
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 49 ( Pertemuan Keluarga )
Sesuai kesepakatan Dini dan Mukhlis pukul 7 malam mereka menuju rumah Budi. Dini dijemput terlebih dahulu oleh sopir keluarga Deni dan tetap ditemani Marni.
Sedangkan Mukhlis pergi satu mobil bersama Tessa dan Mela. Mereka pergi secara terpisah dan bertemu di perjalanan.
Wajah Mela terlihat tegang, dia takut hasil pembicaraan nanti tidak sesuai dengan keinginannya. Karena sampai saat ini Budi masih belum menghubunginya.
Dini sudah tiba di halaman rumah Budi, cukup luas dengan halaman yang asri dan penuh tanaman. Karena Umi nya Budi memang senang bercocok tanam.
Rumahnya cukup bagus dan terawat tapi tak semewah rumah Deni. Rumah Budi masih berbentuk bangunan lama namun terlihat masih kokoh.
Dini turun dari mobil di ikuti Marni, Mukhlis dan keluarganya juga turun dari mobilnya berbarengan.
Tessa melihat ke arah Marni dengan wajah yang sulit di artikan. Dia mendekati Dini dan berbisik dengan nada provokasi " Dasar OKB kemana mana bawa pengawal "
Dini hanya tersenyum tak mau menghiraukan ucapan ibu mertuanya. Pun Marni hanya tersenyum kecut, suara Tessa yang berbisik tapi masih bisa di dengar Marni.
Mukhlis tahu apa yang diperbuat Tessa pasti ingin membuat kesal Dini dan Marni untung saja mereka berdua terlihat tak peduli.
" Din, ayo takut kemalaman. Tak enak bertamu malam hari "
" Iya Pih " Dini berjalan terlebih dahulu yang disusul Mukhlis. Marni tetap menunggu di mobil.
Namun sebelum menyusul Dini, Mukhlis sempat berbisik pada Tessa " Jangan membuat ulah baik di sini atau di dalam atau aku gak akan mau mengurusi ini lagi "
Tessa memang diam tak membalas ucapan Mukhlis namun dadanya bergemuruh. Mukhlis selalu melindungi Dini dan menurutnya suaminya itu mulai mengabaikan dirinya dan Mela.
Tessa hanya bisa melihat punggung Mukhlis yang berjalan di depan bersama Dini. Entah mengapa hatinya mendadak cemburu.
" Apa benar Mas Mukhlis ada hubungan dengan Dini? " gumamnya dalam hati.
Kini Dini dan Mukhlis sudah berada tepat di depan pintu. Kemudian menekan bel rumah.
Tidak menunggu lama pintu terdengar terbuka dan nampaklah wanita paruh baya yang sedang berdiri di hadapan Dini.
" Assalammu Alaikum Umi " sapa Dini lembut.
" Waalaikum Salam, Dini? " ternyata yang membuka pintu Umi nya Budi, dia terlihat kaget karena melihat kedatangan Dini ditemani banyak orang.
" Iya Umi " Dini meraih tangan wanita paruh baya tersebut kemudian menciumnya dengan takzim.
__ADS_1
" Umi, apa kabarnya? "
" Alhamdulillah sehat, masuklah neng geulis " ajaknya pada Dini dan semua orang yang berada di belakang Dini.
Panggilan Neng geulis selalu disematkanya pada Dini. Padahal dia dulu sangat berharap Dini menjadi menantunya.
Tapi semua sia sia karena memang Budi dan Dini tidak berjodoh. Untunglah orangtua Budi sangat bijak karena bisa menerimanya.
Terbukti pada sambutan yang diterima Dini saat ini. Umi Budi masih terlihat menyayangi Dini.
Semuanya sudah masuk kedalam dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah tersebut. Umi memanggil ART nya untuk menyiapkan minum. Dan memanggil suaminya.
Mata Tessa memindai seisi rumah, dia nampak tak suka. Sedangkan Mela terlihat bertambah gugup sampai sampai berkeringat.
Umi dan Abah Budi datang ke ruang tamu. Abah Budi pun sama kagetnya melihat kedatangan Dini.
" Dini? apa kabar nak " dia langsung menghampiri Dini dan mengusap kepala wanita yang gagal menjadi menantunya. Dibalas dengan ciuman di punggung tangannya oleh Dini.
Tessa mencebikan bibirnya melihat adegan Dini dan kedua orang tua Budi " pintar banget cari muka " batinnya.
" Iya Abah, maaf Dini datang malam malam bersama keluarga. Perkenalkan ini ayah dan ibu mertua Dini dan ini ipar Dini namanya Mela "
Dini memperkenalkan Mukhlis dan keluarganya, mereka pun bersalaman.dan saling memperkenalkan diri.
