Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Dini Merusak Acara


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 52 ( Dini Merusak Acara )


" Dini " gumaman Budi terdengar jelas di telinga orang orang di ruangan tersebut.


Abah Budi malu dia sampai menegur anaknya " Budi ".


Sadar dengan kesalahannya Budi langsung tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.


Mukhlis sampai melirik ke arah Budi, Dini dan Mela bergantian. Wajah Dini menjadi pias dan mundur beberapa langkah. Dia malu di hadapan para tamu terutama pada mertuanya.


Itulah yang Dini khawatirkan, mengapa Dini menolak permintaan Mukhlis ketika mengundangnya datang di acara ini. Dia takut mertuanya marah meski ini di luar kendalinya.


Mukhlis memandang Dini bukan karena marah, tapi dia merasa bersalah menyimpan Dini di posisi serba salah. Seharusnya ketika Dini menolak hadir Mukhlis tak memaksanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur sudah tak dapat dikembalikan lagi.


" Silahkan duduk Bapak dan Ibu " Mukhlis memecah kecanggungan dua keluarga tersebut.


Nita tersenyum sinis dan dia ingin menertawakan Budi karena tak bisa mengontrol dirinya ketika bertemu Dini. Sedangkan Tessa dalam hati dia mengumpat Dini ingin rasanya memaki menantunya itu.


" Sial*n bahkan pada saat acara penting seperti ini saja Dini merusak acara putriku. Si Budi juga gak jelas sudah nidurin si Mela tapi belum move on dari Dini " gumamnya dalam hati.


Beberapa orang memandang sinis ke arah Dini, apalagi mereka tahu kisah Budi dan Dini. Mereka sangat menyayangkan keputusan Dini meninggalkan Budi sehingga munculah bibit bibit permusuhan.


Terutama Nita kakak Budi dia sangat membenci Dini entah dengan alasan apa. Karena sebelum batal acara pertunangan itu pun dia selalu berlaku kasar pada Dini.


Tatapan sinis matanya benar benar menusuk. Untung saja Dini sudah kebal dan merasa tak punya urusan dengan Nita sehingga dia memilih untuk mengabaikannya.


Bahkan kebanyakan keluarga Budi memandang dan menilai Dini sebagai wanita matre karena meninggalkan Budi demi Deni yang lebih segalanya tanpa tahu permasalahannya.


Hanya Abah dan Umi yang masih terlihat ramah dan bisa menerima Dini. Mereka menganggap Dini dan Budi tidak berjodoh dan tidak di gariskan untuk hidup bersama.


Namun yang sebenarnya paling terpukul adalah Mela karena Budi belum bisa menyisihkan Dini di hatinya. Padahal sekarang Mela sedang mengandung anak Budi dan sebentar lagi akan menyandang gelar Nyonya Budi.


Acara pun dimulai dengan beberapa obrolan serius dan menentukan hari pernikahan Budi dan Mela.

__ADS_1


Karena mereka khawatir perut Mela terlihat makin membesar mereka memutuskan untuk segera menikahkan secepatnya walaupun itu harus sederhana karena menurut orang tua Budi kondisi Mela dan bayinya saat ini lebih penting.


Agar mendapat status dan kejelasan, meski mereka dari pihak laki laki tapi mereka sangat bertanggung jawab. Membuat Pak Mukhlis terharu dan merasa Mela beruntung mendapatkan mertua sebaik itu.


Dia berharap Mela dapat berubah jika sudah menikah nantinya. Mela pun terlihat menghembuskan nafas dan merasa semua bebannya lepas setelah mendapat kepastian tentang masalahnya.


" Alhamdulillah berarti kedua keluarga sepakat ya pernikahan akan diadakan seminggu lagi " ujar Mukhlis di tengah tengah pembicaraan mereka.


" Iya sesuai pembicaraan sebelumnya, maafkan kami mungkin nanti Pak Mukhlis akan kerepotan menyiapkan semuanya "


" Tidak masalah Pak, saya lebih tenang jika ada kepastian seperti ini " jawab Mukhlis.


" Untuk kedepannya Mela dan Budi tolong tidak perlu bertemu dulu, hanya untuk berjaga jaga saja " ujar Abah menasehati Budi dan Mela.


" Itu lebih bagus menurut saya. Saya rasa tentang pernikahan sudah jelas dari masing masing keluarga akan menyiapkannya.


Sekarang kami ingin mengajak seluruh keluarga untuk menikmati hidangan yang sudah kami sediakan.


Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan karena acaranya benar benar mendadak " Mukhlis meminta maaf pada keluarga Budi karena khawatir mereka kecewa dengan kunjungan tersebut.


