar Budi menyebut nama Dini.
Budi terlihat sangat mengagumi Dini, siapapun akan setuju ketika melihat Dini begitu cantik meskipun dalam kondisi hamil.
Senyum Budi terlihat merekah, dan kejadian itu tertangkap mata Mukhlis dan orang tua Budi.
__ADS_1
" Budi " ucap Abah Budi sambil menatap tajam Budi.