Dini dan Mukhlis menjadi sedikit tak enak hati mendengarnya. Buru buru Dini mengalihkan pembicaraan.
" Abah, Dini mau minta waktu Abah dan Umi sebentar. Dini kesini mengantar mertua untuk bertemu Abah untuk bersilaturahmi dan ingin menyampaikan suatu hal "
" Mohon maaf Pak, kedatangan saya kali ini membawa berita yang kurang enak mengenai anak anak kita " Mukhlis melanjutkan pembicaraan Dini.
" Anak kita? siapa dan kenapa? " tanya Abah Budi sambil mengernyitkan keningnya.
" Budi dan Mela anak saya memiliki hubungan dan saya baru mengetahui beberapa hari yang lalu kalau anak kami Mela ternyata sedang hamil mengandung anak Budi "
" Apaa? " orang tua Budi tersentak kaget mendengarkan penuturan Mukhlis.
" Siapa yang hamil? " tiba tiba Nita datang dan ikut duduk di ruang tamu. Dia menatap Dini dengan sorot mata penuh kebencian. Kemudian beralih menatap Mela dengan pandangan meremehkan.
" Nita, yang sopan kamu. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu " tegur Abah Budi pada anak perempuannya.
" Gak Abah, Budi adik aku jadi aku harus tahu segala hal yang menyangkut dia. Kamu yang hamil? " tunjuknya pada Mela.
Melihat Nita yang begitu angkuh jiwa barbar Mela berontak namun dia berusaha menahan demi nama baik di depan Mukhlis dan calon mertuanya.
__ADS_1
Tessa langsung mengeratkan giginya melihat tingkah wanita di depannya.
" Iya." jawabnya singkat.
Nita memindai wajah dan penampilan Mela " Kamu yakin itu anak Budi? "
" Hey yang sopan kalau bicara " kali ini Tessa tidak bisa menahan amarahnya.
" Kenapa, kan saya cuma bertanya. Apa salah? "
" Nita sebaiknya kamu masuk, dan berhenti bicara tidak sopan pada tamu kita " bentak Abah Budi.
" Abah aku kenal perempuan ini aku juga sering lihat dia bersama teman temannya di sebuah club. Wajar kan aku bertanya seperti tadi "
Semua langsung faham maksud pertanyaan dari Nita tanpa perlu diperjelas lagi. Hal itu membuat wajah Mela bertambah pucat takut mendapat penolakan dari keluarga Budi.
" Enak banget keluarga kalian dulu menggagalkan acara pertunangan adikku dan sekarang datang meminta pertanggung jawaban adikku. Kalian anggap apa kami? " tambah Nita.
" Nita masuk! "
Mendapat tatapan tajam dari Abahnya Nita langsung berdiri dan tanpa permisi langsung pergi ke dalam rumahnya sambil menggerutu
" Maafkan anak saya Pak, saya jadi merasa tidak enak "
" Tidak apa Pak, saya mengerti " sahut Mukhlis, suasana kini bertambah canggung ternyata keluarga Budi belum sepenuhnya menerima. Mukhlis hanya bisa berdo'a semoga Budi mau bertanggung jawab pada Mela.
" Saya sudah mengerti maksud kedatangan keluarga Bapak, nanti kami akan berbicara dulu dengan Budi. Karena sudah beberapa hari Budi tidak pulang ke rumah "
" Huffttt " Mukhlis menarik nafasnya, ternyata Budi memang benar benar menghilang.
" Baiklah saya faham Pak, semoga saya mendapat kabar baik karena saya khawatir jika lama dibiarkan kehamilan Mela akan makin nampak "
" Saya faham Pak, kami akan memberi kabar secepatnya ".
Sedikit berbasa basi mereka pun mengobrol perihal kedekatan Budi dan Mela. Orang tua Budi pun bisa menerima keadaan ini hanya saja mereka butuh membicarakannya terlebih dahulu bersama Budi.
Mela masih merasa gugup dan tidak tenang karena belum menerima jawaban pasti dari Budi dan keluarganya.
" Baiklah Pak, sepertinya ini sudah malam saya dan keluarga pamit untuk pulang " ujar Mukhlis pada orang tua Budi.
Kedua orang tua Budi mengerti dan mempersilahkan pulang serta berjanji akan menemui Mukhlis bersama Budi nantinya.
Mereka pun keluar dari rumah Budi dengan sedikit perasaan lega karena keluarga Budi menerima mereka dengan baik.
__ADS_1