" Tidak apa kami mengerti Pak, lagipula tujuan utama kami kesini bukan untuk makan hehee " balas Abah sambil terkekeh.


Ketika mereka makan terdengar kasak kusuk di antara saudara Budi.


" Bagus banget ya rumahnya, pantesan si Dini milih ninggalin si Budi dasar matre "


" Huss jangan ngomong sembarangan nanti mertuanya dengar "


" Makanannya juga enak ya, dengar dengar calon mertua si Budi punya resto bahkan cabangnya banyak "


" Iya bener si Budi gak salah milih istri. Berarti ada untungnya pisah sama si Dini ya "


Dini dan Murni hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan obrolan mereka. Tak lama kemudian Mukhlis datang menghampiri Dini yang sedang menikmati hidangannya bersama Marni.


" Din kalau kamu lelah kamu istirahat dulu di kamar Deni, kamu nginap saja disini semalam " ujar Mukhlis.

__ADS_1


" Mmmhhhh gak Pih aku gak apa apa kok Pih. Nanti aku pulang saja sama Bi Marni. Aku juga mau minta maaf soal tadi Pih " ucap Dini lirih takut terdengar orang orang di sekelilingnya.


" Soal apa Din? " Mukhlis menautkan kedua alisnya.


" Soal Budi, maaf membuat Papih malu " jawab Dini.


" Oh soal itu, gak apa Din. Papih gak marah kok lagipula untuk apa marah karena kamu gak salah. Justru Papih minta maaf karena memaksamu datang ke acara ini. Sudah kamu tak usah banyak pikiran kamu nikmati saja hidangannya Papih mau menemui tamu dulu "


Mukhlis berjalan menemui Abah Budi dan mulai mengobrol terutama soal persiapan pernikahan anak anak mereka.


Dini melanjutkan makannya sendiri karena Marni pamit ke toilet. Melihat Dini sendirian Nita bergegas mendatangi Dini bersama sepupunya.


" Duh enak banget yang sudah jadi nyonya, lihat penampilannya saja berubah. Usahamu cukup bagus untuk menjadi orang kaya dengan menikahi anak pengusaha dan tega meninggalkan Budi " ucap Nita dengan wajah sinis seakan ingin ******* Dini.


" Bener itu Nit matre banget dia, tapi Budi beruntung berpisah darinya karena dia bisa menikahi adik iparnya. Ya minimal nanti harta orang tuanya kan dibagi dua dan mereka sama sama kaya " timpal sepupu Nita menambah panas suasana.


" Rupanya mereka belum tahu kalau Mela anak tiri Papih dan berpikir Mela dan Mas Deni memiliki hak yang sama. Tapi biarlah itu bukan urusanku " Dini bermonolog dalam hatinya.


" Sudah bicaranya? aku gak peduli kalian mau bicara apa terserah saja. Heran juga kenapa harus julid sama aku toh kita gak punya urusan. Abah dan Umi aja sudah menerima kalau kami tak berjodoh. Apa kalian menyesal dan bersedih karena gagal menjadi keluargaku? hehee " Senyum Dini seperti mengejek Nita dan sepupunya membuat mereka berdua meradang.


" Cih, gak sudi aku jadi saudaramu justru aku bersyukur Budi berpisah darimu sehingga dia mendapat jodoh yang lebih baik " kali ini sepupu Nita yang membalas ucapan Dini.


" Baguslah kalau kalian bersyukur, tapi kenapa kalian masih julid dan menggangguku? Bukankah itu bukti kalau kalian menyesal ? "


" Brengs*k " Nita hendak meraih lengan Dini dengan tangan kirinya.


Namun tiba tiba Murni sudah ada dibelakang Dini dan menghempaskan tangan Nita sehingga gelas yang berada di tangan kanan Nita terjatuh ke lantai karena Nita tak menyangka tangannya ditepis seseorang.


Prankkk


Gelas di tangan Nita terjatuh ke lantai pecah berhamburan.


Tessa yang sedang duduk langsung menghampiri mereka. Dia merasa mendapat jalan untuk melampiaskan amarahnya.


" Dini, apa yang kamu lakukan? kenapa mengganggu tamu. Apa kamu berniat merusak acara ini? "

__ADS_1


Tangan Tessa sudah di angkat ke atas dan mulai mengayun ke arah pipi Dini. Mukhlis yang sedang berdiri bersama Abah Budi langsung berteriak.


" Mih, berhentiii !!! " suaranya menggelegar ke seluruh ruangan.


__ADS_2