
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 59 ( Kenyataan )
Pov Bud
** Beberapa hari menjelang pernikahan
Hari itu aku mendapat hasil cetak undangan dari Mela yang dikirim melalui ojeg online ke kantor. Banyak teman kantor yang aku undang, sekaligus mematahkan omongan orang kalau aku belum move on dari Dini.
Walaupun pada kenyataannya seperti itu, sebenarnya lucu juga dulu kakaknya merebut kekasihku dan sekarang aku menikahi adiknya.
Tidak sedikit juga yang beranggapan aku ingin balas dendam. Mungkin juga sih, aku sendiri gak tahu perasaanku. Yang pasti hatiku masih terisi Dini.
Tok tok tok
" Maaf Pak Budi, ada kiriman katanya buat Bapak " satpam di depan mengantarkan kiriman tersebut padaku.
" Makasih Pak " satpam tersebut menyimpan kirimannya di mejaku.
Kubuka paket tersebut, dan benar saja itu undangan yang dikirim Mela.
" Wah undangan ya Pak, jadi dong nikah hehee "
" Ya jadi dong, masa gak jadi hehee " jawabku sambil terkekeh.
" Mau saya bantu bagiin Pak? " tawarnya padaku.
Setelah aku pikir ya mending di bagiin security bakal lebih cepat dan aku gak cape, paling aku kasih uang rokok sama dia.
" Ya udah bantu saya buat bagiin ya Pak. Ini buat uang rokok " ucapku sambil menyerahkan undangan yang sudah Mela pisah pisahkan berdasarkan permintaanku.
" Wah makasih ya Pak " melihat uang yang kuberikan wajahnya langsung sumringah.
Karena banyak pekerjaan aku tak sempat memeriksa undangan tersebut. Belum lagi besok besok aku akan kembali cuti karena akan menikah sehingga aku berniat membereskan pekerjaan hari ini. Minimal ketika cuti aku tak akan merepotkan orang lain.
Tok tok tok
" Pak, undangannya sudah beres dibagikan ya, ada yang bisa saya bantu lagi? "
" Oh sudah beres ya Pak. Sepertinya gak ada Pak. Makasih ya untuk bantuannya " jawabku.
__ADS_1
" Sama sama, saya permisi "
Ternyata cepat juga undangan sampai pada orang orang kantor tanpa aku harus repot repot berkeliling, sekita setengah jam semua langsung beres.
Semua pekerjaan intiku sudah beres dikerjakan terutama laporan yang harus aku buat. Banyak pesan yang masuk ke ponselku mengucapkan selamat atas pernikahanku.
Semua orang kantor sudah tahu bahwa Pak Sarif selaku owner di tempat kami bekerja adalah paman dari Deni, yang otomatis jika aku menikah dengan Mela dia akan menjadi pamanku juga.
Bukankah itu berarti baik untuk perkembangan karirku. Bisa saja nanti aku akan naik jabatan, apalagi Pak Sarif jarang datang ke kantor ini. Dia lebih sering berkeliling mengontrol cabang yang lain.
Semoga saja dia mau memberikan kepercayaan padaku untuk memegang cabang disini. Akan aku buktikan pada teman teman yang dulu mengolok ku karena berpisah dari Dini.
Ternyata berpisah dari Dini bisa menjadikan sebuah pintu kesuksesan untukku. Meski hati ini tetap masih di isi penuh oleh Dini bahkan mungkin tak akan tergantikan.
Melihat masih ada undangan di atas meja untuk aku berikan pada Abah dan Umi yang nantinya akan mereka sebar pada kerabat aku jadi sedikit penasaran. Akhirnya aku buka satu, melihat dari tampilannya saja aku tahu undangan ini cukup mewah pasti harga per pcs nya mahal.
Aku teliti satu persatu dan kubaca seksama, tapi ada satu nama yang tak aku kenal bahkan namanya berdampingan dengan Mamihnya Mela.
Apa orang pencetakan salah cetak ya, masa iya sih bisa salah nama. Benar benar teledor, mana undangan sudah aku sebar. Sebaiknya aku tanya Mela saja.
Kucari kontak Mela di ponselku dan menekan nomornya. Tak butuh waktu lama panggilanku langsung terhubung.
[ Hallo Mas sudah sampai undangannya? ]
Mela tidak menjawab pertanyaanku bahkan suasana menjadi hening. Aku masih menunggu jawabannya, sepertinya dia sedang merangkai kata kata.
[ Mmhhh itu ya Mas, gak ada yang salah kok. Sebenarnya aku bukan adik kandung Mas Deni. Kami saudara tiri Mamih nikah sama Papih ketika aku berusia 2 tahun dan Mas Deni 5 tahun ]
Hening tak ada suara lagi, kali ini aku yang tak bersuara karena sedikit shock.
[ Mas, apa ada masalah? ]
[ Mmhhh enggak, kenapa kamu gak cerita dari awal? ]
[ Apa itu perlu, apakah itu berpengaruh pada pernikahan besok? ]
[ Eng-enggak, ya sudah aku hanya menanyakannya saja. Oke aku lanjut kerja lagi ya ]
Tanpa banyak kata aku langsung memutus sambungan telepon. Duniaku seakaan berhenti. Hal yang tadi aku khayalkan sepertinya akan kandas. Bagaimana ini, undangan di kantor sudah aku sebar.
Ah sial bodoh sekali harusnya aku membacanya terlebih dahulu. Apa yang aku lakukan sekarang, pantas saja Pak Sarif terlihat biasa saja. Mungkin memang tidak merasa ada ikatan khusus diantara mereka.
__ADS_1
Bodohnya lagi kenapa aku tak bertanya saat tahu ada nama Pak Sarif di salah satu kertas undangan. Andaikan mereka saudara pasti tak akan perlu memakai undangan. Sebagai keluarga kami akan memberikannya secara langsung sekalian bersilaturahmi.
Moodku langsung berubah untung saja.aku sudah menyelesaikan semua laporan sehingga target pekerjaanku sudah beres.
Saat jam pulang kerja aku langsung keluar dari ruangan. Banyak yang memberiku selamat dan berjanji akan datang di pestaku. Entahlah aku sudah merasa tak semangat untuk menikah.
" Bud, kok gak semangat gitu? harusnya calon pengantin semangat. Masa iya terlihat lesu " Roni salah satu temanku bertanya.
" Heheee cuma cape bro tadi aku selesaikan semua laporan supaya pas masuk gak terlalu banyak PR " jawabku memberi alasan.
" Wah mantap ya calon kepala cabang kita, sudah mah rajin di tambah keponakan pemilik perusahaan tambah lancar saja karirmu Bud "
Degh
Aku jadi malu sendiri mendengar penuturannya. Andai dia tahu kalau Mela bukan keponakan Bos kami maka dia akan tak enak hati berucap seperti itu.
Tapi aku tak bisa berbicara banyak karena bingung harus menjelaskannya seperti apa. Lebih baik aku diam dan cukup menjawab dengan senyuman.
Sampai aku memasuki mobil masih saja banyak teman yang memberiku selamat dan berucap akan datang nanti di pestaku. Sepertinya dari sekarang mereka sudah cari muka padaku karena mereka pikir Mela keponakan Pak Sarif.
Senyum palsu terpaksa ku tebar membiarkan mereka berpikir semaunya saja. Yang penting bukan aku yang bercerita.
Aku lihat dari kejauhan Pak Sarif keluar dari gedung kantor kami dia berjalan menuju mobilnya bahkan dia sempat melihat ke arahku tapi dia tampak biasa saja. Dalam hati mungkin dia menertawakan aku yang sudah berbesar hati karena merasa akan menjadi bagian keluarganya.
Haduh nasiibb nasiibbb..
Lebih baik aku langsung pulang ke rumah dan berpikir dengan tenang daripada pusing di jalan ujung ujungnya akan kembali ke tempat maksiat dimana aku dan Mela bertemu.
Satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di rumah. Sengaja aku buat lama karena malas dan moodku swdang tak bagus. Umi menyambut kedatanganku di pintu langsung saja kuraih tangannya untuk aku cium.
" Gimana Bud undangannya sudah jadi? tadi Mela telepon Umi kalau undangan sudah dikirim ke kantormu " Umi bertanya dengan wajah ceria.
Umi salah satu orang yang sangat bahagia dengan pernikahanku selain Abah. Mereka senang akhirnya aku bisa move on dari Dini. Tanpa menjawab Umi aku langsung masuk ke dalam rumah.
Dari arah belakang Umi mengikuti langkahku. Niatku langsung menemui Abah di halaman belakang. Karena biasanya jam segini Abah sedang menikmati kicauan burung ditemani segelas teh.
" Budi ada apa? " tanya Umi mulai panik karena melihat wajahku yang kusut.
Abah yang sedang duduk santai langsung melihat ke arah kami dengan pandangan heran.
" Ada masalah apa? " tanyanya.
__ADS_1
" Bah, Umi ternyata Mela bukan anak kandung Pak Mukhlis dia hanya anak tiri. Papih Mamihnya Mela menikah dengan masing masing membawa satu anak dari pernikahan mereka sebelumnya "
Umi dan Abah langsung membulatkan matanya.